
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Dichapter kali ini, tokoh Ilham aku buat bicara informal sama Reyhan, karena dari awal aku buat mereka teman dan sudah sangat dekat. Di sini, Ilham juga memanggil orang tua Reyhan dengan sebutan Mami dan Papi karena audah dianggap sebagai adik Reyhan.
🍇
🐾
❄
🍀
Bukankah kalian pernah mendengar bahwa laki-laki menjunjung tinggi harga dirinya??? Tentu saja bisa dikatakan seperti itu. Apalagi laki-laki adalah nahkoda dalam rumah tangga. Sebaiknya sebagai istri, kita harus menghargainya. Tanpa meragukan apapun atau justru menuduh yang tidak-tidak. Hargailah laki-laki dan tegurlah bila salah.
Sebenarnya bukan kalimat itu uang hendak Nindia ucapkan. Hormon kehamilannya lah yang membuatnya melewati batas dan menyakiti harga diri suaminya.
"Aku tidak mau! Kamu tidak boleh pergi! Aku butuh kamu, Bee. Maaf, aku tahu aku salah. Tapi tolong! tolong jangan keluarkan kata-kata itu..." Reyhan sama sekali tidak membalas perkataan Nindia.
Nindia sudah terlalu lelah dengan semua ini.
Tubuh Nindia merosot saat tak mendapatkan respon dari Reyhan. Ia tak tahu bagaimana lagi caranya untuk berbicara dan meminta maaf sama Nindia.
Karena terlalu tertekan dengan keadaan, Nindia merasakan perutnya sangat sakit, "Awww...."
Reyhan berubah menjadi khawatir saat mendengar rintahan Nindia. Bagaimanapun dalam perut Nindia adalah anaknya, "Kamu kenapa?" tanya Reyhan yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Nindia.
Nindia meremas tangan Reyhan kuat-kuat, rasanya sangat sakit. "Tolong, perut aku sakit banget."
"Sebentar," Reyhan meraih ponsel yang berada di saku celananya.
Reyhan : "Ham, cepat kamu siapkan mobil. Sekarang!"
📲 Ilham : "....."
Reyhan : Jangan banyak tanya!
tut
Nindia semakin merintih manahan sakit yang teramat di perutnya. Ia meremas kuat kemeja yang dikenakan oleh Reyhan.
"Bee, sakit." ucap Nindia dengan air mata.
Reyhan menggendong Nindia dan membawanya menuju lobby hotel saat mendapatkan kabar Ilham sudah menunggunya.
"Maaf!" ucap Reyhan di dalam lift. Ia lebih tersiksa melihat Nindia kesakitan.
Dengan sisa tenaganya, Nindia mengelus rahang Reyhan, "Bu–Bukan salah kamu. Ini se– semua salah aku. Aku yang belum bisa memahami kamu."
Setelah mengucapkan kalimat lumayan panjang, pandangan Nindia mulai buran dan akhirnya kehilangan kesadaran.
Reyhan semakin panik melihat keadaan Nindia yang sudah kehilangan kesadarannya. Ia sekuat tenaga berlari menghampiri Ilham.
"Bu Bos kenapa?" tanya Ilham sambil membantu Reyhan masuk ke mobil.
"Jangan banyak tanya, segera ke rumah sakit."
Ilham langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ilham menyelip ke kiri dan kekanan. Bahkan Ilham banyak mendapatkan umpatan karena membawa mobil dengan ugal.
"Ham, cepetan!" ucap Reyhan penuh penekanan.
"Ini juga udah cepat, Bos. Bisa-bisa kita mati bersama kalau gue menambah kecepatan." ucap Ilham yang kesal dengan Reyhan. Ia paham kalau bosnya sedang khawatir, namun sekhawatir apapun tetap harus menggunakan logika dan akal sehat. Kalau mati jamaah kan gak lucu??
"Sayang, bangun! Aku minta maaf." ucap Reyhan seraya mengelus pipi Nindia sayang.
"Jangan buat aku khawatir! Aku sayang sama kamu. Jangan tinggalin aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu, sayang." cupp.. kecupan manis mendarat di kening Nindia.
Reyhan tetap berbicara pada Nindia meskipun tak mendapatkan balasan. Ia yakin Nindia masih mendengarnya, maka dari itu ia tetap berbicara dan membujuknya agar mau bangun.
Ilham yang mengemudi hanya dapat mendengar dan melihat dari spion tengah. Ia sangat memaklumi tingkah Reyhan. Rasa penasaran tentang awal mula kejadian sangat besar. Pasalnya ia melihat raut wajah gembira dari keduanya saat perayaan anniversary mereka yang pertama. Namun, belum ada beberapa jam keadaan sudah berbanding terbalik.
cittt...
Mobil yang dikendarai Ilham berhenti tepat di lobby rumah sakit. Tanpa menunggu bantuan Ilham, Reyhan menggendong Nindia masuk rumah sakit seraya berteriak memanggil dokter.
__ADS_1
Rumah sakit menjadi gempar saat anak dari pemilik rumah sakit datang dengan keadaan yang berantakan. Suster langsung mengambil berangkar dan membawa Nindia ke ICU.
Selama Nindia diperiksa, Reyhan tak hentinya khawatir. Ia sama sekali belum duduk semenjak datang. Reyhan melarang Ilham agar tidak memberitahukan kejadian ini pada kedua orang tua. Reyhan tak mau membuat semua orang khawatir.
"Suami Ny. Anin,"
Reyhan langsung berdiri saat melihat dokter keluar dari ICU, "Saya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Reyhan
"Kondisi Ny. Anin sangat lemah. Ia terlalu stres sehingga tekanan darahnya rendah." jelas Dokter.
"Terus, Bagaimana dengan anak kami, Dok?" tanya Reyhan panik. Ia takut terjadi apa-apa dengan calon anaknya.
"Alhamdulillah, janin Ny. Anin cukup kuat. Sepertinya Ny. Anin sangat menjaga kandungannya. Saya menyarankan Ny. Anin untuk rawat inap agar kami bisa memantau kandungannya." jelas Dokter yang langsung membuat bahu tegang Reyhan jatuh. Ia sangat senang mendengar dua orang tersayangnya baik-baik saja.
"Terima kasih, Dok" ucap Reyhan sungguh-sungguh.
Dikter tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Silakan ikut saya untuk mengurus administrasinya,"
"Biar saya saja, Dok." sahut Ilham.
"Baik kalau begitu,"
"Bolehkah saya masuk untuk menemani istri saya,"
"Boleh. Tapi Ny. Anin masih dalam pengaruh obat. Mungkin setengah jam lagi akan siuman." jelas Dokter yang mendapat anggukan Reyhan.
"Permisi,"
____________________
Reyhan masih setia mengamati wajah pucat Nindia. Mengelus kening dan memberikan kecupan mesra di sana. Kemarahan yang menyelimutinya hilang seketika saat mengingat raut wajah kesakitan Nindia.
"cupp cupp" Reyhan mencium tangan Nindia yang ada di genggamannya.
Mengusap bibir pucat Nindia, menjadi aktivitas Reyhan beberapa jam belakangan. Pandangannya tak beralih dari Nindia.
"Boss," panggil Ilham yang baru memasuki ruang rawat Nindia setelah mengurus administrasi.
"Ada apa?"
"Mami baru baru telepon gue dan marah-marah. Gue sih nebaknya ada salah satu staff rumah sakit yang kasih tahu. Tapi tenang! Gue udah kasih tahu kalau keadaan kalian baik-baik saja." jelas Ilham.
"Santai, Bro. Gue maaih kuat buat buka mata. Gue rasa lo yang lebih butuh istirahat." Ilham menyandarkan punggungnya di sofa yang ada di ruang rawat.
Reyhan tak menghiraukan apa yang dikatakan Ilham. Dirinya hanya fokus pada Nindia yang tak kunjung membuka matanya. Ia sudah benar-benar melupakan rasa kecewanya pada Nindia.
ttokk ttokk ttokk
Pandangan mereka teralihkan pada ketukan pintu dari luar.
"Gimana kondisi Nindia?" tanya Bella yang berdiri di ambang pintu. Ia langsung ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Ilham kalau nindia tidak sadarkan diri
Ilham langsung berdiri dan menghampiri Bella. Memberikan kecupan singkat di keningnya, "Kamu kenapa kesini? Saya udah bilang kalau kamu bisa kesini besok."
"Kalian?"
"Ya, gue sama Bella pacaran." Ilham membawa Bella untuk duduk di sofa.
"Sejak kapan?" sungguh, Reyhan sangat penasaran akan hal ini. Ilham bahkan sama sekali tidak menceritakannya.
"Dua minggu yang lalu," jawab enteng Ilham.
"Kok kamu mau sama kayu berjalan?"
"Sialan! Gak istru gak suami sama aja." sindir Ilham.
"Ternyata Prof. Reyha kekanakan juga ya?" ejek Bella yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Reyhan. Sedangkan Ilham, masih berusaha menahan tawanya saat mendengar ejekan Bella.
Bella teraenyum kikuk melihat ekspresi Reyhan dan mema"Prof. Gimana keadaan Nindia?" Bella mengalihkan topik menghindari tatapan tajam Reyhan.
"Seperti yang kamu lihat."
"Ya ampun, Prof. Cue amat jadi orang. Gak di sini gak di kampus, sama aja." jawab Bella. Ia tak habis fikir kenapa sahabatnya bisa menikah dengan orang yang sangat dingin.
"Kamu ya..."
"Haus," kata yang keluar dari mulut Nindia berhasil mengalihkan perhatian Reyhan yang hendak menceramahi Bella.
"Kamu udah sadar?" tanya Reyhan seraya membelai surai coklat milik Nindia. Ia lega setelah melihat Nindia siuman.
__ADS_1
"Haus,"
Reyhan langsung membantu Nindia untuk minum. Setelah selesai, Ia kembali membantu Nindia untuk tiduran.
"Ada yang sakit?"
Nindia memandang asal suara. Ia tidak menyangka bahwa Reyhan akan menemaninya setelah kesalahan fatal yang ia lakukan. Ia sangat bersyukur memdapatkan suami yang sabar dan penyayang seperti Reyhan. Dan dengan bodohnya ia meragukan semua ketulusan yang Reyhan berikan.
Nindia menggelengkan kepalanya lemas. Ia memberikan senyuman untuk meyakinkan kalau dirinya sudah baik-baik saja. Meskipun perutnya masih sedikut nyeri.
"Bohong!" ucap Reyhan setelah melihat senyuman Nindia membentuk ringisan.
"Enggak," bantah Nindia.
Reyhan menghela nafasnya, "Aku tahu kamu bohong." Reyhan memencet tombol untuk memanggil dokter.
Tak perlu menunggu waktu lama, dokter datang dan memeriksa kondisi Nindia. Mulai dari tekanan darah dan denyut nadinya.
"Kandungannya cukup baik. Jadi tidak perlu khawatir. Tinggal menunggu kondisi sang ibi baru bisa pulang." jelas Dokter yang menangani Nindia.
"Terimakasih, Dok." ucap Reyhan.
"Kalau begitu saya permisi.
Ruang rawat Nindia kembali sepi setelah Ilham mengantarkan Bella pulang. Sebenarnya Bella memaksa untuk menginap, tapi langsung dilarang oleh Nindia dan Reyhan. Sedangkan Ilham sudah bisa dipastikan sangat lelah dilihat dari raut wajahnya.
"Kamu mau apa, hem?" tanya Reyhan seraya membelai pipi Nindia.
Nindia menggelengkan kepalanya, "Maaf," justru kata itu yang keluar dari mulut Nindia.
"Aku minta maaf sama kamu, Bee. Gak sepantasnya aku meragukan imamku. Mungkin hormon kehamilan yang kurang setabil menyebabkan aku berani sama kamu. Maafin aku, Bee."
Reyhan lagi-lagi menghela nafas, ia mengacak rambutnya. Ia benar-benar lelah hari ini. Bukan sepenuhnya salah Nindia, disini dirinya juga tidak bisa memahami Nindia yang tengah mengandung dan tudak mempertimbangkan hormon kehamilan Nindia yang tidak stabil.
"Aku juga minta maaf sama kamu. Gak seharusnya aku bisa nahan emasi aku. Aku cuma kecewa sama kamu, Sayang. Aku gak marah." jawab Reyhan tulus. Ia tak segan untuk mengakui kesalahannya jika ia memang benar-benar salah.
"Bukan kamu yang salah. Aku yang salah disini karena terlalu menutup mata akan penjelasanmu."
Reyhan mengecup kening Nindia dan Nindia begitu menikmati ciuman Reyhan hingga memejamkan mata, "Kita yang salah. Kuta belum sama-sama dewesa. Kita coba pelan-pelan buat dia," Reyhan mengelus perut Nindia.
"Kita sama-sama introspeksi diri untuk menjadi lebih baik. Kamu mau kan?"
Nindia menganggukkan kepalanya, "Aku mau."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊
__ADS_1