HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 72 Cacian Tanpa Arti


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


 


Hari ini Nindia dikejutkan dengan pesan masuk dari Bella yang mengatakan bahwa Pak Burhan meminta jam pengganti untuk pertemuan minggu lalu. Bahkan ponsel langsung dilempar Nindia setelah mendapatkan kabar dari Bella. Sekedar informasi saja, Bella dan Nindia mengambil konsentrasi yang sama yaitu audit, sedangkan  Gita dan Tia mengambil konsentrasi perpajakan.


"Kamu mau kemana?" tanya Reyhan yang ada di ruang keluarga dengan koran di depannya.


"Mau ke kampus," jawab Nindia seraya mengenakan sepatu.


Reyhan menutup koran dan meletakkannya di meja, "Bukannya hari ini enggak ada jadwal?"


"Tadinya sih gitu, tapi Bella bilang Prof. Burhan minta pengganti hari ini."


"Kamu tunggu, aku mau ambil kunci dulu." ucap Reyhan dan diangguki Nindia.


Nindia sangat mengutuk Bella yang memberikan informasi secara mendadak. Tapi ini juga salahnya karena sejak semalam tidak mengecek grup kelas. Untung saja dirinya masih punya waktu tiga puluh menit,


"Yuk," Reyhan menarik tangan Nindia untuk memasuki mobil.


Perjalanan ke kampus hanya memakan waktu dua puluh menit. Untung saja tidak terjebak macet mengingat ini adalah jam-jam macet. Setelah mengantarkan Nindia, Reyhan langsung pulang karena nanti siang akan ada meeting di kantor.


"Aku pulang dulu ya,"


Nindia mengangguk kemudian mencium punggung tangan Reyhan, "Iya. kamu hati-hati."


Mobil Reyhan tak terlihat lagi. Nindia sudah terbiasa dengan pandangan teman-temannya. Untung saja Bella mau menunggunya di depan.


"Lo lihat enggak. Perut Nindia kok buncit sih?"


"Iya juga sih. Atau jangan-jangan dia hamil"


"Kalau iya, itu anknya siapa?"


"Gue enggak ngira ya kalau Nindia sampai segitunya."


"Iya, gue juga gak nyangka. Padahal dia kelihatan kalem."


"Kalem dari mananya? Orang dia aja suka bikin onar kok. Jadi enggak salah kalau dia sampai hamil diluar nikah."


Hati Nindia mencelos mendengar perkataan teman-temannya. Tak masalah jika hanya dirinya yang menjadi bahan olok-olokan, tapi ini anaknya. Bahkan anaknya belum lahir, tapi sudah mendapat cacian. Apa kata mereka? Anak haram? Nindia sangat tidak terima anaknya dikatakan sebagai anak haram. Nindia mempercepat langkahnya tetapi berhasil ditahan oleh Blle.


Bella mengelus punggung Nindia, "Udah! Enggak usah didengerin perkataan mereka. Kalau lo buat marah, kasihan anak lo. Dia pasti ikutan sedih kalau bundanya uga sedih."


"Tapi dia ngehina anak gue, Bel. Dia belum lahir lohh." ucap Nindia seraya menghapus air matanya.


Bella mengangguk, "Iya gue tahu. Sekarang kita masuk. Setelah itu kita langsung pulang." Nindia mengangguk mendengar ucapan Bella. Ada benarnya, untuk apa menanggapi perkataan orang yang ngawur. Tak terbukti dan hanya berdasarkan asumsi saja.


Nindia yang ingin cepat masuk ke dalam kelas terpaksa menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang menghadang jalannya dengan gaya ynag sangat angkuh. Kedua tangan terlipat di dada dengan dagu yang mendongak. Nindia sangat benci orang yang bersikap sombong.


"Ohhhh, ini yang namanya Nindia. Yang suka bikin onar itu?"


Nindia lagi-lagi menghembuskan nafas. Pasalnya selama berjalan di koridor, banyak orang yang membicarakannya.


"Ada apa?" tanya Nindia.


"Santai aja kali." wanita tersebut memandang Nindia dari atas sampai bawah, seakan menilai penampilan Nindia saat ini.


Wanita tersebut tersenyum, bukan senyum manis melainkan senyum meremehkan. Hari ini Nindia bisa dikatakan mengenakan pakaian yang terkesan santai dan tidak high class, tapi dibali itu harga outfit Nindia hari ini bisa membeli satu ponsel keluaran terbaru berlogo apel dimakan.

__ADS_1



(anggap saja seperti ini)


Nindia memutar bola matanya malas. Ia benar-benar malas menghadapi orang yang sok seperti yang ada di depannya ini. Nindia saja bisa mengetahui kalau tas yang dipakai wanita di depannya adalah barang kw yang harganya hanya berkisar Rp 500.000-, Bahkan di rumah, Nindia memiliki tas yang sama persis tapi bedanya adalah  milik Nindia adalah original, harganya saja bisa membeli satu rumah di kawasan elite.


"Enggak cantik sih. Tapi kok sampek ada yang mau 'pakek' ya?" tanya wanita itu kepada dua teman dibelakangnya.


Bella sudah tidak bisa menahan emosinya, "Siapa sih lo?"


"Ohh selain kampungan, kalian juga kuper ya. Oke kalau gitu, gue dengan senang hati memperkenalkan diri. Gue Luvita Pramudya, ini Ketty Nugraha dan yang itu Micelle Valentine. Perkenalkan gue calon istrinya Prof Reyhan."


Luvita Pramudya dan kedua temannya memang terkenal dengan ratu bully. Banyak adik tingkat bahkan teman satu angkatannya yang takut saat didatangi oleh Luvita. Selain itu, Luvita juga merupakan anak salah satu Dosen di kampus ini, sehingga dia merasa memiliki kekuasaan dan tak akan pernah tersentuh oleh siapapun.


"tsk.. Gak penting banget tahu gak." ucap Bella seraya menarik Nindia menjauhi tiga manusia kurang kerjaan.


Luvita sudah memasang kakinya untuk menjegal Nindia dan keinginannya berhasil. Sayangnya dengan sigap Bella menjaga Nindia agar tidak jatuh. Jika saja Bella telat, sudah dipastikan Nindia dan bayinya tidak akan selamat karena posisi jatuh Nindia telungkup.


"Opsss sorry!" ucap Luvita.


"Lo gila!" bentak Bella yang berhasil menarik perhatian mahasiswa yang berada di sekitar mereka.


Nindia masih terdiam mengingat kejadian beberapa menit detik yang lalu. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dirinya benar-benar jatuh.


"Gue cuma ingetin teman lo ini. Jangan pernah dekat-dekat dengan Prof Reyhan, karena dia hanya milik gue. Camkan itu," ucap Luvita kemudian pergi meninggalkan Bella dan Nindia.


"Nin, lo gak apa-apa?"


Nindia sedikit tersentak karena merasakan goyangan di tubuhnya,"Gue enggak apa-apa"


"Tapi lo pucet banget,"


"Gue gak apa-apa. Sekarang kita masuk, udah waktunya Prof. Burhan."


____________________


"Gila sih Nin, lo masih diem aja dengar mereka ngejelekin lo? Apalagi anak lo dibawa-bawa" sengit Gita.


"Lihat, bentar lagi ada drama," ucap Tia saat melihat geng Luvita memasuki are kantin.


Luvita datang dengan dua dayang yang sama-sama berpenampilan menor dengan baju kekurangan bahan. Padahal ini masih diarea kampus yang mengharuskan mahasiswa berpenampilan sopan. Luvita tersenyum senang saat mendapati mangsanya sedang duduk berssama temannya. Ia melangkah dengan gaya sok-sok an dengan menggerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.


"Eh.. ada cabe ternyata" ucap Luvita.


Bella, Tia, dan Nindia tak menanggapi perkataan Luvita. tapi berbeda dengan Gita yang tak sudah terlihat geram dan ingin seklai rasanya mencakar wajah Luvita.


"Oh ya,,, tadi gue denger ada yang lagi hamil tapi di luar nikah." ucap Ketty teman Luvita yang berambut keriting.


"Jadi beneran Nindia hamil di luar nikah?"


"Gak nyangka ya."


"Siapa sih orang yang ngelakuin itu?"


"Gue rasa sih gak mungkin Nindia hamil. Orang badannya aja kurus gitu, setahu gue kalau orang hami itu badannya kelihatan lebih berisi."


"Iya juga sih. Gue rasa cuma Luvitanya aja yang cari masalah."


"Dia kam hobinya emnag cari masalah."


Luvita terlihat geram saat mahasiswa mulai berbalik menyudutkannya. Rencananya untuk mempermalukan Nindia gagal total. Tapi, Luvita tak menyerah sampai di sini.


"****** kan lo. Masih banyak kali yang sayang sama Nindia." maki Tia dalam hati.


"Malu deh tu muka. Tutup aja pakai panci emak lo" ucap Gita dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Nindia langsung menghentikan acara makannya. Baru kali ini dia terkena masalah. Padahal ia sudah di kampus ini selama dua setengah tahun lamanya. Pertanyaannya kenapa baru kali ini mereka mengganggu hidupnya? Apa mugkin karena Nindia beberapa kali berangkat dengan Reyhan yang notabennya idola kampus? Kalau iya, bolehkan dirinya memaki Reyhan saat ini?


"Males banget gue ngadepin mereka. tapi kalau gue diemin, ngelunjak lama-lama. Pakek bilang gue hamil di luar nikah lagi, ingin rasanya teriak 'Gue ini istri dari dosen yang lo bilang sebagai suami masa depan' Dosa gak sih nampar mulut rempongnya?" Gumam Nindia dalam hati.


"Udah deh, jangan urusin hidup gue. Hidup lo aja gue rasa masih ribet." ucap Nindia yang berhasil membuat Luvita geram.


Luvita menahan amarahnya dan mengeluarkan senyum sinisnya, "Gue rasa hidup lo yang jauh lebih ribet. Gue rasa lo butuh laki-laki yang mau jadi suami lo dan mau nerima anak lo."


"Lo yakin banget kalau gue lagi hamil." ucap Nindia yang mulai menikmati makannya lagi. "Apa buktinya?"


Luvita langsung diam saat Nindia meminta bukti. Salahnya juga tak memiliki bukti yang kuat untuk menjatuhkan Nindia. Ia melihat mahasiswa yang ada di kantin menatapnya, seakan menunggu bukti apa yang akan diberikan oleh Luvita.


"Hadeuuhhh kalau enggak ada bukti jangan nyablak. Kalau udah ada bukti baru deh elo nemuin gue." ucap Nindia.


Luvita menghentakkan kainya di lantai kantin kemudian meninggalkan kantin dengan sumpah serapah yang tak berhenti keluar dari mulutnya. Sedangkan ke- 2 temannya menunduk malu, ada yang menutupi mukanya dengan tas, ada juga yang menutupi wajahnya dengan buku.


"Balik lagi kalau udah ada buktinya," teriak Nindia.


Luvita menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Awas aja lo,"


"Gila ya Nin. Omongan lo emang gak nyelekit tapi langsung mematikan." ucap Gita.


"Enak aja ngatain anak gue anak haram." sungut Nindia yang masih kesal dengan Luvita.


"Udah lah.. Mendingan lo makan lagi, kasian anak lo."


Nindia menunduk dan mengelus perutnya, "Maaf ya sayang. Bunda jadi berhenti makan gara-gara mak lampir tadi."


"Hussstttt... Jangan bicara aneh-aneh sama anak lo." ucap Bella.


Nindia menyengir, "hehehe Maaf kilapnya disengaja"


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow

__ADS_1


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊


__ADS_2