HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 70 Galau Ditinggal Suami


__ADS_3


 


.


.


.


HAI CHINGU..... 😁😁😁😁


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Sudah delapan hari Reyhan bertugas ke Bali, mundur satu hari dari jadwal sebelumnya dan berhasil membuat Nindia galau. Nindia sangat merindukan suaminya itu, bahkan Reyhan tidak menghubunginya sejak kemarin dan semakin membuat Nindia kelimpungan. Delapan hari sangatlah lama bagi Nindia, Ia biasanya hanya ditinggal selama tiga hari, itupun Nindia terus saja menghubungi Reyhan.


Seperti saat ini, Nindia kembali melamun di kelas hingga membuat sahabatnya kesal.


"Nin," panggil Tia.


Lihat saja, itu sudah panggilan ke lima dari Tia dan masih tetap diabaikan oleh Nindia. Ia berdecak kesal karena melihat tingkah Nindia yang menurutnya sangat kekanakan, bahkan membuatnya seperti mayat hidup.


Gita menggebrak meja sambil teriak, "Anindia Putri"


Teriakan dan gebrakan meja Gita berhasil membuat Nindia kembali ke dunia nyata.


Nindia menatap tajam Gita,"Eh ogeb, kuping gue masih berfungsi ya.. Jadi gak usah teriak."


"Gue rasa, lo kudu ke THT deh buat periksa telinga lo. Coba lo tanya sama anak-anak, udah berapa kali gue dan Tia panggil nama lo." kesal gita yang mendengar jawaban Nindia.


Nindia hanya bisa menampilkan cengirannya saat melihat wajah kesal ke tiga sahabatnya, "Maaf. Gue gak bermaksud kali, gak usah gitu mukanya. Entar Satria kabur baru tahu rasa"


Bukannya merasa bersalah, Nindia justru mengejek Gita. Sedangkan yang diejek sudah berancang-ancang ingin meremas wajah Nindia.


Bella menggelengkan kepalanya,"Lo kenapa sih?"


Nindia menunduk dan matanya sudah berkaca-kaca, "Gue kangen hiks sama Reyhan. Dia udah delapan hiks hari di Bali. Dia juga hiks dua gak ngehubungi gue."


Gita, Bella, dan Tia menghela nafas mendengar ucapan Nindia. Mereka harus sabar untuk menghadapi bumil yang satu ini. Nindia termasuk bumil yang sangat rewel. Tidak mau berpisah dengan Reyhan dan selalu menangisi masalah kecil seperti kukunya yang patah atau yang lebih menyebalkan adalah saat kutek kukunya terkelupas. Untuk urusan makanpun Nindia termasuk rewel dan tidak seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya yang sanagt suka makan, bahkan beberapa kali Nindia ditegur oleh dokter kandungan karena berat badannya tidak sesuai untuk ibu hamil.


Bella membawa Nindia dalam pelukannya. ia mendapatkan kabar dari Ilham yang terbang ke Bali menyusul Reyhan. Ilham mengatakan kalau urusan disana sangat rumit sehingga menguras waktu, tenaga, dan juga fikiran.


"Udah! mereka pasti lagi sibuk. Kata Kak Ilham, urusan disana lumayan ribet. Mungkin itu yang buat Prof. Reyhan telat pulang bahkan sampai lupa ngehubungi lo."


"Ada benarnya apa yang dikatakan Ibuk. kalau lo terus-terusan telepon, Prof. Reyhan akan kepikiran sama lo, kerjaannya keganggu, dan semakin lama pulangnya." jelas Tia.


Nindia mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan dua sahabatnya.


"Tapi kangen hiks" rengek Nindia.


"Kita ngerti Nindia. tapi apa lo nggak pernah mikir gimana perasaan Prof Reyhan. Lo hanya ditinggal prof Reyhan doang udah segila ini, nah... sedangkan Prof. Reyhan harus meninggalkan dua orang yang dicintainya. Pasti akan jauh lebih sulit jadi Prof. Reyhan. Gimana coba?" ucap Gita halus. ia tak ingin menyinggung perasaan sensitif bumil satu ini. Meskipun, kata-kata yang dikeluarkan cukup nyelekit.

__ADS_1


Setelah Nindia fikir, apa yang dikatakan Gita sangat benar. Dia yang ditinggal satu orang saja sudah mirip seperti orang gila. Bagaimana suaminya yang harus meninggalkan istri dan juga anaknya.


Bella mengurai pelukannya dengan Nindia setelah melihat bumil sudah cukup tenang. Ia hanya tak habis fikir dengan Nindia yang masih kekanakan tapi sudah bisa bikin anak.


"Dasar bucin." ucap Bella yang membuat Tia dan Gita harus menahan ketawanya.


Nindia melotot tak percaya mendengar perkataan Bella. Biasanya Bella akan menjadi penengah di antara mereka bertiga, tapi kini justru ikut-ikutan menggodanya.


"Enak aja! Gue gak bucin ya?" sangkal Nindia.


"Emang bener sih apa yang diucapkan Ibuk, gue rasa seorang Anindia Putri mulai jadi bucin" ucap Tia yang diangguki Bella dan Gita.


"Enggak ya..." sangkal Nindia yang masih tak terima dengan ucapan sahabatnya.


Gita berdecak, "Gini ya Nindia sayangkuh, cintaku." ucap Gita sambil mecubit kedua pipi Nindia. "Sekarang, lo itu nempel mulu sama suami lo, gerak dikit aja yang lo cari pasti Prof reyhan. Bahkan ditinggal suami kerja aja sampai nangis. Sekarang buktinya."


"Itu bukan kemauan gue, itu kemauan dedek."


"Jangan jadikan anak lo sebagai alasan ya Nindia," gemas Tia karena Nindia tak mengakui kebucinannya.


"Udah-udah. Sekarang lo senyum dan makan. Lihat tubuh lo Nin, tubuh lo itu udah kayak kulit sama tulang tahu enggak? Kasian ponakan gue kalau kekurangan gizi, gue gak mau ya." ucap Gita yang sudah kesal karena sangat sulit membujuk Nindia untuk makan.


Bella mengangguk,"Lo kayak bukan orang hamil, Nin. Badan lo kurus banget, bahkan jauh lebih kurus daripada sebelum hamil." Ucap Bella yang diangguki Gita dan Tia.


Nindia memperhatikan tubuhnya. Pipinya menirus, tulang selangkanya kelihatan dan masih banyak lagi perubahan pada tubuh Nindia semenjak hamil. Ia juga menyadari kalau berat badannya terus menurun, padahal dokter sudah mewanti-wanti untuk menaikkan berat badannya sekitar lima kilo agar bayi tidak malnutrisi.


"Gue tahu. Gue juga udah berusaha untuk meningkatkan berat badan dengan menambah porsi makan, tapi tetep aja ujung-ujungnya keluar juga. Gue juga capek kalau terus-terusan muntah. Gue cuma bisa makan makanan asam, sedangkan kalian tahu sendiri kan kalau gue punya asam lambung?" jelas Nindia sendu. Ia juga tak ingin anknya malnutrisi.


"Coba gini deh, porsi makan lo jangan ditambah. Kalau bisa justru dikurangi, tapi intensitas makan lo lebih sering dan nutrisi tetap harus diperhatikan. Lo masih suka nyemil kan?" Nindia mengangguk. "Bagus, itu salah satu cara buat menaikkan berat bada. Tante gue dulu juga sama kayak lo, dan cara yang gue katakan berhasil buat tante gue." ucap Gita.


"Semangat Nindia," ucap Tia, Bella, dan Gita bersamaan.


____________________


Nindia yang awal mulanya semangat kini kembali menjadi sendu kala mengingat suaminya. ia benar-benar merindukan reyhan dan menginginkan Reyhan berada di dekatnya. Terdengar egois memang, tapi itu yang dirasakan oleh Nindia.


"Aku kangen kamu." ucap Nindia sambil melihat bintang dari balkon kamarnya.


Rumah ini terasa sepi saat Reyhan pergi bertugas ke luar kota seperti saat ini. Satu minggu yang llau ia tinggal bersama dengan Maya mertuanya. Sebenarnya ia ingin tinggal di rumah Bunda dan Ayahnya, tapi sangat disayangkan saat mereka juga harus menghadiri pertemuan penting di Singapura. Stelah satu minggu di rumah Maya, kemarin Nindia memutuskan untuk pulang. Selama pergi, rumah selalu dijaga dan dibersihkan oleh Bi Minah.


ttok ttokk ttokk


"Masuk aja Bik, Nindia ada di balkon." ucap Nindia.


Nindia masih asik memandangi bintang di langit sampai tidak menyadari seseorang yang sangat dirindukannya sudah berada di belakang.


"Bibi taruh aja makanannya di meja. Nanti Nindia akan makan, sekarang Nindia belum nafsu makan." ucap Nindia yang masih mengira orang itu adalah Bi Minah.


Orang itu memainkan pintu, seolah-olah pintu sudah tertutup. Ia semakin mendekati Nindia yang ada di balkon dengan baju tidur tipis. Ia melihat tangan Nindia bergerak untuk menghangatkan tubuhnya.


grep


Ia terdiam saat mencium parfum yang sangat dikenalinya. Parfum yang selalu membuatnya tenang dan nyaman Di saat bersamaan.


"Kenapa pakai baju tidur tipis kalau dingin?" tanya orang itu sambil mendekap hangat.

__ADS_1


"Reyhan?" gumam Nindia yang masih bisa didengar oleh Reyhan.


"Hmm"


Nindia balik badan, saat melihat Reyhan ada di depannya langsung saja ia loncat dan memeluk Reyhan erat. Ia sangat-sangat merindukan suaminya itu.


Reyhan sempat khawatir saat Nindia tiba-tiba loncak ke arahnya. untung saja ia sigap memeluk Nindia. Ia lingkarkan tangannya di pinggang Nindia yang ramping.


"Aku kangen sama kamu," ucap Nindia yang tak terdengar jelas karena terhalang ceruk leher Reyhan.


Reyhan tersenyum manis mendengar ucapan Nindia yang menurutnya seperti rengekan 'kenapa baru pulang?'.


Secara perlahan Reyhan menurunkan Nindia, tapi tak melepaskan pelukannya pada pinggan Nindia. cupp Reyhan mendaratkan kecupan di bibir Nindia, semakin lama kecupan itu berubah menjadi lumatan. Tak ada nafsu dalam lumatan itu, yang ada hanyalah bukti bahwa Reyhan jauh lebih kangen daripada Nindia. Merasa pasokan udara semakin menipis, Reyhan melepaskan lumatannya pada bibir Nindia. Menghapus sudut bibir Nindia yang ada bekasnya.


Reyhan menatap Nindia lekat, "Aku jauh lebih kangen sama kalian." ucap Reyhan sambil mendaratkan satu kecupan di kening Nindia.


Nindia memejamkan mata untuk merasakan kehangatan kecupan Reyhan di keningnya. Ia sangat merindukan kontak fisik sederhana seperti ini dengan Reyhan.


"I miss you"


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊

__ADS_1


__ADS_2