
Deren sengaja membawa Yudha satu rumah sakit dengan Desi. Dia ingin membujuk Yudha agar mau bertemu dengan istrinya. Deren tak ingin masalah yang dihadapi Yudha dan istrinya berlarut larut. Bukankah lebih baik semua diselesaikan secara terbuka dan cepat bukan.
Yudha langsung dibawa masuk ke IGD dan melewati beberapa prosedur yang sudah diurus oleh Deren. Untuk saat ini Yudha membutuhkan dokter ortopedi dan dokter saraf untung mereka ada ditempat. Yudha pun langsung mendapat penanganan dengan baik.
Sebelum dibawa ke ruang CT scan, Yudha sempat meminta Deren berjanji untuk tetap menjaga amanahnya. Deren hanya tersenyum tanpa menjawab iya.
Tanpa Yudha ketahui Deren telah menghubungi Deka untuk menemuinya di ruang VVIP yang sudah Deren pesan untuk merawat Yudha setelah melakukan pemeriksaan.
"Ada apa bro?" tanya Deka sambil berlari mendekati Deren yang duduk sambil termenung.
"Bang," sambut Deren.
"Kenapa?, ada apa kenapa kamu ada disini?" tanya Deka.
"Yudha udah ketemu bang," jawab Deren lirih.
"Alhamdulilah Ya Allah, " puji syukur Deka. Sayangnya Deren malah menangis pilu. Suara tangisnya memang tak terdengar tapi usahanya menahan tangisan itu malah membuat hati terasa nyeri.
"Kenapa bro, Yudha ga papa kan?" tanya Deka penasaran.
"Dia sadar bang, dia juga bisa diajaj komunikasi tapi...!" Deren masih belum bisa mengeluarkan apa yang seharusnya dia ucapkan. Karena ucapanya ini pasti akan membuat Deka shock.
"Tapi kenapa bro?" tanya Deka.
"Yudha mengalami patah tulang yang cukup parah bang. Kedua tanganya bengkak karena patah. Mungkin saat masuk ke sungai kedua tangan itu digunakan untuk melindungi kepalanya dari benturan. Dan tulang kakinya retak retak," jawab Deren. Deka tertegun mendengar jawaban Deren.
"Apakah rumah sakit ini punya dokter ortopedi terbaik?" tanya Deka.
"Sepertinya ada bang, dia dulu yang ngobatin ane waktu habis kecelakaan," jawab Deren.
"Baguslah, kalau ga nanti aku bawa ke Singapura saja," ucap Deka.
"Kemana aja la bang yang penting dia bisa pulih," jawab Deren. Kembali pria bertato ini menangis.
__ADS_1
"Lo kenapa lagi bro?" tanya Deka.
"Ane takut kalau dia ga bersemangat untuk sembuh bang, tersengar dari kata katanya sepertinya bukan hanya fisiknya yang terluka. Tapi juga hatinya juga hancur bang," ucap Deren. Pria ini tak tau harus bagaimana menghadapi sahabatnya.
"Maksudnya?" Deka masih belum paham dengan apa yang Deren katakan.
"Saya melihat semangat hidupnya hilang bang, bahkan dia pasrah saat nikmat geraknya diambil Tuhan. Dia sangat santai dan tak ada sedikitpun kekhawatiran dimatanya. Bahkan dia minta ane untuk tidak kasih tau istrinya soal ini. Dia ga pengen ketemu istrinya bang," ucap Deren. Tatapan matanya kembali kosong. Deren resah.
"Masalah hubungan hati antara mereka hanya merekalah yang berhak memutuskan bro. Kita hanya bisa mengsuport agar keadaan kembali membaik. Untuk sementara kita turutin aja dulu Yudha. Nanti kalau keadaanya udah stabil baru kita bicarakan langkah selanjutnya," jawab Deka dewasa.
"Ane ngikut aja bang," jawab Deren
"Sekarang dia ada dimana?" tanya Deka.
"Ruang CT scan bang," jawab Deren.
"Oke, kamu tau ga saudara atau temen deket itu si, siapa namanya yang tadi pendarahan?" tanya Deka.
"Ga tau bang," jawabnya.
"Emang tu wanita sihir kenapa bang?" tanya Deren.
"Luka jahitanya robek, dia kan belum lama melahirkan. Luka SC maksudku," jawab Deka sambil mengusap kasar air mukanya.
"Berantem kagak bang mereka berdua, jangan jangan ditendang lagi nanti?" tanya Deren.
"Enggak lah, Rum sudah kusuruh pulang. Itu wanita masih belum sadar habis dioprasi," jawab Deka.
"Haist...makanya ane males terlibat ama perempuan. Bener kata Yudha perempuan tu ratu drama. Salah sedikit diungkit jangankan ketahuan salah kagak salah juga salah kita dimata mereka," gerutu Deren. Deka tertawa Deren memang ada benarnya.
Tak lama dokter yang menangani Yudha pun mencari keluarga pasien. Anak buah Deren yang masih berjaga didepan Ruang CT scan langsung menghubunginya agar menemuinya di ruanganya.
"Bang kita dipanggil dokter," ucap Deren.
__ADS_1
"Ayok," ajak Deka. Setelah bertanya pada petugas disana Deren dan Deka pun sampai diruang sang Dokter.
"Selamat sore Dok," sapa Deren. Deka dan Deren pun bergantian menjapat tangan sang dokter.
"Sore, masuk Pak Deren, apa kabar gimana kakinya sudah pulih?" tanya Irvan dokter ortopedi yang pernah menanganinya dulu.
"Sudah Dok, udah sembuh sekarang sudah bisa dipakek lari," jawab Deren dengan senyuman khasnya.
"Bagus," jawab Dokter Irvan.
Dokter Irvan pun menyalakan monitor yang ada diruanganya dan mulai memasang hasil pemeriksaanya tadi.
"Mohon maaf Pak Deren, luka teman anda cukup parah. Kedua tanganya mengalami luka yang cukup serius. A... anda lihat ini, ini adalah keretakanya. Ini yang sebelah kanan ya. Terus yang kiri juga.(sang dokter diam sesaat dan mulai melanjutkan perkataanya) Baiknya, kita pindah ke kaki. Untungnya hanya satu kaki yang mengalami cedera parah. yang satunya nya terkilir saja. Tadi saya sudah konsultasi pada dokter syaraf bahwa jika memungkinkan minggu ini kita akan melaksankan oprasi, kita harus memasang pen diarea sini Pak" ucap sang dokter sambil menunjuk area yanh dimaksud. Dia juga terkesan sabar saat menjelaskan apa yang terjadi pada Yudha.
"Apa oprasinya tidak bisa dipercepat dok?" tanya Deka.
"Bukan kita ga mau Pak, melihat kondisi mental pasien yang kurang bersemangat membuat saya sangsi, ditambah fisiknya yang lemah. Mungkin ini juga terjadi karena beliau sempat mengalami deidrasi parah," jawab Dokter Irvan.
"Baiklah Dok terimakasih. Saya berharap oprasinya bisa di laksankan secepatnya, agar adek saya segera pulih," ucap Deka.
"Beruntungnya tulang belakangnya aman pak, sepertinya beliau paham sekali bagaimana cara berhadapan dengan arus sungai," ucap Dokter Irvan lagi.
Deren dan Deka hanya tersenyum mendengar itu. Mereka berdua pun berpamitan dan kembali keruang dimana Yudha dirawat.
Yudha terlihat pulas dalam tidurnya, mungkin pengaruh obat tidur yang dia makan.
"Sebaiknya gimana bang, suapaya dia semangat?," tanya Deren.
" Masalah dia ama bininya biarin aja, nanti ku bawa aja anak anaknya kemari biar dia semangat," jawab Deka.
Deren pun manggut manggut pertanda menyetujui usul Deka.
Bersambung...
__ADS_1
A:"Yang penasaran dengan kemesraan papi Deka dan Mommy Arti bisa baca di sini ya"