
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Ayam berkokok menandakan pagi telah tiba. Nindia yang bangun lebih dahulu mulai sibuk menyiapkan makan pagi buat Reyhan. Setelah selesai, Nindia menata semua makanan di meja makan kemudian pergi ke kamar untuk membangunkan Reyhan.
Sesampainya di kamar, Nindia sudah melihat Reyhan yang sedang bermain ponsel sembari menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
Nindia menghampiri Reyhan dan duduk di sisi ranjang. Ia sangat suka mengamati saat Reyhan sedang fokus bekerja dengan kacamata bacanya. Terlihat lebih sexi.
"Mandi gih," ucap Nindia sambil membelai rambut Reyhan.
Reyhan mengalihkan pandangannya ke Nindia kemudian tersenyum manis, "Iya," Reyhan mendekat ke Nindia dan mengecup keningnya lama, "Selamat pagi."
Nindia tersenyum dan mencium pipi Reyhan sebagai balasannya, "Selamat pagi,"
"Ya udah. Aku mandi dulu." ucap Reyhan kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Nindia langsung bergegas menyiapkan baju yang akan Reyhan gunakan. Hari ini, Reyhan akan ke kantor terlebih dahulu, kemudian siangnya akan ke kampus untuk mengajar di kelas Nindia dan satu kelas lainnya.
____________________
Setelah menyelesaikan jadwal kuliah pertamanya, Nindia menikmati waktu luangnya di kantin bersama tiga sahabatnya dan mantannya. Nindia sampai 1 jam yang lalu.
"Gila ya Nin lo kemarin. Gue sampek rumah muntah-muntah tau gak," sewot Tia.
Nindia terlihat bingung, "Lha.. emang gue kenapa?"
"Kenapa dulu gue mau sama orang kaya lo Nin," ucap Satria yang tak habis fikir dengan mantan pacarnya.
"****, bisa-bisanya setelah nyiksa orang menampilkan wajah polosnya" kesal Gita.
Nindia tersenyum, "Iya.. iyaa. Gue minta maaf sama kalian. Entah darimana datangnya kemauan gue itu." jawab Nindia.
Bella menghela nafas, "Udah deh. Gue yakin itu bukan kemauan Nindia. Itu pasti kemauan baby nya." jelas Bella. Ia tak mau sahabatnya merasa bersalah.
Gita pun ikut menghela nafas, "Ya, gue ngerti kok." jawaban Gita mendapatkan anggukan dari Tia.
"Sekali lagi gue minta maaf ya" ucap Nindia yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Bentar lagi pasti nangis deh," ucap Satria dalam hati.
Tebakan Satria tepat sekali. Setelah mengucapkan itu, Nindia mulai menangis dalam diam. Nindia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya agar tidak ada orang yang tahu kalau ia sedang menangis.
Bella berusaha menenangkan Nindia. Ia membawa Nindia dalam pelukannya. Menepuk pelan punggung Nindia hingga hanya terdengar isakannya saja.
Bella dan Gita menjanjikan Nindia makan es krim di kedai langganan mereka untuk mengaluhkan perhatian Nindia. Benar saja, mendapatkan ajakan sahabatnya Nindia langsung tersenyum lebar. Tapi sayangnya Satria dan Tia tidak bisa ikut karena sudah janji menemani Maminya ke mall untuk membeli hadiah pernikahan sepupunya.
Setelah mendapatkam izin dari Reyhan, Nindia, Bella, dan Gita langsung meluncur ke kedai langganan mereka.
Tak memakan waktu lama, mereka sampai. Mereka memilih duduk di dekat kaca agar bisa melihat pemandangan di luar.
"Selamat sore, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya waiters.
"Siang, Mbak. Saya mau pesan Roll ice cream chocolate." jawab Gita.
"Saya oreo gelato satu," ucap Bella.
"Saya mochi ice cream chocolate sama roll ice cream tiramisunya satu."
Bella menoleh ke Nindia, "Nin, lo beneran mau makan semua eskrim itu?"
Nindia mengangguk antusias. Ia sudah mencecap mulutnya beberapa kali.
"Baik kalau gitu, saya ulangi sekali lagi. Roll ice cream 2 tiramisu sama chocolate, oreo gelato nya 1, sama mochi ice cream chocolate nya 1."
Nindia mengangguk membenarkan ucapan waiters itu.
"Baik, silakan ditunggu pesanannya."
"Makasih, Mbak." ucap Nindia.
Tak menunggu waktu lama pesanan mereka datang. Mereka sangat antusias, terlebih lagi bumil yang satu ini. Tanpa pikir panjang mereka langsung menikmatinya.
"Git, gimana hubungan lo sama Satria?" tanya Nindia memecah keheningan.
__ADS_1
"Ya gitu,"
"Ya gitunya itu gimana? Jalan di tempat maksud lo?" tanya Nindia penasaran.
"Enggak tau lah gue," jawab Gita asal.
Nindia memutar bola matanya, "Kalau hubungan lo sama kak Ilham gimana Bel?"
"Baik-baik aja. Ya meskipun dia masih kaku sih," jawab Bella.
Nindia tersenyum senang, "Gak apa-apa. Gue pernah lihat Ilham nggak kaku itu saat sama Reyhan dan Mami. Mungkin Ilham kaku dan datar itu buat orang luar."
Bella mengangguk, "Iya sih. Mungkin perlu menyesuaikan diri saat sama gue."
"Buat dia nyaman." ucap Nindia memberi nasehat.
"Udah pernah ketemu sama ibunya?" tanya Nindia.
Bella menggelengkan kepala, "Belum. Kalau dia udah sering ketemu sama ortu gue."
"Widihhhh... Udah ketemu aja tu kayu sama camer." goda Gita disela menikmati es krimnya.
"Tsk,... jangan panggil dia kayu." peringat Bella.
Gita mengangkat kedua tangannya, "Selow sis. Iya, gue tahu. Cuma elo yang boleh panggil dia kayu."
"Mau ketemu ibunya kak Ilham?" tawat Nindia.
"Seriusan lo?" tanya Bella antusias.
Nindia mengangguk, "Iya. Nanti lo anter gue ke rumah Mami. Lo udah tahu kan kalau Ibunya Kak Ilham, emm itu lo" Nindia ragu untuk mengatakannya.
Bella menghela nafas, "Nin, lo kan tahu gue sama orang tua gue. Keluarga gue itu bukan keluarga yang gila akan kekuasaan dan gila hormat. Keluarga gue dulu juga dari orang susah kok. Dulu Mama cuma penjual kue keliling. Sedangkan Papa cuma tukang ojek, jadi gak ada alasan buat gue untuk tidak menerima orang tua kak Ilham. Gue tahu kalau Ibu dan Ayahnya itu pekerja di rumah mertua lo. Gue tahu semuanya. Kak Ilham juga udah cerita kok sama gue. Tapi gue rasa Kak Ilham masih takut kalau gue tidak bisa menerima orang tuanya, maka dari itu Kak Ilham enggak pernah ajak gue ketemu orang tuanya." jelas Bella panjang lebar.
Gita mengelus tangan Bella, "Iya. Gue tahu keluarga lo dan gue yakin, Kak Ilham hanya mencari waktu yang tepat. Pasti ada kekhawatiran kalau lo enggak mau menerima orang tuanya. Tapi gue yakin Kak Ilham gak sepicik itu."
Bella mengangguk kemudian memeluk Nindia dan Gita. Dia sangat bersyukur karena memiliki sahabat seperti mereka.
____________________
Sore hari setelah pulang dari kedai eskrim, Nindia mengajak Nindia untuk pergi ke rumah Mami Maya untuk bertemu dengan Ibu dari Ilham.
Bella memegang tangan Nindia, "Nin.."
Nindia menghentikan langkahnya kemudian menengok ke belakang dan mendapati wajah gugup sahabatnya.
"Santai kali, Bel. Belum juga akad udah gugup aja. Biarin Ilham aja yang gugup saat akad, jangan elo," goda Nindia.
Mata Bella melotot, "Sempat-sempatnya ya lo becandain gue. Tega lo, enggak tahu apa sahabatnya gemeteran." kesal Nindia.
Nindia melihat tangan Bella yang memang gemetaran, Nindia hanya bisa tersenyum kemudian menarik tangan Bella agar mengikuti nya masuk ke rumah.
Nindia memencet bel yang ada di sebelah pintu masuk. Tak menunggu waktu lama, Bi Ijah datang membuakakan pintu.
"Assalamualaikum, Bu." sapa Nindia saat melihat Bi Ijah membukakan pintu kemudian menyalaminya.
"Waalaikumsalam, Non Anin." balas Bi Ijah seraya tersenyum.
Bi Ijah mengalihkan pandangan ke wanita yang berdiri di belakang Nindia.
Nindia yang paham langsung memperkenalkan Bella.
"Kenalkan, Bu. Ini Bella, sahabat Anin sekaligus pacar Kak Ilham." Nindia sengaja memelankan kata terakhir yang diucapkan.
Bi Ijah tersenyum mendengar perkataan Nindia. Ia tak menyangka bahwa Ilham memiliki teman sepesial secantik Teman Nindia.
"Assalamualaikum," sapa Bella seraya menyalami Bi Ijah.
"Waalaikumsalam. Gak usah sungkan, panggil aja Ibu kaya Non Anin."
Bella tersenyum ramah, "Iya, Bu."
"Ya Allah, Ibu gak nyangka kalau Ilham punya pacar secantik kamu, Nak." ucap Bi Ijah sambil menyentuh wajah Bella.
Bella tersenyum malu, "Ibu bisa saja. Masih cantikan Anin Bu."
"hemm, gak disuruh masuk nih." ucap Nindia yang melihat Bella dan Bi Ijah asik mengobrol.
"Eh, maaf Non. Silakan masuk. Ibu sampai lupa nyuruh kalian masuk." ucap Bi Ijah sambil mempersilakan Bella dan Nindia masuk.
__ADS_1
"Siapa, Bi?" tanya Maya yang masih sibuk membaca majalah.
Nindia mengode pada Bi Ijah agar tidak menjawab pertanyaan Maya. Kemudian Nindia jalan pelan-pelan ke belakang Maya sambil melingkarkan tangannya di leher Maya.
"Assalamualaikum Maminya Anin." sapa Nindia sambil mencium pipi Maya.
Maya memegang adadanya karena terkejut dengan kedatangan Nindia. Sedangkan yang dilihat hanya bisa menyengir.
Maya menoleh ke belakang, "Waalaikumsallam. Ampun sayang, Mami kaget tau. Lain kali jangan gitu lagi ya," ucap Maya sambil mencubit pipi Nindia.
"Sakit, Mi." ucap Nindia sambil mengerucutkan bibirnya.
Maya menoleh kebelakang saat ada orang lain di belakang Nindia.
"Itu siapa sayang?" tunjuk Maya.
"Oh ya, Nindia lupa. Kenalin Mi, dia Bella pacarnya Kak Ilham." jawab Nindi yang berhasil membuat Bella tersipu.
Maya langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri Bella. Dilihatnya dari atas sampai bawah.
Bella yang dilihat secara intensif oleh Maya mulai merasa takut.
"Mi, jangan buat anak orang takut. Kasian Kak Ilham kalau Bella sampai kabur gara-gara Mami." ucap Nindia saat melihat Maya memperhatikan Bella.
Maya tersenyum hangat setelah mendengar perkataan Nindia. Ia maju satu langkah untuk membawa Bella dalam pelukannya.
"Ternyata anak Mami yang kaku dan datar itu pintar juga pilih calon mantu." ucap Maya sambil mengelus pipi Bella.
"Mi, kita gak disuruh duduk nih?" goda Nindia.
Mendengar perkataan Nindia, Maya langsung membawa Bella untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Bi, buatkan minum untuk mereka, jangan lupa camilannya juga."
Bi Ijah menganggukkan kepalanya kemudian berlalu menuju dapur untuk membuatkan minum.
"Siapa nama kamu sayang?"
"Naura Bella William. Biasa dipanggil Bella, Tante" jawab Bella.
"No sayang. Panggil Mami saja."
Bella menganggukkan kepalanya sesaat setelah tersenyum hangat kepada Maya. Ia tak menyangka akan mendapatkan sambutan hangat dari mertua sekaligus ibu angkat Ilham dan Ibu kandung Ilham sendiri. Semoga ini menjadi pembuka jalan hubungan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊
__ADS_1