
Yunita menatap wanita yang pernah dia selamatkan. Yunita memberi hormat dengan menaruh tangan kananya di dada kirinya. Sama seperti yang dilakukan Kopri padanya barusan.
"Selamat sore Nyonya," sapa Yunita.
"Sore...!" balas Oma Rose.
"Tinah bisa tinggalkan kami," pinta Oma Rose pada Tinah. Tinah pun tersenyum dan segera pergi meninggalkan mereka.
"Duduklah," pinta Oma Rose pada Yunita. Yunita mematap CCTV yang ada di rumah ini.
"Kamu tak usah takut. Nanti biar Oma yang tanggung jawab," ucap Oma Rose.
Yunita pun menurut, dia segera duduk disamping wanita tua itu.
"Bisa jelaskan kenapa kamu bisa bekerja di sini. Apakah kamu ada misi khusus?" tanya Oma Rose mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak Nyonya saya tidak ada misi apapun. Ini adalah masalah pribadi saya. Saya memang memiliki hutang pada pemilik rumah ini," jawab Yunita apa adanya.
"Oke, Oma percaya padamu, tapi yang Oma heran bukankah kamu sudah tak memiliki hutang?" tanya Oma Rose sesuai apa yang Kopri tahu. Yunita menatap Kopri dengan muka bingung.
"Maaf Non Nita, Apakah Nona memiliki hutang selain sama mr. Zen?" tanya Kopri.
"Ya dengan Yogan punya, tapi sudah dilunasi sama pak Yudha waktu itu. Sisa mr. Zen saja," jawab Yunita.
"Bangs*t...!!" umpat Kopri, Oma Rose menatap tak percaya pada anak buahnya.
"Apa maksudmu bodoh," ucap Oma Rose.
"Big bos sepertinya ditipu oleh komplotan Zen kepar*t itu Non. Non ingat saat kita bawa Non malam itu, sebenarnya big bos sudah melunasi hutang hutang Non Nita padanya . Kalaupun Non Nita berhutang pastinya Non hutangnya sama pak Deren lah," jawab Kopri menjelaskan.
"Kamu yakin Kopri?" tanya Yunita.
"Tentu saja," jawab Kopri Yakin.
"Sebentar Kopri aku ambil surat hutang piutang itu," ucap Yunita, kemudian dia pun ke kamarnya dan mengambil map yang berisi perjanjian hutang piutangnya dengan mr. Zen, yang tak lain adalah rentenir bos di Yosan.
"Kopri coba kamu perhatikan ini," ucap Yunita menunjukan surat surat itu. Kopri membaca dengan teliti pasal hutang piutang yang ada didalam map itu.
__ADS_1
"Non, ini ma penipuan Non. Coba Non perhatikan tanggal dan nominalnya. Seingat saya tidak sebanyak ini," ucap Kopri.
"Kamu yakin Kopri?" tanya Yunita heran.
"Tentu saja, Kami sudah melunasinya Non. Semoga saja big bos masih menyimpan kwitansinya. Hanya saja saat itu kami lupa meminta surat perjanjian ini. Makanya dia memanfaatkan ini, tunggu Non...!" ucap Kopri sambil berfikir.
"Apa?" tanya Yunita.
"Mr. Zen tak akan berani senekat ini jika tidak ada yang membayarnya," ucap Kopri curiga.
"Maksudmu?" balas Yunita.
"Coba Non pikirkan, dengan siapa dia berhadapan. Mungkinkah dia berani jika tidak ada yang menyuruhnya atau membayarnya lebih. Bukan kah keberanianya akan dibayar mahal," ucap Kopri sambil menatap Yunita. Yunita mulai mengerti arah pembicaraan Kopri.
"Kamu benar Kopri, jika pak Deren sudah melunasi hutangku dan dia berani berbuat senekat ini berarti dia cari mati," jawab Yunita. Kopri diam dan menunggu Yunita selesai berfikir.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Oma Rose.
"Begini Nyonya besar, perihal Hutang piutang ini sepertinya Nona Yunita kena tipu. Sebenarnya hutang Nona Yunita pada mr. Zen itu sudah lunas saat kami membawa Non Yunita keluar dari tempat biad*p itu," ucap Kopri menjelaskan.
"Siapa mr. Zen?" tanya Oma Rose.
"Pemilik klub B******* ," ucap Oma Rose mengulangi ucapan Kopri. Padahal dia berfikir seperti mengenal nama klub itu.
"Kopri, minta anak buahmu menyelidiki pemilik klub ini, apa hubunganya dengan Marta. Aku curiga ini permainan mereka," ucap Oma Rose. Yunita menatap Kopri tak percaya.
"Siap Nyonya," ucap Kopri, kemudian dia pun berpamitan keluar untuk meminta rekan rekanya untuk menjalankan perintah sang majikan.
"Yunita...apakah benar namamu Yunita dan nama aslimu adalah Rohmah?" tanya Oma Rose.
"Siap Nyonya," jawab Yunita dengan senyum manisnya.
"Apakah kamu ingat padaku?" tanya Oma Rose lagi.
"Siap...ingat Nyonya," jawab Yunita lagi.
"Jangan terlalu formal padaku. Kamu bukan ajudanku sekarang," ucap Oma Rose.
__ADS_1
"Maaf Nyonya saya tidak berani," balas Yunita tegas.
"Apakah kamu istri dari pemilik rumah ini?" tanya Oma Rose hati hati, dia juga tak nyaman jika pertanyaanya menyinggung perasaan Yunita. Mengingat cucunya berlaku tak adil pada Yunita.
"Apakah Nyonya akan marah jika saya jujur?" tanya Yunita. Jujur Yunita juga takut dengan ini. Dia sangat tahu saat ini sedang berhadapan dengan siapa.
"Jujur saja anaku, Oma tak akan marah padamu. Katakan sayang, katakan apa yang ingin kamu ceritakan. Oma tahu hatimu tak sekuat otakmu, Oma paham begitu banyak derita yang kamu rasakan. Keluarkan anaku keluarkanlah, jangan kamu pendam sendiri dukamu. Percayalah Oma tak akan marah," ucap Oma Rose. Mendengar tutur kata wanita tua ini membuat Yunita mengingat sosok ibu kandungnya. Beliau begitu lemah lembut, tak pernah mengeluh sedikitpun meski banyak beban yang tersimpan dalam batinnya.
"Saya memang telah menikah dengan cucu anda Nyonya, tapi pernikahan itu hanya terjadi di atas kertas. Demi Tuhan saya tidak ada misi atau pun berfikir untuk memanfaatkan cucu anda Nyonya," jawab Yunita.
"Beliau akan mencerikan saya jika hutang saya sudah saya bayar lunas Nyonya. Jadi anda tidak perlu khawatir tentang ini. Saya benar benar tidak memanfaatkan tuan muda atas keadaan saya Nyonya," tambah Yunita lagi.
"Oma tahu, Oma percaya padamu. Apakah kamu mencintai pria bodoh itu?" tanya Oma Rose pada Yunita.
Yunita diam, dia tak tau harus menjawab apa.
"Kenapa kamu diam, apakah kamu mencintainya?" tanya Oma Rose lagi.
"Apalah arti cinta bagi gadis miskin seperti saya ini Nyonya," jawab Yunita dengan senyuman sedihnya, tatapan mata gadis itu sungguh menyimpan luka yang sangat dalam.
"Kenapa kamu berkata seperti itu anakku?" tanya Oma Rose.
"Saya bahagia ketika mas Robet meminta saya menjadi istrinya Nyonya. Saya berharap kehidupan rumah tangga kami akan berjalan seperti pasangan pada umumnya. Ternyata saya salah, saya lupa jika saya hanya gadis miskin yang ditakdirkan untuk membayar hutang orang tuanya. Tapi saya tidak menyesali ini Nyonya, saya iklas. Saya akan melunasi hutang saya pada mas Robet dengan keringat saya dan setelah itu saya akan meninggalkannya sesuai apa yang beliau mau," jawab Yunita, tak terasa air mata wanita perkasa itu keluar. Air mata yang dia simpan rapat selama ini akhirnya lolos juga.
"Apakah pria bodoh itu menginginkan uangnya kembali, apa yang dia katakan padamu?" tanya Oma Rose geram.
"Mas Robet hanya bilang tidak mau rugi, dia tidak mau dinilai bodoh oleh orang orang disekitarnya Nyonya. Menyerahkan hartanya pada wanita yang baru sehari dinikahinya, dan mas Robet juga marah karena percaya dengan fitnah yang ditujukan pada saya." jawab Yunita jujur dan apa adanya.
"Apakah fitnah itu tentang pekerjaanmu di dunia malam?" tanya Oma Rose, dia mau semuanya terlihat jelas.
"Benar Nyonya!" jawab Yunita tegas.
"Dia benar benar bodoh. Harusnya dia cari tahu dulu tentang wanita yang hendak dinikahinya, bukan sudah menikah baru dia ribut soal masa lalu. Udah gitu percayaan lagi sama orang yang tak dikenal. Dia itu persis papinya, bodohnya ga ketulungan." ucap Oma Rose, Yunita hanya diam mendengarkan ucapan Oma Rose.
"Kamu tenang saja putriku, biar Oma yang kasih pelajaran pada pria bodoh itu!" ucap Oma Rose. Terlihat jelas diwajah wanita tua itu bahwa dia sangat kecewa pada cucu kesayanganya.
Bersambung...
__ADS_1
CA," Makin banyak Like n Komen emak akan sering update loh.."