HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Namanya Juga Cinta


__ADS_3

Yudha dan Deren sampai ke markas dimana anak buah Deren menyekap ketiga mantan sahabat mereka. Beberapa luka memar sudah tampak diwajah para penghianat itu.


Deren pun meminta pada anak buahnya untuk membuka penutup mata ketiga tawanan mereka.


Betapa terkejutnya ketiga bajing*n itu saat mengetahui seseorang dibalik penculikan mereka.


"Bro apa apaan ini?" tanya salah satu tawanan itu.


Deren malah memberikan tinjunya tepat di perut mantan sahabatnya itu, tatapan permusuhan antara mereka pun kembali tersulut.


"Sudah bro, kita tanya baik baik saja. u tau kan ane kagak suka kekerasan," ucap Yudha dan Plaaakkkkk plaaaakkkkkk Yudha pun menampar keras ketiga mantan sahabatnya dengan emosi yang menggebu.


"Katakan berapa uang yang kalian terima dari wanita j*lang itu?" teriak Yudha geram, matanya melotot seakan hendak mencabik cabik mangsa yang ada didepanya.


"Bro sumpah kita ga ngerti maksud kalian," ucap salah satu dari mereka.


"Heh, ga ngerti. Lalu bagaimana bisa wanita jal*ng itu bisa dapet tanda tangan ane kalau bukan karena campur tangan kalian. Katakan berapa harga persahabat kita yang sudah Aryo beli hah, brengsek ******** penghiatan" rasanya tak puas jika hanya memaki. Kembali Yudha emosi, bahkan dia menedang kursi salah satu tawananya hingga kursi itu roboh dan membuat salah satu tawananya jatuh tersungkur. Deren tak tinggal diam dia pun ikutan menghajar ketiga mantan sahabat mereka itu dengan mengebu gebu.


"Ampun bro, kita ga tau rencana mereka sumpah. Mereka hanya minta ama kita suruh ngajakin lo minum, aaaaaahhhhhh (menggerang kesakitan karena Deren menginjak dadanya), selebihnya kita ga tau. Aryo cuma bayarin minuman kita. Demi tuhan kita ga terima apapun dari mereka," jawabnya, Deren pun menurunkan kakinya dari dada tersebut.


Kemarahan Yudha sedikit mereda, dia merasa ini percuma. Yudha memilih keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal. Deren tahu bahwa sahabatnya ini kecewa karena tak mendapatkan info sedikitpun dari para penghianat itu. Deren meminta pada anak anak buahnya untuk mengawasi tawanan mereka.


Deren membawa Yudha keruangan rahasianya. Disana banyak sekali komputer dan alat alat penyadap lainya.


"Masuk bro," ajak Deren.


Deren pun menyalakan salah satu komputer yang terhubung dengan kamera yang dipasang di kalung milik Yunita.

__ADS_1


Yudha masih saja resah, pikiranya masih menanyakan bagaimana caranya dia mendapat bukti bahwa apa yang dipikirkan istrinya ini salah.


"Bro, anj*y lihat Yunita cepet banget berkamuflase," ucap Deren sambil tersenyum sambil menutup mulutnya dengan kepalan tanganya.


"Astaga, culun sekali padahal aslinya lumayan!" puji Yudha.


"Kampr*t mata lo soak," umpat Deren, Yudha hanya tertawa.


Mereka berdua terus mengawasi pergerakan Yunita, terlihat wanita itu sedang memasang seuatu dimeja makan.Disekitar vas bunga dekat ruang tamu dan dikamar majikan barunya.


"Anj*y ternyata ane salah bro nilai anak buah lo, hebat juga dia ya," ucap Yudha merasa kagum dengan asisten barunya.


"Kan ane udah bilang ni cewek kepiting, diem dimulut nyapit kalau lo senggol, kampr*t Mata kondisikan," Deren tak bosan bosan mengingatkan sahabatnya ini untuk selalu jaga mata dan hati.


"Heh, ane udah kagak nafsu ama cewek, males," ucap Yudha kesal.


"Wih tumben, ga percaya ane disodorin juga mau pasti," goda Deren.


"U kenapa bro?" tanya Deren penasaran, terlihat dari raut wajah Yudha pria didepanya ini tak bohong.


"Ternyata bini ane bener bro, ane ga pantes disebut suami, ane ga pantes dipanggil abi," jawab Yudha pelan, dia pun menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas.


Deren menatap tak percaya, sekarang hari ini detik ini Deren menyadari bahwa Yudha sebenarnya mempunyai perasaan yang lembut.


"Bini lo bilang gitu kan lagi emosi bro, jangan dimasukin ke hati lah. Ane tau lo sayang ama bini lo, lo juga sayang ama anak anak lo. Setiap manusia itu berhak melakukam kesalahan bro setidak sekali dalam hidupnya. Lo berhak dapet maaf bro lo berhak dapet kesempatan kan lo sekarang juga udah berubah. Apa ya lo takutin?" ucap Deren berusaha memberi kekuatan pada sahabatnya.


"Ane ga tau bro, rasanya semua sudah berahir ketika dia bilang begitu. Yang ane pikirin sekarang ane mau buktikan kedia bahwa ane ga seperti yang dia pikirin. Dan seandainya dia tetep kekeh mau pisah ane juga ga mau nglarang. Biarin aja ane ga mau terus nyakitin dia bro. Ane cuma mau hak asuh anak anak, ane mau mereka tetep ama ane," jawab Yudha.

__ADS_1


"Lo jangan gitu bro, anak anak masih butuh emaknya. Paling tidak bertahanlah demi mereka. Ga ada bro anak anak bahagia kalau emak bapaknya pisah, percaya ama ane." Muka Deren emang sangar, badan tinggi tegap penuh tato ditambah pakek anting disebelah kiri telinganya, salung salip mengelantung didadanya. Semua yang dia kenakan terkesan urakan dan preman banget. Tapi siapa sangka pria ini memiliki hati dan kepribadian lembut seperti hello kitty. Yudha merasa beruntung sebab masih ada orang orang yang tulus padanya seperti Deka dan Ditya.


Yudha tersenyum kecut, perasaanya kacau tak menentu terlebih setelah mendengar apa yang sahabatnya katakan.


Kemarin kemarin dia siap jika Arumi mengajaknya berpisah, tapi sekarang bayangan kedua buah hatinya melintas jelas di matanya. Seakan mereka mengatakan tak ingin kehilangan salah satu dari kami orang tuanya.


Malam semakin larut, Yudha masih terjaga. Melamun dan melamun, terlihat Deren sudah tidur disofa ruang kerjanya tapi Yudha masih asik memperhatikan layar monitor komputer milik Deren.


Lamunan Yudha dikejutkan oleh panggilan telpon dari putranya. Cepat cepat Yudha mengangkat telpon itu.


"Hallo sayang ada apa?" sambut Yudha, Terdengar suara Mawar yang menangis, Ditya berusaha menenangkan adeknya.


"Hallo abang, adek kenapa bang?" tanya Yudha gugup.


"Bunda bobo ga bangun bangun bi, abang udah coba bangunin tapi ga mau bangun. Abang takut bi," ucap Ditya disela sela tangisnya.


"Apa, abang tenang ya abi cari bantuan oke. Abang jagain adek aja oke. Abi cari bantuan sekarang!" ucap Yudha gugup dia pun langsung menutup panggilan telponya dan segera menghubungi salah satu orang kepercayaanya yang dia tugaskan untuk menjaga rumah anak dan istrinya.


"Der, Der, Deren bangun," pinta Yudha.


"Eemmmmpppp...apaan ane ngantuk bro!" jawab Deren terlihat masih malas sekali.


"Sewain ane heli (Hellikopter) sekarang, ane mesti terbang ke Jakarta," ucap Yudha, seketika Deren bangun ga mungkin Yudha segila ini kalau ga ada masalah darurat.


"Ada apa bro?" tanya Deren.


"Udah jangan nanya terus cepetan," pinta Yudha gugup.

__ADS_1


Deren pun menuruti perintah sahabatnya dengan berbagai pertanyaan yang menganjal dibenaknya.


Bersambung...


__ADS_2