HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Kesungguhan Yudha


__ADS_3

Arumi menatap lekat wajah pria yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar ini. Dia ingat betul saat pertemuan pertama mereka. Saat itu dia belum tau bahwa pria yang menertawakan keluguanya adalah calon suaminya.


Tanpa melihat muka tanpa mendegar nama Arumi begitu saja menerima pinangan dari sang ibu mertua.


Yudha menertawakan kebodohanya kala itu, menggunakan jasa bidan dengan menghutangnya. Saat itu juga julukan ratu drama yang diberikan Yudha melekat dirinya.


Arumi tak memungkiri bahwa pertemuan pertama mereka telah berhasil membuat hatinya bergetar. Tanpa kata tanpa cerita mereka pun sepakat mengukir kisah hidup bersama.


Pada awalnya kisah cinta mereka belum nampak dipermukaan tentang ketertarikan suaminya padanya.Hingga memunculkan sebuah bongkahan bola api yg terpaksa Arumi terima. Melewati beberapa proses yang bisa dibilang menyakitkan. Ahirnya keiklasan dan cinta Arumi mampu membuat luluh hati sang pangeran tambatan hati.


Arumi mendekatkan wajahnya pada sang pemilik hatinya. Bau harum nafas Yudha kembali membuatnya jatuh cinta.


Arumi memainkan bulu mata lentik suaminya, "Kamu tampan sekali sih mas, persis kayak abang. Mawar juga mirip kamu. Mereka menggemaskan sama sepertinu, heemm gemes Rum," puji Arumi sambil memeluk penuh kasih sayang tubuh gagah pria idamanya ini. Yudha mendengar itu sebenarnya tapi dia ingin tau seberapa berani Arumi mengekpresikan cintanya.


Beberapa kali Arumi memeluk gemas suami tercintanya. Bahkan Arumi juga berani mencium penuh nafsu bibir tampan Yudha. Bibir itu terasa sangat manis baginya. Harum karena tak pernah tersentuh rokok sama sekali.


"Jangan gangguin ayank," pinta Yudha setengah sadar, hihihi lucu sekali dia.


"Rum ga gangguin, Rum cuma cium doang dikit," jawab Arumi. Kembali Arumi mencium seluruh wajah suaminya. Bahkan leher mulus itu tak luput dari seranganya. Entah kenapa hari ini Arumi begitu berani. Rasanya memakan pria ini adalah hobinya. Yudha pun menarik kepala itu, mendekapnya dan menjadikan tubuh munggil itu sebagai gulingnya.


Arumi merasa sangat nyaman, pelukan suaminya kali ini benar benar membuatnya merasa dilindungi.


"Mas,"


"Hemmm,"


"Mas pindah sini aja," pinta Rum.


"He em,"

__ADS_1


"Beneran,"


"Iya, tapi setelah event itu selesai suamimu ini ga ada kerjaan. Gimana kamu siap menghidupinya," jawab Yudha asal, Arumi tau suaminya tersenyum saat ini.


"Mas kan tajir ngapain kerja," goda Arumi.


"Kok kamu tau?" tanya Yudha.


"Lah hari itu Rum cek saldonya." jawab Arumi.


"Itu gaji jadi juri plus DP orang orang yang mau pakek restauran kita buat nikahan sama lamaran. Jadi suamimu ini mesti bolak balik Jakarta Samarinda sayang ga papa kan, heemmm Abi sayang kalian," ucap Yudha sambil melepaskan hembusan nafas beratnya. Menyamankan posissinya dan ya kalian tau dia kan arogan. Dihimpitnya tubuh kecil Arumi hingga susah bergerak.


"Mas jangan capek capek kerjanya hemmm, ga usah ngoyo," ucap Arumi, Yudha tau kalau istrinya ini khawatir akan kesehatanya.


"Enggak sayang, Abi ga ngoyo Abi hanya mau kalian bahagia tanpa kurang suatu apapun. Nanti bunda lunasin aja rumah ini, Insya Allah tahun depan kalau ada rejeki Abi beliin bunda mobil ya, sabar dulu oke istriku," pinta Yudha, Arumi pun tersenyum dan mengelus dada suaminya yang masih telanjang.


"Mas beneran ada apartemen di Jakarta?" tanya Arumi.


"Punya siapa?" tanya Arumi.


"Puya si Deren, kenal kan?" balas Yudha.


"Enggak, Rum mana tau temen temen mas sih. Kan mas ga pernah kenali Rum kemereka?" jawab Arumi suaranya terdengar sedikit ketus. Mungkin dia kesal.


"Ga usah kenal, kamu cantik rata rata kawan Abi matanya jelalatan. Kayak si Robet duda tajir itu juga jelalatan. Jangan seket deket dia," ucap Yudha, dasar pria egois batin Arumi.


"Robet itu dulu waktu kuliah ngejar ngejar Rum tau mas," ucap Arumi jujur. Yudha yang mendengar ucapan istrinya langsung mengangkat kepalanya tak percaya.


"Kenapa?" tanya Arumi.

__ADS_1


"Jadi kamu kenal dia udah lama!"


"Udah,"


"Kamu suka sama dia?" tanya Yudha matanya kembali memunculkan aura kecemburuan.


"Enggak, kalau suka Rum udah jadi istrinya kali," jawab Arumi lagi lagi wanita polos ini selalu jujur dengan hatinya.


"Pokoknya bunda buat Abi dunia ahirat. Bunda ga boleh bersama yang lain meskipun Abi pergi duluan. Bunda paham," ucapan Yudha kali ini membuat Arumi mengerti bahwa apa yang dipikirkanya selama ini salah. Dia selalu berfikir hati suaminya bukan miliknya. Ketulusan dan kesungguhan Yudha telah membuka mata hatinya. Dan menghapus pikiran salahnya.


"Bulan ini rencananya Abi mau renov restauran ya bun, yang belakang di lebarin biar kalau dipakek pesta kapasitasnya bisa banyak!" ucap Yudha meminta ijin pada istrinya.


"Emm emang ada uang nya mas, oia dari mana mamas dapet duit banyak gitu kan katanya toko udah bukan hak kita lagi," ucap Arumi.


"Kamu lupa ya, kan kita ada saham di perusahaan abang. Ga perlu kerja kan duit datang sendiri," jawab Yudha sombong. Arumi tersenyum mendengar jawaban suaminya.


"Isshh, pantesan mau kawin mulu duitnya kebanyakan," goda Arumi sambil memanyunkan bibirnya.


"Ya ampun yank, kawin sekali aja kamu ungkit terus. Lagian kan sekarang aku utuh jadi punya kamu. Kamu mau apain aku terserah nah...nah...." ucap Yudha sambil memainkan kepalanya didada Arumi. Membuat Arumi merasa geli.


"Aku mencintaimu suamiku," ucap Arumi sambil mendekap kepala suaminya yang diam anteng didadanya.


"Abi tau itu, makanya Abi menyesal telah melakukan hal bodoh itu honey," jawab Yudha.


"Manusia itu boleh melakukan kesalahan setidaknya sekali dalam hidupnya. Dia juga berhak mendapatkan maaf. Tapi jika mas ulangi Rum ga akan mau lagi. Lebih baik Rum jadi janda dari pada mas madu lagi, ogah Rum," jawab Arumi. Ekspresinya kali ini sungguh serius. Matanya berkaca kaca seolah hatinya sangat sakit kala itu.


"Maaf kan Abi ya sayang, maaf maaf maaf. Abi tau meskipun Abi meminta maaf dan berlutut minta ampun, Abi ga mungkin bisa mengembalikan hatimu yang retak itu bunda tapi Abi janji tak akan menggoreskan lagi luka dihatimu bidadari dunia ahiratku, Maukah kamu memaafkanku istriku maukah kamu memulai dari awal lagi cerita cinta kita hemm, maukah kamu mengiklaskan apa yang telah terjadi," ucap Yudha. Arumi menangkap kesungguhan ucapan suaminya dari sinar matanya yang indah. Kali ini Arumi bisa merasakan keaungguhan Yudha.


Malam yang hampir pagi ini menjadi saksi bisu tertulisnya sebuah janji baru antara Yudha dan Arumi. Untuk memulai lagi ikatan kasih yang pernah hampir putus itu. Yudha kembali mengikat erat tali cinta itu dan berharap tali itu tak akan pernah putus oleh apapun selain maut yang mengambilnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2