
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
"Andra," panggil gadis remaja yang sedang berlari.
"Dek, jangan lari nanti ja–"
brukk
"Tuh,"
Gadis remaja itu hanya bisa meringis saat merasakan nyeri sekaligus perih di lututnya. Ah, seharusnya dia mendengarkan orang yang melarangnya untuk berlari. Salahkan saja sifat keras kepalanya.
"tsk, Sakit?" tanya laki-laki yang bisa dikatakan menjadi alasannya jatuh. "Kan gue udah pernah bilang, jangan ceroboh!"
"Sharna, lo baik-baik aja kan?"
Gadis yang dipanggil Sharna itu mengangguk, "Gue enggak apa-apa kok, Kak Saga."
Laki-laki didepannya menghembuskan nafas, kemudian membantu Sharna berdiri, "Badung banget!" gadis yang dipanggil Sharna itu hanya menyengir sambil membersihkan roknya yang kotor.
Sharna, gadis kecil yang beranjak menjadi gadis cantik dengan lesung pipi. Sikap yang mudah bergaul membuatnya memiliki banyak penggemar. Sayangnya dia hanya memiliki satu sahabat. Entahlah, meskipun mudah bergaul, tetapi Sharna tipe orang yang sangat susah nyaman dengan orang lain.
"Ngapin sih lari-lari?" tanya Saga.
"Mau ikut bolos," jawabnya sambil menyengir.
"Enggak! Lo disini aja," larang Andra dengan muka datarnya.
Sharna yang mendengar penolakan menggembungkan kedua pipinya, "Ihhhh," Sharna menghentak-hentakkan kakinya. "Gue gak mau. Maunya ikut lo berdua,"
"Emang Vivi kemana?" Saga harus segera mengusir adiknya jika tidak mau ketahuan guru dan dimarahi sang Ratu.
"Sakit," Sharna memegang tangan Andra. "Gue ikut ya," bujuknya. Mata Sharna berkedip-kedip lucu.
Andra menghembuskan nafas, "Kali ini aja gue izinin," Sharna menyetujuinya dengan melompat-lompat kecil.
"Kok lo gak minta izin gue?" tanya Saga yang masih memperhatikan interaksi dua orang di depanya.
Sharna menggeleng, "Enggak butuh. Gue cuma butuh izin Andra," ucap Sharna sambil menjulurkan lidahnya, kemudian kembali ke dalam kelas guna mengambil tasnya
"Shar, lo mau kemana?" tanya Doni sang ketua kelas.
"Mau cabut sama Kak Saga dan Andra. Dada Doni sayang. Jangan lupa, kita nitip absen," ucap Sharna sambil melambaikan tangan dan mengedipkan matanya genit.
Saat keluar dari kelas, Sharna sudah ditatap Andra datar. "Biasa aja kali," Sharna meraih tangan Andra dan menariknya pergi, mengabaikan Saga di belakang.
Andra menghembuskan nafas dan membiarkan Sharna menariknya. Mendebat Sharna adalah hal rumit dan berujung merajuk yang memusingkan.
"Ghibran, Kavin, sama sahabat lo ikut?" tanya Sharna pada Andra.
"Hm,"
"Berarti ada Juan dong?" tanya Sharna yang terlihat sangat antusias.
Andra menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sharna yang sudah mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?"
"Kenapa kalau Juan ikut?" tanya Andra dengan nada dinginnya. Saga yang melihat dari belakang hanya bisa diam dan menyimak.
Bukannya takut, Sharna justru tersenyum jahil kepada Andra, "Cemburu ya?" tanyanya sambil menunjuk Andra.
"Enggak!"
"Idih, ngaku aja kali!" Sharna kembali menarik tangan Andra. "Kak lo naik duluan ya! Nanti bantu gue,"
Saga langsung manaiki tembok yang biasa digunakan siswa yang ingin membolos. Mereka salah satu contohnya.
Saat Saga mulai naik, Andra lebih memilih melepas jaketnya dan mengikatkannya pada pinggang ramping Sharna. Saga yang sudah berada di atas hanya bisa mendengus melihat pemandangan di bawahnya.
"Cepetan! Keburu dilihat Om Botak."
Om Botak adalah sebutan teman-teman Andra untuk guru BK yang memang botak dan galaknya minta ampun. Ketahuan makan dikantin saja sudah disuruh lari mengelilingi lapangan dua puluh kali.
Andra mulai menggendong Sharna agar lebih mudah menggapai tangan Saga yang terulur. Baru kali ini Sharna bolos. Jika Satria dan Gita tahu, sudah bisa dipastikan uang jajannya akan berkurang.
"Jangan ngintip!" ucap Sharna memeringati Andra yang ada di bawahnya.
Andra yang di bawah hanya memutar bola matanya. Perempuan yang sedang dibantunya ini mang benar-benar cerewet.
"Ndra, jangan ngintip! Ngintip dikit bayar marebu,"
"Murah banget lo," ucap Saga sambil menarik tangan Sharna.
"Enggak apa-apa lah, buat Andra mah apapun Eneng berikan."
"Bacot!" Sharna hanya terkekeh mendengar umpatan Andra.
____________________
__ADS_1
Sesampainya di warung tempat mereka berkumpul, Sharna sudah melihat Juan dan Ghibran sedang nyebat.
"Bang Juan," teriak Sharna sambil berlari.
Andra hanya menatap datar Sharna yang sudah berlari menghampiri Juan. Sedangkan Saga hanya bisa mendengus saat melihat Sharna sudah berlari, padahal tadi baru saja jatuh.
Sharna langsung duduk di dekat Juan sambil mencomot satu gorengan, "Kok kalian udah disini aja?"
"Kita dari pagi enggak masuk kelas," jawab Ghibran uang sudah mematikan rokoknya.
"Sejak kapan lo nyebat? Mama Bella tahu?" tanya Andra yang dijawab cengiran oleh Ghibran.
"Parah lo, awas aja entar. Gue aduin lo ke tante Bella," ucap Kavin.
"Jangan lah Bang," Ghibran menatap Kavin. "Lo sendiri juga nyebat, Bang. Gue aduin ke Om Yudha,"
"Bengke lo, kagak usah bawa-bawa bokap gue."
"Bilang aja kalau lo takut, Bang. Enggak usah ngeles lagi," ejek Ghibran sambil tertawa.
"Emang rasanya enak?" tanya Sharna dengan muka polosnya. "Gue mau nyoba, ahh" ucap Sharna sambil memegang rokok dan seakan-akan ingin menghisapnya.
"JANGAN!!!" ucap kelima cowok dengan tatapan tajam.
"Awas aja kalau lo berani coba," ancam Saga.
"Gue awasin lo Shar," ucap Juan.
"Gue aduin bonyok kalau lo nyebat," ancam Kavin dan Ghibran.
"Coba aja kalau berani!" tantang Andra dingin yang membuat orang disekitarnya bergidik ngeri. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Sharna yang sudah terkekeh.
"Bercanda kali. Gue juga gak mau nyebat kali," Sharna menatap orang di depannya. "Santai aja kali mukanya," ucap Sharna zantai sambil mencomot tahu isi di depannya.
Setelah prank yang dilakukan Sharna, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ghibran dan Kavin yang sedang push rank, Saga yang sedang asik youtube-an, dan Andra yang melihat Sharna dan Juan tertawa.
"Disamperin elah, jangan diliatin mulu," ucap Kavin disela-sela main game nya.
"Andraaa," teriak perempuan sambil membawa buku ditangannya. "hah hah hah, katanya mau ngajarin gue,"
"Eh, eneng Santi. Cari abang ya?" tanya Kavin yang langsung keluar dari permainan.
plakk
"Bang, ngapain keluar? Elah, mati kan goblok!" Ghibran mencak-mencak karena timnya sudah kalah karena Kavin yang tiba-tiba keluar.
"Sori ya Kak Kavin, gue lagi cari Andra," jawab Santi setelah duduk di samping Andra.
Dari jauh, interaksi keduanya mendapatkan tatapan tajam. Ia tak suka jika ada perempuan lain yang mendekati Andra kecuali dirinya.
"Gue masih punya haraga diri ya," sungut Sharna yang semakin tak suka saat melihat perempuan itu membersihkan noda di sudut bibir Andra.
"Ngapain coba pegang-pegang? Andra juga, kenapa lagi mau dipegang-pegang," gerutu Sharna dengan tangan yang memasukkan lima sendok cabai.
"Jangan bunuh diri kalau digantungin sama gebetan," ucap Juan saat melihat mie ayam Sharna sudah berubah warna menjadi merah.
"Saga, adek lo udah gila!" teriak Juan saat tak bisa menghentikan kegilaan Sharna.
Saga yang mendengar namanya dipanggil langsung menjauhkan ponselnya dan mengangkat sebelah alisnya.
"Napa?"
"Adek lo udah Gila," teriak Juan yang sudah ngeri dengan Sharna.
Saga langsung beranjak dari tempat duduknya dan memerhatikan Sharna yang sudah bermandikan peluh.
"Lo kenapa sih?" geram Saga sambil menjauhkan mangkuk Mie Ayam yang tinggal setengah.
"Balikin! Gue masih lapar," ucap Sharna sambil mengambil alih mangkuk mie ayamnya.
Saga melarikan pandangannya pada Juan yang menatap ngeri Sharna, "Dia kenapa?" tanya Saga dengan kontak batin.
"Dia lagi cem–"
"Awwww, sakit bego!" jerit Juan saat kakinya diinjak oleh Sharna.
"Cem apaan?" tanya Saga yang masih penasaran. "Ngomong yang jelas!"
"Dia itu lagi cem–" Juan langsung diam saat Sharna memberikan tatapan tajam.
plakk
"Ngomong, njir!"
Sharna melanjutkan makannya. Ia tak memerdulikan orang disekitar yang mulai mengjhawatirkan dirinya. Ia sebenarnya mempunyai penyakit magh, tetapi kecintaannya akan cita rasa pedas tak terhindarkan.
"Dek, lo gak apa-apa?" Saga mulai khawatir, apalagi Sharna mempunyai maagh.
"Ada apa?" suara dingin berhasil mengintrupsi pembicaraan mereka. "Lo kenapa?" tanya Andra pada Sharna.
Sharna tak menghiraukan pertanyaan Andra. Ia masih sebal saat mengingat kedekatan Andra dengan perempuan tadi. Ia kembali memakan mie ayam milikinya, sayangnya Andra sudah menjauhkannya.
"Kalau mau mati jangan di sini," ucap Andra sambil menarik tangan Sharna menjauhi teman-temannya.
Andra membawa Sharna menjauh dari teman-temannya. Ia tak menghiraukan pukulan dan makian yang terus Sharna keluarkan.
__ADS_1
"Sakit," rengek Sharna sambil memegang pergelangan tangannya yang sudah memerah. Ia memberikan tatapan tajam pada sang pelaku, sayangnya hal itu tak berarti sama sekali.
Mereka berada di bahwah pohon dekat lapangan terbuka. Andra biasanya ke sini untuk menenangkan fikiran, terutama hal-hal yang tak bisa ia bicarakan dengan sahabat maupun kedua orang tuanya.
"Sini," Andra menepuk tempat sebelahnya.
"Enggak mau. Lo kasar. Sakit tau," ucap Sharna sambil memajukan bibirnya membentuk kerucut.
"Katanya enggak mau?" sindir Artha saat melihat Sharna tetap berjalan dan duduk di sampingnya.
"Lo yang paksa."
"Sejak kapan?" Andra tersenyum tipis melihat wajah Sharna yang cemberut. Pipi memggembung, bibir maju, dan mata yang sesekali mematap tajam dirinya.
"Gue pergi kalau gitu," sebelum pergi tangannya sudah ditahan oleh Andra.
"Ngambekan," ucap Andra sambil melihat pergelangan tangan Sharna yang merah akibat perbuatannya. Ia tak ada maksud untuk menyakiti Sharna, tetapi melihat tingkah Sharna membuat amarahnya meluap.
"Sakit," rengek Sharna. Ia hanya merengek pada orang tertentu. Contohnya Gita dan Andra.
"Maaf,"
"Enggak mau maafin."
Andra menghembuskan nafas, "Gue harus gima biar lo maafin?"
"Beliin gue es krim baru dimaafin," Sharna sangat tahu cara mencari kesempatan dalam kesempitan.
Andra mendengus mendengar permintaan Sharna. Ia lupa bahwa gadis di depannya ini termasuk gadis yang licik. Lebih parahnya ia yang biasanya tak mau mengalah tunduk begitu saja dengan gadis licik ini.
"Nanti."
Sharna menggelengkan kepalanya. Ia mulai memasang wajah yang membuat siapapun luluh. "Maunya sekarang!"
Andra hanya menganggukkan kepalanya. Ia saja heran bisa-bisanya selalu menuruti permintaan gadi keras kepala, licik nan manja di depannya.
"Janji?" Sharna mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji."
____________________
Saga, Kavin, Ghibran, dan Juan menatap tak percaya pemandangan di depannya. Dua orang yang tadi sembat beradu pandangan tajam sekarang sudah mirip seperti bucin.
"Gue heran sama Andra," ucap Kavin sambil mencomot gorengan. "Keliatan banget kalau suka sama adek, Lo."
Saga menggendikkan bahunya, "Suka-suka mereka. Gue enggak mau ikut campur."
"Lo sebagai abangnya harusnya bisa desak Andra buat nyatain dong," ucap Juan saat melihat sikap acuh Saga.
"Toh mereka juga nyaman kayak gitu."
"Gila, gue tadi liat Andra natap tajam lo waktu Sharna meluk, Lo." ucap Kavin.
"Serem njir ditatap Andra gitu," ucap Juan sambil bergidik. Ia bukannya tak sadar akan tatapan Andra, tetapi makhluk cantik di sampingnya tadi tak memperbolehkan dirinya pergi.
"Gue dari tahan ngakak liat Sharna tiba-tiba ambil sambel buanyak banget wakti liat Andra di sperin sama cewek tadi," ucap Juna geli mengingat tingkah Sharna
"Gue heran sama mereka. Orang sama-sama suka, kenapa masih aja berlindung dibalik kata sahabat." Kavin dan Juan mengangguk, menyetujui perkataan Ghibran.
"Sama-sama gengsi bro," ucap Saga tetap memperhatikan Sharna yang sudah pergi dengan Andra.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow (DIHAPUS)
- BINTANG (SLOW UPDATE)
- My Destiny (NGEGANTUNG)
- ArLine (NEW)
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari pinterest dan google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan dan kesamaan baik nama tempat, tokoh maupun role model. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊