
Arumi menyiapkan makan malam dengan muka cemberut. Dua asisten rumah tangganya yang ikut membantunya jadi heran. Tumben sekali biasanya Arumi selalu ramah dan bercanda serta kadang juga minta pendapat mereka ketika hendak memasak apa.
"Cicik sini !" panggil Yudha pada pengasuh Mawar.
"Saya Pak," jawab Cicik sambil melangkah mendekati Yudha.
"Bantu Bapak duduk disofa dong," ucap Yudha, Yudha sengaja mengeraskan suaranya agar Arumi dengar. Terang saja Arumi yang mendengar itu langsung menyaut. Mana rela dia suami tampanya dipegang wanita lain walaupun itu asisten di rumah mereka. Dan Yudha tau betul soal itu.
"Ga usah Cik, biar Non aja yang bantu," ucap Arumi sambil melangkah mendekati suaminya. Cicik pun kembali melakukan pekerjaanya.
Arumi pun menggulung rambutnya dan membantu Yudha duduk disofa seperti yang dia mau. Yudha tersenyum saat menatap wajah cemberut itu.
Dasarnya Yudha memang iseng dia pun mengecup pipi Arumi. Arumi langsung meliriknya penuh permusuhan.
"Ish, apaan sih!" gerutu Arumi ketus.
"Bener ga mau dicium, nanti Abi cium Cicik lo," canda Yudha lagi. Suka sekali rasanya menggoda istri cantiknya. Arumi langsung menjatuhkan tubuhnya di samping suaminya.
"Cik...," panggil Arumi sambil menatap kearah suaminya. Yudha hanya tersenyum meledek. Dasar ratu cemburu.
"Ya Non," jawab Cicik sambil berlari mendekati mereka.
"Nama pacar kamu siapa?" tanya Arumi pada Cicik matanya masih saja menatap penuh permusuhan pada Yudha. Yudha malah tersenyum tak perduli dan terus memainkan ponselnya.
"Mas Yiko Non," jawab Cicik.
"Kerja dimana pacarmu?" tanya Arumi lagi.
__ADS_1
"Di rumah sakit dekat restauran Bapak Non," jawab Cicik lagi. Yudha masih saja setia mendengarkan.
"Besok suruh kesini suruh geb...(Yudha langsung membekap mulut istriny)," Arumi pun terpaksa tak melanjutkan kata katanya.
"Udah Cik kamu ga usah perduliin Non mu, dia lagi mentruasi makanya bawaanya sewot mulu. Udah kamu sana," ucap Yudha tanganya masih setia dimulut Arumi.
"Ish...apa sih," ucap Arumi kesal.
"Habis Bunda ada ada aja," balas Yudha.
"Lah, Abi yang mulai," Arumi tak mau kalah. Dia pun langsung berbaring manja dipangkuan suaminya.
"Makanya kalau Abi cium jangan rewel, kayak Mawar aja. Gara gara lihat kaki Abi di bungkus gini dia kalau Abi cium dilapin Bun, hahaha menggemaskan sekali anak itu," ucap Yudha. Yudha pun menertawakan ratu dramanya. Arumi membalikan badanya dan membenamkan wajahnya diperut rata suaminya.
Yudha mengelus manja rambut panjang Arumi. Siapapun yang melihat kemesraan mereka pasti tak akan pernah menyangka bahwa rumah tangga mereka pernah diterpa badai yang begitu dahsyatnya. Mereka sweet sekali sih.
"Udah bobo Bi, rewel giginya mau numbuh tu," jawabnya.
"Ooo, pantesan Abi deketin dia marah," jawabnya.
"Abang WA Abi loh tadi," ucap Arumi.
"Benarkah, Abi belum baca," ucap Yudha sambil kembali meraih ponselnya. Yudha pun membaca satu persatu pesan chat yang masuk kedalam ponselnya.
Yudha diam, dia menatap ponselnya tak percaya.
"Bi, ada apaan kok mukanya begitu?" tanya Arumi.
__ADS_1
"Bun, baca deh Desi kabur lari Rumah sakit Bun," ucap Yudha sambil menyerahkan ponselnya. Arumi pun membaca pesan itu. Mata Arumi terbelalak tak percaya. Dia pun langsung bangun dari tidurnya.
"Ya Allah Bi, gimana ini. tulisan itu pakek darah apa spidol Bi?" tanya Arumi. Tulisan itu sangat jelas. Hingga muda dibaca meski itu hasil jepretan kamera ponsel.
"Wanita itu memang licik, cepat hubungi Yunita bun katakan padanya untuk waspada," perintah Yudha.
Tanpa banyak kata Arumi pun langsung menghubungi Yunita. Wanita yang mengasuh putri Desi. Desi dikabarkan kabur dari rumah sakit jiwa dan hendak menghabisi bayinya.
Menurut petugas yang menemukan tulisan Desi sebelum kabur, dia menulis bahwa bayi itu harus lenyap. Karena gara gara bayi itulah dia harus kehilangan Yudha.
Sayangnya Yunita tak bisa dihubungi, Yudha pun langsung menghubungi Robet. Sekali lagi ponsel mereka tak ada satupun yang bisa dihubungi.
"Bagaimana ini Bun, Robet juga ga bisa di hubungi," ucap Yudha khawatir.
"Mitha!!" pekik Arumi seketika dia pun mengingat nama itu.
Arumi pun menghubungi nomer sahabatnya, sayangnya tak bisa juga.
"Ga bisa juga Bi," ucap Arumi khawatir.
"Bagaimana ini?" tambah Arumi.
"Kirim pesan aja bun, kasih tau mereka suruh waspada," ucap Yudha. Arumi pun menuruti perintah suaminya.
Tak dipungkiri bahwa perasaan mereka sangat was was. Wanita psikopat itu mampu melakukan apapun. Bahkan dia tega menyakiti siapapun yang jadi targetnya.
Bersambung...
__ADS_1