
Arumi tak perduli dengan suara keributan dilantai bawah. Dia tak mau ambil pusing dengan siapa yang akan jadi pemenang. Apakah itu abang atau adek. Ahh...terserah lah.
Fokusnya saat ini adalah bisa menangkap wanita gila itu dan menyeretnya ke dalam jeruji besi.
Arumi kehilangan jejak Desi, dia tak tau kemana wanita itu bersembunyi. Ketidak tahuannya inilah yang membuat Arumi harus ektra waspada.
Arumi terus mengendap-ngendap siaga. Memasang telinga dan matanya agar tetap waspada. Ini gila Arumi diwajibkan menjadi wanita super cerdas dan licik seperti yang diperankan Yunita. Dalam pikiran Arumi, Yunita aja bisa kenapa aku enggak.
Doooooorrrr... doooooorrr... doooooorr....terdengar suara tembakan berkali kali. Teriakan menggema di seluruh ruangan. Arumi beringsut ngeri, tapi itu semua tak menyurutkan niatnya untuk terus mencari keberadaan wanita ular itu. Arumi terus mengendap endap. Bahkan dia membawa sapu yang dia temukan didekat tangga tadi.
Arumi akan menghajar siapa saja yang akan menghalanginya.
Arumi melihat Desi menaiki anak tangga bagian belakang dengan terburu buru. Seolah merasa tertantang Arumi pun tak menyianyiakan buruanya. Dia langsung mengejar wanita ular itu. Hingga akhirnya mereka berdua sampai di loteng rumah nesar itu. Di atas sana terparkir sebuah helikopter dengan tulisan LuCas Ditro, Ini sungguh fantastis. Apa pekerjaan yang dimiliki pemilik rumah ini hingga dia memiliki helikopter dan mobil mobil mewah yang berbaris diparkiran rumahnya. Ahhhh Arumi fokus fokus apa yang kamu pikirkan. Lupakan soal kekepoanmu yang ga penting itu.
"Keluarlah kamu wanita ular, jangan coba sembunyi dariku!" teriak Arumi. Sayangnya Desi lebih cerdik darinya. Desi pun berlari dari arah belakang bersiap menyerangnya. Arumi yang telah siap dengan serangan itu segera menghindar dah mengayunkan sapunya. Dan sssseeetttt.... sapu itu pengenai leher Desi. Desi jatuh tersengkur. Arumi yang geram langsung memukul wanita itu dengan membai buta. Desi mengaduh dam menjerit kesakitan. Bahkan dia juga memaki Arumi.
Arumi tak perduli, dia terus menghajar Desi seperti menghajar seekor tikus yang memakan baju bajunya. Arumi sedikit lelah dia pun menghentikan sementara pukulannya.
Keadaan itu dimanfaatkan oleh Desi untuk menendang Arumi. Dan gubraaaakkkkk...Arumi tersungkur. Desi mengambil kesempatan itu untuk merebut sapu yang di pegang oleh Arumi. Desi pegang kendali. Dia mulai mengayunkan sapunya kearah punggung Arumi. Arumi tak mau kalah. Dia meraih sapu itu dan menariknya, tak menyianyiakan kesempatan itu Arumi langsung menendang tepat dikemaluan Desi. Desi kembali tersungkur. Mengaduh dan menjerit tak kesakitan.
Perkelahian terhenti ketika mereka berdua mendengar bunyi sirine milik seperti mobil polisi. Entah siapa yang melapor nyatanya polisi polisi itu sudah ada dibawah dan bersiap meringkus siapa saja yang terlibat dalam perkelahian ini.
__ADS_1
Saat Desi masih tertegun, Arumi bangun dan merebut kembali sapunya. "Bagaimana ini kejutan bukan?" ucap Arumi sambil terus menakut nakuti Desi.
Desi malah tertawa mendengar ucapan Arumi.
"Hahahahaha....dasar wanita bodoh, kamu pikir aku takut dengan polisi polisi bodoh itu hah. Kalian semua yang ada didunia ini bodoh!!!!" teriak Desi.
"Benarkah?" ledek Arumi. Desi menatap geram kearah Arumi. Dia bersiap menyerang, Desi kembali bangkit dan benar benar menyerang Arumi. Desi meraih rambut panjang Arumi dan menariknya. Arumi tak mau kalah. Ditariknya kerah baju Desi hingga baju itu robek. Arumi memutar tubuhnya hingga mampu menjegal kaki Desi. Rambut Arumi masih dipegang oleh Desi. Terpaksa Arumi meraih tangan itu dan menggigitnya. Desi tak punya kekuatan lagi dia pun terpaksa melepaskan cengramanya.
Aksi mereka kembali berhenti ketika dua polisi melepaskan tembakkanya ke udara. Mata Desi terbelalak saat ada polisi di depan matanya. Tubuhnya gemetar.
Desi langsung bangkit dan berlari. Desi tak ingin ditangkap polisi dan hidup didalam jeruji besi lagi. Dia memilih mengancam para penegak hukum itu.
"Mundur kalian, jika tidak aku akan lompat dari gedung ini!!" ancam Desi sambil berteriak. Dua polisi itu pun menurunkan senjatanya dan mengangkat kedua tangan mereka. Desi tak perduli pikiranya sudah mantap. Lebih baik dia mati dari pada menyerahkan hidupnya pada mereka.
"Kami mohon jangan nona, ini tidak benar," ucap salah satu polisi membujuk Desi.
"Kami akan membantu anda nona percayalah?" bujuk yang satunya lagi. Arumi hanya diam menyaksikan seberapa berani Desi menantang malaikat maut.
"Apa kalian pikir aku percaya dengan kalian para manusia manusia bodoh, dasar kalian budak uang!" bentak Desi dengan emosi yang melambung tinggi.
"Kami mohon nona, turunlah kita selesaikan masalah ini dengan baik baik oke," bujuk pak polisi itu lagi. Desi malah tertawa mendengar bujukan polisi yang menurutnya tak bermutu itu.
__ADS_1
"Baik baik kalian bilang, kalian pasti membohongiku. Kalian pasti akan membawaku ketempat laknat itu bukan (penjara)!!" teriak Desi lagi.
"Nona percayalah, ini dosa nona," bujuk mereka lagi.
"Desi kamu jangan gila, ayolah turun aku mohon," ucap Arumi sambil menangkupkan tanganya.
"Permohonanmu tidak berarti bagiku kau dengar hah!!!" teriak Desi lagi.
"Desi ayolah jangan seperti ini, jangan bodoh," bujuk Arumi dengan pelan dan lemah lembut.
"Hahahaha..."Desi tertawa seolah menertawakan malaikat maut yang menjemputnya. Terang saja setelah tawa itu berahir Desi pun memejamkan matanya. Dan..."SELAMAT TINGGAL!!" ucap Desi untuk terahir kali, Desi benar benar menjatuhkan tubuhnya dari gedung itu.
"Tidak!!!" teriak Arumi sambil berlari kepagar pembatas itu.
Bunyi benturan keras telah terdengar pertanda tubuh Desi telah menyentuh lantai. Arumi berteriak menjadi jadi. Entah mengapa dia sangat menyesal dengan ini.
Arumi menangis ketakutan, dia histeris ngeri. Arumi shock, bagaimana tidak ini bukan akhir yang dia mau. Yang dia inginkan adalah menghajar Desi dan membawanya kepihak yang berwajib. Bukan melihat wanita itu berjabat tangan dengan malaikat maut.
Arumi menangis dan terus menangis tak dipungkiri bahwa dia juga ikut andil dalam keputusan Desi dalam mengahiri hidupnya.
Kedua polisi itu membantu Arumi berdiri, bahkan memapah Arumi untuk turun dari gedung itu.
__ADS_1
Bersambung.....