HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 79 Romantis, Bukti dan Usaha


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Hari ini adalah hari pertama Nindia melakukan segala kegiatan dari rumah. Nindia bertekad harus menjadi S1 paling tidak meskipun harus menjalankan kuliah terbuka selama mengandung.


Setelah terbangun dari tidurnya, Nindia memilih untuk bermalas-malasan sebentar seraya menunggu sintar mentari membelai wajah cantiknya. Sesekali Nindia menarik nafas panjang guna menghirup udara yang sedikit tercium bau petrichor setelah hujan mengguyur semalam. Menimbulkan rasa nyaman dan sejuk bagi siapa saja yang menciumnya.


Kegiatannya hari ini bermula dari menyiapkam pakaian Reyhan sampai memasak saraoan pagi. Tentunya dengan bantuan Bi Minah karena Reyhan akan melarang jika tidak ada yang membantu dan Nindia tidak mau hanya berdiam diri.


"Pagi," ucap Reyhan yang sudah memeluk Nindia dari belakang dan meletakka. dagunya di bahu kiri Nindia.


"Pagi," ucap Nindia seraya mengelus sebentar tangan Reyhan yang melungkar di pinggangnya.


"Masak apa?" tanya Reyhan seraya mengelus perut Nindia.


Nindia menggeram karena merasa geli akibat Reyhan yang mendusel-dusek di ceruk lehernya.


"Geli, Bee." ucap Nindia dengan mencoba menjauhkan kepala Reyhan meskipun gagal.


Reyhan semakin menggesdkkan ujung hidungnya di leher Nindia. Bahkan sesekali Reyhan memberikan kecupan kecil sehingga meninggalkan bekas.


Nindia mendengus, "Kebiasaan deh. Pasti merah habis ini." ucap Nindia seraya mengerucutkan bibirnya.


Reyhan menjauhkan kepalanya. dan memandang hasil karya yang diciptakan, "Indah dan menakjubkan."


"Lepasin dong Bee, malu sama Bi Minah," ucap Nindia saat melihat Bi Minah maduk dapur dengan kantong belanjaan.


"Enggak apa-apa Non. Udah biasa atuh lihat Non sama Aden mesra-mesraan." jawab Bi Minah seraya terkekeh.


Memang bukan hal baru bagi wanita paruh baya tersebut melihat kemesraan anak muda yang ada di depannya. Meskipun bisa dikatakan tak muda lagi karena sudah mau memiliki anak.


"Bi Minah aja enggak apa-apa. Kenapa kamu yang protes," ucap Reyhan kembali masuk ke ceruk leher Nindia.


"Risih Bee. Mendingan kamu siap-siap, udah mau pukul 7. Jangan sampai telat y meskipun kamu bosnya." ucap Nindia setelah berhadil lepas dari pelukan Reyhan.


Reyhan memutar tubuh Nindia dan mencuri satu kecupan di bibir Nindia, "Morning kiss beb." ucap Reyhan sebelum ngacir meninggalkan dapur.


"Reyhan," ucap Nindia sedikit berteriak. "Aish." ucap Nindia seraya mengjentakkan kakinya.


"Udah atuh Non, itu ungkapan sayang Aden." ucap Bi Minah.


"Tapi Anin kan malu Bi." jawab Nindia sera cemberut.


"Bibi udah bisa lihat juga, kenapa mesti malu atuh?" goda Bi Minah.


"Bi Bi mah gitu. Nindia makin malu tahu." ucap Nindia seraya gokus lagi pada kegiatan masaknya.


Tak lama setelahnya terdengar teriakan yang cukup nyaring dari arah tangga dan sudah pasti pelakunya adalah Reyhan.


"Sayang, kamu lihat dai Mas yang garis-garis merah hitam?" tanya Reyhan sedikit teriak.


Nindia menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada kegiatannya, "Ada di laci almari Bee."


"Udah Mas cari sayang, tapi enggak ketemu." rengek Reyhan.


Reyhan baru saja ingat bahwa hari ini ada rapat penting untuk penandatangan proyek baru yang ada di Lombok dan Ia sudah sejak tadi diteror telepon oleh Ilham.


"Coba di cari dulu Bee," ucap Nindia.


Reyhan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, "Sayang, bantu Mas ya. Mas ada meeting dengan klien dari Lombok. Udah diteror juga sama Ilham."


Nindia menghela nafas dan mematikan kompor. Untung saja makanan yang dibuatnya sudah masak dan tak masalah jika ditinggal. untuk menyiapkan keperluan Reyhan. Salahnya juga jika lupa menyiapkan dasi.


Hal Ini memang bukan kali pertama bagi Nindia mendengar Reyhan menanyakan barang atau apapun yang bukan berhubungan dengan pekerjaan. Suaminya sangat aneh, Reyhan tergolong teliti dalam memeriksa dan meneliti pekerjaan tapi sangat jelek dalam mencari sesuatu yang ada di rumah dan tidak berhubungan dengan pekerjaan.


Meskipun lelah dengan sikap Reyhan yang satu ini, Nindia tetap membantu Reyhan mencari dasi yang ingin di cari. Hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit, dasi yang di cari Reyhan sudah berada di tangan Nindia. Letaknya berada di baris ke tiga sebelah kanan.


"Ada kan kalau teliti," ucap Nindja seraya memperlihatkan dasi di tangannya.

__ADS_1


Reyhan tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Nindia yang sibuk membuat simpul dasi.


"Lain kali teliti dong, Bee." pinta Nindia.


Reyhan selalu suka momen Nindia memasangkan dasi. Terkesan romantis walauoun hanya sederhana. Menjadi kesenangan tersendiri saat melihat istri melayani suami dengan sepenuh hati. Apalagi dengan keadaan yang bisa terbilang intim.


"Mas selalu teliti kok Sayang kalau soal pekerjaan. Kalau mas gak teliti, mungkin kamu, anak kita, dan karyawan Mas yang berjumlah lebih dari seribu kelaparan tanpa penghasilan." jelas Reyhan mencari pembelaan.


"Selalu itu yang jadi alasan. Lain kali lebih kreatif kalau mau cari alasan. Selesai," ucap Nindia yang puas dengan hasil simpulan yang dibuatnya.


"Besok-besok Mas cari alasan lain biar lebih variasi," ucap Reyhan seraya mendaratkan kecupan di kening Nindia.


"Iya Mas, Iya. Sekarang lebih baik sarapan dan berangkat kerja. Tadi Ilham juga telepon aku suruh kamu cepat-cepat ke kantor," jelas Nindia seraya menggandeng tangan Reyhan menuju meja makan.


"Iya Sayang, makasih ya cup"


____________________


Meskipun sudah mendekati makan siang, Reyhan masih disibukkan dengan menandatangani berkas yang menumpuk di mejanya. Bahkan seseorang masuk ke dalam ruangannya pun tidak bisa mengalihkan fokusnya.


Nindia adalah orang yang masuk ruangan Reyhan tanpa mendapatkan respon. Sepertinya Reyhan memang sibuk-sibuknya. Nindia hanya bisa mengamati dan memandang suaminya seraya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan dan menyimpan kotak bekal di meja.


Lama-kelamaan Nindia mulai bosan karena tak mendapatkan respon dari suaminya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 12 siang yang artinua sudah waktunya makan siang.


Perlahan-lahan Nindia berjalan menghampiri Reyhan dan tetap saja tak menyadari sampai tangan yang melingkar di leher dan kecupan yang diberikan Nindia di pipi kiri Reyhan berhasil mengalihkan perhatian dari tumpukan berkas.


cup


"Sibuk banget ya? Sampai enggak sadar kalau istrinya udah nunggu 30 menit," ucap Nindia yang tak melepas pelukannya.


"Nindia," sapa Reyhan yang masih terkejut dan belum bisa menguasai diri.


Nindia tersenyum, "Apa Mas?"


"Sejak kapan? Kok Mas enggak tahu?" tanya Reyhan setelah berhasil menguasai diri dari keterkejutan.


Nindia mengelus rambut Reyhan menggunakan tangannya yang digenggam oleh Reyhan, "Gimana mau tahu kalau kamunya terlalu fokus sama pekerjaan. Kan aku udah bilang kalau. Mas..." pekik Nindia karena tanpa aba-aba Reyhan menarik tangannya sehingga Nindia sekarang berada di pangkuan Reyhan.


"Mungkin. Mas, jangan terlalu fokus sama pekerjaan, fikirin juga kesehatan kamu. Kalau kamu sakit aku juga yang khawatir." ucap Nindia seraya membuat pola abstrak di dada Reyhan.


Reyhan menggeram melihat tingkah istrinya. Jika saja pekerjaan tidak menumpuk, sudah dipastikan Ia akan mengajak istrinya bermain dan tak akan membiarkan Nindia begitu saja.


Sebelum Reyhan khilaf, Ia segera menangkap tangan Nindia yang masih membuat pola abstrak di dada bidangnya.


"Sayang, lebih baik kamu berhenti sekarang kalau tidak mau menyesal. Atau kamu ingin bermain sekarang juga?" tanya Reyha seraya menaik turunkan kedua alisnya.


blusshhh


Baru begitu saja pipi Nindia sudah memerah. Bagaimana kalau benar Reyhan mengajaknya. bermain.


"Lagi pula kantor sedang sepi karena sebagian besar karyawan sedang makan siang dan menunaikan kewajiban kan? Kalau bermain sedikit pasti aman." tanya Nindia dalam hati.


Nidnia langsung mebggelangkan kepalanya saat pikiran kotor dan nakal memenuhi kepalanya.


"Sayang, pipi sama telinga kamu kok merah? Hayoo kamu lagi mikirin apa?" goda Reyha. yang semakin membuat Nindia memerah.


"Udah Mas. Aku malu," ucap Nindia seraya menenggelamkan wajahnya d om ceruk leher Reyhan


Reyhan terkekeh dan saat melihat ruangan, matanya menangkap kotak makan yang terletak di meja.


"Sayang, kamu bawa kotak makan?" tanya Reyhan.


Nindia memundurkan wajahnya dan menepuk pelan jidatnya, "Astagfirullah Mas, aku lupa. Aku kesini kan mau antar makan siang kamu. Kamau sih godain aku mulu. Jadi lupa kan." gerutu Nindia setelah bangkit dari pangkuan Reyhan.


Reyhan mengikuti langkah Nindia dari belakang, "Mas aja enggak tahu kalau kamu bawa makanan,"


"Pokoknya ini salah Mas," ucap Nindia seraya membuka seluruh kotak bekal berisikan makanan kesukaan Reyhan.


"Iya sayabg, ini semua salah Mas,"


Nindia tersenyum mendengar Reyhan yang selalu mengalah sejak dirinya hamil, "Sini," menepuk ruang kosong disebelahnya. "Aku suapin aja biar kamu juga masih bisa cek berkas yang ada di meja kamu."


Reyhan hanya mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Nindia. Sesekali Nindia juga memasukkan makanan dimulutnya karena Ia juga belum makan siang.

__ADS_1


"Pak Bos, ayo ma... kan siang," ucap Ilham dengan suara pelandi akhir kalimatnya.


Reyhan berdecak malas karena keromantisannya dengan Nindia diganggu oleh makhluk yang sangat menyebalkan, siapa lagi kalau bukan Ilham.


"tsk... ganggu lo," ucap Rryhan sebelum menerima suapan dari Nindia.


"Yeee... kalau gue tahu lo mesra-mesraan sama istri, gue juga ogah kali. Gue kan bukan obat nyamuk." elak Ilham yang taj ikhlas dituding sebagai pengganggu.


"Ya udah, sono pergi! Kenapa masih disini?" tanya Reyhan.


Nindia memegang tangan Reyhan, "Kak Ilham udah makan?" tanya Nindia.


Ilham tersenyum dan menggeleng, "Niatnya mau ajak tu bocah makan siang. Ternyata udah ada pawangnya. Nasib jauh dari pasangan mah gini," ucap Ilham.


"Ya udah, gabung aja sekalian. Lagian masak banyak kok." tawar Nindia yang disambut senyuman oleh Ilham dan disambut tatapan yajam oleh Reyhan.


Tanpa sungkan dan ragu, Ilham duduk dan langsung mengambil makanan yang disiapkan Nindia. Ilham tak lagi memperdulikan Reyhan yang menatapnya horor.


"Gak tahu malu." sindir Reyhan.


"Biarin, hitung-hitung hemat buat biaya nikah. Mahal bro, gue enggak mau bikin Bella bahagia."


"Kak, Bella bukan tipe cewek yang matrealistis. Bella cuma butuh bukti dari kakak, udah itu aja." jelas Nindia disela menyuapi Reyhan.


Ilham mengangguk dan setuju dengan yang dikatakan Nindia, "Iya, tapi saya tidak mau memberikan yang biasa buat Bella karena ini akan menjadi awal dan akhir hiduo saya."


"Santai bro, Mami sama Papi pasti bantuin." ucap Reyhan.


"Itu pasti, kan bisa makin hemat," jawab Ilham santai.


"Sama aja namanya, gak modal." sindir Reyhan yang diacuhkan Ilham.


Romantis bisa dilakukan dari hal-hal kecil. Mulai dari menghargai suami, menyiapkan keperluan suami, mengisi perut suami, hingga melayani kebutuhan biologis suami. Kecil tapi sangat berarti.


Sebagian wanita memang mencari harta agar hidupnya terjamin, bukan matre yapi mencoba berfikir realistis. Bagaimana bisa hidup tanpa uang, tetapi uang tidak akan datang dengan sendirinya jika kita tidak berusaha membuktikan bahwa kita bisa menghasilkannya tanpa instan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2