HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 55 Tingkah Abstrak


__ADS_3

HAI CHINGU..... πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Setelah makan malam itu, Nindia kembali mengabaikan Reyhan. Rasa kecewanya saat bayangan Reyhan pergi dengan wanita muncul kembali. Tak dapat dipungkiri mood yang up and down sangat berpengaruh. Nindia lebih sering mendumel dan menggerutu.


Nanti siang, Ia akan ditemani Helena dan Maya untuk memeriksakan ke hamilannya. Ia izin dari kampus untuk saat ini karena sangat malas pergi ke kampus, terlebih lagi mencium bau parfum yang beraneka ragam.


Reyhan sendiri sudah berangkat ke kantor sebelum Nindia bangun. Ia mulai terbiasa dengan sikap dan kebiasaan Reyhan beberapa hari ini.


Saat ini, Nindia sedang menikmati cartoon kucing dan tikus yang sedang tayang disalah satu chanel tv. Beberapa kali terdengar tawa Nindia yang menggelegar. Bi Minah yang sedang membersihkan rumah hanya tertawa saat melihat Nindia yang seperti anak kecil. Ia tidak sendirian, disebelahnya ada satu bungkus biskuit, sedangkan di depannya ada satu gelas susu ibu hamil yang hanya dirinya dan Bi Minah yang mengetahui.


"Non mau dibuatkan apa?" tanya Bi Minah saat merapikan majalah yang berantakan di meja depan tv.


Nindia menggelengkan kepalanya, "Belum, Bi. Anin belum mau apa-apa. Anin cuma mau lihat tikus sama kucing yang lagi kejar-kejaran." jawab Nindia tanpa mengalihkan pandangannya dari tv. "hahaha," tawa Nindia kembali menggema saat melihat sang kucing dihajar oleh aniing yang menjadi teman sang tikus.


"Non seneng?" tanya Bi Minah.


"Sangat, Anin sangat senang dengan kehamilan dan saat lihat tv," jawab Nindia sambil memperhatikan Bi Minah.


"Bibi turut bahagia jika Non bahagia. Kalau begitu Bibi tinggal dulu ke dapur," Nindia menganggikkan kepalanya sebelum Bi Minah beranjak ke dapur.


"Bibj berdoa agar Non dan Aden selalu bahagai dalam menjalani rumah tangga ini," harap Bi Minah.


Mendekati siang Nindia merasa sangat bosan karena terus berada di depan layar segi panjang itu. Tiba-tiba ia ingin makan mangga muda lagi. Tapi kapi ini ia ingin makan mangga muda hasil petikannya sendiri.


Nindia jalan ke dapur mencari Bi Minah untuk menemaninya memetik buah mangga mudanya.


"Aduh, bahaya atuh Non. Biar saya teleponkam Aden saja ya,?" tawar Bi Minah setelah mendengar permintaan Nindia.


"Jangan, Bi." ucap Nindia sambil menahan Bi Minah yang hendak menelepon Reyhan.


"Aku pingennya metik langsung. Pasti rasanya jauh lebih nikmat. Kasihan kalau keinginan dedek ditolak." sambung Nindia sambil mengelus perut dan memasang wajah melas.


"Kalau enggak, Bi Minah panggilkan Bang Tejo ya." bujuk Bi Minah sekali lagi. Namun, tetap mendapat tolakan dari Nindia.


"Gak usah, Bi. Nindia cuma mau metik mangga ditetangga sebelah. Kalau Bibi gak mau, Nindia pergi sendiri aja. Assalamualaikum." ucap Nindia sambil pergi meninggalkan Bi Minah.


Setelah Nindia tidak terlihat, Bi Minah mencona menelepon Helena untuk memberitahukan tingkah ajaib Nindia.


☎ Helena : Hallo, Bi. Ada apa?


Bi Minah : Begini Nyonya (menjeda kalimatnya)


☎ Helena : Ada apa, Bi? (penasaran)


Bi Minah : Anu.. itu...


☎ Helena : Anu, itu apa sih Bi? Ngomong yang jelas atuh. (Sedikit kesal)


Bi Minah : Non Nindia kepingin mangga muda.


☎ Helena : Oalah.... Begitu saja kamu sulit bicara. Nanti saya belikan, kebetulan saya juga sudah dekat dengan rumah Nindia. Saya juga mau menemani Nindia chek up.


Bi Minah : (Menggelengkan kepala meskipun tak dapat dilihat Helena) Nyonya, masalahnya Non Nindia mau manjat pohon mangganya langsung.


☎ Helena : (Teriak) Jangan dikasih izin atuh Bi.


Bi Minah : Sudah saya cegah, Bu. Tapi Non Nindia tidak mau dengar. Sekarang mungkin sudah di pohon.


☎ Helena : Astaga anak itu.... Ya udah, Bibi temani Nindia. Saya sebentar lagi sampai.


Bi Minah : Baik, Bu. (Menutup telepon)


"Aduh, si Non mah ada-ada aja ngidamnya." ucap Bi Minah hendak berjalan menghampiri Nindia.


____________________

__ADS_1


Aksi Nindia membuat pemilik pohon mangga dan Bi Minah menjadi heboh. Bagaimana tidak, Nindia nekat memanjat untuk mengambil mangga muda langsung dari pohonnya. Bahkan tak ada raut wajah takut yang ditampilkan oleh Nindia.


"Non, Turun ya. Nanti Bibi suruh Bang Tejo ambil mangganya." bujuk Bi Minah.


"Duhhh Gustiiii... Iki bocah kok nekad temen to yo yo..." ucap pemilik pohon mangga yang juga khawatir dengan Nindia.


(Ya Allah... Ini anak kok nekad beneran ya ya)


Bi Minah dan pemilik mangga semakin dibuat khawatir karena beberapa kali Nindia terpeleset karena pohon mangga licin sehabis diguyur hujan.


"Bi Minah sama Ibuknya gak perlu khawatir! Nindia hati-hati kok." ucap Nindia sambil melihat-lihat mangga yang sesuai dengan keinginannya.


"Ibuknya, Nindia minta lima mangga ya." lanjutno.


"Luweh yo ra opo-opo nduk. Tapi meduno, mengko kowe tibo. Ojo lali, ning wetengmu eneng jabang bayi." ucap Ibu-ibu pemilik pohon mangga.


(Lebih juga tidak apa-apa. Tapi turun, nanti kamu jatuh. Jangan lupa, di perutmu ada calon bayi.)


"Nindia hati-hati kok, Bu." jawab Nindia.


Tak lama setelah jawaban terakhir Nindia, ada dua wanita paruh baya yang tetap cantik menghampiri. Satu orang hanya bisa tutup mulut karena terkejut, sedangkan yang satunya sudah berkacak pinggang dengan mimik muka yang siap memakan Nindia.


"Nindia...." teriak Helena.


Ya... yang datang adalah Helena dan Maya. Maya sangat tidak menyangka Nindia memanjat pohon yang begitu tinggi.


Teriakan yang terdengar membuat Nindia terkejut dan sempat terpeleset hingga keseimbangannya kurang.


"Hati-hati, alon-alon." teriak semua orang saat melihat Nindia hendak jatuh. Jantung semua orang sudah berdetak berkali lipat karena insiden Nindia mau jatuh.


"ishh... Bunda kenapa teriak? Bikin kaget aja. Kalau tadi Nindia jatuh gimana?" maki Nindia pada Bundanya.


"Kamu utu yang apa-apaan. Kamu tahu kalau kamu sudah membuat orang yang ada di bawah khawatir?" ucap Helena. Ia masih tak habis fikir dengan tingkah putrinya.


Ucapan Helena bergema di telinganya. Nindia mulai melihat kebawah. Di sana terdapat banyak sekali raut wajah khawatir melihat tingkahnya. Padahal Nindia sudah berusaha hati-hati, tapi raut wajah khawatir itu wajih terlukis jelas.


"Maaf Bunda, Nindia turun." ucap Nindia. Ia mulai menuruni pohon mangga dengan hati-hati. Tapi tetap saja membuat orang tua yang ada di bawah tak henti-henginya berbicara.


"Alon-alon, Nduk." ucap pemilik pohon.


"Nindia, ingat suami di rumah sama anak yang ada di perutmu," Helena berbicara ketus. padahal jantungnya berdegub keras.


"Sayang, hati-hati ya" ucap Maya halus.


Nindia berhasil turun dengan selamat meskipun terdapat sedikit goresan pada sikunya.


"Ya Allah Nindia. Kamu udah bikin jantung Bunda mau copot tau gak?" ucap Helena seraya memegang dadanya. Sedangkan yang membuat khawatir hanya menampilkan deretan giginya.


"Bukan lagi, Mami rasa udah mau pingsan." ucap Maya seraya memeluk Nindia.


"Nindia gak apa-apa kok Mi, Bun. Palingan luka dikit di siku. Nih.." Nindia menunjukkan lukanya.


Helena bernafas lega, "Ya udah, Nanti Bunda obatin sebelum berangkat ke doktet buat periksa kandungan kamu." Nindia mengangguk.


____________________


"Dokter Devi, bagaimana kandungan Nindia?" tanya Maya setelah melihat Doktet Devi selesai memeriksa kandungan Nindia.


Dokter Devi tersenyum, "Alhamdulillah. Kandungannya sehat, Buk. Usianya sekitar satu bulan." jelas Dokter Devi.


"Alhamdulillah," ucap Nindia, Maya, dan Helena bersamaan.


"Ada keluhan di trimester pertama ini?" tanya Dokter Devi.


"Ada, Dok. Saya sering mual dan lemas tiba-tiba. Nafsu makan saya juga sedikit kurang karena mual-mual." ucap Nindia.


Dokter Devi tersenyum, "Itu sudah biasa untuk wanita hamil. Saya akan memberikan resep vitamin untuk kamu. Jangan lupa diminum ya!" ucap Dokter Devi seraya menyerahkan catatan resep.


"Biar saya yang tebus," ucap Helena.


"Terima kasih, Dok." ucap Maya dan Nindia seraya berjabat tangan.

__ADS_1


Helena, Nindia, dan Maya langsung pulang setelah selesai menebus vitamin. Di mobil sangat ramai karena Nindia terus saja bercerita tentang kehamilannya. Mulai dari ngidam, manja dengan Reyhan, males, dan lain-lain. Tapi untuk masalahnya kemarin, tentunya Nindia tak menyeritakan.


"Reyhan mau masakin kamu?" tanya Maya.


Nindia mengangguk, "Nindia baru bisa makan kalau Reyhan yang masak."


"Dasar anak kurang ajar! Padahal saat mami suruh masak buat Mami gak mau lho," ucap Maya bersungut-sungut.


Nindia tertawa, "Masa sih, Mi?" tanya Nindia penasaran.


"Iya, padahal dia pintar masak. Kalau enggak, dia mungkin gak akan betah saat kuliah di Australi." jawab Maya.


Nindia manganggukkan kepalanya dan ber oh-ria.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah Nindia.


"Mami sama Bunda gak mau mampir dulu?" tanya Nindia yang sudah turun dari mobil.


"Enggak, Sayang. Kita mau langsung pulang aja. Mami mau bantu Papi untuk mengurus usaha barunya." jelas Maya.


"Mami mau nemani Kak Helen,"


"Ya udah kalau gitu. Kalian hati-hati ya, Nindia masuk dulu. Assalamualaikum." ucap Nindia sebelum memasuki rumah.


"Waalaikumsallam," jawab Helena dan Maya.


πŸ€


🐾


Bayangin Yoona naik pohon mangga bikin ngakak sendiri πŸ˜‚πŸ˜‚


πŸ’‰


πŸ’Š


Terimakasih buat para tim medis yang menjadi garda terdepan dalam menangani pasien covid 19. Dan untuk enam dokter yang meninggal, semoga diberi tempat terbaik disisi-Nya. Aaammiiinn


Segali lagi author mengingatkan, hindari kontak dengan orang lain. Jika tidak ada keperluan mendesak, diusahakan tidak keluar rumah. Patuhi semua inatruksi pemerintah agar kasus covid 19 tidak bertambah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa LikeΒ πŸ‘Β & KomentarΒ πŸ’¬


Jadikan Favorit ❀


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow

__ADS_1


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊


__ADS_2