
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Reyhan masih sibuk dengan urusan kantornya, bahkan tadi pagi ia izin untuk tidak mengajar untuk dua hari ke depan. Ia membolak-balikkan kertas, meneliti setiap tulisan yang ada di dalamnya.
ttok ttok ttok
"Masuk," kata Reyhan yang masih tetap fokus pada kumpulan berkasnya.
Reyhan tidak memperhatikan siapa yang datang. Perhatiannya masih berpusat pada kumpulan berkas yang ada di depannya.
"Sibuk banget?" tanya orang tersebut.
Suara orang tersebut berhasil mengalihkan perhatian Reyhan dari kumpulan berkas yang ada di depannya. Saat mengetahui siapa yang ada di depannya senyumannya mengembang.
"Sayang," Reyhan bangkit dan menghampiri Nindia yang berdiri di depan meja kerja Reyhan.
Nindia membalas pelukan Reyhan. Saat ini ia sangat kesulitan menemui Reyhan. Bahkan dirumahpun mereka hanya bertemu saat pagi hari. Reyhan selalu pulang malam dan saat sudah sampai rumah Reyhan mendapati Nindia yang sudah tertidur pulas.
"Kenapa kesini?" Reyhan mengurai pelukannya.
"Kangen sama dosen Killer," kata Nindia sambil melirik ke Reyhan yang sudah melotot. "Habisnya dosen killernya udah jarang ke kampus," Nindia melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di dalamnya.
Reyhan mengikuti Nindia, "Apa kamu bilang?"
Nindia memicingkan matanya, "Dosen killer. Aku kangen sama dia" goda Nindia.
"Nakal ya.." sungut Reyhan sambil mencubit hidung Nindia.
Nindia mengaduh kesakitan sambil memegang hidungnya. Kemudian ia terkekeh saat melihat ekspresi suaminya. Ia melihat raut wajah kelelahan dari Reyhan. Nindia kemudian mengusap wajah Reyhan, memandangnya dengan rasa cinta. Ia masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri yang sudah tega menyakiti hati sebaik dan setulus Reyhan. Bagaima ia terang-terangan berpelukan dengan Satria saat di hadapan Reyhan. Meskipun itu Satria yang memaksanya.
"Kenapa kamu ngelamun?" tanya Reyhan yang berhasil membuyarkan lamunannya.
"Eh.. Enggak kok" Nindia tersenyum. "Kamu udah makan siang?"
Reyhan menggelengkan kepalanya. Bahkan beberapa hari ini ia melewatkan makan siangnya. Nindia juga memperhatikan jika berat badan Reyhan menurut. Terlihat jelas dari tulang pipinya yang mulai terlihat jelas.
"Kamu kurusan ya?" tanya Nindia sambil menyiapkan makanan yang ia bawa. Kebetulan hari ini jadwal kelasnya pagi, sehingga ia bisa menyiapkan makan siang buat Reyhan.
Reyhan yang mendengar perkataan Nindia hany bisa tersenyum. Bahkan dirinya sendiri tidak menyadari bila berat badannya turun.
"Gak tahu, Sayang. Mas mana pernah perhatiin." jawab Reyhan yang tidak bohong.
kringg... kringg
Ponsel Reyhan berdering. Ia kemudian bangkit sedikit menjauh dari Nindia. Raut muka Reyhan seketika berubah. Muncul gurat kemarahan saat menerima telepon tersebut. Ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya. Membolak-balikkan berkas yang ada di depannya.
Nindia yang melihat perubahan raut wajah Reyhan berjalan untuk menghampiri. Ditangan kiinya terdapat kotak bekal lengkap dengan lauk pauknya.
"Kenapa, Bee?" tanya Nindia yang sudah berdiri di samping Reyhan.
__ADS_1
"Orang yang korupsi di kantor Mas, ternyata suruhan dan kaki tangan saingan bisnis." jelas Reyhan dengan rahang mengeras.
Nindia mengusap rahang Reyhan yang mengeras. Berusaha menenangkan amarah yang menguasai Reyhan. Usahanya berhasil, rahang Reyhan tak sekeras tadi meskipun amarahnya masih ada. Nindia kemudian menyuapi Reyhan.
"Aaaa....."
Reyhan memakan suapan yang Nindia berikan. Ia kembali memfokuskan kembali fikirannya pada kumpulan berkas yang ada di depannya. Nindia terus saja menyuapi Reyhan. Ia juga menyuapi dirinya sendiri. Ia juga beberapa kali membantu Reyhan untuk mengecek laporan keuangan perusahaan Reyhan. Bukannya tidak bisa, tapi Nindia jauh lebih teliti dibandingkan dengan Reyhan.
Setelah makanan habis, Nindia memasukkan kotak makan tersebut ke dalam tas yang tadi ia bawa. Ia kemudian menhampiri Reyhan kembali. Memperhatikan apa saja yang ia kerjakan. Saat Reyhan mencatat sesuatu, ia menawarkan diri untuk membantunya.
Nindia mencatat semua yang di katakan Reyhan. Ia juga beberapa kali memberikan masukan buat Reyha. Tak sulit baginya untuk mengerti apa yang dikerjakan Reyha. Ia dengan Reyhan sama-sama mengambil jurusan ekonomi bisnis, jadi sedikit-sedikit ia mengerti. Jangan lupa, ia juga mempunyai kakak dan Ayah seorang pembisnis. Meskipun Helen lebih sering membantu sang ayah.
Tak terasa mereka bekerja hingga malam. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Yang artinya ia berada di kantor Reyhan selama tujun jam. Nindia kemudian berdiri untuk merenggangkan ototnya dengan berputar kekiri dan ke kanan.
Nindia menghampiri Reyhan yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia kemudian secara langsung menutup map yang sedang dibaca. Ia sama sekali tidak takut dengan amarah Reyhan. Ia hanya tidak ingin melihat Reyhan sakit karena terlalu memforsir pekerjaan.
"Pulang," Nindia menampilkan puple eyes nya
"Bentar lagi ya," bujuk Reyhan yang kembali membuka dokumen yang ditutup Nindia.
Nindia menghela nafas. Harus memikirkan cara lain untuk membujuk Reyhan, "Aku lapar,"
Reyhan seketika menghentikan kegiatannya. Ia menoleh kepada Nindia, kemudian melihat arloji yang melingkar di tangannya. Reyhan menepuk jidatnya. Bagaimana ia melupakan makan malam yang sudah terlewat. Mereka hanya makan bekal yang dibawakan oleh Nindia. Reyhan meresa bersalah dengan Nindi, menangkup wajah Nindia dan mendaratkan satu ciuman di bibir tipis nan manis milik Nindia.
"Maaf ya sayang, Mas sampai melukapan kamu. Kita pulang sekarang," Reyhan memasukkan semua dokumen ke dalam tas kerjanya. Menuntun Nindia untuk keluar dari kantor. Keadaan kataor sudah sangat sepi, hanya lampu yang menghiasinya. Di parkiranpun hanya tersisa mobil milik Reyhan karena tadi Nindia ke perusahaan menggunakan taxi online.
____________________
Jalanan lumayan sepi meskipun masih banyak kendaran yang lalu lalang. Reyhan melihat kanan kiri, berusaha menemukan rumah makan yang buka. Namun, sangat disayangkan. Tempat makan yang diinginkan Reyhan sudah banyak yang tutu. Kini hanya tinggal tenda makan pinggir jalan yang buka. Itupun tidak banyak, hanya tinggal beberapa. Reyhan mengehentikan mobilnya di dekat tenda makan yang menjual bakso, soto dan mie ayam. Ia sangat menginginkan makanan yang panas agar bisa menghangatkan tubuh.
Nindia melihat tenda makan di sebelah mobilnya, lalu ia tersenyum. "Aku bisa makan di mana aja semenjak ketemu kamu," goda Nindia.
"Pandai gombal ya sekarang," Reyhan mencubit hidung Nindia dengan gemas. "Ayo turun!"
"Hobi banget cubit hidung aku," protes Nindia sat turun dari mobil.
Reyhan yang sudah turun dulu langsung mencari temat untuk mereka berdua. Saat memasuki kedai makan pinggir jalan tersebut ia sangat terkejut karena banyak yang makan. Ia tak menyangka bahwa masih banyak orang yang keluar di jam segini. Kedai tersebut lesehan, sehingga membuat nyaman orang yang makan. Tempatnya juga bersih dan terawat.
"Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Reyhan setelah Nindia duduk di depannya.
"Apa aja menunya?"
"Ada mie ayam, bakso, soto. Kamu mau yang mana?" jelas Reyhan.
"Aku soto deh, minumnya teh anget ya." setelah mendengarkan pesanan Nindia, Reyhan bangkit untuk mengatakannya kepada penjual.
Angin malam berhembus dengan kencang. Membuat rambut Nindia yang tergerai berantakan. Ada sebagian yang menutupi wajahnya. Meskipun dibenarkan beberapa kali, tapi wajahnya kembali tertutupi. Nindia menggunakan tangannya untuk menutupi badannya dari hembusan angin. Ia juga beberapa kali menggosokkan kedua tangannya.
"Permisi," ucap pelayan yang membawakan pesanan. Pesanan tersebut kemudian diturunkan, setelah itu dia pamit undur diri.
Reyhan mengubah posisi duduknya menjadi disebelah Nindia. Ia kemudian melepaskan jasnya dan diberikan ke Nindia. Ia tidak tega melihat Nindia kedinginan. Rasa bersalahnya muncul ketika melihat Nindia dengan lahap memakan satu mangkok soto dengan teh anget di dekatnya. Seharusnya ia mengantarkan terlebih dahulu Nindia pulang, sehabis itu ia bisa melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa?" tanya Nindia saat melihat Reyhan belum memakan makanannya.
"Maaf ya," Reyhan mencium pelipis Nindia. "Gara-gara aku kamu kelaparan dan harus kedinginan" sesal Reyhan.
__ADS_1
Nindia memiringkan duduknya. Mengulurkan tangannya untuk menglus pipi Reyhan.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Ini sudah kewajiban seorang istri untuk menemani dan melayani suaminya. Ini sudah menjadi pilihanku. Kamu tidak memaksaku untuk menemanimu. Kamu membiarkan aku untuk istirahat dirumah. Tapi itu justru membuatku tidak nyaman. Aku tidak tega melihatmu bekerja keras sendirian. Jadi aku lebih memilih lelah asalkan lelah bersamamu, jadi jangan minta maaf untuk hal-hal yang sudah menjadi kewajibanku." jelas Nindia dengan penuh kasih sayang. Senyumannya terukir saat melihat Reyhan sudah mengangkat dagunya.
cuppp
Reyhan mencium bibir Nindia, "Terima kasih, Sayang."
 
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
/**/__/
Yang Pernah Tersakiti
.
.
/**/__/
Yang Pernah Menyakiti
.
.
/**/__/
Yang Menjadi Alasan Menyakiti
__ADS_1