
Arumi kembali ke apartemen iparnya. Duduk termenung disalah satu sudut ruangan itu. Arti menghampiri adek iparnya.
"Rum,"
"Iya Mbak," Arumi menoleh.
"Kamu udah makan?" tanya Arti.
"Bagaimana Rum bisa makan Mbak, Rum ga tau mamas udah makan apa belum. Dia lagi ngapain aja Rum ga tau hiks...hiks...hik....," ucap Arumi sesak didadanya kembali menghampiri.
"Sabar ya Rum, semua kan lagi cari mamasmu, Mbak juga sedih Rum sama kayak kamu. Tapi mbak yakin kalau mas mu pasti baik baik saja," ucap Arti sambil mengelus punggung Arumi. Arti melihat betapa tersiksanya wanita yang ada didepanya. Dia pernah merasakan ini bukan saat menjanda dulu. Saat pertama kali ingatanya kembali soal kekasih hatinya.
"Arumi menyesal mbak, Arumi jahat sekali sama mamas. Jika seandainya malam itu Rum tak terpncing omongan wanita iblis itu mungkin mamas akan baik baik saja sekarang," ucap Arumi.
"Iya, Mbak tau. Yang sabar ya kasihan anak anakmu. Ditya nanyain kamu sama abiny terus Rum. Kasihan putramu, kamu mau pulang ke Jakarta dulu kah?" tawar Arti.
"Enggak mbak, Rum mau nungguin disini sampai mamas kembali. Rum udah bilang ama kawan Rum buat ngurus surat pindah sekolah Ditya. Lagian Rum kan mesti nerusin usahan mamas. Rum sama anak anak boleh ga mbak tinggal dirumah ibuk?" ucap Arumi lagi. Arti sangat senang ternyata Arumi punya pemikiran yang panjang.
"Tentu Rum, itu kan rumahmu juga. Ya udah nanti mbak minta orang buat renov supaya kamu lebih nyaman tinggal disana, terua rumahmu yang di Jakarta gimana?" tanya Arti.
"Ga tau mbak, biarin aja dulu," ucap Arumi.
"Ya udah, senyamanya kamu aja. Sabar ya Rum.Semoga Yudha segera ketemu. Oia wanita rubah itu gimana?" tanya Arti geram.
"Ga tau lah mbak, dia bener bener nyebelin. Jiwa keibuanya ga ada sama sekali, kasihan bayinya mbak masih kecil pula," jawab Arumi, meskipun dia kesal dengan ibunya tapi masih berbaik hati memikirkan Vero putri Desi.
" Taruh dipanti Mbak aja Rum kalau ga," usul Arti.
"Pengasuhnya ga tega Mbak, bisa nangis nangis dia. Vero sakit aja bingung apa lagi ditaruh dipanti bisa gila nanti," ucap Arumi. Arti menatap heran kearah Arumi.
"Terus, dia mau rawat. Gajinya?" tanya Arti.
"Dulu yang gaji mamas, sekarang dia mau kerja ditempat kawan Rum mbak. Tapi minta syarat boleh bawa anak itu," ucap Arumi.
"Terus kawan kamu mau?"
"Belum tau lagi mbak, pikiran Rum lagi ruwet. Sebenernya gemes banget Rum ni ama si Desi. Awas aja ntar kalau dia sampek nyari anaknya bakalan Rum sambel mukanya," ucap Arumi geram. Arti tau sebenci apapun Arumi pada Desi, Arumi masih sayang sama anak tak berdosa itu.
__ADS_1
"Apapun keputusan kalian semoga itu yang terbaik buat anak itu ya Rum, kalau misalnya ga ada yang mau Mbak mau kok ngrawat dia. Kasihan dari pada ikut emaknya tapi disakiti," ucap Arti.
"Iya mbak coba nanti Rum tanya lagi." ucap Arumi. Mereka diam suasan menjadi hening. Sampai Deka datang mereka tak menyadari.
"Sore," sapa Deka.
"Sore pap, gimana udah ada perkembangan?" tanya Arti sambil mencium tangan suaminya.
"Udah mom, Alhamdulilah," jawab Deka. Arumi yang mendengar jawaban abang Iparnya langsung meloncat dari duduknya.
"Papi serius?" tanya Arumi sambil mengelap air matanya.
"Heemmm," jawab Deka. Arumi langsung memeluk Arti dan menangis disana.
"Mbak suamiku Mbak," ucap Arumi dalam tangisnya.
"Iya Rum, selamat ya ahirnya Yudha ketemu," ucap Arti sambil kembali menepuk pundak adek iparnya.
"Dimana suamiku sekarang Pi," tanya Arumi.
Deka diam, sambil menatap bergantian kearah Arti dan Arumi. Arumi menarik narik baju Deka hingga Deka mau bicara.
"Bersiaplah Papi antar kamu kesana," ucap Deka.
"Tapi mas ga papa kan Pi, mas selamat kan pi?" tanya Arti bertubi tubi.
"Suamimu selamat, soal keadaanya kamu lihat sendiri," jawab Deka.
Arumi bergegas mengganti pakaianya sambil menangis. Dia sudah ga sabar ingin bertemu dengan pria yang beberapa hari ini sukses membuatnya tersiksa.
Dalam perjalanan kerumah sakit Arumi terua menangis dan berdoa. Segala puja dan puji syukur dia ucapkan. Bahkan Dzikir yang dia ucapkan dalam hati pun tak putus.
Arumi melihat beberapa anak buah Deka berjaga diparkiran. Anak buah Deren juga terlihat beberapa disana.
Perasaan was was Arumi kembali melintas, tak dipungkiri bahwa kemungkinan terburuk juga Arumi pikirkan.
Jantungnya berdetak kencang ketika Deka sengaja membawanya lewat didepan kamar mayat. Sebenarnya Deka tak sengaja lewat situ karena mobilnya parkir dibelakang.
__ADS_1
Langkah Arumi terhenti saat berada tepat didepan pintu kamar mayar itu. Deka pun ikutan berhenti.
"Loh ayo, ngapain berhenti disitu?" tanya Deka.
"Kita mau kesini kan Pi?" tanya Arumi. Deka pun bingung dengan pertanyaan Arumi. Dia pun membaca papan nama yang terpampang didepan pintu itu.
"Ngapain disini, kamu mau nyari siapa?" tanya Deka.
"Ga disini ya Pi?" Arumi malah balik bertanya.
"Astaga Arumi kamu benar benar ratu drama, udah dikasih tau kalau suaminya selamat. Masak mau nyarinya dikamar mayat" gerutu Deka dalam hati.
"Kamu ini lo Rum, suaminya sehat walafiat kok dicari dikamar mayat, yang bener aja," ucap Deka sambil menarik tangan Arumi. Arti terlihat bingung juga. "Astaga kenapa aku dikelillingi wanita wanita super oon ini Tuhan," gumam Deka.
Arumi pun tak mau bertanya lagi dia pun menurut saat Deka menarik tangannya.
Sampailah mereka dilantai 3 ruamh sakit itu. Didepan kamar oprasi itu ada Deren dan juga Joker yang sedang menunggu.
Arumi langsung menghambur kepelukan abang kandungnya. "Abang," ucap Arumi.
"Yang sabar ya Rum, suamimu lagi dioprasi sama dokter. Semoga oprasinya berjalan dengan lancar heemmm, udah cup jangan nangis," ucap Joker. Mencoba menengkan adeknya.
"Pak Deren terimakasih banya," ucap Arumi.
"Sama sama Mbak," jawab Deren sambil menyambut uluran tangan Arumi.
"Apakah bapak yang menemukan suami saya?" tanya Arumi.
"Iya mbak," jawabnya.
"Maafkan saya ya pak!" pinta Arumi.
"Ga papa mbak, saya hanya berharap permasalahan diantara kalian cepat selesai. Kalau mau pisah sebaiknya dipikirin lagi kasihan anak anak," ucap Deren memberi saran.
"Iya pak, terimakasih," ucap Arumi.
Mereka pun dengan sabar menunggu berjalanya oprasi Yudha. Sayangnya kebahagiaan Arumi tak berlangsung lama. Ada 1 polisi dan dua polwan mencarinya. Yah Desi melaporkanya pada polisi atas tuduhan penganiayaan.
__ADS_1
Astaga drama apa lagi ini, Desi.. Desi...hah, ga kapok kapok dah.
Bersambung...