HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Ternyata


__ADS_3

Para bandit itu pun membawa paksa Arumi keluar dari rumah dan memaksa Arumi masuk kedalam mobil mereka.


"Diam!!!" bentak orang itu.


Arumi pun diam, ini adalah pengalaman keduanya berhadapan dengan para bandit.


Arumi pun menurut. Dia ingat betul pesan Deren agar selalu menurut pada mereka jika ingin selamat.


"Kemana bos?" tanya sopir itu.


"Markas," jawabnya.


Disisi lain Deren tertawa karena bisa mendengar percakapan bodoh mereka. Tanpa mereka sadari, sandra yang mereka bawa hanyalah umpan yang Deren persembahkan untuk musuh bebuyutannya. Tujuan utama Deren adalah mengetahui markas mereka. Bukankah mencabut benalu yang baik adalah menyertakan akar akarnya.


Deren pun segera menyusul Yunita dan timnya yang telah lebih dahulu berada didepan.


Disisi lain Yunita dan timnya pun sudah bersiap mengikuti mobil yang membawa Arumi. Dengan signal yang dikirim oleh alat canggih yang dipasang ditubuh Arumi membuat mereka merasa terbantu.


Wanita didikkan Deren ini sungguh luar biasa, dia bersikap seolah dia sudah siap berhadapan dengan para bandit yang berdarah dingin itu.


Paras Yunita yang ayu memang sering menipu para orang orang yang ada disekiranya. Mereka menganggap Yunita adalah wanita biasa pada umumnya.


Deren tak mau kalah, dia pun langsung meluncur ke lokasi dimana Arumi disandra.


Deren dan Yunita terus berhubungan lewat pesan voice agar mereka selalu kompak mengambil jalan. Yunita terus memantau dan memantau dari layar monitor miliknya.


Dia melihat Arumi dipaksa turun dari mobilndengan keadaan tangan diikat.


"Kalian menyakitiku!," teriak Arumi, saat kedua pria itu memaksanya masuk kedalam rumah.


"Diam!" bentak mereka


"A15." ucap Yunita pada rekan rekannya. Mereka langsung tanggap, Itu adalah kode kesatuan mereka yang berarti bersiap, target sedang mendekat pada umpan.

__ADS_1


Yunita meminta Arumi tenang, Arumi yang mendengar itu langsung diam tak meronta. Arumi dibawa kesebuah rumah yang sangat mewah, jauh jika dibandingkan dengan tempat pertama kali di culik.


Para penculik itu pun mendorong Arumi hingga jatuh tersungkur. Sebelum Arumi bangun dia melihat sepasang kaki tepat didepan mukanya. Pemilik kaki itu pun segera berjongkok agar Arumi bisa melihat wajahnya.


"Kamu!" pekik Arumi.


"Iya sayang ini aku, kenapa hah kaget," ucap Desi meledek. Dia juga menjambak rambut Arumi. Arumi yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan menurut. Tapi tak dipungkiri bahwa matanya menatap penuh permusuhan pada Desi.


"Brengsek!!" teriak Arumi, andai tanganya tak diikat pasti wanita bar bar milik Yudha ini sudah membalas perbuatan musuh bebuyutanya ini.


Yunita masih setia menatap monitor di mobilnya, menyaksikan bagaimana drama kedua wanita yang sama sama tergila gila dengan chef tampan itu. Yunita sebenarnya sudah tak sabar ingin masuk dan meringkus wanita licik itu, tapi itu tak mungkin. Banyak penjaga dirumah itu. Rata rata mereka menenteng senjata tajam.


Arumi menatap Desi dengan pernuh permusuhan terlebih saat Dese memencet wajahnya dan memegang sebilah pisau hendak merusak wajahnya.


"Bagaimana kalau aku merusak wajahmu, mungkinkah Ayang beb ku masih mau sama kamu heemmm," ucap Desi dengan nada meledeknya. Arumi tetap berusaha tenang meski tak dipungkiri jika dia ketakutan.


"Heh, Mas Yudha akan terus mencintaiku sampai kapanpun," balas Arumi.


"Lepaskan tanganku mari kita berduel, aku tak takut padamu wanita gila!" tantang Arumi dengan suara lantang.


"Aku tidak mau, aku hanya mau kamu tinggalkan mas Yudha untuku atau...," ucap Desi sambil memainkan ujung pisau yang ada ditanganya, dan mulai melukis sesuatu dengan pisau itu kewajah Arumi.


Jujur saja Yunita sudah geram melihat adegan yang menremas jantungnga itu.


Yunita terus menatap dimonitor didasbor mobilnya, terlihat seorang pria gagah perkasa menuruni anak tangga itu dengan tenangnya. Yunita memastikan pria itulah yang berniat buruk pada Deren dengan memanfaatkan ambisi Desi.


"Hay, jangan terburu buru sayang, ayolah main main sebentar lagi," ucap pria itu mencoba menenangkan Desi. Dia juga memberikan ciuman dibibir wanita rubah itu hingga membuat muak siapapun orang yang melihatnya.


Pria itu sungguh pandai membuat tenang Desi, buktinya Desi langsung menurut dan meletakkan pisaunya.


Mobil yang membawa Deren sudah datang, pertanda Yunita dan timnya harus segera bersiapa.


"A16," perintah Yunita pada semua tim nya. (A16 berarti siap menyerang). Mereka semua pun bersiap.

__ADS_1


Mobil yang membawa Deren dan anak buahnya langsung menjebol pagar rumah mewah itu. Disusul oleh mobil yang membawa Yunita dan kawan kawanya.


Deren turun dengan gagahnya dari mobil, para anak buah Deren berada disamping kanan kiri untuk melindungi big bos mereka.


Tepuk tangan mengiringi langkah Deren ketika masuk kedalam rumah itu.


"Wah wah wah... selamat datang sadaraku," ucap orang itu.


" Cih saudara kau bilang, siapa yang sudi punya saudara berhati iblis sepertimu," ucap Deren. Salah satu anak buah orang itu bersiap mengangkat senjatanya. Anak buah Deren pun tak mau kalah Dia pun melakukan hal serupa.


Deren mengangkat salah satu tanganya pertanda perintah untuk menurunkan senjatanya.


"Jangan mengelak saudaraku bagaimanapun kau adalah saudaraku. Kita sekandung bukan," ucapnya. Usut punya usut ternyata musuh yang mengincar Deren adalah abangnya sendiri. Kakak kandungnya sendiri. Niatnya adalah membawa Deren masuk kedalam satuanya. Sayangnya Deren sama sekali tak berminat.


"Kamu pikir aku pemain kotor sepertimu, enak saja," balas Deren.


"Haist, ga usah munafik. Abang sudah berkali kali kasih peringatan. Jangan sekali kali ikut campur urusan abang. Maka beginilah akibatnya orang orang disekelilingmu pasti mati, kamu sendiri yang memilih maka jangan salahkan abang" ucap Steven abang kandung Deren.


"Heh, orang egois dan busuk sepertimu mana tau arti saudara," ucap Deren lantang.


"Ayolah lebih baik gabung dengan abang, lihat apa yang abang punya. Tidak sepertimu kerja capek capek cuma boleh beli selangk*ngan doang!" ejek Steven.


"Sudah berkali kali aku bilang bukan aku bukan adikmu. Dan selamanya tidak, apa keuntunganmu menyakiti orang orang yang dekat denganku, apakah kau iri hah, aku tidak perduli dengan hartamu kau dengar?" Deren tak mau dianggap lemah oleh abangnya.


"Aku tidak iri *******!!!" teriak Steven. Dia pun langsung menyerang Deren.


Pertarungan sengit tak terelakkan, bahkan semua anak buah Deren dan Steven ikut andil. Dikesempatan itu Yunita langsung melepaskan ikatan tangan Arumi. Arumi tak mau kalah dia pun langsung menyerang Desi.


Fakta yang barusan Arumi tangkap adalah ambisi Desi untuk memiliki Yudha dimanfaatkan oleh abang kandung Deren untuk menahklukkan adek kandungnya. Dan tanpa dia sadari kembali dia dan Yudha terlibat dalam masalah serius ini gara gara Desi. Desi lagi Desi lagi. Wanita ular itu memang biang masalah.


Desi kalang kabut dengan serangan membabi buta Arumi. Di memilih berlari naik kelantai atas, Arumi tak mau melepaskan wanita jahat itu. Bagaimanapun caranya dia harus bisa mengalahkan mantan rivalnya itu. Dan membuatnya jera akan perbuatanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2