
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Setelah pulang dari mall, Nindia memutuskan untuk menjelaskan semunya di apartemen milik Bella.
Segela hal yang membuat Nindia bingung, ia ceritakan kepada Bella tanpa terkecuali. Termasuk kesalahan fatal yang pernah ia perbuat.
"Gila lo," umpat Bella karena tidak paham dengan tingkah sahabatnya. "Apa lo gak mikirin perasaan suami lo?"
"Gue tahu kalau gue salah."
"Gue tahu semua ini karena perjodohan. Tapi, Ya seenggaknya lo hormati dong dia sebagai suami lo! Bukan gini caranya." maki Bella.
"Gue juga nyesel Bel. Gue juga pernah secara tidak langsung membuat Reyhan celaka"
"Maksud lo?" Bella penasaran.
" Lo ingat saat Satria tiba-tiba muncul dan ngajak jalan gue?"
"Iya,"
"Saat gue pulang, gue dapat kabar kalau Reyhan kecelakaan dan itu semua gara-gara gue!" Nindia sudah tidak mampu menahan tangisnya. "Dia sengaja taruh mobil di sekolahan karena mikirin gue pulangnya gimana, sedangkan gue gak bawa mobil. Tapi nyatanya gue malah asik-asikan jalan sama Satria saat suami gue kecelakaan," sesal Nindia yang menundukkan wajahnya dengan buliran air mata.
"Gue kecewa Nin sama lo! Segitunya lo sama Satria, sampai lupa kewajiban lo sebagai istri!"
"Coba lo jujur sama perasaan lo sendiri! Intropeksi diri! Jangan maunya enaknya aja lo. Ingat Nin! jangan sampai Pak Reyhan ninggalin lo karena merasa tidak mendapatkan perhatian dari lo. Banyak diluaran sana yang suka sama Pak Reyhan. Bukan hanya tampan dan mapan saja, gue lihat Pak Reyhan pintar. Pintar dalam pendidikan dan pintar menjaga aib RUMAH TANGGANYA!" Bella menekankan kata terakhir agar Nindia mengerti apa yang ia perbuay adalah kesalahan besar.
__ADS_1
"Gue gak mau! Gue nggak mau ditinggal Reyhan" tangis Nindia semakin menjadi saat membayangkan dirinya akan menjadi janda di diusianya yang masih muda, apalagi membayangkan ditinggalkan oleh Reyhan.
Selama kurang lebih dua bulan pernikahan mereka, jujur saja Nindia mulai merasakan ada yang berbeda di hatinya saat berdekatan dan berduaan dengan Reyhan. Rasa aman dan rasa terlindungi yang selalu muncul saat bersama dengan Reyhan.
"Maka dari itu, Jangan sampai Pak Reyhan merasakan mendapatkan perhatian dari orang lain," Kata Bella yang duduk memeluk Nindia agar tangisannya reda.
**
Karena terlalu asik dengan Bella, Nindia samapai lupa waktu. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nindia baru saja pulang dan membuka pintu. Dilihatnya rumah sudah dalam keadaan sepi dan gelap. Namun saat ia menutup pintu rumah, tiba-tiba lampu menyala. Nindia tahu bahwa seseorang sedang melihatnya.
"Dari mana lo?" tanya Reyhan. Ia sedari tadi menunggu Nindia hingga tertidur di sofa ruang keluarga. Namun terbangun saat terdengar suara pintu terbuka.
"Lo tahu ini jam berapa? Ingat Nin! Lo udah punya suami, gak bagus lo keluar malam-malam. Apalagi gak ngurusin suami!" tanga Reyhan dengan nada sindiran dan tatapan tajam.
Nindia hanya diam mendengar pertanyaan Reyhan. "Re.. Rey, gue bisa jelasin!" Nindia berjalan menuju Reyhan. Ia tahu bahwa dirinya salah.
"Buruan ke kamar, Kasihan kalau Bunda dan Ayah kebangun gara-gara dengar ribut"
"Rey.. gue bisa jelasin!" Nindia sedikit berlari mengikuti langkah Reyhan.
Nindia mengejar Reyhan hingga masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan tasnya di atas nakas setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjelaskan semuanya kepada Reyhan.
Reyhan sedang sibuk mengamati ponselnya. Menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Ia belum siap bertemu dengan Nindia, namun sesekali Reyhan melihat pintu kamar mandi yang masih belum terbuka.
Setelah hampir tiga puluh menit, Nindia keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan jubah mandi dan handuk di kepalanya. Nindia kemudian mendudukkan dirinya di depan meja rias. Mengambil cream malam dan mengaplikasikan pada wajahnya. Setelah selesai dengan kegiatannya, Nindia mengikuti Reyhan yang masih setia dengan ponselnya.
"Re gue bisa jel..." Nindia ingin menjelaskan, namun lagi-lagi Reyhan selalu menghindar.
"Lo bisa pili-pilih lagi, Kalau ada barang yang mau lo bawa atau lo tinggal. Menurut gue, nggak usah terlalu banyak beli barang. Kalau ada yang kurang kita bisa beli di mall terdekat." setelah mengatakan hal yang perlu di katakan, Reyhan membaringkan tubuhnya memunggungi Nindia. Menarik selimut sehingga menutupi tubuhnya hingga dada.
"Rey dengerin gue dulu," Nindia memegang bahu Reyhan supaya berbalik menatapnya. Ia masih kekeh mencoba untuk berbicara pada Reyhan.
__ADS_1
"Gue ngantuk Nin,!" Reyhan menepis tangan Nindia yang ada di bahunya.
Nindia yang mendapatkan penolakan dari Reyhan hanya menghembuskan nafas beratnya. Ia benar-benar menyadari kesalahannya.
Dilihatnya nafas Reyhan sangat teratur, menandakan Reyhan sudah jauh dalam alam mimpinya.
"Selamat Malam Rey," Nindia mengecup kening Reyhan, kemudian Ia ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Reyhan.
"Malam Nin," Reyhan membuka matanya dan membalas ucapan Nindia sangat pelan, bahkan hanya gerakan bibirnya saja. Kemudian memejamkan matanya kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/n : jangan lupa Like & Commentnya. Terimakasih
__ADS_1