
Yosan tertawa puas saat keluar dari kediaman Yunita. Robet menatap penuh kebencian pada wanita yang beberapa jam di nikahinya. Dia memilih masuk kekamarnya dan menunggu penjelasan dari istrinya.
Yunita tak bisa berbuat apa apa karena inilah kenyataanya. Tentangnya, sedikit cerita tentang keluarganya.
Yunita duduk lemaa di sofa ruang tamu rumahnya. Menangis menjadi jadi, tak tau harus bagaimana lagi dia bersikap.
"Mbak, sabar ya," ucap Mala sambil mengelus punggung kakak kandungnya.
"Mbak harus gimana lagi Mala, semua udah Mbak jalani. Kenapa Yosan setega itu dengan keluarga kita. Mbak pikir dia iklas saat membantu keluarga kita makanya mbak menyetujuinya saat itu. Mbak ga tau kalau dia seperti itu Mala," ucap Yunita masih bertahan dengan tangisnya.
"Udah Mbak nangisnya, nanti kalau bapak dengar dia malah sedih," jawab Mala.
"Mbak harus gimana lagi sekarang Mala?" tanya Yunita pada adeknya.
"Mbak jelasin aja semuanya sama abang. Mala yakin abang akan mengerti," jawab Mala.
"Bagaimana kalau dia ga percaya Mala?" tanya Yunita.
"Coba dulu aja mbak, kalau abang sayang sama Mbak dan iklas menerima Mbak apa adanya pasti abang mau percaya, kalau mbak bukan wanita seperti yang bang Yosan katakan tadi," ucap Mala mencoba membuat tenang saudarinya.
"Jika nanti terjadi sesuatu sama Mbak, kamu jagain bapak ya dek," ucap Yunita berusaha tegar.
"Iya Mbak, mari kita berjuang bersama," jawab Mala. Gadis ini memang baru berusia 18 tahun tapi pola pikirnya sangat dewasa. Mungkinkah ini karena keadaan yang harus mereka hadapi. Mala terpaksa berhenti sekolah dan menjaga bapaknya karena Yunita harus berjuang untuk melunasi hutang hutang orang tuanya.
***
#Flasback on#
Empat tahun yang lalu...
Awal Masalah...
Dimeja makan tampak seorang anak gadis sedang membantu ibunya menyiapkan hidangan makan malam di meja makan itu.
"Ibuk...bapak kemana buk, kok ga pulang pulang?" tanya Rohmah (Yunita).
"Bapakmu ada urusan sama rekan kerjanya," jawab Fatimah ibu kandung Rohmah
__ADS_1
"Emang ada masalah bu di gudang bapak?" tanya Rohmah.
"Iya sedikit. Kata bapak kita kehilangan satu barang kiriman orang." jawab Bu Fatimah lagi. Wajahnya terlihat sangat resah.
"Ibu kok kelihatan khawatir, emang barangnya yang hilang itu mahal buk?" tanya Rohmah.
"Mahal Mbak, milik toko Berkah Jaya langganan bapak," jawab Ibu Fatimah. Berkah Jaya adalah toko serba ada yang terkenal di Samarinda.
"Hah...bagaimana bisa buk?" jawab Rohmah khawatir. Iya bisnis keluarga Rohmah adalah pemilik salah satu expedisi kota Samarinda.
"Ga tau , namanya juga musibah," jawab Bu Fatimah tenang. Tak dipungkiri bahwa barang yang dihilangkan oleh anak buah mereka nilainya bisa dibilang sangat fantastis untuk ukuran ekpedisi yang baru merintis. Ditambah lagi mereka belum begitu paham apa yang harus dilakukan jika kehilangan barang.
"Ya Tuhan buk, apakah kita harus ganti tu barang?" tanya Rohmah.
"Ya iyalah Mbak, kan ilangnya pas ditangan kita. Ditambah bapak tertipu sama kawannya. yang hari itu nawarin investasi," jawab Bu Fatimah. Ainur Rohmah yang saat itu baru berusia 20 tahun sangat shock dengan masalah yang kini dihadapi keluarganya.
"Bapak dapet uang dari mana buk kok bisa memutuskan ikut investasi segala?" tanya Rohmah.
"Gadein sertifikat rumah ini Mbak ke bank," jawab Bu Fatimah.
"Ya Allah buk, berapa kira kira bapak gadein rumah ini buk?" tanya Rohmah lagi.
Tak lama pak Burhan pun datang dengan muka kusut. Dia datang membawa kabar buruk itu. Rohmah dan Ibu Fatimah pun sudah menduga ini.
"Buk, Rohmah maafin bapak ya," ucap Pak Burhan sedih.
"Ga papa Pak, namanya juga musibah," jawab bu Fatimah.
"Besok kita harus pindah dari sini Buk, rumah kita disita bank karena kita ga mampu bayar cicilan bu. Dan mobil bapak gadaikan buat gantiin barang hilang sama gaji kariawan buk. Kita hancur buk," ucap Pak Burhan. Rohmah dan bu Fatimah tak bisa berkata apa apa selain diam dan pasrah dengan keadaan.
#Flasback off#
Yunita menghapus air matanya ketika Robet berdiri dibelakangnya.
"Ganti pakaianmu, orang yang mau jemput kita sudah dekat," ucap Robet.
"Tapi Mas, kita mau kemana?" tanya Yunita.
__ADS_1
"Kita selesaikan masalah kita!" jawab Robet ketus.
Yunita tak berani menjawab apapun kali ini. Dia tak mau menyulut api kemaraham suaminya lagi. Toh saat ini dialah yanh berada diposisi terdakwa, mau ga mau harus mengikuti jalanya persidangan bukan.
Yunita segera mengganti pakaianya, memasukan barang barang yang mungkin akan diperlukannya.
"Nita pamit bapak dulu ya Mas," ucap Yunita saat menghapiri suaminya di ruang tamu.
"Heemm," jawab Robet.
Yunita pun melangkah ke kamar bapaknya dimana pak Burhan menghabiskan hari harinya. Sejak anggota tubuhnya tidak berfungsi pak Burhan hanya bisa berbaring kaku tak berdaya. Deritanya bertambah ketika istri yang merawatnya sejak sakit meninggal dunia karena serangan jantung.
"Bapak...," ucap Yunita sambil mengelus rambut pria tua itu.
"Haaa," jawab Pak Burhan, Yunita tak kuasa menahan air matanya. Bagaimana tidak pria yang dulu di idolakanya kini berbaring tak berdaya.
"Rohmah pulang dulu ya, sekarang Rohmah kan udah ada suami. Jadi Rohmah harus ikut beliau. Nanti kalau Rohmah ada rejeki pasti Rohmah datang kesini. Jenguk Bapak ya," ucap Yunita sambil mengelus pria yang sangat disayanginya ini.
"Haaa," jawab Pak Burhan. Hanya kata itulah yang mampu Pak Burhan ucapkan saat ini. Air mata pria itu pun mengalir pertanda dia ingin mengucapkan sesuatu tapi tak mampu.
"Bapak jangan nangis, Rohmah ga papa Pak. Bapak denger ya tadi?" tanya Yunita.
"Haaa," jawabnya lagi.
"Hehehe, Bapak ga tampan kalau sedih gitu. Ga papa Pak, Bapak ga usah sedih nanti ga sembuh sembuh ya. Emang Bapak ga pengen apa gendong cucu dari Rohmah hah...Ayo Bapak semangat. Bapak pasti sembuh ya." ucap Yunita. Pak Burhan pun tersenyum mendengar perkataan putri kesayanganya.
Yunita pun mencium kening dan pipi pria kebanggannya kemudian dia pun berpamitan.
Tak lupa dia juga meninggalkan uang yang masih dia punya untuk adeknya.
"Dek, jaga bapak ya. Kalau ada apa apa kabari," ucap Yunita.
"Iya Mbak, Mbak yang sabar ya," balas Mala.
"Iya Dek, nanti kalau ada apa apa minta bantuan ama petugas medis aja. Terus bayar, jangan minta bantuan sama siapapun. Takutnya mereka pamrih, kamu paham kan Dek maksud Mbak," ucap Yunita mewanti wanti adeknya. Agar adeknya tak mempunyai nasib yang sama sepertinya. Karena mudah menerima bantuan orang lain pada ahirnya dia dimanfaatnya.Dan masalah itu berbuntut panjang sampai sekarang.
Yunita menghampiri suaminya diruang tamu, sayangnya suaminya tidak ada disana. Beliau sudah ada didalam mobil dan menunggunya dengan muka terlihat tidak senang.
__ADS_1
Bersambung...
CA:" Gengs, kalian juga boleh berpartisipasi loh untu alur kehidupan Yunita dan Mas Robet kali ini. Tetep ditunggu like n komenya ya gengs....happy reading😍🤗."