HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 62 Arti Sahabat


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Setelah kembali dari kantin, Gita menjadi banyak melamun karena mengingat kejadian kemarin. Kejadian yang tidak pernah ada dalam bayangannya dan dilakukan oleh orang yang pernah singgah di hatinya.


"Lo kenapa, Git?" tanya Nindia.


Sudah sudah dari tadi Nindia memperhatikan Gita. Mulai dari kantin hingga ke kelas. Yang awalnya ceria berubah menjadi murung.


Gita menggelengkan kepala, "Gue gak apa-apa."


"Tsk,.. udah berapa lama sih kita sahabatan? Lo fikir gue bakalan percaya sama omongan lo barusan?"


Gita tersenyum, "Lo emang paling peka," sanjung Gita.


"Ada apa?"


Menghela nafas, "Kemarin gue sama Satria jalan bareng..."


"Hah... Satria? Mantan gue? Sudah sejauh mana kalian?" tanya Nindia penasaran.


Gita memukul bahu Nindia, "Lo pingen denger gak sih cerita gue?" kesal Gita.


Sambil mengelus bahu, Nindia tersenyum kikuk, "Ya maaf, gue kan penasaran"


"Gue jawab satu-satu, habis itu gue lanjut jelasin." Nindia mengangguk. "Ya, Satria mantan lo. Belum terlalu jauh sih, gue masih takut kalau dia seperti Akas."


Nindia memutar bola matanya jengah. Nindia sudah hafal. Setiap ada yang mendekati Gita, dia selalu menutup diri dan bisa dikatakan menyamaratakan laki-laki lain seperti Akas, mantannya. Padahal hal itu tidak boleh terjadi.


"Jangan menyamakan Satria sama Akas. Sangat beda. Kalau lo kura gue gak tahu tingkah Satria, kalian salah. Gue tahu dan gue juga tahu kalau dia selalu menolak hadiah yang diberikan. Dia sangat menghormati perempuan."


Gita terkejut. Gita mengira hanya dirinya dan Bella yang mengetahui tingkah Satria. Ternyata apa yang terjadi justru sebaiknya.


"Gue hanya pura-pura gak tahu dan hanya pura-pura kuat. Jadi, kasih dia kesempatan. Cara dia yang salah dengan meninggalkan gue tanpa kabar."


Gita mengangguk, "Kemarin kan gue jalan sama Satria. Bukan pertama kali sih, tapi udah beberapa kali. Sialnya, kemarin gue ketemu Akas. Ya terjadi sedikit perdebatan sih antara gue sama Akas."


Nindia mengernyitkan dahi, "Terus masalahnya apa?"


Menghela nafas, "Karena dia gak mau pergi, jadi gue yang memutuskan untuk pergi. tsk" Gita berdecak kesal. "Mungkin karena dia enggak terima gue permaluin akhirnya dia narik tangan gue dan brengsek nya dia nyium bibir gue,"


braakkk


Tanpa Gita sangka, Nindia menggebrak meja dan langsung berdiri setelah karena cerita terakgir Gita. Ia tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.


"Nindia, apa yang kamu lakukan?" tanya dosen.


Hari sial bagi Nindia. Ia membuat onar di kelas Prof. Reyhan yang terkenal Killer. Sadar atas apa yang ia lakukan, Nindia memperhatikan sekitarnya. Banyak siswa yang menatapnya dengan mata melotot dan dahi berkerut. Seperti bertanya 'apa yang lo lakuin?' , 'Lo mau mati?'. Bahkan Bella dan Tia yang duduk di kursi sebelahnya terkejut dengan tindakan Nindia. Sedangkan Gita langsung menenggelamkan wajahnya pada tangan yang dilipat di kursi.


"Ogeb deh si Nindia. Mau mati atau gimana sih anak ini? Okelah yang di depan suaminya, tapi... Ah ya udahlah, terima aja hukuman lo. Gue jamin gue juga ikut kena." ucap Gita dalam hati merutuki kecerobohan Nindia.


Nindia meringis melihat tatapan tajam Prof. Reyhan dan tatapan semua temannya. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena kebodohannya.


"Anindia Putri, kamu belum jawab pertanyaan saya." ingat Prof. Reyhan.


Nindia menggaruk lengannya yang tak gatal, "Ma.. Maaf Prof. Saya tidak sengaja."


"Gita, apa yang kalian lakukan? Saya sangat tidak menyukai mahasiswa yang membuat onar di kelas Saya." ucap Prof. Reyhan dengan penekanan dan nada datar.

__ADS_1


"Kalau kamu nggak suka, mana mungkin kamu nikahin aku," jawab Nindia dalam hati.


Merasa namanya terpanggil, Gita langsung berdiri dan menundukkan kepalanya. "Ma.. Maaf Pak."


Suasana kelas menjadi sangat mencekam dengan diamnya Prof. Reyhan. Mereka tiba-tiba merasakan firasat buruk yang akan terjadi.


Prof. Reyhan melepas kacamatanya dan berjalan menuju tempat duduk, "Lebih baik saya akhiri pelajaran saya sampai disini. Selamat siang." ucap Prof. Reyhan.


Prof. Reyhan berhenti di depan pintu"Dan untuk kalian berdua," menunjuk Gita dan Nindia, "Ikut ke ruangan saya, SE-KA-RANG"


Setelah Prof. Reyhan keluar ruangan, semua mahasiswa menghembuskan nafas. Jantung mereka dipaksa berpacu dengan cepat karena tingkah Nindia. Mereka juga sangat bersyukur karena Prof. Reyhan tidak memberikan hukuman buat mereka. Prinsip Prof Reyhan adalah 'Kesalahan satu orang yang menanggung satu kelas'. Sadis bukan?


____________________


Menghabiskan wakru bersama teman atau sahabat merupakan salah satu cara untuk mengurangi beban. Kita dapat menceritakan masalah kita. Dengan cara ini, kita akan terbantu oleh solusi yang diberikan oleh sahabat atau teman kita. Selain memberikan solusi, sahabat atau teman juga membuat kita tersenyum dengan bercandaan mereka. Seperti yang dilakukan Gita saat ini.


Tia menirukan saat Nindia menggebrak mejela yang ada di kelas dan melajukan drama dengan meniru Prof. Reyhan.


"Nindia apa yang kamu lakukan?" mencoba memelototkan matanya, "Anindia Putri, kamu belum jawab pertanyaan saya"


Tia berganti posisi dan berganti mimik muka menjadi melas, "Ma... maaf Prof.." setelah itu Tia tertawa saat mengingat ekspresi Nindia.


Nindia melempar kentang goreng ke arah Tia, "Malu gue," bisik Nindia.


Bella tersenyum, "Ohhh... Lo punya malu ya, gue kira malu lo udah luntur saat lo hapus make up."


"Terus.. hujat terus!" Ucap Nindia. "Sayang, lihat tuh mereka. Masa mereka jahatin Mommy." adu Nindia pada janin yang ada di perutnya.


"Curang ya lo, sekarang pakek bawa-bawa anak lagi." protes Tia. "Jangan percaya sayang, Aunty cantik nan manis baik hati kok." bisik Tia tepat di depan perut Nindia.


"Najis, cantik sama manis kalau dilihat dari ujung monas pakek ujung sedotan nih," ucap Nindia sambil mengangkat sedotan.


"Cot," umpat Tia.


Nindia memukul kepala Tia, "Mulut lo, kasian telinga anak gue, ogeb"


"Udah-udah," lerai Bella. "Kuta disini buat bahas apa yang dibicarain Gita sama Nindia di kelas tadi. Ngapa jadi berantem."


Gita mengangkat bahunya acuh, sedangkan Tia dan Nindia masih saling melempar tatapan tajam.


"Kenapa Git? Ada masalah?" tanya Bella.


Nindia menjawab, "Ada jadi gi...."


"Gue mau denger langsung dari Gita" potong Bella.


Gita meminum jusnya kemudian menghela nafas dan mengalirlah cerita. Cerita yang intinya sama persis saat ia menceritakannya kepada Nindia. Tapi lebih runtut dan lebih jelas.


Bella dan Nindia berusaha untuk menahan amarahnya, sedangkan Tia hanya bisa membuka mulutnya saat mendengar cerita Gita. Sedanfkan Gita yang bercerita sudah meneteskan air matanya.


Bella beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Gita kemudian mengelus punggungny, "Sabar ya sayang. Gue gak nyangka Akas bisa ngelakuin itu."


Gita menahan isak tangisnya, "Apalagi gue. Gak nyangka banget Akas bisa ngelecehin gue di depan umum. Gue takut Satria bakalan ninggalin gue,"


"Percaya sama gue! Satria gak bakalan ninggalin irang yang dia sayang. Kecuali dia lagi geser aja otaknya," imbuh Nindia.


Gita tersenyum dalam isaknya, "Berarti waktu ninggalin elo, otaknya lagi geser gitu?" tanya Gita yang masih dalam pelukan Bella.


Setelah merasa Gita cukup tenang, Bella kembali ke tempat duduknya.


"Iyalah. Ya kali aja orang cantik kaya gue ditinggalin. Pasti otak dia lagi geser waktu ngelakuin itu,"


"Siapa yang lo maksud otaknya geser?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul.

__ADS_1


Semuanya menoleh ke arah pintu, "Satria" panggil semuanya.


Satria berjalan mendekat, "Iya ini gue. Siap yang lo maksud otaknya geser?" tanya Satria pada Nindia.


Nindia meringis dan menggaruk tengkunya yang tak gatal, "Enggak ada tuh. Gue gak bilang apa-apa," elak Nindia.


"Bohong. Jelas-jelas elo yang ngomong kalau otak Satria geser waktu itu." jawab Tia yang langsung mendapatkan pelototan dari Nindia.


"Oh... Jadi gitu ya Ny. Aristarco." ucap Satria sambil menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih, tapi ada yang kurang," ucap Nindia.


Satria yang mendengar ucapan Nindia hanya mengangkat alisnya seakan bertanya 'apa lagi'.


Nindia tersentum sambil mengibaskan rambutnya ke belakang, "Ny. Aristarco yang cantik dan imut." ucap Nindia seraya menampilkan wajah sok imut yang sontak membuat sahabatnya berekspresi seakan ingin muntah.


Satria menggelengkan kepalanya, "Dulu waktu lo pacaran sama gue gak lebay-lebay banget deh, Nin. Sekarang kok jadi gini sih? Dikasih makan apa lo sama Prof. Reyhan?"


"Dikasih makan cacing jadinya gak bisa diem. Apalagi sekarang suka nyabe, ehh..." Tia menutup mulutnya. "Maksud gue makan cabe."


Ucapan Tia berhasil membuat semua orang tertawa kecuali Nindia yang menjadi objek bullyan sahabatnya. Tapi Nindia fikir tidak apalah sekali-kali menjadi objek bully an, yang penting sahabatnya bahagia dan tidak berlebihan.


"Hujat terus..... Untungny hormon ibu hamil gue lagi membuat gue slow, kalau enggak udah gue bejek-bejek lo." ucap Nindia seraya mempraktekkan seperti mengulek sesuatu.


"Santai Tuan Putri. Apalah hampa yang hanya remahan rengginang."


Semua orang akhirnya bisa mengembalikan senyum Gita yang sempat hilang. Itulah yang dinamakan arti sahabat. Ada dikala suka dan duka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2