HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 57 Akhir Dari semua


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Nindia yang sudah membuka mata sangat menyukai hadiah pemberian Reyhan. Sebuah kalung berliontinkan bentuk hati dengan harga yang tentunya tidak murah. Diperkirakan harganya bisa mencapai 50jt. Tapi hadiah tersebut masih kalah mahal dengan hadiah yang diberikan Nin.



"Kalung?" tanya Nindia dalam hati.


Seketika raut wajah Nindia berubah menjadi murung saat bayangan Reyhan berada di toko perhiasan bersama perempuan lain kembali terlintas di depannya. Ia sangat tidak menyukai memakai barang yang sama dengan orang lain. Terlebih lagi memakai barang yang sama dengan selingkuhan Reyhan.


Nindia melepas kembali kalung yang sudah melingkar dilehernya kemudian mengembalikannya pada Reyhan.


Tentu saja tindakan Nindia membuatnya terkejut, ia mengira Nindia akan menyukai hadiah pernikahan darinya mengingat ekspresi Nindia yang terlihat bahagia.


"Kenapa, Sayang?" tanya Reyhan.


Nindia beranjak dari ranjang dan segera masuk ke kamar mandi. Ia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan dari Reyhan. Ia ingin menenangkan hatinya untuk sementara waktu. Ia sadar emosi yang tidak bisa terkontrol menyebabkan tingkat stres meningkat.


Reyhan mencekal tangan Nindia, "Kamu kenapa? Kamu gak suka sama hadiah yang aku kasih?"


Bukannya menjawab, Nindia justru menghempaskan tangan Reyhan. Ia melanjutkan langkahnya untuk membersihkan diri.


Reyhan yang diperlakukan seperti itu hanya bisa maraup mukanya kasar. Bahkan ia berulangkali menghembuskan nafas kasar karena tidak mengetahu kesalahannya hingga Nindia marah kembali padanya. Ya.. Tingkah Nindia kembali sepsrti tiga hari yang lalu, dingin.


Keluar dari kamar mandi mani mata Nindia bertemu dengan manik mata sayu milik Reyhan. Sebenarnya ia tidak tidak mendiamkan Reyhan. Namun, mau apa lagi? Nindia kemudian berlalu menuju meja rias untuk membersihkan sisa make up nya.


Hembusan nafas Reyhan kembali terdengar. Ia lebih memilih melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Mencoba mendinginkan kepalanya yang terasa panas karena memikirkan sikap Nindia.


Reyhan yang keluar dari kamar mandi kembali dibuat kecewa saat Nindia sudah berbaring di ranjang.


"Aku tahu kamu belum tidur. Kamu ada masalah? cerita sama aku biar aku ngerti Aku bukan cenayang yang bisa menebak apa yang kamu rasakan. Kalau aku ada salah, tolong kamu kasih tahu. Aku juga bukan cenayang yang bisa menebak apa kesalahanku." Reyhan mulai lelah dengan perang dingin yang terjadi selama tiga hari. Jujur, ia sangat lelah saat menyiapkan semua kejutan ini. Tapi Nindia justru seakan tak menghargainya sama sekali.


hiks.. Terdengar isakan dari sebelahnya. Bisa dipastikan sekarang Nindia sedang menumpahkan segala emosinya dengan tangisan.


Reyhan yang tak kuat mendengar isakan Nindia, lantas membalik tubuh itu. Ia dengan telaten menghapus aair mata yang setia mengalir di mata indah istrinya.


Reyhan tersenyum, "Jangan nangis! Aku gak bisa lihat kamu nangis. Ada yang ingin kamu ceritakan?"

__ADS_1


Nindia masih belum mau bercerita dengan Reyhan. Ia masih setia mengeluarkan air mata yang tentunya membuat hati Reyhan tercubit.


Setelah merasa cukup tenang, Nindia menegakkan tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang. Pandangannya lurus ke depan.


Nindia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya, "Tiga hari yang lalu aku sama sahabat aku jalan-jalan ke mall, awalnya baik-baik saja sampai saat aku ngelihat kamu jalan sama cewek lain. Yang lebih membuat aku sakit adalah kamu membelikan wanita itu kalung berlian. Mood aku yang berubah-ubah semakin mendukung kekecewaan aku saat melihat kamu sama selingkuhan kamu. Saat itu juga aku langsung maksa Bella untuk mengantar pulang," menghapus air matanya.


Reyhan mengerutkan keningnya. Ia juga berusaha mengendalikan amarahnya Karen omongan Nindia sangat melantur. Dia hanya menyimpulkan dari apa yang ia lihat. Bahkan sebelum mengetahui kebenarannya.


"Kamu yang akhir-akhir ini pulang larut malam semakin membuat aku curiga. Semua itu aku kaitkan dengan kamu yang jalan sama wanita lain. Kalau kamu memang udah bosan sama aku, kamu bilang aja. Aku akan mencoba ikhlas melepas kamu. Jangan dengan cara kamu pergi diam-diam dengan selingkuhan kamu. Aku akan lebih sakit saat melepas kamu nantinya. Aku sadar, seperti ini sakitnya saat kamu lihat aku jalan sama Satria. Sekali lagi aku mau katakan, aku akan ikhlas melepas kamu. Aku bisa membesarkan sendiri anak a.." belum selesai Nindia berbicara, Reyhan sudah memotongnya.


"Anak kita. Kalau kamu lupa, yang ada di perut kamu itu anak kita. Bukan hanya anak kamu atau jugan bukan anak aku aja. Kita buatnya sama-sama, jadi kita harus membesarkannya sama-sama. Kamu egois, kamu tahu itu?" emosi Reyhan terpancing saat mendengar kata-kata Nindia yang akan meninggalkannya. Ia berfikir Nindia terlalu egois karena mengambil kesimpulan sendiri. Ini tidak adil. Apa lagi Nindia menyebutnya mempunyai selingkuhan. Apa-apan itu?


Reyhan meninggalkan Nindia untuk pergi ke kamar mandi. Ia perlu sesuatu yang bisa mendinginkan kepalanya yang terasa akan pecah.


Sementara Reyhan di kamar mandi, Nindia menangis histeris di atas tempat tidur. Ia melipat lututnya dan menyembunyikan kepalanya.


Reyhan sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia tidak bisa menerema Nindia menuduhnya mempunyai selingkuhan untuk kedua kalinya. Reyhan jauh merasa kecewa saat Nindia sama sekali tak menghargai usahanya saat menyiapkan semua kejutannya.


pyarrrr


Nindia terkejut mendengar auara dari kamar mandi. Suara itu terdengar seperti pecahan kaca. Dengan khawatir Nindia melangkahkan kakimya menuju kamar mandi. Ia takut Reyhan akan melakukan hal nekad karena emosinya.


"Astaga, Reyhan!" teriak Nindia saat melihat kepalan tangan Reyhan yang berdarah dan kaca yang pecah dengan sedikit sisa darah. Nindia meraih tangan Reyhan.


"Pelankan sura kamu. Saya masih suami kamu, kalau kamu lupa." sinis Reyhan.


Nindia tidak menghiraukan sindiran Reyhan. Ia sibuk membersihkan tangan Reyhan dengan air mengalir. Setelah selesai, Nindia membawa Reyhan dan mendudukkannya di tepi ranjang.


"Dua kali, dua kali kamu meragukan saya. Apakah begitu sulit untuk percaya pada saya?" tanya Reyhan pada Nindia yang sibuk mengobati luka tangannya dengan obat yang ada di kotak p3k.


"Kalau kamu fikir saya tipe orang yang suka selingkuh, maka kamu salah. Salah besar. Satu tahun, satu tahun kita hidup bersama.Tapi kamu masih belum mengerti sifat dan kepribadian saya." lanjut Reyhan.


Mendengar perkataan Reyhan, berhasil mengembalikan kesadaran dan otak cerdas Nindia. Ia sadar bahwa ia sudah melewati batas. Bahkan ia bisa membentak Reyhan. Ia seharusnya bertanya pada Reyhan terlebih dahulu.


"Tiga hari. Tiga hari saya menyiapkan semua kejutan ini sendiri. Saya mengonsep semua dekorasi ini sesuai dengan kepribadian kamu. Bahkan saya menolak semua bantuan dari orang tua kamu dan Saya. Saya selalu mencuri waktu untuk mengerjakan semua ini. Bahkan saya rela begadang untuk memastikan agar semuanya sesuai dengan harapan kamu, tapi apa?" Reyhan tersenyum sinis. "Kamu justru menuduh saya selingkuh. Picik sekali fikran kamu. Sebegitu rendahnyakah saya dihadapan kamu?" Nindia menggeleng.


Nindia selesai memerban luka Reyhan. Nindia menatap Reyhan yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin bahkan ini jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Sekarang ia sangat takut dengan Reyhan yang serius. Ia takut kata-kata 'itu' keluar dari mulut Reyhan yang selama ini begitu manis dengannya.


"Reyhan..." panggil Nindia. Ia benar-benar ketakutan dengan apa yang akan Reyhan katakan.


"Saya dengan mudahnya memaafkan kamu setelah apa yang kamu lakukan kepada saya. Saya terlalu bodoh karena mencintai kamu begitu dalam. Bahkan sejak saya dan kamu masih kecil, saya sudah menginginkan kamu. Saya bahkan sudah berusaha melupakan kamu dengan kuliah di luar negeri. Sayangnya usaha saya sia-sia. Saya senang karena kamu dan saya dijodohkan, tapi kamu sama sekali tidak pernah menganggap keberadaan saya sejak satu hari pernikahan kita. Saya senang saat kamu mulai perhatian dengan saya, namun lagi-lagi saya harus kecewa saat mendengar kamu tidak percaya".


Nindia menggoyangkan bahu Reyhan, "Rey, aku tahu aku salah. Maafkan aku. Aku benar benar minta maaf.."

__ADS_1


"Maaf? Maaf seperti apa yang belum saya berikan pada kamu. Maaf saya sepertinya sudah habis saat mendengar kecurigaan kamu untuk yang kedua kalinya. Oh ya.. Wanita yang kamu lihat dengan saya waktu itu adalah Kania. Biar saya ingatkan kalau kamu lupa! Kania, dia adik dari sahabat sekaligus orang kepercayaan saya, Ilham Muhammad. Dia bekerja sebagai model. Dia juga datang saat saya dan kamu menikah." Nindia berhasil mengingat. "Sudah ingat. Sepertinya kamu sudah mengingatnya kan?" tanya Reyhan saat Nindia menutup mulutnya.


"Sepertinya cukup sampai disini. Saya sudah lelah. Kalau itu yang kamu minta, saya bisa kabulkan. Kamu mengikhlaskan saya untuk pergi. Baik kalau begitu, saya akan pergi dari kamu. Tenang saja, saya tetap akan memberikan nafkah pada anak yang ada di perut kamu karena dia anak saya. Anak kandung saya. Kalau Mamanya tidak menginginkan Papanya berada di sini, saya akan per..."


"Enggak!" potong Nindia dengan air mata yang sudah menetes dengan deras. Ia tahu kemana arah pembicaraan Reyhan. Ia tidak mau kehilangan Reyhan untuk selamanya. Ini salahnya. tidak seharusnya ia berbicara seperti itu, terlebih sudah dua kali Nindia berbicara dengan hal yang sama pada Reyhan


"Aku tidak mau! Kamu tidak boleh pergi! Aku butuh kamu, Bee. Maaf, aku tahu aku salah. Tapi tolong! tolong jangan keluarkan kata-kata itu..." Reyhan sama sekali tidak membalas perkataan Nindia.


"Maaf!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG

__ADS_1


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊


__ADS_2