HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Episode 25 Sempurna


__ADS_3

HAI CHINGU.....šŸ˜€šŸ˜€šŸ˜€šŸ˜€


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


"Gimana makanannya?" tanya Reyhan.


Setelah mereka menyelesaikan permasalahan. Reyhan mengajak Nindia makan di warung lesehan. Nindia tanpa sukan makan makanan tersebut dengan lahap.


"Enak," Nindia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kamu gak apa-apa makan dipinggir jalan. Apalagi menunya hanya pecel lele."


Nindia meminum es jeruk yang ada disampingnya. "Aku gak masalah makan dimana saja. AKu kan sudah pernah bilang sama kamu sebelumnya. Kenapa masih dipermasalahkan?" tanya Nindia yang sedikit kesal dengan Reyhan.


Reyhan menyadari kalau pertanyaannya sedikit menyingung. "Bukan gitu maksud aku. Kamu kan baru makan dua kali di pinggir jalan."


"Aku pulang kalau kamu terus ngomong," ancam Nindia.


Reyhan akhirnya menyerah dengan pertanyaannya. Ia tidak mau mengganggu suasana romantis yang terjadi saat ini. Momen ini sangat langka. Semenjak dua bulan lalu, hubungannya dengan Nindia tidak baik. Bahkan jauh lebih dari kata baik-baik saja. Ia sangat merindukan keharmonisan yang terjadi dalam rumah tangganya, meskipun awal pernikahannya tidak berdasarkan cinta.


Nindia mengambil satu suapan dan menyuapkan pada Reyhan. "Aaaa..."


Reyhan menyambut Niat baik Nindia. Ia memakan nasi dari suapan Nindia.


"Ini langganan kamu?" tanya Nindia yang heran karena Reyhan tahu tempat makan yang enak dengan harga yang terjangkau.


"Langganan orang kantor, Yang." Reyhan menyuapkan nasi.


Nindia ingin berbicara, tapi dicegah oleh Reyhan. "Ditelan dulu baru ngomong,"


Suasana menjadi hening karena mereka sibuk menikmati hidangan masing-masing. Sesekali Reyhan menatap Nindia yang asik menikmati pecel lelenya


"Alhamdulillah," ucap Nindia saat menyelesaikan makannya.


"Udah kenyang atau mau nambah?" tanya Reyhan.


"Siniin tangan kamu!" Reyhan mengulurkan tangan dan dengan sigap Nindia menyemprotkan antiseptic. "Biar gak bau sambal terasinya,"


"Mau tambah atau udah?" tanya Reyhan sekali lagi.


"Bungkusin satu buat Bi Minah, Bee. Kasian, tadi aku larang dia buat masak. Meskipun masih ada sisa lauk tadi pagi."


"Berapa totalnya pak?" tanya Reyhan pada penjual.


"Rp 40.000 mas. Pecel lele 3 Rp 30.000, Es Jeruk jumbo 2 Rp 10.000" jelas penjual.


"Ini pak," Reyhan mengeluarkan uang lima puluh ribuan. "Kembaliannya buat bapak," Ucap Reyhan dengan senyum.


"Makasih mas. Semoga rezekinya lancar," harap penjual.


"Amiin,"


Reyhan keluar dari tenda itu dan berjalan menuju motornya. Nindia terus menatap Reyhan dengan tatapan kagum. Bagaimana tidak? sudah ganteng, akhlak dan budi pekertinya baik, dan sholeh lagi. Sangat sempurna bagi calon imam.


"Bee, kita besok pergi ke supermarket ya. Buat belanja bulanan. Kasian Bi Minah, karena kita bertengkar Bi Minah yang ngurus semuanya," pinta Nindia.


"Iya besok aku temenin. Tapi sehabis aku pulang kantor. Ada file yang memerlukan tanda tangan aku." ucap Reyhan.


Nindia cemberut mendengar penjelasan Reyhan. Padahal besok hari libur, tapi Reyhan harus masuk kerja di hari libur.


Reyhan mengerti akan kekecewaan Nindia. Reyhan memegang bahu Nindia. "Jangan cemberut dong! atau gak kamu ikut aja aku pergi ke kantor, setelah itu kita jalan-jalan dan belanja bulanan," usul Reyhan. Ia juga ingin mengenalkan Nindia kepada karyawa dan kliennya.


Nindia tersenyum cerah. "Oke kalau gitu. Sekarang kita pulang ya, kasian makanannya," Nindia menunjukkan bungku pecel lele yang dibawanya.


"Ayo,"


____________________


[Pagi Hari Pukul 06.00]


Reyhan sedang membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan Nindia sibuk menyiapkan pakaian Reyhan dan pakaiannya untuk di gunakan pergi ke kantor. Nindia bingung harus menggunakan baju apa karena tidak pernah pergi ke kantor. Bahkan ke kantor Ayahnya saja Nindia tidak pernah. Setelah berdebat dengan hatinya akhirnya Niindia memilih kemeja dongker kotak-kotak untuk Reyhan dan kaos serta kemeja biru untuk dirinya.



"Gimana pakaiaku?" tanya Nindia saat Reyhan sudah selesai memakai baju.


cuupp "Luar biasa seperti biasanya,"


Reyhan menggandenga tangan Nindia keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan. Nindia mengambilkan nasi dan lauk buat Reyhan.


"Katanya udah habis?" tanya Reyhan sambil mengunyah makanan.


"Tinggal ini, Bee. Aku juga buat menu seadanya. Cuma nasi goreng, telur mata sapi dan sayur oyong." ucap Nindia sambil mengambil makanan buat dirinya.


____________________


Sesampainya di Aristarco Corp. ,Reyhan turun terlebih dahulu, mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Nindia. Memperlakukan Nindia layaknya tuan putri.


"Pak, tolong parkirkan mobil saya," Reyhan memberikan kunci mobilnya kepada satpam yang bertugas.


"Siap pak,"


Reyhan menggandeng Nindia memasuki perusahaan. Banyak pasang mata yang memperhatikan atasan dan wanita yang ada disebelahnya. Banyak pegawai yang berbisik dan bertanya-tanya tentang siapa yang berhasil menggandeng sang atasan.


"Pagi Tuan, Nyonya" sapa Ilham. Sekertaris, sahabat, sekaligus kanan kanannya.


Mendengarkata 'nyonya' karyawan membulatkan matanya. Banyak yang tidak mengetahui bahwa sang atasan sudah memilingi pasangan hidup.


Ilham tersenyum puas saat melihat banyak karyawan wanita syok. Ia memang sengaja menyapa Nindia dan menyematkan panggilan 'nyonya' untuk membuat karyawan wanita patah hati. Ilham mengetahui banyak yang menggunakan trik-trik murahan dan terang-terangan menyukai atasannya. Dengan mengetahui bahwa sang atasan sudah menjadi milik orang lain, Ilham berharap tidak ada lagi wanita yang mencari muka tanpa memiliki prestasi yang baik.

__ADS_1


"Pagi," jawab Nindia. Ia belum mengetahui siapa yang menyapanya. Ia kemudian menoleh ke Reyhan.


"Kenalkan, dia Ilham Muhammad. Sekertaris, sahabat, sekaligus tangan kanan ku," jawab Reyhan saat sudah sampai di ruangannya.


"Oh. Saya Nindia Putri, sa..."


"Aristarco" tambah Reyhan. Ia memang memberikan belakangnya pada Nindia.


Nindia mengulang perkataannya. "Nindia Putri Aristarco." Nindia tersenyum.


"Saya sudah mengetahui nama anda dari Tuan Reyhan." jawab Ilham dengan nada formal.


"Mulai deh. gak usah pakai bahasa formal. Hanya ada kita bertiga," ucap Reyhan di sela-sela menandatangani berkas yang menumpuk.


"Iya, gak usah formal. Anggap saja kita berteman."


"Kalau di luar ruangan ini dan ada klien, akan tetap menggunakan bahasa formal," pinta Ilham.


"Oke,"


Setelah mengatakan keperluan untuk kedatangannya, Ilham pergi meninggalkan ruangan dan melanjutkan pekerjaannya. Satu jam, dua jam, hingga sekarang sudah tiga jam menunggu Reyhan belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Nindia sedikit menyesal mengiyakan ajakan Reyhan untuk ikut ke kantor. Nindia sangat bosan dan hanya menggunakan game online yang ada di ponselnya untuk menghilangkan kejenuhan.


Reyhan tetap asik dengan kesibukannya memeriksadan menandatangani berkas. Ia menemukan perbedaan saat memeriksa laporan keuangan. Hasil berbeda antara apa yang ia terima dan yang dikirim Ilham. Reyhan memang sudah menaruh curiga kepada bendahara perusahannya, maka dari itu ia menyuruh Ilham untuk mengawasi dan menyelidiki masalah keuangan.


"Masih lama?" tanya Nindia yang memang sudah bosan.


"Bentar lagi ya, Sayang. Ada masalah di keuangan kantor." kata Reyhan yang masih sibuk memeriksa keuangan kantor.


"Ada apa?" Nindia bangkit menghampiri Reyhan. "Ada masalah yang penting?" Nindia sudah berdiri di belakang Reyhan.


Reyhan mendongakkan kepalanya. "Sepertinya ada yang sedang korupsi diperusahaan. Reyhan menunjukan berkas perbedaan antara cacatan keuangan antara yang di bawa Ilham dan yang ia dapatkan.


"Punya Ilham yang benar. Berarti memang ada yang korupsi diperusahaan. Kamu harus selidiki!" ucap Nindia memberikan semangat.


"Kamu udah lapar?" tanya Reyhan. Sebenarnya dari tadi ia mengamati sang istri yang sudah terlihat bosan.


Nindia menahan senyumnya. "Lumayan. Kalau kamu masih sibuk, selesaikan dulu pekerjaan kamu! Baru kita makan." ucap Nindia yang duduk di meja kerja Reyhan. "Kalau enggak, aku akan pergi belanja bulanan sendiri."


"Nggak. AKu sudah janji sama kamu buat jalan-jalan. Tunggu lima menit lagi ya," pinta Reyhan sambil menggenggam tangan Nindia. Ia mendapatkan jawaban saat Nindia menganggukkan kepalanya.


Reyhan berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Ia bahkan memanggil Ilham untuk membantunya. Semuanya sudah hampir selesai, tinggal beberapa berkas yang tidak terlalu penting dan masih bisa ditunda pengerjaannya.


"Ham, kamu handle masalah ini. Gue mau pergi temenin dia belanja bulanan," Reyhan menunjuk Nindia dengan dagunya.


"Siap, Bos. Silahkan menikmati kencan kalian."


Reyhan menghampiri Nindia yang masih sibuk denganĀ gameĀ yang dimainkannya.


"Ayo,"


"Udah selesai?" Nindia mendongak.


"Biar Ilham yang menyelesaikan,"


"Siap Bu bos."


Setelah mengatakan itu, Nindia dan Reyhan berjalan keluar ruangan dan menujuĀ bassmentĀ perusahaan. Sejak keluar dari ruangan Reyhan, Nindia terus menjadi pusat perhatian karyawan. Ia tidak mengetahui bahwa ia juga bagian dari keluarga yang berpengarush di negara ini. Namun, ia tak pernah mengumbar dan jarang tampil di Televisi. Kakan tirinyalah yang sering menghiasi layar televisi untuk menemani Ayah dan Bundanya untuk menghadiri acara-acara penting. Oleh sebab itu, ia sering dianggap tidak berkelas.


"Karyawan kamu sensi banget sama aku," ucap Nindia sambil tersenyum saat sudah masuk di dalam mobil.


Reyhan menoleh,"Kamu mau aku tegur mereka?" tanya Reyhan.


"Apaan sih, gak usah! Biarin aja, mau-mau mereka ajalah,"


Reyhan melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan. Ia sudah berjanji menemani Nindia belanja bulanan dan mengajaknya untuk kencan lagi. Ia sekali-kali melirik Nindia yang asik dengan ponselnya.


Cukup tiga puluh menit mereka tempuh untuk sampai di supermarket. Reyhan memilih supermarket di salah satu mall yang dekat dengan kantornya. Ia juga sekaligus bisa memanfaatkan ini untuk melanjutkan kencan yang kemarin.


"Kok ke mall?" tanya Nindia saat sadar sedang dimana dirinya.


"Sekalian kita kencan. kemarin aku kan janji sama kamu."


Seperti biasa. Reyhan turun dari mobil terlebih dahulu dan kemudian membukakan pintu untuk Nindia. Dia menghalangi bagian atas kepala Nindia agar tidak terbentur.


"Makasih,"


Reyhan menggandeng Nindia memasuki mall. Mereka saling menautkan jari-jari tangan mereka. Berjalan beriringan menikmati waktu mereka berdua. Sesekali mereka beradu pandang dan melempar senyum satu sama lain.


"Mau makan, jalan-jalan atau belanja dulu?" tanya Reyhan.


"Jalan-jalan dulu, setelah itu makan siang dan yang terakhir belanja," ucap Nindia dengan hati berbunga-bunga.


"As wish you, Dear." mencium puncak kepala Nindia.


Nindia tertari oleh salah satu pakaian yang dipasang. Ia meminta izin kepada Reyhan untuk masuk dan Reyhan mengizinkan. Sedangkan Reyhan masih menunggu diluar dan terlihat sedang membicarakan sesuatu.


"Kenapa masih diluar? Apa ada masalah seriu?" tanya Nindia pada dirinya sendiri. Namun, ia tetap melanjutkan melihat-lihat baju yang ia suka.


"Sayang," panggil Reyhan. "Ini kartu buat kamu. Terserah kamu mau beli apa. Aku keluar sebentar ya, ada klien di sekitar sini dan dia minta ketemuan. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Reyhan.


Meskipun kecewa, namun Nindia tetap mengiyakan perkataan Reyhan. "Gak apa-apa. Tapi nanti kmau temenin aku lagi kan?" tanya Nindia penuh harap.


"Aku bakal temenin kamu lagi. Aku cuma sebentar. Aku pergi dulu ya,"


Nindia memejamkan mata saat Reyhan mencium keningnya. "Iya. Hati-hati." Nindia menatap punggung Reyhan yang lama kelamaan tidak terlihat lagi.


Suasana hati Nindia berubah menjadi mendung. Ia bertanya-tanya, sepenting itukah pekerjaannya sehingga memaksa meninggalkan dirinya berbelanja sendiri. Bukannya tadi siang sudah janji akan menemaninya dan mengajaknya untuk kencan lagi? tapi ya sudahlah, Nindia menganggap pekerjaan Reyhan kali ini darurat dan lebih membutuhkan perhatiannya.


Dua jam sudah berlalu. Namun, Reyhan belum kembali untuk menemaninya. Nindia mulai kesal dibuatnya. Ini sudah menunjukkan jam makan siang, tapi Reyhan belum juga kembali.


Nindia melihat Reyhan berlari ke arahnya.


"Maaf ya," ucap Reyhan sambil mencium puncak kepala Nindia.

__ADS_1


"Hmm," jawab Nindia tanpa menoleh ke Reyhan.


Reyhan tersenyum getir mendengar jawaban Nindia. Sudah bisa dipastikan bahwa dia akan tidur dipunggungi atau bahkan disuruh tidur di luar.Ā Amit amit!


Tanpa banyak bicara, Reyhan membawakan belanjaan Nindia. Tak cukup banyak, hanya dua kantong belanjaan. Namun, Reyhan berusaha agar dimaafkan.


"Mau kemana?" tanya Reyhan saat melihat Nindia berjalan mendahuluinya.


Perjalanan menjadi sangat hampa. Pasalnya hanya Reyhan yang banyak bicara, sedengkan Nindia menjadi sangat pendiam.


Disela-sela perjalanannya, Reyhan kembali menerima telepon. Ia terlihat sangat bahagia saat berbicara dengan penelepon.


"Yang, ayo makan! Ini udah lewat jam makan" Reyhan menarik tangan Nindia untuk memasuki salah satu restaurant.


Nindia mengikuti Reyhan tanpa berbicara sama sekali.


Setibanya diĀ restaurant, Nindia sangat terkejut. Pasalnya di salamĀ restaurantĀ tersebut tidak ada pengunjung sama sekali. Hanya dirinya dan Reyhan pengunjungnya.


Salah satu pelayan menghampiri Nindia dan Reyhan. "Selamat siang Tuan dan Nyonya. Mau pesan apa?" tanyanya dengan sopan.


"Premium platter 3 pax," jawab Reyhan.


"Tuan sudah mengetahui peraturannya?" tanya pelayan.


Reyhan menganggukan kepalanya.


"Silahkan ditunggu pesanannya,"


Reyhan kemudian berdiri dan meminta izin kepada Nindia untuk pergi ke kamar mandi. Karena Nindia masih marah, ia membiarkan saja Reyhan pergi.


Tiba-tiba lampu restaurant mati. Menyisakan Nindia yang bingung dengan apa yang terjadi. Ia berusaha memanggil-manggil pelayan, tapi tidak ada satupun orang yang menghampirinya. Ia semakin dibuat kesal saat Reyhan tak kunjung kembali ke tempatnya.


Nindia mendengar suara gitar dipetik. Lampu menyala semua dan menampilkan Reyhan yang duduk dengan memainkan gitar dan bernyanyi.


.


.


Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci, kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Reyhan berjalan menghampiri Nindia, dia sudah mengatur dan bekerjasama dengan pemilik restaurant. Lagu terus saja bermain sedangkan Reyhan sudah berlutut di depan Nindia. Mengeluarkan kotak kecil berisi cincin yang sangat cantik. Mahal sekaligus elegan. Tidak terlalu mencolok.



Kurang lebih seperti ini.


怀


Aku ingin, mempersuntingmu


Tuk yang pertama


Dan terakhir


Nindia menutup mulutnya. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Ia tak menyangka akan mendapatkan lamaran yang kedua dari laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya


"Mungkin aku belum bisa membahagiakan kamu. Aku datang disaat yang tidak tepat. Menorehkan luka saat pertama kali bertemu. Tapi sungguh, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu sepenuhnya. Aku mau kamu manjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Menemaniku dalam suka duka. Membantuku memimbing anak-anak. Mau kah kamu menua denganku???" tanya Reyhan.


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Lagi-lagi Nindia dikejutkan dengan Laki-laki ini. Sungguh betapa beruntungnya dia. Mendapatkan laki-laki yang sempurna. Sempurna dalam akhlak dan budi pekerti, sempurna dalam fisiknya dan sempurna cintanya.


Nindia menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku mau. Aku mau menua bersamamu, menemanimu dalam suka dan duka. Menyayangimu sepenuh jiwaku. Menorehkan kebahagian selama kita bersama. Membimbing anak dan cucu kita. Aku mau dan Aku mau" Nindia bangkit dan memeluk Reyhan.


Reyhan memasangkan cincin di jari manis Nindia disela-sela pelukannya.


"Terimakasih sayang, I Love You, Dear,"


"I Love You too My Bee,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2