HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
#HSBM Season 2 Hidayah Untuk Deren


__ADS_3

Dua bulan kemudian....


Yunita meringkuk sendirian di kasur besarnya, sudah lima hari ini dia merasakan berat dikepalanya. Perutnya seperti di aduk aduk. Apalagi kalau melihat nasi putih, bayangannya nasi itu seperti ulat ulat kecil yang menjijikkan.


Yunita hanya menginginkan buah buahan yang bisa di jus, seperti alpukat, mangga, jeruk peras. Pokoknya buah buahan yang tidak berwujud seperti aslinya.


"Tin...tolong kerikin Tin. Rasanya kepalaku mau pecah Tin," pinta Yunita.


"Duh Non, ke dokter yuk. Nanti kalau aden tahu Non sakit ga mau ke dokter, alamat Tinah dipecat Non," ucap Tinah berusaha membujuk wanita cantik yang terlihat pucat ini.


"Aku kalau masuk angin memang gini Tin, kamu ga usah takut. Ini gara gara kehujanan hari itu pasti. Kamu tenang aja Mas Robet kan masih lama pulangnya," jawab Yunita malah menutup seluruh tubuhnya sambil memejamkan matanya.


"Masak masuk angin geli sama makanan sih Non, atau jangan jangan Non lagi isi," celetuk Tinah sambil memijat kepala Yunita. Mendengar celetukan Tinah seketika Yunita membuka matanya dan tersenyum.


"Kamu jangan aneh aneh deh Tin, bulan kemarin aku masih dapet seperti biasa," jawab Yunita sambil tersenyum bahagia. Dia tak memperdulikan Tinah lagi yang penting Tinah mau memijat kepalanya.


"Dapetnya kan bulan kemarin bulan ini udah belum, bulan kemarin masih sempet main kan?" tanya Tinah, bukan maksudnya membuka rahasia bosnya. Tapi ini memang harus diperjelas bukan.


"Main Tin, eh ngapain kamu nanya nanya gitu!" ucap Yunita merasa diintrogasi oleh asisten rumah tangganya.


"Bukan gitu Non maksud Tinah, siapa tahu Non ama aden memang sudah dipercaya dapet momongan," ucap Tinah, bener juga ya batin Yunita.


"Kamu yakin Tin?" tanya Yunita, sebenarnya dia juga sudah tak sabar ingin segera memiliki momongan, tapi hanya takut kecewa.


"Cobalah Non periksa, Tinah beliin tespack ya," ucap Tinah terus berusaha membujuk istri majikanya.


"Boleh deh Tin, tapi kalau kenyataanya aku ga isi gimana?" tanya Yunita lugu, Ya Tuhan ini wanita polos bener batin Tinah.


"Ya ga papa Non, nanti coba lagi sambil berdoa. Iktiarnya jangan putus semoga cepet dipercaya," jawab Tinah, tangan Tinah masih saja memijat kepala Yunita membuat Yunita merasa sangan nyaman, hingga rasa kantukpun datang.


"Non mau Tinah bikinin bubur, ini udah hari kelima lo Non, Non ga makan nasi dan cuma minum jus," ucap Tinah mengingatkan.


"Ga papa Tin, ga makan aja aku sering. Kamu ga usah takut hehehe," jawab Yunita sambil terus menikmati pijitan tangan Tinah. Tak lama berselang terdengar nafas Yunita mulai beraturan mungkin dia sudah terlelap.


Tinah merapikan selimut majikanya, sebelum meninggalkan kamar Yunita, Tinah sempat tersenyum. Majikanya ini baik hati tapi juga kadang lugu.


"Orang kok ga pernah mara toh non," gumam Tinah, tentu saja Tinah bisa berucap seperti itu karena sebelumnya Tinah sudah mengenal Yunita sebelum wanita ini menjadi istri majikannya.


***


Di sisi lain Robet sedang berada di Malang membantu Deren memulai bisnisnya.


"Bang, ini ga kemahalan," ucap Robet mengingatkan.

__ADS_1


"Mahal ya Bro, harusnya berapa ni pasnya?" tanya Deren.


"Nanti deh coba Robet hitung, yang sebelah sana buat cafe aja bang kan dekat jalan raya. Udah gitu Robet lihat banyak anak anak muda bersliweran. Terus itu rumah kosong yang belum lama abang beli renov aja jadiin kos kosan Bang. Kayaknya hasil panen apel abang juga mulai baik, cari pabrik yang membutuhkan hasil panen aja Bang. Kalau dijual kepasar resiko busuknya lebih tinggi. Jadi cenderung rugi. Nanti kalau sudah berjalan, abang bisa rangkul petani petani di sekitar perkebunan buat setor hasil kebunnya ke abang. Nah pundi pundi money siap deh menghampiri abang. Siap siap tajir bang ," ucap Robet sambil menggoda abang iparnya. Dia juga mejelaskan detail aset Deren yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang.


"Boleh deh, atur aja. Abang masih harus banyak belajar dari kamu. Maklum Abangmu ini tahunya cuma cara melempar bom aja," balas Deren sambil bercanda.


"Bang aset Bang Stev gimana, di sumbangin semua ke Negera?" tanya Robet.


"Iya lah, biar aja di kelola Negara. Abang ga mau kebanyakan, pusing nanti," jawab Deren sambil menggigit bolpoin ditangannya.


"Cari bini bang biar ada yang nemenin tidur," goda Robet sambil tertawa.


"Bini ... mata lo soak, Abang mau mantepin iman dulu," jawab Deren serius.


"Abang yakin dengan keyakinan yang sekarang sedang abang dalami?" tanya Robet.


"Insya Allah," jawab Deren. Robet tertawa pelan mendengar Deren belepotan berucap Insya Allah tapi lumayan lah.


"Masih sering ikut kajian Bang?" tanya Robet.


"Masih, Alhamdulilah ... Abang beberapa hari yang lalu mimpi aneh, di mimpi Abang ada seorang pria berpakaian seba putih ngajakin Abang masuk masjid dan ngajakin Abang sholat," ucap Deren mengisahkan apa yang dia alami beberapa hari yang lalu.


"Lalu?" tanya Robet penasaran.


"Semoga itu pertanda bahwa Abang dapat hidayah ya Bang, semoga Abang selalu dituntun ke jalan yang benar. Ke jalanya Allah tentunya," jawab Robet, bagaimanapun keputusan ada ditangan Deren, Robet tak mau memaksakan kepercayaannya pada orang lain.


"Amin Insya Allah," jawab Deren mantap.


"Hotel Abang ni awalnya punya siapa bang?" tanya Robet.


"Noviat Juan kawan Abang, kenal kagak," jawab Deren.


"Kenal sih enggak Bang, cuma tahu aja Noviant Juan kan pengusaha songong tersombong itu, siapa yang ga kenal keangkuhannya," jawab Robet sambil tertawa.


"Songong mata elo, kedengeran orangnya di tabok lo," balas Deren.


"Kagak Bang ampun, doi emang terkenal angkuh," jawab Robet.


"Dia emang gitu, keras arogan tapi sebenarnya baik. Doi sempet naksir bini elo," ucap Deren sambil tersenyum mana kala mengingat Juan si pengusaha kaya raya itu terus mendesaknya untuk mendekatkanya dengan adek kandungnya.


"What!!" pekik Robet.


"Biasa aja ga usah teriak," ucap Deren santai.

__ADS_1


"Emang kapan dia pernah ketemu Nita Bang?" tanya Robet sedikit geram.


"Beberapa bulan yang lalu Nita pernah ke Australi bawain dia punya berkas," jawab Deren jujur.


"Kapan itu?" tanya Robet penasaran.


"Pas kalian berantem hari itu," jawab Deren, Robet menjatuhkan tubuhnya dikursi kerja milik Deren yng dia duduki. Robet terlihat marah.


"Lalu apakah Nita tahu kalau pria gila itu menyukainya?" tanya Robet sedikit emosi.


"Tahu lah, dia pernah nekat menemui Nita di sini," jawab Deren lagi, menurut Deren semua harus terbuka. Toh ga ada salahnya kan Nita juga tidak menanggapi. Sayangnya apa yang dipikirkan Deren tak sejalan dengan apa yang dipikirkan adek iparnya. Robet terlihat menahan rasa kesalnya.


"Kamu ga perlu emosi, mereka ketemuannya juga ada Aku, ada bang Deka juga," ucap Deren mencoba meredam emosi Robet yang terlihat geram karena Nita tak pernah cerita soal ini.


"Apa tanggapan Nita soal ini?" tanya Robet penasaran.


"Ya ga mau lah, namanya dia udah ada suami. Untung aja lo berubah kalau kagak alamat bini lo di embat orang. Udah gitu lebih tajir dari pada elo," balas Deren geram.


"Awas aja kalau dia berani macem macem ama bini Robet. Robet bakalan tembak mati dia," ucap Robet menirukan ancaman Nita yang selalu ditujukan padanya.


"Hahahaha....tembak mati kayak bisa nembak aja lo," goda Deren.


"Ada Abang ini, apa yang Robet takutkan hah,"


"Mata lo soak, dia sahabat Abang beg*k," balas Deren geram.


"Habis... siapa suruh ga bisa jaga mata," Robet mulai terbawa suasana.


"Makanya cepet kasih bini lo anak, bair ga dilirik pria lain," canda Deren.


"La ini kalau lagi bareng juga Robet hajar terus Bang, biar cepet jadi," balas Robet dengan tawa khasnya.


"Di hajar, dasar ga ada otak. Lo apain aja adek ane...setan," umpat Deren. Kumat dah jiwa premannya.


"Tenang Bang, gue mainya sportif kok," jawab Robet.


"Lo kata main bola sportif, dasar otak kadal," umpat Deren lagi sambil melempar bolpoin yang dipegangnya dari tadi ke arah adek iparnya yang mulai kelewat batas. Kemudian Deren pun memilih beranjak meninggalkan Robet.


"Kenapa Bang, panas dingin yak!" goda Robet kembali dia mengeluarkan tawa khasnya.


"Diam lo setan!!" jawab Deren geram, setelah itu dia tak mau menghiraukan ledekan adek iparnya. Deren memilih melanjutkan pekerjaanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2