
Sesampainya di rumah Arumi tak mau melepaskan pegangan tangannya dari sang suami. Dia membutuhkan perlindungan dan dukungan dari Yudha untuk saat ini. Yudha hanya diam tak perduli.
Yudha duduk di sofa dengan tenangnya. Sebenarnya dia sudah ingin tertawa dengan ini. Wajah ratu dramanya terlihat sangat lucu dan mengemaskan. Ya Tuhan istriku sampai kapan kamu akan terus terusan oon seperti ini batin Yudha.
Arumi melirik marah pada Deka, Deka tak perduli dia malah makan cemilan yang dihidangkan oleh asisten rumah tangga Arumi dengan santainya.
"Ngapain kamu lihatin papi begitu, nantangin ya. Berani ya sekarang!" hardik Deka pura pura kesal.
"Enggak Pi, Papi jangan suudzon begitu. Rum cuma ga habis pikir. Kapan Rum melakukan kesalahan bodoh itu," jawab Arumi lugu. Kembai Yudha tersenyum lucu.
"Mana ada kamu mikir begitu, lihat aka mukanya judes judes gitu heh. Mom ambil Mawar bawa kemari biar tau rasa emaknya. Udah salah malah melototin Papi kayak gitu," ucap Deka kembali memerintah Arti. Arti hanya tersenyum, Deka cuek dan kembali mengambil kripik di meja dan melahapnya.
"Papi!!" teriak Arumi kesal. Yudha yang ada disamping Arumi pun spontan menutup telinganya dan tertawa.
Arumi kembali menangis kesal, Yudha pun memeluk wanita yang cintainya ini dengan penuh kasih sayang.
"Udah cup ga usah nangis, biarin aja abang ambil anak kita. Nanti kalau kaki Abi sembuh kita buat lagi yang banyak," ucap Yudha kembali dia meledek istri tercintanya.
"Abi!!" pekik Arumi lagi. Yudha kembali menjauhkan telinganya. Matanya menatap heran kearah istrinya.
"Abi kenapa ngomong gitu, seolah Papi yang benar dan Bunda yang salah hah," ucap Arumi lagi. Deka hanya tersenyum menyaksikan drama yang ada di depanya.
"Bukan gitu Bunda, kamu tu lo lugu baget. Ya mana mungkin Abang sama Mbak mau ambil anak kita. Kamu yang ga logis, gampang banget ditipu," ucap Yudha. Arumi tertegun bingung kala mendengar perkataan suaminya. Dia pun mengelap kasar air matanya.
"Abi beneran Papi cuma tipu Bunda?" tanya Arumi. "Iya," jawab Yudha sambil tersenyum geli. Arumi seperti orang linglung saat mendapati mereka hanya menipunya. Bukanya marah Arumi malah menangis menjadi jadi dipelukan suaminya.
"Loh kok malah nangis?" tanya Yudha.
"Bunda sayang sama Abi, sayang sama anak anak. Bunda ga mau kehilangan kalian Bi," ucap Arumi kembali menangis menjadi jadi. Dasar ratu drama gampang bener nangisnya.
"Udah ga usah ngedrama, ambil Mawar Mom, Papi kangen ni ama inces Papi," goda Deka lagi. Arumi menatap marah kearah Deka.
"Jangan, ga boleh. Papi menyebalkan, malas Rum sama Papi," ucap Arumi kesal.
"Loh, ini kan Papinya. Mau ketemu anaknya kok ga boleh gimana sih. Mau dilaporin ke polisi," Deka masih belum puas menggoda Arumi rupanya.
"Tau ah, pokoknya Papi ga boleh deket deket anak Rum. Rum tau Papi modus," balas Arumi. Deka kembali tertawa senang. Rasanya ga ada habis habisnya menggoda wanita polos ini.
"Nasibmu Yudh, hahahaha..." ledek Deka.
"Kita sama bang hahahahaha...." balas Yudha. Arti dan Arumi saling menatap suami mereka masing masing. Penasaran dengan maksud kedua pria itu.
"Apa maksud Papi?" tanya Arti.
"Matilah aku Yudh, doi kambuh hahahha," celetuk Deka, membuat muka Arti memas. Emosinya tersulut. Ahhh...Arti si ratu bar bar ini kambuh. Rasakan pi papi.
__ADS_1
"Selamat menikmati bang hahaha," balas Yudha. Arumi hanya menatap tak percaya pada mereka berdua.
"Ayo Rum kita tinggalin pria pria bodoh ini. Biarkan mereka makan kripik aja. Kita masak yang sedab jangan ada yang dikasih," ucap Arti sambil beranjak dari duduknya. Arumi yang juga kesal pun menuruti ajakan kakak iparnya. Yudha dan Deka malah tertawa puas karena mereka berhasil membuat ratu drama mereka kesal.
***
Begitu sampai dirumah sakit Robet mendapatkan kabar yang sangat membahagiakan. kekasihnya dikabarkan telah sadar dan kini sudah dipindah ke ruang rawat inap.
Robet berlari mencari di mana ruang calon istrinya dirawat. Robet berhenti sejenak didepan pintu dimana orang kepercayaanya memberikan informasi.
Robet menghela nafas dalam dalam dan mencoba menetralkan detak dantungnya agar tak terlihat ngos ngosan. Setelah merasa siap dia pun membuka pintu itu.
Betapa bahagianya saat Robet membuka pintu. Wanita yang dicintainya tersenyum manis kepadanya.
Robet pun langsung menghapiri wanita lemah itu.
"Hay calon istriku...," sapa Robet dengan senyuman termanisnya juga.
"Hay juga...," balas Yunita. Robet pun meraih tangan Yunita dan menciumnya. Yunita yang mendapat perlakuan istimewa itupun tersenyum bahagia.
"Bagaimana perasaanmu sayang?" tanya Robet sambil mengelus kening Yunita.
"Baik Mas, Mamas gimana!" jawab Yunita.
"Mas sekarang baik sekarang, kemarin kemarin Mamas hampir gila. Karena Mamas takut kehilangan kamu sayang," jawab Robet jujur. Yunita malah tersenyum mendengar ucapan kekasihnya.
"Setelah ini Mas ga ijinin kamu kerja begitu lagi sayang, Mas ga mau kamu mempertaruhkan nyawamu hanya demi uang," ucap Robet. Yunita malah tertawa mendengar ucapan calon suaminya.
"Itu bukan semata demi uang Mas, Nita punya kesatuan yang harus Nita bela. Walau jujur Nita dapet uang dari pekerjaan ini juga," jawab Yunita jujur.
"Iya Mas tau, Mas pikir kamu operator aja bukan pemain lapangan honey. Kamu sayang ga sama Mamas?" tanya Robet.
"Sayang," jawab Yunita tanpa berfikir lagi.
"Kamu mau kan nurut sama Mamas?" tanyanya lagi.
"Mau, tapi Nita masih punya hutang sama pak Yudha Mas, bagaimana caranya Yunita bayar itu," ucap Yunita.
"Masalah itu gampang, lagian putri kita juga butuhin kamu sayang. Kasihan dia!" ucap Robet lagi.
"Iya dimana gadis cantik kita Mas?" tanya Yunita menanyakan anak asuhnya.
"Masih Mamas di rumah Yudha sayang," jawab Robet.
"Nita kangen Mas ama putri kita," ucap Yunita.
__ADS_1
"Makanya cepet sembuh ya, terus
kita resmiin hubungan kita. Dan kita hidup bareng ama anak anak kita heemmm," ajak Robet. Yunita hanya tersenyum mendengar ajakan indah calon suaminya.
"Asal Mamas ga suruh Nita berhenti kerja," jawab Yunita.
"Kalau pekerjaan yang kemarin Mas ga mau sayang. Nanti kamu bantu Mamas urus resto aja kayak biasanya. Pokoknya kamu ga boleh jauh jauh dari Mamas mengerti!" jawab Robet tegas.
"Tapi Mas, nanti pak Deren Marah," ucap Yunita.
"Kenapa marah?"
"Nanti Yunita dinilai melanggar aturan kesatuan," jawab Yunita terua terang.
"Nanti Mas tembak mati Deren biar ga ada yang ngusik hubungan kita, kamu ga usah takut," jawab Robet dengan muka datar tanpa ekpresi.
"Loh,"
"Kenapa?"
"Emang Mamas bisa nembak?" tanya Yunita lugu.
"Bisa kalau sama kamu," jawabnya. Yunita mengerutkan keningnya, bingung dengan jawaban yang di berikan calon suaminya.
"Ga ada maksud, udah yang penting sekarang kamu harus cepet sembuh dan jangan kembali kepekerjaanmu yang itu, mengert!" ucap Robet sambil menaikan selimut kelasihnya.
"Tapi Mas??" protes Yunita.
"Ga ada tapi tapi, pokoknya itu sudah peraturanya sekarang," jawab Robet memaksa.
"Dih...kok maksa,"
"Kalau kamu ga nurut, kamu akan tahu akibatnya," ancam Robet.
"Apa itu?" tanya Yunita.
"Ada pokoknya, mau nurut ga?"
"Mau, tapi apa dulu?"
"Nanti kamu akan tau setelah kita menikah. Maka segera persiapkan jiwa ragamu beserta mentalmu," ucap Robet.
"Maksud Mas!"
Robet tak menjawab, dia memilih mencium gemas bibir Yunita dan tak membiarkan wanitanya menghindar dari seranganya.
__ADS_1
Bersambung...
CA:" Terima kasih yang masib setia dengan karya saya. Jangan lupa like, rate n komenya ta gengs...kalian terbaik๐๐๐."