HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Bukan Salah kamu


__ADS_3

Bukan hanya Arumi yang sedang merasakan penyesalan. Disini juga ada Deren yang menangis histeris memeluk jasad saudara kandungnya. Pertemuan yang tak mereka rencanakan ini malah menjadi perpisahan yang menyakitkan.


Polisi terpaksa menembak mati Steven karena dia berusaha melawan saat di ringkus. Usut punya usut ternyata Steven adalah taget polisi yang sudah lama diincar. Steven adalah salah satu mafia yang mengedarkan obat terlarang yang dilarang oleh negara.


Deren menangis meraung raung. Bagaimana tidak, sebenarnya Deren sangat menyayangi abang kandungnya. Tapi jalan yang salah yang dipilih Stevenlah yang membuat hubungan mereka rengggang. Malah bisa dikatakan hubungan mereka menjadi permusuhan.Bagaimanapun hanya Stevenlah keluarga kandungnya yang masih ada. Dan sekarang Steven telah benar benar meninggalkanya sendiri didunia ini.


Banyak sekali korban luka dari duel maut mereka. Tak terkecuali Yunita, tubuh mulusnya juga penuh luka bahkan lenganya juga kena sabetan benda tajam oleh musuhnya. Darah terus mengalir deras untungnya anak buahnya tanggap dan langsung meminta ijin pada polisi untuk membawa pimpinan pasukan mereka ini kerumah sakit. Yunita terlihat lemas tak berdaya. Darah juga merembes keluar dari perutnya mungkin perutnya juga luka.


Arumi mendekati Deren dan mengelus pundak pria yang selalu ada buat keluarga kecilnya ini.


"Sabar ya Pak, iklaskan," ucap Arumi pelan.


"Dia abang ku mbak haahuaahaa!!!"kembali preman itu menangis. Preman juga manusia bukan.


"Saya tau pak, tapi kasihan kalau ga diiklaskan. Nanti dia berat ninggalin bapak," ucap Arumi mencoba membuat Deren tenang dan mengiklaskan saudaranya.


Para petugas medis meminta Deren melepaskan pelukanya dari tubuh saudaranya. Dan dengan berat hati Deren pun mengizinkan mereka membawa jasad Steven.


Deren mengikuti langkah para petugas medis yang membawa jasad abangnya. Menangis dan terus menangis. Deren ternyata tak segarang kelihatanya, hatinya sangat sensitif dengan hal hal yang berhubungan kepiluan.


Diluar rumah besar itu ada seorang pria yang menunggu kedatangan mereka dengan berdiri bertumpu pada tongkat yang menyangga tubuhnya. Siapa lagi kalau bukan Yudha.


Arumi berlari mendekati kekasih hatinya. Memeluk pria itu dengan cintanya. Tangisan keduanya menghiasi malam mencekam itu.


Yudha memeluk erat istrinya seolah tak ingin kehilangan bidadari surganya. Begitupun Arumi dia mencium harum pipi suaminya seolah mengisaratkan bahwa dia tak apa apa. Semua baik baik saja.


"Bunda terluka ga?" tanya Yudha khawatir. Arumi menggeleng padahal jika dibuka bekas pukulan sapu mungkin membekas dipunggungnya.


"Maafkan Bunda Bi," ucap Arumi lirih, Arumi menunduk karena takut dan merasa bersalah.


"Maaf untuk apa sayang?" tanya Yudha.


"Sebaiknya kita ke mobil biar Abi ga lelah," ajak Arumi. Yudha pun melangkah tertatih tatih.


Arumi membantu suaminya masuk kedalam mobil Pajero milik suaminya. Di dalam mobil Arumi tak menunggu waktu lagi. Mereka langsung menyatukan bibir mereka untuk menghilangkan sedikit rasa kekhawatiran yang mengganjal dihati mereka.


Arumi melepaskan pangutanya dan kembali memeluk erat tambatan hatinya.


"Bunda, Abi takut," bisik Yudha.


"Ga papa Bi, semua baik baik saja hanya saja Desi...."ucapan Arumi terputus, isak tangisnya kembali hadir. Dia bingung harus berkata apa.

__ADS_1


"Desi kenapa bun, dia ga mau menyerahkan diri?" tanya Yudha dengan wajah kebingungan, karena Arumi menangis saat menyebut nama wanita itu.


"Desi memilih mengahiri hidupnya Bi," jawab Arumi jujur. Wajah ketakutan Arumi tampak jelas disana.


"Apa!!" kejut Yudha.


"Dia memilih mati dari pada hidup dijeruji besi," tambah Arumi dengan isak tangis pilunya. Yudha tertegun tak percaya.


"Astaga," ucap Yudha tak percaya. Arumi tertunduk lesu. Yudha menatap lepas kearah jendela dan menyaksikan beberapa petugas medis membawa satu lagi jasad dari belakang rumah.


"Apakah itu jasad Desi Bun?" tanya Yudha.


"Iya Bi," jawab Arumi.


"Innalilahi wainailaihi rojiun," ucap Yudha.


"Maafkan Bunda ya Bi, ga bisa bujuk dia agar tak lompat," ucap Arumi menyesal.


"Apa kalian bertengkar?" tanya Yudha.


Dengan berlinangan air mata Arumi pun menceritakan kronologi kejadian yang ada di lantai atas. Atau lebih tepatnya saat dia berkelahi dengan Desi.


Arumi bahagia karena suaminya begitu mengerti akan dirinya. Akan maksudnya, akan niatnya.


"Semua akan baik baik saja sayang percayalah, cup diem ga usah nangis lagi," ucap Yudha berusaha menenangkan istrinya.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit Bi, kita lihat keadaan Yunita yang terluka parah dan..." ucapan Arumi kembali terhenti ketika hendak menceritakan pasal Deren.


"Kalau Yunita Abi tau Bun, dan...dan...apa maksud Bunda?" tanya Yudha bingung.


"Dan Deren Bi," ucap Arumi takut.


"Dan Deren kenapa Bun, dia ga papa kan hah, apakah para penjahat itu melukainya?" tanya Yudha ketakutan. Bagaimanapun Deren sudah seperti saudaranya sendiri. Wajar kan kalau Yudha khawatir.


"Deren ga papa Bi, tapi dia kehilangan abangnya," jawab Arumi terbata bata.


"Abangnya?" tanya Yudha dengan wajah penuh tanda tanya.


"Iya abangnya, ternyata abangnya memanfaatkan ambisi Desi untuk menahlukkan adeknya," jawab Arumi sesuai apa yang dia dengar tadi.


"Jadi yang merencanakan ini semua adalah bang Stev," ucap Yudha pelan.

__ADS_1


"Abi kenal?" tanya Arumi.


"Kenal bun, bang Stev emang salah pergaulan waktu itu. Dan orang tuanya mengusirnya karena bang Stev tak bisa diingatkan. Mungkinkah dia dendam dan ingin membalas perlakuan orang tuanya pada adeknya," ucap Yudha membuka sedikit demi sedikit kisah kelam keluarga Deren.


"Bunda tak tau Bi, ayo mana sopir kita kenapa lama sekali?" tanya Arumi clingukan mencari sopir yang biasanya Yudha sewa untuk mengantarkanya kemanapun dia pergi.


"Abi ga pakek sopir tadi bun, Abi stir sendiri," jawab Yudha pelan.


"What!!" pekik Arumi.


"Aduh sakit telinga Abi Bun," jawab Yudha sambil menggorek terlinganya. Arumi melongo tak percaya.


"Biasa aja kali Bun nglihatinya," ucap Yudha sambil memegang tangan istrinya, agar sang istri tak marah padanya.


"Gimana Bunda ga khawatir Bi, Abi nyetir sendiri dengan keadaan seperti ini yang benar aja Bi," tu kan ratu drama mulai lagi, hah...pasrah aja Yudh pasrah. Salah lagi kan lo.


"Ga papa Bun, buktinya Abi sampek juga ke sini," jawab Yudha enteng. Arumi malah menatap kesal pada Yudha. Yudha mulai mengalah. Dari pada tak habis perkara.


"Gampangnya ngomong begitu, Abi masih sakit Bi. Abi harus jaga raga Abi. Abi kok ga ngerti sih maksud Bunda. Harusnya Abi minta siapa gitu sopirin kan anak buah Abi banyak, Ya Allah kenapa suamiku bisa sebodoh ini," gerutu Arumi khawatir.


"Iya Abi tau itu sayang, jangan marah lagi ya toh Abi ga kenapa napa," balas Yudha pelan.


"Iya ga apa apa, tapi kalau terjadi apa apa lagi sama Abi, Bunda sama anak anak gimana Bi. Abi ngerti ga sih perasaan Bunda," mata itu berkaca kaca lagi tangisnya pecah lagi. Arumi membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika terjadi sesuatu pada suaminya.


"Abi juga berfikir sama sayang, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu. Lalu bagaimana dengan Abi dan anak anak. Makanya Abi nekat," balas Yudha tak mau kalah.


Ya ya kalian menang kali ini Cinta memang begitu, Kami paham.


Arumi memeluk suaminya dengan isak tangis yang pilu, perasaan khawatir telah meyeruak didalam sanubarinya.


"Jangan nekat kayak gini lagi ya Bi, Bunda sayang sama Abi, Bunda mohon," ucap Arumi memohon pada suami tampannya. Yudha tau jika Arumi sangat mencintainya makanya dia sangat khawatir.


"Iya iya udah jangan nangis, kan Abi juga ga kenapa napa, yuk susulin Deren kasihan dia. Bantu Abi kembali ke kursi kemudi," pinta Yudha. Barusan dilarang eee malah mau balik lagi, oalah Yud Yud. Arumi menatap tajam kearah suaminya.


"Oia Abi lupa, maaf ibu ratu maaf. Takut Abi kalau dilihatnya begitu," goda Yudha.


Arumi tak perduli dengan godaan suaminya. Dia pun turun dari mobil dan membantu suaminya pindah ke kursi penumpang bagian depan.


Arumi pun memegang kendali kemudi mobil miliknya. Dengan tenang Arumi mulai melajukan kendaraanya. Jujur saja Yudha ingin menertawakan ratu dramanya tapi dia juga ga mau dimarahin lagi. Terpaksa Yudha menahan tawa itu hingga sampai di rumah sakit, tujuan mereka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2