HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Shock


__ADS_3

Deren menatap ke arah Robet, seolah meminta persetujuan pria itu saat hendak menyampaikan berita duka ini.


"Kenapa kalian diam, dimana suamiku?" tanya Arumi. Dia menatap ketiga tamunya bergantian.


"Kami harap kamu kuat ya Rum," ucap Robet memperingatkan. Arumi makin penasaran, dia pun bertanya lagi.


"Dimana suamiku Bet, apakah dia marah padaku?" tanya Arumi pelan sambil menatap lekat kearah Robet. Tatapan itu sungguh pilu seolah memohon pada Robet untuk memberi tahu dimana suaminya berada.


"Maaf mbak Rum," Deren mulai membuka suaranya, jujur saat ini Deren merasa gugup, karena apa yang akan dia ucapkan mungkin bisa saja menyakiti Arumi.


"Maaf ?, Kenapa anda minta maaf?" tanya Arumi lagi. Deren menutup wajahnya dan menghembuskan nafas dengan beratnya. Keringat dingin tiba tiba mengucur dengan sendirinya dari kening pria berdarah Batak Jawa itu.


"Yudha kemarin mengalami kecelakaan mbak, mobilnya masuk kejurang dan terbakar habis. Sampai saat ini Yudha belum ditemukan," ucap Deren, lembut pelan dan penuh perasaan.


Arumi menatap tak percaya pada pria yang memberi kabar mengejutkan ini. Tatapan mata Arumi kembali nanar. Air matanya meluncur begitu saja, bibirnya bergetar. Arumi tak bisa membayangkan perasaanya sekarang. Pikiranya ngebank, hatinya hancur. Dadanya tiba tiba sesak seketika.


"Enggak, kalian pasti bohong. Suamiku ga kenapa napa kan, yang kecelakaan itu pasti bukan suamiku. Kalian pasti salah," ucap Arumi terbata bata. Air mata Arumi meluncur begitu saja. Deren, Robet dan juga Yunita menatap iba kepadanya.


Arumi mengguncang tubuh Robet dan berkata, "ini ga bener kan Bet, kalian boong kan Bet?" tanya Arumi tak percaya.


"Maaf Rum, dengan berat hati aku menjawab iya. Karena itu adalah kenyataanya," jawab Robet sungguh sungguh.

__ADS_1


"Enggak...enggak...enggak...ini ga bener, kalian pasti salah. Itu pasti bukan mas Yudha. Enggak...kalian pasti boong!!!!" teriak Arumi. Teriakan itu terdegar menyayat hati. Arumi menjerit lagi memanggil nama suaminya.


"Mas Yudha!!!, Maafin Rum mas!!!,Mas...Mas Yudha...." diteriakan terahir Arumi tak mampu mengendalikan emosinya. Nafas Arumi tersedat, tangisanya tak terdengar. Arumi pingsan.


Robet dan Deren pun terkejut, bahkan dua asisten rumah tangga mereka pun ikutan berlari. Yunita langsung memberikan Vero pada asisten rumah tangga Arumi. Dengan cekatan Yunita membantu Robet dan Deren.


"Minyak kayu putih mbak," pinta Yunita. Dia pun membuka dua kancing baju milik Arumi. Menutup tubuh itu dengan selimut milik Vero. Mengipasi tubuh itu agar Arumi segera sadar.


Hampir lima belas menit Arumi diam, tak lama tanganya pun bergerak. Pelan pelan tapi pasti Arumi pun membuka matanya. Tatapan mata itu kembali kosong. Air matanya kembali mengalir dengan sendirinya. Bibir cantik itu pun kembali bergetar seolah mengisaratkan betapa sakitnya hatinya saat ini. Arumi ketakutan.


Arumi mengingat apa yang barusan didengarnya. Dia kembali menangis histeris, beranjak dari pembaringannya dan duduk disamping sahabatnya.


"Bet, aku mau suamiku Bet. Tolong bawa aku kesana!" pinta Arumi memohon pada Robet. Mengguncang tangan Robet dan sesekali mencengeramnya.


Deren ga tau harus mengatakan apa. Apa yang dia pikirkan selama ini benar bahwa Yudha dan Arumi saling mencintai hanya saja rasa kurang percaya antara mereka harus diperbaiki.


"Maaf mbak Rum, bolehkah saya bertanya?" ucap Deren, Arumi masih menangis pilu tapi dia berusaha akan menjawab pertanyaan Deren dengan sejujur jujurnya.


"Iya pak, silahkan," jawab Arumi memelas.


"Kenapa mbak bisa bilang kalau Yudha lagi sama Desi, setau saya Desi lagi dipenjara lo mbak. Anaknya aja dititipin Ke Yudha kan?" tanya Deren langsung pada inti permasalahan mereka.

__ADS_1


"Desi sendiri pak yang kasih tau saya, bahkan dia juga kasih tau saya kalau anaknya dan Yudha sekarang dalam asuahan suami saya," jawab Arumi jujur.


"Heemm, pantesan." jawab Deren.


"Tapi bayi ini bukan anak Yudha mbak, Demi Tuhan kami ga bohong, karena kami sudah membuktikanya," ucap Deren lagi.


Arumi meraih ponselnya dan menunjukan pesan yang pernah dikirim oleh Desi. Deren menerima pesan itu dan membacanya bersama Robet. Deren dan Robet saling menatap.


"Astaga, apakah Yudha tertipu lagi?" tanya Deren pada Robet.


"Tapi demi Tuhan mbak. Saya dan Yudha tak bohong kalau wanita itu ada dipenjara. Bahkan kalau menurut saya kasusnya sedikit berat karena terlibat prostitusi online. Beberapa kasus penggelapan dana dan obat obatan terlarang. Mustahil kan kalau dia bisa bebas secepat ini, Mungkinkah sakitnya itu kebohongan. Mungkinkah itu hanya alasanya untuk membuat Yudha iba. Dan bersedia menjaga anaknya. Wah jika ini benar berarti bener tu perempuan sakit, " ucap Deren. Arumi diam dia terus berusaha tenang walau saat ini hatinya terasa remuk redam.


"Aku mau suamiku Pak," ucap Arumi dalam tangisnya.


"Mbak sabar dulu ya, biar Desi Robet dan Juan yang urus. Nanti saya bantu cari Yudha. mbak yang sabar ya, yang kuat," ucap Deren. Arumi kembali menangis dia ga tau harus berbuat apa.


"Yun, sebaiknya kamu disini dulu. Jagain anak anak Yudha ya. Biar Mbak Rum ikut kita ke Samarinda," perintah Deren.


"Siap bos, laksanakan," jawab Yunita. Disela sela perbincangan mereka ada satu hati yang sedikit tertarik dengan gadis yang sedari tadi diam dan berkerja saat dibutuhkan. Aist Aak Robet sabar ya urus dulu ratu drama satu kita ini ya.


Arumi lemas, jangankan untuk berjalan untuk berdiri saja dia ga sanggup. Suaminya yang dia cintai tak diketahui kebenaranya. Bagaimana ini, bagaimana caranya dia mengembalikan keadaan yang dia hancurkan.

__ADS_1


Seandainya dia percaya pada suaminya. Seandainya dia tak percaya begitu saja pada wanita rubah yang menjerumuskanya. Mungkin suaminya akan tenang dalam berkendara. Andai dia tak menyakiti perasaan suaminya. Pasti semua tidak akan serunyam seperti sekarang.


Bersambung....


__ADS_2