HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Pergerakan Rahasia


__ADS_3

"Rencananya kalian mau akad dimana?" tanya Yudha.


"Di rumah Yunita Yudh, tapi resepsinya kita mau sewa restauran elo," jawab Robet masih setia memeluk pinggang kekasihnya.


"Kapan itu?" tanya Yudha lagi.


"Tiga bulan kedepan lah, kalau akadnya paling minggu ini," jawab Robet serius.


"Ooo, baiklah nanti langsung reservasi aja. sumpah kalian gerak cepat bener. jadi penasaran deh kok kalian bisa nyambung gitu," goda Yudha. Arumi juga penasaran sih tapi ga mungkin dia nanya nanya nanti dibilang kepo pula.


"Emmm, gimana ya han. Mas ga tau," jawab Robet malu malu. (Aelah mas Obet ngono ae isin cie cie). Arumi memperhatikan mereka secara bergantian. Yunita hanya menatap mesra kearah calon suaminya dengan senyuman termanisnya.


"Ga tau juga Nita Mas," jawab Yunita malu malu.


"Aaaahhhh....whatever lah, yang penting kalian bahagia. Oia si Desi kabur dari penjara bro. Dia lagi nyari anaknya, coba lo baca pesan bini ane ke elo," pinta Yudha. Robet pun membuka aplikasi diponselnya. Matanya terbelalak ketika membaca pesan itu.


"Gila, dia mau ngabisin darah daging dia sendiri. Psikopat bener ni perempuan!" ucap Robet geram.


"Ada apa Mas?" tanya Yunita.


"Coba kamu baca ini dek, gila bener ni mausia sumpah!" ucap Robet sambil memberikan ponselnya pada kekasihnya. Yunita mengerutkan dahinya, disana terpancar jelas perasaan khawatir pada Vero.


"Kasihan sekali anak ini Mas, padahal kan udah ga ngrepotin dia," ucap Yunita memelas. Sebenarnya tanpa mereka ketahui Yunita sudah koordianasi dengan timnya. Bahkan dia sudah membicarakan ini dengan big bos nya (Deren).

__ADS_1


Yunita, wanita jebolan gengster ini tak mungkin tak cerdas dalam membaca pergerakan musuh. Hanya saja pantang baginya mengumbar siasat sebelum mendapat hasil.


"Emmm, mbak apakah merepotkan jika kami titip Vero disini untuk semalam saja. Soalnya perjalanan dari sini ke kampung saya jauh banget dan ga bisa ditempuh dengan mobil. Kasihan dia kalau dibawa bawa," pinta Yunita. Arumi pun tak merasa keberatan.


"Boleh Yun, tinggal aja ada mbaknya juga nanti yang bantu aku," jawab Arumi. Sepertinya Arumi tak menyadari bahwa ini adalah salah satu rencana Yunita dan timnya atas arahan big bos mereka.


Yunita sudah berhasil menjalankan satu rencannya. Tinggal anggota tim lain yang bekerja. Wanita ular ini memang licin. Bahkan dia sanggup menyerahkan tubuhnya demi mendapatkan bantuan.


Yunita merasakan ponselnya berbunyi pertanda dia harus segera pergi dari kediaman Yudha. Dia pun langsung mengajak kekasihnya untuk melanjutkan perjalananya. Tak dipungkiri bahwa dia juga khawatir. Karena bukan hanya nyawa Vero yang di pertaruhkan tapi juga seluruh anggota keluarga yang ada disini.


Didalam mobil Yunita terus memikirkan ini tapi dia yakin pada timnya. Kekhawatiranya terlihat sangat jelas bagi Robet sang kekasih.


"Kamu khawatir kah sayang?" tanya Robet sambil mengelus pipi kekasihnya.


"Sudah enam bulan ini aku menjaganya Mas, ga mungkin aku ga khawatir," ucap Yunita menutupi apa yang sebenarnya dia pikirkan.


"Kok Mas berubah gitu pikiranya. Mas ga pernah lihat sih pas wanita gila itu nyakitin anaknya. Masak anak sekecil itu mau diinjak. Kan gila itu," ucap Yunita makin yakin dengan pemikiranya.


Tak lama ponsel Yunita kembali berdering. pertanda dia harus waspada. Yunita segera pindah kebelakang dan mengganti pakaianya. Dia tak perduli dengan apa yang dipikirkan kekasihnya. Ingin rasanya dia terus menyembunyikan identitasnya tapi kali ini ga mungkin. Dia ga punya waktu untuk basa basi.


Yunita langsung mengambil tas kecil yang dia sembunyikan dibawah jog tempat dia duduk tadi. Bersiap memakai celana panjang, membuka dressnya dan memakai kaos biasa serta memakai jaket anti peluru. Robet hanya tertegun melihat apa yang dilakukan Yunita.


Robet menginjak rem mobilnya dan menepikan mobil itu di pinggir jalan. Robet masih belum berani bertanya. Dia terus memperhatikan apa yang dilakukan wanitanya.

__ADS_1


"Bapak ga keberatan kan saya tinggal dulu," ucap Yunita tiba tiba berubah formal.


"Kamu mau kemana honey!" tanya Robet gugup karena jujur ini adalah pertama kalinya dia tau pekerjaan istrinya. Yang dia tau adalah Yunita adalah anak buah Deren si mafia keren itu. Tapi dia ga tau kalau Yunita juga pemain lapangan.


Yunita menguncir rambutnya dan pengambil peralatan yang dia sembunyikan di bawah jog penumpang bagian belakang. Yang Robet pakai ini memang mobil milik Deren. Tapi dia sama sekali tak tahu apa yang ada didalamnya.


"Yank, ini kamu?" tanya Robet. Otaknya masih belum bisa menerima siapa sebenarnya kekasihnya. Agak nya Yunita tak perduli dengan ini. Yang dia pikirkan saat ini adalah kesatuan timnya, harga diri big bosnya dan keluarga pria yang membayar hutang hutang keluarganya.


Yunita memasang semua senjata yang dia perlukan ditubuhnya. Robet masih setia memperhatikan setiap gerak Yunita. Ini sungguh wow. Mimpi apa dia bisa mengenal seorang perempuan yang nyatanya adalah anggota tim gangster.


"Pak, bisa kita putar arah," pinta Yunita setelah selesai dengan atributnya.


"Baik," jawab Robet. Dia enggan banyak bertanya, meski jujur ada banyak pertanyaan yang ada dibenaknya. Bagaimana tidak Yunita sangat berbeda. Ini sungguh berbanding terbalik dengan Yunita yang dia kenal dirumah. Yang lemah lembut dan penuh kasih sayang pada Vero, gadis cilik yang menjadi penghubung antara dirinya dan wanita ini.


Yunita memakai eiarphonenya dan berbicara memakai bahasa kode kode. Astaga mimpi apa aku bia berhubungan dengan anggota gangster. Robet terus menjelama menjadi supir Yunita. Wanita ini kembali diam dan terlihat waspada.


"Bapak nanti ikut salah satu tim saya, bapak pakek jaket dan maskernya. Jangan lupa kacamatanya. Lawan yang kita hadapi ga main main. Desi meminta salah satu mafia terbaik di negri ini, Dia mau semua yang berhubungan dengan Pak Yudha lenyap. Bapak mengerti!" ucap Yunita tegas.


Robet terbelalak tak percaya dengan apa yang barusan calon istrinya katakan. "Kamu serius Yun?" tanyanya. Yunita hanya mengangguk. Dia ga mungkin menjelaskan panjang lebar karena tidak menutup kemungkin bahwa mobil ini disadap.


"Pak, berhenti," perintah Yunita. Robet pun menginjak remnya dan memarkirkan mobilnya. Tak lama berselang ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya.


"Bapak ikut orang itu ya, sekali ini tolong percaya pada saya," ucap Yunita lagi. Dia langsung meraih kepala Robet dan memberikan ciuman semesra mungkin untuk kekasihnya. Robet hanya menurut kala wanitanya melampiaskan keinginannya.

__ADS_1


"Pergilah, aku mencitaimu," bisik Yunita. Robet masih tak berani menjawab, ini bukan hanya ciuman pertama mereka tapi juga ciuman paling mendebarkan baginya. Dia merasa ciuman ini lebih seperti salam perpisahan buat mereka. Tapi entahlah!!!.


Bersambung ...


__ADS_2