
Didalam mobil Arumi masih saja cemberut. Yudha hanya tersenyum melihat ratu dramanya jengkel dengan perasaanya sendiri.
"Udah dong bun, jangan cemberutin Abi kayak gitu. Luntur entar cantiknya," goda Yudha.
"Apaan sih, cantiknya bunda ma permanen tahu!" balas Arumi ketus. Yudha hanya tertawa pelan dan menikmati perjalananya.
"Anak anak gimana Bi sama mbaknya?" tanya Arumi khawatir.
"Mereka aman Bun, Deren udah memperhitungkan semuanya," jawab Yudha.
"Alhamdulilah Bi, Bunda ga kepikiran anak anak lagi tadi. Yang bunda pikirkan cuma itu tadi?" jawabnya.
"Ya udah lah Bun, ga ada yang perlu disesali. Memang ini kan jalan yang harus kita lalui," jawab Yudha bijaksana.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit di mana jasad kakak Deren di semayamkan. Arumi langsung mengambilkan kursi roda untuk suaminya dan membantunya turun dari mobil.
"Makasih istriku," ucap Yudha.
"Sama sama imamku," balas Arumi dengan senyum termanisnya. Kalau bukan di rumah sakit pasti mereka sudah melakukam sesuatu yang mereka mau. Uluh uluh kalian selalu sweet.
"Kita ke IGD dulu apa ke KM (kamar mayat) Bi?" tanya Arumi.
"Ke KM dulu deh Bun, kasihan Deren. Kalau Yunita udah ada Robet yang jagain. Robet tadi udah dijemput ama anak buah Yunita," jawab Yudha.
Mereka berdua pun meluncur ke Kamar Mayat di mana jenazah Steven sedang dirawat.
Deren duduk lemas diruang tunggu. Menunggu jenazah abangnya siap untuk dikebumikan.
"Bro," sapa Yudha.
Deren mengangkat wajahnya dan tersenyum kecut.
"Bagaimana bisa dia tertembak?" tanya Yudha.
"Awalnya kami masih adu mulut sambil berduel bro, tiba tiba polisi datang. Dia hendak melarikan diri. Ane kagak tau kalau abang ternyata target polisi bro," ucap Deren dalam tangisnya.
"Sabar bro, iklaskan," ucap Yudha lagi berusaha menenangkan sahabatnya.
"Ane ga habis pikir kenapa kasus dia seberat itu. Ane udah mati matian jaga Negara ini kenapa dia malah ngancurin bro. Ane kagak habis pikir," ucap Deren sambil menangis dan menutu pajahnya sedi, suaranya sedikit terbata bata.
__ADS_1
"Percayalah bro dia pasti punya alasan. Sudah jangan ditangisin. Abang mau di kremasi dimana ?" tanya Yudha.
"Ane ga mau abang di kremasi bro, ane mau abang di kebumikan sama mami papi aja," ucap Deren lemah
"Oke, biar ane yang urus semua lo tenangin diri lo ya. Iklaskan," ucap Yudha lagi. Kemudian dia pun menghubungi seseorang untuk mengurus keperluan pemakaman Steven.
"Kita ke IGD dulu ya bro mau nglihatin Yunita. Kasihan Robet sendirian," ucap Yudha.
"Kalau ga Abi di sini aja biar bunda aja yang ke IGD," ucap Arumi.
"Ga papa Bun?" tanya Yudha.
"Jangan Yudh, bini lo juga pasti sakit semua badanya. Lo temenin aja... ane kagak kenapa napa!" ucap Deren. Dia tau betul pasti ga mungkin Arumi ga kenapa napa.
"Baiklah," jawab Yudha.
Arumi pun bersiap bersiap mendorong kursi roda yang dinaiki suaminya. Sayangnya baru beberapa langkah Arumi merasakan sesuatu yang lain. Kepalanya terasa berat. Matanya berkunang kunang dan Gubraaakkkk... Arumi terjatuh.
Deren langsung berlari mendekati Arumi.
"Bunda,!!" teriak Yudha.
"Bun, Bunda Ya Allah Bun," ucap Yudha sambil menepuk nepuk pipi istrinya. Arumi masih diam. Tubuhnya lemas tak bertenanga.
Yudha dan Deren pun membawa wanita lemah itu langsung ke IGD untungnya petugas medis disana langsung tanggap.
Terlihat jelas kekhawatiran Yudha ketika istrinya dibawa masuk ke instalasi itu.
"Bapak bapak mohon tunggu diluar," pinta sang suster. Deren menatap tak percaya pada suster yang menyuruhnya menunggu diluar.
"Aish," panggil Deren pelan. Gadis itu pun tersenyum manis padanya. Sayangnya dia sedang bertugas. Aisyah pun langsung menutup ruangan itu dan melaksanakan tugasnya. Deren hanya melongo tak percaya, Deren tersenyum malu saat gadis yang dilihatnya barusan membalas senyuamnya dibalik pintu kaca. Gadis yang beberapa bulan ini sering menganggu pikiranya dan susah membuatnya tidur.
"Aish kenapa bro?" tanya Yudha mengagetkan Deren.
"Ah, enggak ga papa!" jawab Deren gugup. Deren ga tau harus senang apa sedih sekarang. Di sisi lain dia sedang berduka sedangkan disisi lain dia bahagia bisa bertemu dengan gadis yang menganggu pikiranya beberapa hari ini.
Hampir setengah jam mereka menunggu didepan ruang rawat itu. Terlihat Yudha masih saja khawatir dengan kekasih hatinya. Begitupun Deren dia sangat gelisah sekarang. ga tau harus bagaimana jika nanti Aisyah akan menyapanya.
Dokter pun keluar ditemani oleh suster cantik itu." Keluarga pasien?" tanya Dokter.
__ADS_1
"Saya Dok, saya suaminya," jawab Yudha gugup. Deren terus mencuri pandang sama suster cantik itu, begitupun sebaliknya Aisyah juga melirik lucu pada Deren.
"Istri bapak hanya kelelahan, sepertinya habis melakukan olah raga berat. Apa yang terjadi pada istri bapak?" tanya Dokter tampan itu.
"Iya Dok, istri saya habis dikejar penjahat ," jawab Yudha bohong.
"Pantesan banyak luka memar di punggung istri bapak, ada berapa goresan tadi sus?" tanya pak Dokter, Aisyah tak fokus dia malah senyum senyum sendiri sambil mencuri padang pada Deren.
"Sus!!" panggil Dokter. Aisyah masih tak fokus. Yudha si raja omes pun langsung tanggap. Yudha dan sang dokter saling menatap heran. Sepertinya mereka berada di tempat yang salah.
"Eehheeemmm..." dehem sang dokter membuat Aisyah dan Deren salah tingkah.
"Apa kalian saling kenal ?" tanya sang Dokter.
"Iya Dok, Aak preman ini yang nolongin abang saya waktu itu," jawab Aisyah lugu.
"Apa sus, Aak preman hahahahah??" ucap Yudha, Yudha tak mampu lagi menahan tawanya. Tapi tidak dengan sang Dokter. Dia hanya tersenyum menjaga wibawanya.
"Oke, sebentar suster. Berapa banyak goresan memar ditubuh pasien?" tanya sang Dokter. Aisyah menjadi gugup apa lagi Deren terus menatapnya.
"Ada empat bekas pukulan Dok," jawab Aisyah terbata bata. Deren kembali melirik mesra kearah tambatan hatinya. Terbesit dalam pikiran Yudha pasti ada apa apa dengan mereka.
"Baiklah suster. mana catatanmu sepertinya kamu sedang tidak fokus," ucap sang Dokter sambil menarik map yang dipegang Aisyah.
"Tidak Dokter, saya fokus," jawab Aisyah tegas.
"Maaf pak mungkin sedang terjadi sesuatu dengan asisten saya," canda sang Dokter. Aisyah hanya tersenyum dan tertunduk malu. Deren pun sama.
"Tak masalah Dokter, yang penting istri saya baik baik saja," jawab Yudha.
"Istri anda tidak apa apa Pak, hanya butuh memulihkan tenaganya saja , kami akan segera memindahkanya ke kamar inap," jawab sang Dokter. Tak lama mereka pun pamit.
"Heee, Kampret siapa tu cewek!" cecar Yudha.
"Kagak siapa siapa," Deren mengelak.
"Ngaku lo kampret, ga mungkin lah kalau bukan siapa siapa lo terus dia panggil lo Aak," ucap Yudha berusaha membuat Deren mengakui apa yang terjadi.
"Apaan sih lo, udah ah," jawab Deren. Dia tak mau Yudha semakin memojokanya dia pun memilih meninggalkan Yudha sendiri di depan ruang IGD itu.
__ADS_1
Bersambung...