
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Hari minggu biasa dihabiskan Nindia untuk membuat berbagai macam kue kering dan menu masakan. Baik dengan resep baru ataupun dengan resep andalan sang bunda. Jika boleh jujur, Nindia sangat dilarang keras oleh Reyhan untuk berkutat di dapur. Reyhan menganggap di dapur banyak benda yang bisa membahayakan keselamatan Nindia, seperti pisau, kompor, minyak panas, dan tepung yang bisa membuat Nindia terpeleset. Tapi bukan Nindia namanya kalau tidak bisa membuat Reyhan mengalah. Jurus andalannya adalah tangisan dan wajah imutnya.
"Sayang, ini masih pagi lo. Kamu udah di dapur aja," ucap Reyhan yang sudah memeluk Nindia dali belakang.
Nindia menggeliatkan tubuhnya agar Reyhan melepas pelukannya. Bukannya lepas, pelukannya terasa lebih erat.
Nindia menghembuskan nafas, "Mas aku sesak, jangan gini dong." Protes Nindia.
Reyhan semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Nindia. Memberikan kecupan-kecupan kecil dan beberapa kali gigitan yang pastinya meninggalkan bekas.
"Rey.." lenguh Nindia saat tangan Reyhan sudah begerilya kemana-mana.
"Apa sayang?" tanya Reyhan dengan suara yang sudah mulai berat dengan masih meneruskan kegiatannya.
Nindia bahkan sudah mendongakkan kepalanya saat mulai terbuai dengan tindakan seduktif yang dilakukan Reyhan. Tapi, kesadaran yang belum sepenuhnya hilang berhasil membuat Reyhan berhenti.
"Kamu berhenti atau kamu tidur di luar dan enggak ada jatah selama satu bulan," ancam Nindia yang berhasil membuat Reyhan mendengus.
Kalimat yang dilontarkan Nindia menjadi bom yang biasa dilontarkan setiap istri untuk mengancam suami dan terbukti berhasil. Dengan berat hati Reyhan menghentikan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan nya. Leher Nindia merupakan salah satu candu baginya selain bibir merah mudanya.
Nindia tersenyum penuh kemenangan, "Lanjut aja kalau masih mau,"
Reyhan mendengus, "Kamu mah ancamannya itu melulu."
Nindia balik badan dan menatap Reyhan yang berwajah masam.
"Kenapa sayangnya akuh?" tanya Nindia menggoda dengan menyentuh rahang yang menjadi salah satu kelemahan Reyhan.
Reyhan menggeram, "Hentikan Nindia kalau kamu tidak mau menyesal,"
"Kenapa sih?" tanya Nindia yang mulai membuat pola abstrak di dada Reyhan.
"Sshhhttt.."
Nindia semakin gencar menggoda Reyhan dengan memberikan kecupan di leher dan rahang tegas milik suaminya. Reyhan fikir dirinya tak bisa melakukan apa yang Reyhan lakukan.
"Aahhhh,"
Nindia semakin tertawa melihat nafsu suaminya yang belum sempat turun semakin memuncak.
Tangan Nindia melingkar di leher Reyhan, "Aku rasa kamu harus mandi lagi, Sayang. Tapi kali ini pakai air dingin," ucap Nindia sambil cekikikan.
"Awas kamu," geram Reyhan sebelum meninggalkan dapur. Ia harus segara meredam nafsunya. Ia bisa saja nekat menerkam istrinya secara brutal kalau tidak ingat istrinya sedang hamil tua. Bisa saja sebenarnya Reyhan memaksa, tapi itu tidak akan pernah terjadi karena kenyamanan Nindia adalah harga mati baginya.
Tawa Nindia akhirnya pecah melihat wajah Reyhan yang memerah. Ia sebenarnya tidak tega melihat Reyhan tersika. Tapi sekali-kali mengerjai suami tidak salah bukan?
"Jangan kelamaan mandinya, Sayang. Sarapan pagi udah siap," teriak Nindia dengan penuh godaan.
____________________
Siang hari saat ingin memasak, Nindia melihat lemari es yang terisa sayuran yang layu dan beberapa buah-buahan yang hampir busuk. Nindia kembali memeriksa lemari di atasnya, ternyata tersisa sedikit. Ia mendesah, hari ini ia sangat ingin makan salat buah yang asam-asam segar.
"Mas.." teriak Nindia sambil membuang buah yang mulai membusuk.
"Apa sayang," jawab Reyhan sambil menuruni tangga.
"Aku mau salat buah," ucap Nindia.
"Ya buat dong."
"Buahnya udah busuk." rengek Nindia.
Reyhan tersenyum melihat wajah kesal Nindia, "Mau belanja?"
Mata Nindia langsung berbinar mendengar tawaran Reyhan, "Boleh?"
Reyhan mengangguk, "Boleh, asal sama Mas. Kalau sendiri tentu saja kamu tahu jawabannya,"
"Ya ya.. Terserah. Yang penting hari ini aku boleh keluar rumah. Bosan juga kalau terus-terusan angrem di rumah," ucap Nindia sambil berjalan mengambil dompet beserta ponselnya.
Reyhan tertawa mendengar ucapan Nindia yang aneh dan menurutnya sangat lucu. Bagaimana bisa menyamakan diri sendiri dengan burung dan sejenisnya.
"Ayo.. Aku pingen salat buah," rengek Nindia untuk sekian kalinya.
"Iya Sayang. Aku ambil kunci mobil dan dompet dulu,"
Dalam perjalanan menuju supermarket terdekat, Nindia tak henti-hentinya mengunyah cemilan dengan bungkus warna hijah dan penuh taburan rumput laut.
"Masih mau makan salat buah? Belum kenyang?"
Nindia menggeleng polos, "Makan ini aja belum bisa buat anak kamu kenyang."
Reyhan tersenyum sambil tangan kirinya mengusak rambut Nindia.
Nindia menguap untuk kesekian kalinya. Sebenarnya hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai ke supermarket, tapi karena macet mereka harus terjebak di dalam mobil. "Kalau ngantuk tidur aja. Mas rasa masih lama juga,"
"Belum gerak ya?" tanya Nindia sambil mengucek matanya.
Reyhan menggeleng, "Mobil depan masih belum gerak sama sekali."
"Kamu enggak apa-apa kalau aku tinggal tidur?" tanya Nindia sambil mengelus pipi Reyhan.
"Tidur aja Sayang."
Elusan lembut Reyhan berhasil mengantarkan Nindia ke pulau mimpi. Mudah sekali bagi Nindia tidur, entah di mobil ataupun di sofa.
Untuk menghilangkan bosan dan mempertahankan matanya yang hampir menutup karena terlampau lelah, Reyhan mengambil air mineral yang berada di depan dan meneguknya.
Beberapa kali Reyhan memijat tengkuknya yang terasa pegal. Terjadi sedikit masalah dengan pembangunan resort di Lombok yang memerlukan pemikiran dan tenaga ekstra. Ia tak bisa memantau secara langsung, maka dari itu ia sedikit mengorbankan Ilham.
Lebih kurang satu jam terjebak macet, Reyhan tiba di supermarket. Ia membangunkan Nindia dengan sepelan mungkin agar tidak terlalu mengejutkan.
"Eeuugngghhh," lenguh Nindia saat tidurnya terganggu. "Udah sampai ya?" tanya Nindia dengan suara serak.
"Hm, bangun yuk,"
Setelah sedikit membenarkan pakaian dan rambutnya Nindia keluar dari mobil dan menghampiri Reyhan yang sudah menunggunya.
"Ayo," ucap Nindia sambil mengapit lengan kiri Reyhan.
__ADS_1
____________________
Tangan kanan dan kiri Reyhan sudah penuh dengan kantung nelanjaan. Tak hanya bahan makanan saja yang dibeli, makanan ringanpun tak luput dari perhatian Nindia. Memang tak banyak makanan manis, tapi makanan yang cukup asin tidak baik bagi kandungan.
"Mau langsung pulang?" tanya Reyhan sambil memasukkan belanjaan ke bagasi.
"Aku mau ke apotik depan dulu. Beli madu sama vitamin aku yang hampir habis,"
"Mau aku temani?"
Nindia menggeleng pelan, "Aku jalan kaki aja. Katanya ibu hamil harus banyak jalan supaya waktu lahiran lancar. Kamu langsung jemput aku aja di sana,"
Reyhan mengangguk dan kembali melanjutkan memasukkan belanjaan ke dalam bagasi.
Setelah selesai, Reyhan langsung menemui Nindia. Ia menunggu di depan apotek sambil bermain ponsel. Saat melihat Nindia selesai, Reyhan langsung keluar dari mobil dan menunggunya. Tapi saat yang bersamaan, di sisi kiri terlihat mobil yang melaju dengan kencang. Hati Reyhan menjadi tidak tenang saat mobil tersebut mengincar istrinya yang sedang menyebrangi jalan.
"Mbak, hati-hati" teriak ibu-ibu di depan apotek.
Nindia sempat menoleh sebentar dan tersenyum pada ibu-ibu yang meneriakinya. Setelahnya Ia tetap melanjutkan langkahnya. Nindia tak mengetahui bahaya yang mengincarnya.
"Sayang hati-hati," teriak Reyhan.
Nindia yang tak mendengar perkataan Reyhan tetap melanjutkan langkahnya sampai ia merasa tubuhnya sedikit terhuyung karena tarikan seseorang.
brakk
"Awwwww"
"Nindia," teriak Reyhan.
Nindia tak mengingat apa-apa. Hanya teriakan Reyhan menggema yang dia ingat sebelum semuanya terasa gelap.
____________________
Sudah satu minggu sejak kejadian yang hampir merenggut nyawa Nindia yang membuat Reyhan memperketat penjagaan di sekitar Nindia. Bahkan Reno sampai turun tangan langsung dalam mengawasi menantu kesayangannya itu. Untung saja hanya luka kecil di dahi Nindia karena Reyhan berhasil menariknya.
Reyhan sendiri sudah menemukan orang yang mengemudikan mobil tersubut dan orang itu sudah mengatakan siapa yang menyuruhnya. Awalnya Reyhan berniat ingin menghancurkan orang itu saat itu juga, tapi lagi-lagi Nindia melarangnya.
Bukan reyhan namanya kalau hanya diam saja melihat orang yang ia sayang hampir pergi jauh. Diam-diam Reyhan menyuruh orang untuk mengawasi dalang dibalik semuanya. Jika sudah melewati batas, jangan salahkan Reyhan kalau nekad.
"Mau kemana?" tanya Reyhan saat melihat Nindia sudah rapi.
Nindia menoleh sebentar dan kembali memasukkan dompet dalam tas yang akan ia bawa, "Cuma mau makan di luar sama Bella dan Gita."
"Mas mau ke kantor,"
"Terus?"
"Ya Mas enggak bisa antar kamu," jawab Reyhan yang mulai kesal.
"Aku bisa pergi sendiri Mas,"
"Enggak! Aku enggak kasih izin kamu pergi sendiri," ucap Reyhan tegas.
Ini yang membuat Nindia seakan menjadi tawanan. Setelah kejadian itu, Nindia dilarang keras keluar rumah sendirian. Kalau kalaian tanya bosan? tentu saja jawabannya iya. Bahkan mau ke minimarket di depan komplekspun Nindia dilarang.
"Mas, aku enggak bakalan kenapa-napa kalau itu yang kamu khawatirkan. Aku pergi makan dan itu pun sama Bella dan Gita." ucap Nindia sambil duduk di pinggiran ranjang.
Reyhan menggeleng kuat, "Gimana aku bisa tenang kalau minggu kemarin aja kamu hampir pergi ninggalin aku. Itu bisa terulang lagi Nindia, aku cuma khawatir. Apa aku salah?" ucap Reyhan frustasi sambil meremas rambutnya.
Kalau sudah melihat Reyhan seperti ini, Nindia tak akan tega. Ia sangat menghargai kekhawatiran Reyhan. Memang dengan keputusan Reyhan kemungkinan kecil bahaya tidak ada, tapi dirinya justru semakin setres.
Reyhan menghembuskan nafas lelah apalagi setelah mendengar Nindia hanya memanggil nama tanpa embel-embel 'mas'. Jika seperti ini, dirinylah yang harus mengalah.
"Aku antar kamu," ucap Reyhan den mata menatap ponselnya.
"Kamu ada meet..."
Reyhan : Undur jam meeting hari ini.
.....
Reyhan : Saya tidak mau tau, kamu urus semuanya.
tuttt
"Sudah beres, kalau itu yang mau kamu bilang," ucap Reyhan.
"Kamu enggak bisa dong seenaknya begini,"
"Bisa kalau saya mau. Saya antar kamu," ucap Reyhan yang sudah berjalan di depan Nindia.
Nindia hanya bisa menghembuskan nafas. Ia sangat tidak menyukai sikap over protective Reyhan satu minggu ini. Ia ingin Reyhan yang dulu.
Selama perjalanan tidak ada yang membuka percakapan. Hanya lagu yang menemani keheningan antara mereka.Jujur saja Nindia sangat tak menyukai diamnya Reyhan. Apalagi kata-kata dingin Reyhan sudah keluar.
Sandarkan lelahmu dan ceritakan
Tentang apapun aku mendengarkan
Jangan pernah kau merasa sendiri
Tengoklah aku yang tak pernah pergi
Nindia beberapa kali melirik Reyhan yang masih tenang dalam diamnya. Cengkraman erat di roda kemudi sudah menghilang.
Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik baik saja
Kita hanyalah manusia
Wajar jika tak sempurna
Saat kau merasa gundah
Lihat hatimu percayalah
Segala sesuatu yang pelik
Bisa diringankan dengan peluk
[Pelukku Untuk Pelikmu]
"Rey..."
"Sudah sampai. Kalau mau pulang telpon saya," ucap Reyhan tanpa menoleh ke Nindia. Reyhan sempat menangkap gerak gerik seseorang berpakaian serba hitam yang terlihat mencurigakan di sekitar restoran.
__ADS_1
Nindia menghembuskan nafas, "Iya. Aku pergi dulu. Kamu hati-hati,"
"Hmm,"
____________________
Bella dan Gita masih senantiasa mendengarkan suara hati Nindia. Saat baru saja datang, mereka langsung disuguhi muka masam Nindia dan mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi setelah mendengar apa yang terjadi.
"Tapi yang gue heran, kenapa mobil itu mau nabrak lo. Secara kan elo enggak kenal sama orangnya," pendapat Gita.
"Enggak tahu juga gue," jawab Nindia sambil mengelus perutnya. "Kok gue merasa rasa makan yang gue pesen aneh,"
"Aneh gimana?" tanya Bella yang mulai waspada. Sejak tadi memang dirinya diam dan semakin tak fokus saat melihat orang berpakaian serba hitam selalu mengikuti gerak gerik Nindia.
Nindia mulai keringat dingin. Kepalanya juga terasa jauh lebih berat. Tubuhnya semakin terasa lemah saat merasakan nyeri yang teramat sangat di perutnya.
"Awwww," ringis Nindia sambil mengelus perutnya yang semakin nyeri.
"Nindia, lo kenapa?" tanya Gita.
Bella tiba-tiba berdiri, "Kita bawa ke rumah sakit. Sekarang!"
Bella meminta bantuan kepada pelayan laki-laki yang tak jauh dari meja mereka. Beberapa pelangganpun ikut membantu akibat mendengar jerit kesakitan Nindia.
"Terim kasih," Bella membungkuk hormat kepada orang yang menolong mereka.
Gita yang mengemudi pun dibuat panik saat mendengar jeritan Nindia dari bangku belakang. Gita juga melihat bagaimana usaha Bella untuk menenangkan Nindia. Sebelah tangan Bella sudah sibuk memegang ponsel, mulutnya tak henti-hentinya mengumpat saat orang yang dihungunginya tak segera merespon.
Bella : Ke rumah sakit Citra Medika sekarang,
.....
Bella : Enggak usah banyak tanya dulu. Cepetan ke sini. Jangan lupa ajak Prof Reyhan.
tuttt
____________________
Reyhan masih terus menggenggam tangan Nindia yang tidak terdapat infus. Ia masih saja kecolongan disaat penjaagaan sudah diperketat. Perkataan dokter beberapa menit yang lalu terus berputar di kepala Reyhan.
Flashback On
"Ny. Nindia keracunan makanan, beruntung Ny. Nindia segera dibawa ke rumah sakit. Racun itu bisa meluruhkan kandungan, jika terlambat satu detik saja, saya sudah tidak bisa berbuat banyak dan yang jelas kalian akan kehilangannya. Saya minta Anda harus lebih menjaga Ny. Nindia, baik dalam segi makanan maupun psikologisnya." jelas dokter yang merawat Nindia.
Flashback Off
kringggg
Reyhan : Hallo
.....
Reyhan : Lakukan yang harus kamu lakukan. Saya sudah cukup baik kepada orang itu, tapi kenyataannya dia sudah bertindak di luar batas toleransi Saya. Tidak ada yang namanya kontak fisik.
Cukup sudah toleransi yang diberikan oleh Reyhan. Sudah tiga hari ini dia menyelidiki pelaku yang meracuni Nindia dan hasilnya tetap mengarah pada orang yang sama. Bahkan sekarang bukan hanya Nindia sasarannya tapi juga anak yang ada di dalam kandungan.
"Mas..." panggil Nindia sambil berusaha bangun.
Reyhan menghampiri Nindia dan membantu Nindia bangun. Meletakkan bantal di punggung Nindia agar merasa nyaman.
"Kamu bicara sama siapa?" tanya Nindia.
"Bukan siapa-siapa,"
Nindia tahu Reyhan bohong, tapi ia tidak mau memerpanjang masalah. Dirinya hanya ingin pulih agar bisa pulang secepatnya. Ia sangat bosan melihat ruangan bewarna putih, makanan yang tidak ada rasanya, dan bau obat-obatan yang membuatnya mual.
"Mas, aku ingin lihat tv," pinta Nindia yang langsung dikabulkan Reyhan.
Luvita Pramudya Herlambang diduga terlibat dalam rencana pembunuhan kepada istri dari pengusaha Reyhan Aristarco. Dua orang telah mengakui bahwa mereka disuruh. Saat ini, pihak berwajib masih melakukan pencarian terhadap Luvita yang dikabarkan kabur.
Akibat dari percobaan pembunuhan ini, PT Adiaksa Jaya mengalami penurunan saham. Bahkan banyak investor yang membatalkan kerjasama dengan PT Adiaksa Jaya. Sekian berita Harian Kita, sampai jumpa di lain hari.
Nindia langsung tahu siapa penyebab dari kehebihan ini. Ia melihat Reyhan yang terlihat biasa saja. Sebenarnya Nindia tidak pernah mengira bahwa Luvita dibalik semua yang Ia alami.
"Untuk kali ini Mas tidak akan menuruti apa yang kamu minta, Nindia. Dia pantas mendapatkannya," ucap Reyhan yang tahu kemana arah fikiran Nindia.
"Apa harus sampai merugikan Tuan Herlambang? Mereka tidak terlibat, aku yakin."
"Harus. Mas sudah tidak bisa mentoleransi lagi,"
Nindia menghembuskan nafas mendengar keputusan Reyhan. Ia tahu keputusan Reyhan kali ini tidak bisa digoyahkan. Apalagi sudah berani menyentuh anak mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
- My Destiny
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari pinterest dan google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊