
Yunita terpaksa makan makanan milik Robet. Dia tak tahu apakah Robet memberikan makanannya ini karena mencintainya atau justru melecehkanya.
Yunita tidak perduli dengan apapun alasan yang ada dipikiran suaminya. Dengan keteguhan hatinya Yunita pun menelan semua makanan yang ada di piring itu, tanpa melihat dan memilihnya lagi.
Sialnya, saat makanan itu belum habis tak disangka ibu mertua datang dan dengan congkaknya dia langsung mencibir anak mantunya.
Yunita langsung meletakkan piringnya di atas meja, dan berdiri menyabut ibu mertuanya.
"Wah...wah....wah...enak ya numpang hidup sama orang kaya. Dasar wanita tak tau diri!" ucap Marta dengan kasarnya. Nasi yang belum tertelan sempurna itu rasanya malah nyangkut di tenggorokan dan tak mampu dia telan ataupun dia keluarkan.
"Maaf Mi," jawab Yunita pelan.
"Apa hah, kamu panggil aku Mami. Oh...berani sekali kali kamu, siapa yang mengizinkanmu memanggilku Mami. Memangnya aku pernah melahirkan wanita murahan dan bodoh sepertimu hah. Jangan mimpi bisa memangilku Mami, Kamu pikir aku iklas anaku menikahi wanita jal*ng sepertimu hah. Aku tak sudi punya keturunan dari rahim kotormu itu, cih...!" ucap Marta sambil mengekspresikan ketidak sukaanya. Yunita tak menjawab sedikitpun ucapan Marta. Bukan dia tak bisa dia hanya tak ingin memperkeruh suasana.
"Kenapa kau diam hah, apakah benar apa yang aku katakan tadi wanita malam?" tanya Marta. Yunita mengangkat wajahnya dan menatap ingin menjawab ucapan wanita itu. Yunita merasa ini sungguh keterlaluan, ga emak ga anak sama sama tak mau mengerti orang lain. Yunita menatap tak percaya pada Marta. Wanita berkelas ini seolah tak punya sopan santun baginya, Yunita ilfil.
"Kenapa kau diam hah, Kau bisu kah!" bentak Marta lagi.
__ADS_1
"Maaf Nyonya," jawab Yunita.
"Dengar ya wanita jal*ng, aku sudah tahu kartu As mu. Tinggal bagaimana dan kapan akan ku bongkar rahasiamu di depan suami dan juga putraku yang bodoh itu. Dia sama sekali tak mau mendengarkanku saat meminta ijin menikahi wanita miskin sepertimu. Wanita yang hanya mau numpang hidup enak iya kan. Jangan mengelak kamu, Putraku sungguh buta mata hatinya aku menyesal karena dia nekat menikahimu. Awas saja kalau kau berani memanfaatkanya, jangan harap kamu bisa lolos dariku!" ucap Marta lagi dengan kata kata ancamanya. Ya Tuhan ga emak ga anak sama saja piciknya, ahh...sudahlah Nita, ga ada lagi yang perlu kamu pertahankan. Belum apa apa aja badai udah nampak didepan mata. Jangan dengarkan ucapan wanita yang tak tau apa apa tentangmu ini. Fokuslah pada tujuan utamamu, batin Yunita.
"Baik Nyonya," jawab Yunita tanpa gentar sedikitpun. Kalian semua tenang saja hatiku sudah di setting sekuat baja. Otakku sudah ku atur agar tak mudah terpancing emosi. Kalian salah jika ingin menjatuhkan air mata seorang Yunita. Air mataku terlalu mahal untuk orang orang bodoh seperti kalian, batin Yunita lagi mulai menyelimuti kekuatanya.
Marta menatap tajam ke arah menantu yang tak diinginkanya. Yunita hanya membalas tatapan itu dengan keteduhan hatinya. Sorot mata Yunita memancarkan kata anda tak perlu khawatir nyonya saya akan meninggalkan putra kebanggaan anda bila waktunya tiba, percayalah.
Marta meninggalkan Yunita dengan decakan melecehkan, Yunita tak mau menghiraukan hinanan itu. Toh, tujuanya sekarang telah berubah bukan. Bukan lagi mempertahankan rumah tangga tapi membayar tanggungan materi pada bos yang berkedok sebagai suami ini.
Setelah kepergian Marta dari hadapanya, Yunita mulai mengerjakan pekerjaan yang yang diberikan oleh suaminya tadi. Mengecek pembukuan resto seperti biasa. Fokus Yunita tiba tiba buyar saat mengingat idenya untuk berjualan online.
Yunita beruntung, sahabatnya ada yang dengan senang hati mengajarinya memulai bisnis yang banyak digilai ibu ibu rumah tangga. Yunita juga menyukai dunia desain, temannya sangat tahu itu. makanya dia sangat girang saat Yunita mau bekerja sama dengannya. Dia malah menawarin Yunita untuk membuat desain bros hijab yang lagi tren saat ini.
"Tapi aku ga tau beli bahan asesorisnya dimana?" ucap Yunita.
"Gampang itu say, kamu share lokasi aja nanti nahan bahanya aku kirim. Sekarang kan ada bang ojek hahahaha," jawab Niar sahabat Yunita.
__ADS_1
"Oke, nanti aku share lokasi dimana aku kerja. Oia nanti kalau udah jadi aku antar ke mana?" tanya Yunita.
"Ke toko boleh, ke rumah juga ga papa." jawab Niar antusias.
"Oke," jawab Yunita.
"Nanti aku masukin kamu ke grup market place ya, kamu bisa belajar banyak disana. Jual apa saja yang sekiranya menguntungkan. Gabung aja di market place market place yang lagi booming sekarang. Temen kamu banyak kan mbak mbak yang jarang bisa keluar itu?" ucap Niar lagi.
"Emmm, mbak mbak yang kerja jadi asiaten rumah tangga?" tanya Yunita karena dia masih belum begitu paham arah pembicaraan Niar.
"He em, nah mereka juga target gaes. Mulai dari yang kecil dulu. Kamu bisa gabung di komunitas penjual pulsa. Jual pulsa juga geng ga papa ga usah malu. Untung nya lumayan loh kalau kamu telaten," ucap Niar lagi sambil mengajari Yunita membangun bisnisnya." Nanti aku ajarin kamu macam mana cara buat rayu mereka, biar mereka beli dagangan kamu hahahahaha," tambah Niar lagi, Yunita tersenyum.
"Siap bosku," jawab Yunita tak kalah antusias. Yes aku pasti bisa batin Yunita menyemangati hatinya sendiri.
"Ya udah kamu mulai dari bikin asesoris hijab sama jualan pulsa dulu. Nanti kalau udah punya toko online hubungi aku. Nanti ku kenalin sama suplayer baju yang oke oke. Jangan minder jadi kecil ha, karena yang besar juga mulanya dari kecil. Siapa tau nanti kamu bisa sukses seperti desainer desainer asesoris yang mendunia itu," ucap Niar sambil tertawa cekikikan. Yunita pun ikutan tertawa karena berasa sangat beruntung dengan memiliki teman teman yang baik salah satunya adalah Niar.
"Baiklah buk, selamat bekerja. Nyapunya yang bersih biar cepat naik gaji hahaha," goda Niar. Yunita menghiyakan dan menutup sambungan telponnya.
__ADS_1
Yunita memang tidak terbuka dengan pekerjaan aslinya. Dia mengatakan pada Niar bahwa dia bekerja jadi asiaten rumah tangga di salah satu rumah mewah di Jakarta. Tadi Niar juga menawari Yunita kerja padanya tapi Yunita menolak dengan alasan kalau kerja di toko dia harus membayar kontrakan. Tetapi jika bekerja di rumah maka dia tak perlu memikirkan biaya kontrak rumah. Heemmm...masuk akal bukan.
Bersambung....