HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 26 Romantis


__ADS_3

HAI CHINGU.....😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Nindia sesekali masih meneteskan air matanya. Ia sungguh tidak menyangka dan tidak menduga dengan apa yang dilakukan Reyhan.


"Kenapa masih nangis?" tanya Reyhan sambil menghapus air mata Nindia.


Nindia tersenyum dan menghapus air matanya. "Aku bahagia banget. Jujur, aku pernah iri saat melihat televisi yang memberitakan lamaran untuk kekasihnya. Aku ingin merasakan lamaran sama orang yang aku cintai dengan romantis. Dan akhirnya kamu mewujudkan apa yang aku inginkan."


Reyhan tersenyum mendengar perkataan Nindia. "Aku tahu. Pasti semua wanita ingin dilamar dengan romantis, maka dari itu aku melakukan itu buat kamu. Aku benar-benar mau mengulang dari awal."


"Kapan kamu ngerencanaiinnya?"


"Tadi waktu kamu lagi belanja,"


"Jadi?"


"Iya," jawab Reyhan dengan senyum manisnya.


 


Flashback On


Reyhan sedang memikirkan sesuatu. Ia ingin sekali membuat kejutan buat Nindia. Meskipun sedang berjalan dengan Nindia, namun fikirannya melayang kemana-mana.


Sampai pada kahirnya Nindia mengatakan tertarik pada salah satu baju di sebuah toko. Reyhan membiarkan Nindia masuk terlebih dahulu. Reyhan menggunakan kesempatan itu untuk menelepon Ilham.


Reyhan    : Ham, gue punya ide buat lamar Nindia lagi.


Ilham        : .....


Reyhan    : Gue tunggu di Mall. Gue share ke lo nanti. Jangan telat.


Panggilan berakhir. Reyhan menyadari bahwa sedari tadi Nindia meperhatikannya. Reyhan mendapatkan pesan dari Ilham kalau ia sudah berangkat menuju mall sesuai lokasi yang diberikan oleh Reyhan.


Reyhan menghampiri Nindia untuk meminta ijin dengan alasan ingin bertemu dengan klien di sekitar mall.


"Sayang," panggil Reyhan. "Ini kartu buat kamu. Terserah kamu mau beli apa. Aku keluar sebentar ya, ada klien di sekitar sini dan dia minta ketemuan. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Reyhan.


Menyadari perubahan raut wajah Nindia. Namun, ia harus tega melakukan ini untuk keberhasilan rencananya.


"Gak apa-apa. Tapi nanti kmau temenin aku lagi kan?" tanya Nindia penuh harap.


Tidak salah tebakan Reyhan. Nindia memang sedikit tidak rela apabila waktunya diganggu atau terganggu dengan segala hal. Termasuk pekerjaan Reyhan. Nindia bahkan sempat cemburu saat Reyhan lebih perhatian pada perusahan daripada dirinya.


"Aku bakal temenin kamu lagi. Aku cuma sebentar. Aku pergi dulu ya," Reyhan mendekatkan diri untuk mencium kening Nindia.


“Iya. Hati-hati."


Reyhan meninggalkan Nindia setelah meminta izin. Reyhan sedikit berlari untuk menghampiri Ilham yang sudah ada di depan salah satu tempat makan.


“Lama ya?” tanya Reyhan setelah bertemu dengan Ilham.


“Enggak. Gue barusan aja sampai.” Ilham mendudukan dirinya. “Apa rencana lo?”


“Gini, gue mau lamar Nindia lagi. Gue mau memberinya kejutan.” Jelas Reyhan.

__ADS_1


“Sejak kapan lo jadi romantis gini?” sindir Ilham.


Asal tahu saja, sebelum bertemu dengan Nindia. Reyhan merupakan sosok yang dingin dan cuek. Banyak wanita yang mendekatinya, tapi tak ada satupun yang berhasil memikat hatinya. Tak ada yang berhasil mencairkan es ini. Tapi Ilham pernah mendengar cerita, bahwa Reyhan menunggu seseorang yang berhasil mencuri hatinya saat dia SMP. Siapa sangka orang itu sekarang sudah sah menjadi istrinya.


“Gue juga gak tahu kenapa gue jadi gini. Yang jelas saat ini gue sangat bahagia.”


“Lo udah maafin dia?”


Ilham memang mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tangga Reyhan. Meskipun Reyhan berusaha menyembunyikan, tapi Ilham selalu punya cara membuat Reyhan berhasil jujur.


Keluarga Reyhan sendiri sudah menganggap Ilham sebagai anak mereka. Ilham merupakan anak dari Mang Mamang supir dari Reno, papi Reyhan. Ilham juga disekolahkan oleh Reno hingga lulus kuliah.


“Gue gak tahu, Yang gue tahu, gue berusaha melupakan kesalahan dia.” Reyhan menyesap kopi yang baru datang.


“Lo gak takut kalau dia melakukan kesalahan yang sama lagi?” tanya Ilham dengan hati-hati.


Reyhan menghela nafas, “Gue percaya sama dia.”


“Gimana rencana lo?” Ilham mengalihkan pembicaraan.


“Oke gini. Setelah ini kita beli cincin buat lamaran. Sebenarnya gue udah lama pesennya, tinggal ambil.”


“Gila! Niat banget lo,”


“Lo sekarang pergi ke salah satu tempat makan. Tapi lo inget, jangan Chinise food. Dia gak suka Chinise food,”


“Oke, terus lo?”


“Gue mau balik nemuin Nindia. Pasti dia udah kesel banget sama gue. Gue janjinya Cuma bentar, tapi ini udah hampir dua jam gue ninggalin dia,”


“Parah lo!”


Setelah mengatakan itu, Reyhan pergi meninggalkan Ilham di dalam kafe. Ia berjalan untuk menemui Nindia. Sebelumnya ia mendapatkan kiriman lokasi dari Nindia. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat raut wajah kesal Nindia. Ia menarik ujung bibirnya membentuk senyuman. Ia berhasil membuat Nindia kesal, dengan begitu rencananya akan berjalan semakin menarik.


"Hmm," jawab Nindia tanpa menoleh ke Reyhan.


Reyhan menahan ketawanya mendengar jawaban Nindia. Ia sangat senang bisa membuat Nindia kesal karena sudah menunggu lama.


Tanpa fikir panjang, ia mengambil alih belanjaan dari tangan Nindia. Ia juga tidak setega itu membiarkan Nindia membawa belanjaan, meskipun terhitung sedikit. Reyhan melihat Nindia jalan mendahuluinya. Di sela-sela perjalanan, Reyhan mendapatkan telepon dari Ilham yang mengatakan semuanya sudah selesai. Tinggal giliran Reyhan yang membawa Nindia.


"Yang, ayo makan! Ini udah lewat jam makan" Reyhan menarik tangan Nindia untuk memasuki salah satu restaurant.


Reyhan meninggalkan Nindia setelah memesan makanan. Ia beralasan ingin pergi ke kamar mandi. Tak berselang lama, lampu restaurant mati. Sebenarnya Reyhan mulai khawatir rencananya akan gagal karena Nindia curiga kenapa restaurantnya sangat sepi dan hanya ada mereka berdua. Maka dari itu ia membuat alasan pergi ke kamar mandi.


Setelah lampu menyala, Reyhan sudah siap dengan gitarnya. Ia juga meminta pihak restaurant menyalakan musik sesuai dengan yang ia nyanyikan.


Ia mulai menyanyikan lagunya. Kemudian ia berjalan menghampiri Nindia. Berlutut di depannya.


"Mungkin aku belum bisa membahagiakan kamu. Aku datang disaat yang tidak tepat. Menorehkan luka saat pertama kali bertemu. Tapi sungguh, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu sepenuhnya. Aku mau kamu manjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Menemaniku dalam suka duka. Membantuku memimbing anak-anak. Mau kah kamu menua denganku???" tanya Reyhan.


Reyhan sudah melihat air mata Nindia turun begitu deras. Ia sungguh senang saat melihat sorot bahagia di mata Nindia.


Nindia menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku mau. Aku mau menua bersamamu, menemanimu dalam suka dan duka. Menyayangimu sepenuh jiwaku. Menorehkan kebahagian selama kita bersama. Membimbing anak dan cucu kita. Aku mau dan Aku mau" Nindia bangkit dan memeluk Reyhan.


Flashback Off


 


“Ihhhh...” Nindia memukul pelan lengan Reyhan. “Padahal aku udah sebel dan kesel banget sama kamu. Kamu bayangin aja dua jam aku nunggu kamu. Eh ternyata... Sebel” Nindia kembali memukul lengan Reyhan.


Tentu saja ia tak menyeritakan semua apa yang ia bicarakan dengan Ilham. Termasuk pembicaraan mengenai kesalahannya. Reyhan sudah berusaha untuk melupakannya, meskipun ia merasa sedikit takut hal itu akan terjadi lagi. Namun, Reyhan tetap berusaha mempercayai Nindia.

__ADS_1


“Tapi kamu senang kan?” tanya Reyhan.


Nindia memandang dan mengelus cincin yang ada di jari manisnya. “Sangat. Aku sangat-sangat bahagia.” Nindia menatap Reyhan. “Terimakasih,” Nindia mencium tangan Reyhan.


“Sama-sama,” Rehan mengelus puncak kepala Nindia.


____________________


Nindia dan Reyhan sudah memasuki salah satu supermarket yang ada di mall tersebut. Ia mengeluarkan selembar kertas yang berisi daftar belanjaan yang akan di beli. Mulai keperluan dapur, keperluan mandi, buah hingga makanan ringan dan minuman.


“Aku ambil troli dulu, kamu tunggu disini!” Reyhan berjalan menuju deretan troli.


Pemandangan yang jarang Nindia lihat. Seorang Reyhan Aristarco menemani istrinya belanja. Semua orang tidak akan terlihat heran saat Reyhan memegang buku dan berkas yang menumpuk.


“Wawww... itu Reyhan Aristarco anaknya Reno Aristarco?” tanya salah satu pengunjung ke pengunjung yang ada di sebelahnya.


“Iya. Ya ampunnn, ganteng banget. Gue mau dong jadi istrinya.”


“Gue pacarnya aja gak masalah”


“Ciptaan Tuhan yang paling sexy..”


“Dia belanja disini? Sama siapa?”


“Ya istrinya lah, kalau enggak siapa lagi?” jawab salah satu perempuan.


“Mana mungkin. Tidak ada berita yang mengatakan kalau dia sudah memiliki istri.


Salah satu pengunjung hanya mengendikkan bahu untuk menjawab pertanyaan perempuan yang ada di sampingnya.


Itulah perkataan-perkataan orang saat melihat seorang Reyhan Aristarco belanja di supermarket dengan pakaian semi formalnya. Reyhan sama seklai tak menghiraukan perkataan, pertanyaan, bahkan sanjungan yang dikatakan orang. Ia hanya menganggap sebagai angin lalu.


Nindia memperhatikan suaminya yang terlihat menjadi pusat perhatian. Kagumi aja tu orang sebelum istrinya di publish, setelah itu kalian akan diam atau bahkan pingsan. Hahaha. Gumam Nindia dalam hati sembari melihat Reyhan yang semakin mendekat.


“Yuk,” Reyhan menggandeng tangan Nindia.


Mereka masuk ke dalam. Mencari bahan masakan yang sudah terdaftar pada list belanjaan bulanan. Berkeliling untuk mendapatkan barang tersebut.


“Kentang belum ada, Yang.” ucap Reyhan yang sibuk dengan daftar belanjaannya.


Mereka kembali berkeliling. Setelah semua bahan masakan sudah didapatkan, sekarang giliran mencari makanan ringan dan minuman. Sedikit ada perdebatan di antara mereka. Pasalnya makanan yang disuka Nindia belum pasti disukai Reyhan, begitu pula sebaliknya.


“Gini aja deh,” Nindia mulai mencari jalan tengah, daripada mereka tidak keluar adri supermarket ini. “Kamu ambil makanan ringan kesukaan kamu, aku ambil yang kesukaan aku. Terus kita cari yang kita berdua sukai. Gimana?” tanya Nindia.


“Oke,” mengulurkan tangan. “Deal?”


Menjabat tangan Reyhan. “Deal”


Begitulah cara mereka menyelesaikan permasalahan. Meskipun hanya masalah kecil, mereka akan berusaha secepatnya menyelesaikan permasalahan tersebut. Mereka tidak akan mendiamkan masalah, karena masalah kecil bisa menjadi besar bila terus-terusan dibiarkan.


Satu jam tiga puluh menit mereka habiskan untuk belanja bulanan. Dimasing-masing tangan Reyhan sudah terdapat empat katong yang berisi keperluan dapur. Sedangkan di tangan Nindia sudah terdapat hasil belanjaannya. Sebenarnya Reyhan sudah menawarkan akan membawa belanjaan tersebut, tapi Nindia menolaknya karena kasihan melihat Reyhan yang membawa kantong belanjaan bulanan.


Nindia mengeluarkan tisu dari tasnya. Mengusap peluh yang ada di dahi Reyhan.


“Uluh... romantisnya istriku.”


Cuppp


“Rey! Ini di tempat umum!” tegur Nindia yang terkejut karena ciuman Reyhan.


Reyhan menyengir mendengar teguran Nindia, “Love You My Dear” bisik Reyhan.

__ADS_1


“Love You Too My Bee.”


__ADS_2