
Begitu pesawat landing Yunita langsung meminta ijin pada bosnya untuk mengambil baju ganti yang dibawa oleh orang kepercayaan Robet. Yunita harus berlari karena mengejar waktu. Yunita tak ingin melakukan kesalahan sedikitpun.
Untungnya dia terbiasa dengan ini, tak sulit baginya untuk berlari ketempat tujuanya, highheels tingginya tak mampu menghalanginya. Sayangnya bos galak nya terlihat sengaja membuat Yunita jengkel. Mengganti pakaianya dengan sengaja dilama lamain, agar dia telat di rapat tersebut. Dan pastinya akan ada alasan untuk memarahinya.
"Awas saja nanti kalau terlambat marah marah," gerutu Yunita sambil menunggu di depan pintu toilet pria. Robet yang mendengar gerutuan Yunita malah memarahinya.
"Siapa kamu berani mengerutu di belakangku?" tanya Robet sambil memberikan baju bekas pakainya pada Yunita. Yunita tak menjawab, dia memilih merapikan baju bekas bos galaknya itu. Yunita tak perduli dengan omelan pria menyebalkan itu.
"Cepat jalan, atau aku naikan hutangmu," ancam Robet. Huuuff...sumpah dah kalau aku ga takut sama malakat udah ku tembak bener dirimu pak bos pak bos, gerutu Yunita dalam hati.
Yunita memasukan baju bekas pakai itu ke dalam paperbag yang dia tenteng dari tadi. Berlari mengejar pria gila yang mulai menunjukkan sikap menyebalkannya.
"Kuat kuat Yunita, kamu pasti bisa," ucap Yunita sambil memencet kunci mobil yang sudah siap di depan pintu lobi bandara.
Yunita membukakan pintu belakang untuk bosnya, sayangnya pria menjengkelkan itu tak mau.
"Aku mau didepan!" perintahnya.
"Siap...!" jawab Yunita. Yunita pun membukakan pintu penumpang bagian depan untuk monster galak ini.
"Siapa tadi yang membawakan baju untukku?" tanya Robet ketus.
"Pak Jaya," jawab Yunita.
"Mana sekarang?" tanyanya lagi.
"Dia jemput mami,"
"Ooo, tadi kamu kasih tips ga sama petugas fale?"
"Kasih!" jawab Yunita, dasar cerewet, kembali Yunita mengerutu dalam hatinya.
"Berapa?" tanya Robet lagi. Ya Tuhan pria ini, kalau ga takut dilaknat sama Allah, Yunita pasti memilih diam.
"Seperti biasa," jawab Yunita pelan sambil memakai sabuk pengamanya.
Yunita membelah rambutnya dan kembali menutupi buah dadanya. Mengancingkan bajunya hingga sampai keleher. Dia ga mau dianggap menggoda oleh predator berwujud manusia ini.
Yunita membawa mobilnya dengan sangat tenang, tetap fokus pada jalanan yang ada didepannya, terus taat pada pekerjaannya. Dia juga memasang eairphone di telinganya agar memudahkannya menerima panggilan telpon.
"Aku lapar! kita mampir ke resto dulu !" pinta Robet.
"Tapi Pak, rapat akan dimulai setengah jam lagi," jawab Yunita tegas.
"Kamu pikir kalau aku laper bisa kerja!" hardik Robet. Ya Tuhan kenapa pria ini, manusia bukan sih. Perasaan cari gara gara terus dah. Yunita melirik kesal kearah Robet. Kesal jengkel sebel semua jadi satu.
__ADS_1
"Tapi Pak....!" kembali Yunita menawar.
"Siapa bosnya?" tanya Robet menantang sanggahan Yunita.
"Bosnya ya pak Giral lah, papinya Pak bos," jawab Yunita tenang. Robet tak menjawab karena itulah kenyataanya. Robet hanya melirik jengkel pada istri yang selalu benar saat jawabnya.
"Ahh....cepat bawa mobilnya, dan katakan pada Silvi untuk memesan makanan untukku!" perintah Robet lagi. Ya Tuhan pria ini kenapa sih, marah mulu dah seperti kurang jatah aja dari istrinya, uppsss dia memang belum dapat jatah, Yunita tertawa dalam hatinya. Tapi wajahnya tersenyum menunjukan betapa lucunya pemikiranya.
Robet menangkap senyuman berlukiskan ledekan dari Yunita. Tentu saja ini menyulut emosinya.
"Ngapain kamu senyum senyum, kamu menertawakan perutku !?" tanya Robet dengan nada sedikit tinggi.
"Tidak Pak, mana saya berani menertawakan Bapak," jawab Yunita pelan. Dia tak mau membuat Robet semakin geram padanya. Padahal ini sungguh lucu, pemarah yang arogan. Cute sekali mukanya kalau laper batin Yunita.
Yunita pun mengikuti perintah suaminya, menghubungi sekretaris pribadi suaminya dan memintanya untuk memesan makanan yang dimintaa Robet.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di hotel milik keluarga Robet, Hotel bintang lima itu memang terlihat sangat mewah.
Yunita membukakan pintu untuk bosnya, Sebelum turun Robet masih sempat menatap wajah Yunita yang terlihat ayu dan teduh. Sungguh, jika masa lalu Yunita baik pasti Robet tak akan marah. Pasti Robet akan memperlakukan dia dengan sangat baik. Yunita pasti sudah menjadi ratunya, baik itu luar maupun dalam hatinya.
"Ikut aku naik ke atas!" pinta Robet.
"Siap Pak!" jawab Yunita, kemudian dia pun memberikan kunci mobilnya pada petugas di sana, dan mengikuti langkah sang big bos.
"Dua puluh menit Pak!" jawab Yunita. Mereka terus saja melajukan langkahnya.
"Apa makananku sudah siap?" tanya Robet.
"Tidak tahu Pak," jawab Yunita. Robet menghentikan langkahnya dan berbalik mematap Yunita.
"Tanya!" bentak Robet.
"Ehhh..iya Pak..Iya," jawab Yunita terbata bata. Yunita pun segera menghubungi Silvi dan menanyakan apakah makanan yang dia minta tadi sudah disediakan. Ya Allah galak sekali sih, kuat Yunita kuat batin Yunita berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Yang Bapak pesan sudah siap Pak," ucap Yunita sambil memencet tombil lift untuk bos galaknya.
"Hemm," jawabnya dingin. Mereka masuk kedalam lift, kembali tidak ada suara di sana sampai mereka sampai di ruang kerja Robet. Kembali Yunita membukakan pintu untuk bos galaknya. Dengan sombongnya Robet pun masuk ke dalam ruanganya.
Tanpa diminta Yunita pun menyiapkan makan untuk Robet, sambil menunggu makannya siap Robet langsung menyalakan laptopnya dan membawanya ke sofa di mana manakannya disiapkan.
"Mana makananku?" tanya Robet.
"Ini Pak silakan!" ucap Yunita mempersialakan.
"Kenapa cuma satu?" tanya Robet lagi.
__ADS_1
"Itu udah banyak Bapak, emang kurang Pak?" tanya Yunita berani.
"Bukan, maksudku buat kamu mana?" Robet malah balik bertanya.
"Oh...nanti saya ke kantin aja Pak, kalau Bapak sudah masuk ke ruang meeting," jawab Yunita sesopan mungkin.
"Siapa yang mengizinkan kamu ke kantin, enak saja mau ke kantin," ucap Robet. Yunita hanya diam dia tak ingin melanjutkan perdebatan tak penting ini.
Yunita menundukan kepalanya, pertanda dia enggan meladeni ucapan Robet. Robet mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Mengunyah dengan pelan, rasanya makanan yang dia makan begitu hambar. Entah kenapa rasanya menjadi seperti ini.
Robet melirik sedikit ke arah Yunita. Wanita itu masih saja berdiri mematung dan menundukan kepalanya. Ada sedikit rasa iba yang menggelitik jiwanya. Tapi??.....Ah.
Robet melihat jam tangannya, lima menit lagi dia sudah harus siap di ruang meeting. Robet menghentikan makannya dan memenguk air putih yang disediakan oleh istrinya.
"Yunita!" panggil Robet. Yunita pun mengangkat kepalanya.
"Saya Pak!" jawab Yunita.
"Duduk kamu!" perintahnya lagi.
Yunita pun duduk disebelah Robet. Robet memberikan piringnya pada istrinya.
"Makan!" perintah Robet.
"Tapi Pak, ini kan makanan Bapak," protes Yunita.
"Emang kenapa kalau itu makanan ku hah, seumur hidup baru kamu yang kukasih makan bekasku, kurang beruntung apa kamu bisa makan bekas pria tampan sepertiku," jawab Robet senarsis mungkin. Yunita diam, ck tampan konon batin Author gemes.
"Tenang aja aku ga penyakitan seperti yang kamu pikirkan, aku masih waras. Ga gila juga. Jadi kamu aman," ucap Robet lagi. Dasar pria gila, makan bekasmu kamu bilang beruntung, mimpi saja sana kau, batin Yunita. Yunita menghela nafas dalam dalam pertanda dia sangat kesal.
"Kenapa ga dimakan?" tanya Robet ketus, sebab Yunita belum juga menyuapkn nasi kemulutnya. Yunita hanya melirik kearah suaminya, apesnya lirikan kesal itu ditangkap oleh Robet.
"Mau dapat pahala ga?" tanya Robet.
"Mau!"
"Jadi diam dan makan, aku keruang meeting dulu. Jangan kemana mana. Awas sampai ga habis!" ancam Robet. Dia menunjukan cctv pertanda dia mengawasi gerak gerik Yunita di ruangan ini. Yunita hanya menurut padanya kali ini.
"Selesai makan, periksa semua laporan itu. Awas ada yang kliru," ancamnya lagi. Robet pun melangkah meninggalkan Yunita yang kini sedang mengumpat kesal padanya.
Bersambung...
CA," Readers visual neng Yunita dan Mamas Robet ya semoga kalian sukak,"
__ADS_1