
SELAMAT MEMBACA CHINGU.....
🌹
🌹
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, air mata Nindia tak henti-hentinya mengalir. Ada rasa penyesalan saat mengetahui Reyhan mengalami kecalakan, bahkan secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa Nindialah penyebab Reyhan kecelakaan.
"Maaf Rey,"
Hanya satu kata itu yang senantiasa keluar dari mulut Nindia. Nindia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, Tidak perduli tentang rambu-rambu lalu lintas yang ada di dalam pikirannya adalah bertemu dengan Reyhan.
Sesampainya di rumah sakit, Nindia memarkirkan mobilnya di area parkir kemudian berlari menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Reyhan dengan bahu yang naik turun.
"Permisi sus, *hiks, *di mana kamar suami saya?" tanya Nindia dengan bahu yang naik turun.
"Tenang dulu Buk! Tarik nafas dan keluarkan! Sekarang sudah tenang? Siapa nama suami Ibu?" tanya suster setelah berhasil menenangkan Reyhan.
"Rey,.. Reyhan Aristarco,"
"Sebentar ya Bu, saya periksa dulu," kata suster yang langsung mendapat anggukan dari Nindia.
"Suami Ibu ada di UGD,"
"Kalau boleh tahu UDG di mana ya?"
Setelah mendapatkan penjelasan di mana letak UGD, Nindia tanpa berfikir panjang langsung berlari secepat yang dia bisa. Menabrak dan tertabrak beberapa orang akibat kurangnya tingkat kewaspadaan Nindia. Setelah berlari cukup lama, Nindia akhirnya bisa melihat keberadaan sanga Ayah dan Bunda yang senantiasa menunggu anak menantunya di depan ruang UGD.
"Ayah, Bunda," sapa Nindia dengan nafas yang tidak beraturan.
"Anin," bunda Helena langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Nindia.
"Bunda, gimana keadaan Rey?" air mata Nindia kembali jatuh.
"Nin, kamu pulang dulu! Biar Ayah sama Bunda yang nunggu Reyhan,"
"Ayah, gimana keadaan Rey?"
"Kondisinya lumayan serius, ada beberapa tulang rusuknya yang retak, sama pergelangan kakinya yang sedikit terkilir," penjelasan ayah Handoko. Mendengar itu, kaki Nindia melemas seketika. Dirinya tidak menyangka bahwa kecelakaan tersebut berakhir cukup fatal bagi suaminya. Tangisnya pecah seketika, Nindia menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya agar tangisnya tak didengar oleh orang-orang.
__ADS_1
"Sayang, tenang aja. Ayah sudah meminta penanganan yang maksimal," ucap Bunda Helena sambil
"hiks Bunda," Nindia berhambur ke dalam pelukan sang Bunda.
"Sayang, jangan khawatir! Ayah sudah suruh dr. Frans turun langsung buat menangani Reyhan," kata Ayah Handoko.
Setelah percakapan panjang antara Ayah, Bunda, dan Nindia dr. Frans keluar dari UGD.
"Permisi, tuan Handoko. Pasien sudah saya tangini sebaik mungkin. Saat in saya tidak melakukan operasi karena masih bisa disembuhkan secara alami. Seandainya keluhannya semakin banyak, saya akan memutuskan tindakan apa yang perlu dilakukan. sekarang tuan bisa ikut saya untuk menunstaskan urusan administrasinya,"
"Baik dok. Silakan,!" Ayah Handoko pergi meninggalkan Nindia dan juga Bunda Helena.
Lima belas menit setelah kepergian Ayah Handoko, suster keluar dari UGD dan mendorong brankar Reyhan menuju ruang rawat. Ayah Handoko memilih ruang rawat VVIP agar tidak ada yang mengganggu keamanan dan kenyaman Reyhan dan keluarga yang akan menjenguknya. Selain itu juga menghindar dari kerubunan para wartawan yang sejak kejadian sudah memenuhi halaman rumah sakit. Ayah Handoko juga berpesan kepada pihak rumah sakit untuk menyembunyikan identitas dan letak ruang rawat Reyhan dari para wartawan.
"Anin, kamu pulang ya sayang. Ayah yang akan jaga Reyhan," kata Ayah yang kasihan melihat Nindia yang sejak tadi terus-terusan menangis di sebelah Reyhan.
Nindia mengusap air matanya, "Anin mau nemenin Reyhan di sini. Lebih baik Ayah sama Bunda pulang ke Rumah dan istirahat. Anin gak apa-apa kok," kata Nindia yang masih senantiasa menggemgam tangan kanan Reyhan dan seseklai menciumnya.
"Ya udah kalau begitu. Ayah sama Bunda pulang dulu. Kamu juga jangan lupa istirahat!" pesan Ayah. Setelah itu Ayah dan Bunda mencium kepala Nindia sebelum pergi meninggalkan ruang rawat Reyhan.
____________________
"Rey, lo gak capek apa tidur mulu. Gue aja yang lihat lo tidur aja capek!" Nindia membelai lembut wajah Reyhan yang masih pucat.
Setelah Nindia mengucapkan kata itu, ada pergerakan dari jari-jari kanan Rey yang senantiasa digenggamnya. Nindia mendongakkan kepalanya, dia melihat Rey yang berusaha membuka matanya. Reyhan dengan susah panyah membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang ada di kamarnya.
"Rey, lo udah sadar," Nindia beranjak dari tempat duduknya dan membingkai wajah Reyhan.
"Tunggu ya, gue panggil dokter dulu!"
Setelah mengatakan itu, Nindia beranjak dari kondisi nyaman dan pergi keluar kamar untuk menemui dan mengatakan kepada dr. Frans kalau Reyhan sudah sadar.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya dr. Frans yang masuk ke dalam rawat Reyhan.
"Dada saya sakit dok, dan kaki saya,"
"Itu wajar karena tulang rusuk kamu ada yang retak sedangkan kaki kamu hanya terkilir," dr. Frans mengeluarkan stetoskopnya dan mulai memeriksa denyud nadi Reyhan.
"Gimana dok keadaannya?" tanya Nindia yang berada disebelah Reyhan.
__ADS_1
"Keadaannya sudah stabil, tinggal pemulihan untuk tulang rusuknya. Kurang lebih selama 3-5 bulan Reyhan tidak boleh mengangkat barang yang terlalu berat,!"
"Dok, kalau mengajar apa saya diperbolehkan?"
"Kalau saya lebih menyarankan kalau Reyhan istirahat dulu, kalaupun mengajar boleh tapi durasinya dikurangi. Saya juga menyarankan mengajar kalau kondisi kaki sudah sembuh sepenuhnya,"
"Terima kasih dok," ucap Nindia
"Kalau begitu saya permisi dulu," dr. Frans pergi meninggalkan Nindia dan Reyhan.
Setelah kepergian dr. Frans, keadaan di dalam kamar menjadi canggung. Tidak ada yang pembicaraan sampai akhirnya membuat Nindia jengah dan memulai pembicaraan.
"Mau minum?"
"Boleh," Nindia bangkit dan membantu Reyhan untuk minun.
"Makasih," ucap Reyhan.
Setelah mendengar kabar bahwa Reyhan sudah sadar, semua datang untuk menjenguknya. Mami, Papi, Ayah, Bunda, Kak Helen, dan teman-teman Reyhan silih berganti untuk menjenguk Reyhan. Tak terkecuali Cintya, teman Reyhan selama kulaih di Skotlandia. Cintya datang langsung memeluk dan mecium pipi Reyhan. Melihat hal itu menimbulkan rasa tidak suka dalam diri Nindia.
"Hi, ùine mhòr chan fhaic. Ciamar a tha thu. Carson a dh'fhaodas a bhith mar seo? (Hai, lama tak jumpa. Bagaimana kabar kamu? Kenapa Bisa seperti ini?)" tanya Cintya.
"Tha mi gu math. Dìreach tubaist bheag. (Aku baik-baik saja. Hanya kecelakaan kecil.)" jawab Reyhan.
"Kapan kamu pulang?" tanya Reyhan dengan nada halus.
"Kemarin. Aku lagi liburan di Indonesia. Tiga hari lagi aku kembali ke Skotlandia,"
"Selama di Indonesia kamu tinggal dimana?" tanya Reyhan memastikan.
"Di Apartemen."
Reyhan dan Cintya saling melepas rindu dengan tertawa dan berbicara bersama. Mereka sama seklai tidak memperdulikan Nindia diantara mereka, seakan-akan Nindia tidak ada. Karena kesal dengan keadaan ini, Nindia pergi meninggalkan Reyhan tanpa pesan.
"Itu istrimu?"
"Iya,"
"Sepertinya dia marah," Cintya dan Reyhan masih mengamati kepergian Nindia.
__ADS_1
"Biarkan,"