
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Perasaan Nindia sangat hancur saat menerima perlakuan Reyhan. Ia tak pernah menyangka bahwa Reyhan akan sanggup membentak dirinya. Ia memang mengakui bahwa dirinyalah yang bersalah dalam hal ini. Tidak seharusnya dirinya menjalin hubungan dengan kekasihnya saat ia sudah memiliki suami. Namun, yang nama nya penyesalan tetap satang belakangan.
"Hai," sapa seseorang.
"Satria,"
"Ngapain di sini?" tanya Satria sambil duduk di sebelah Nindia.
Nindia sedikit menggeser duduknya agar menjauhi Satria. Ia tidak ingin masalahnya menjadi semakin runyam. "Pingen sendiri,"
"Kamu habis nangis?" Satria hendak menyentuh pipi Nindia namun berhasil ditepis dengan halus agar tidak melukai perasaan Satria.
"Enggak. Cuma kemasukan debu aja. Nanti juga sembuh." alibi Nindia.
"Selesai kelas pukul berapa?"
"Belum tahu."
"Nanti aku antar pulangnya,!"
"Sat, gue ke kelas dulu ya. Udah ditunggu Bella, Tia, sama Gita." Nindia berjalan meninggalkan Satria.
Nindia melangkahkan kakinya dengan gontai. Ia masih memikirkan masalah rumah tangganya yang belum tersrlesaikan. Bahkan sekarang bertambah buruk dengan menghindarnya Reyhan.
Brukkk
"Ma.. af" setelah melihat siapa yang ditabraknya, Nindia langsung menundukkan wajahnya.
"Nin, dari mana aja lo?" tanya Tia.
"Taman,"
__ADS_1
"Lo habis nangis," tanya Gita saat melihat mata sembab Nindia.
"Nggak cuma kemasukan debu." sekali lagi Nindia mengeluarkan alibinya. Nindia menjatuhkan tubuhnya di sebelah Bella dan langsung menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya.
Bella yang melihat kelakuan sahabatnya hanya bisa menghela nafas. Entah bagaimana cara sahabatnya itu menyelesaikan masalah. Ia sudah membantu dengan memberikan saran sebaik mungkin.
____________________
"Lo, Bi Minah kok disini?" tanya Nindia karena terkejut melihat kehadiran pembantu yang membantu Bunda mengasuh sejak kecil.
"Iya non. Ibu menyuruh saya kesini. Katanya biar bisa bantu non kalau ada apa-apa," jelas Bi Minah yang menghentikan kegiatan mencuci piringnya.
"Kok bisa masuk?" tanya Nindia. Ia merasa sudah mengunci rumahnya saat berangkat.
"Aden sudah pulang non. Sekarang lagi ada di kamar,"
"Makasih ya bi, saya mau ke atas dulu,"
Bi Minah menganggukan kepalanya untuk menjawab sang majikan. Meskipun usianya sudah setengah abad, namun Bi Minah masih bisa melakukan segala kegiatan. Di rumah bundanya, Bi Minah hanya disuruh untuk membersihkan rumah, sedangkan urusan dapur langsung dipegang nyonya rumah.
Nindia masuk ke dalam kamar, namun ia tak mendapati sang suami. Saat hendak keluar, Nindia mendengar gemercik aur di kamar mandi. Ia berjalan mengambilkan dan menyiapkan baju untuk Reyhan. Sedangkan dirinya kembali keluar kamar untuk masak setelah mengganti bajunya dan meletakkan perlengkapan kampusnya.
____________________
"Kenapa?" tanya Reyhan dengan dingin saat mendapati Nindia memperhatikannya.
"Enggak.. Habisin makanannya," ucap Nindia. Namun, 5 detik kemudian mulutnya terbuka dan kembali mengajukan pertanyaan. "Rey.. Masih marah sama gue?" tanya Nindia pelan-pelan.
"Saya sudah kenyang," Reyhan menghentikan kegiatan makannya dan menjauh dari Nindia. Piring Reyhan masih penuh dengan makanan.
"Rey..." teriak Nindia yang berusaha memanggil Reyhan. Namun, sayangnya gagal.
Nindia langaung bangkit dari tempat duduknya untuk mengejar Reyhan yang sudah masuk ke kamar mereka.
Bi Minah yang melihat itu terlihat bingung. Banyak sekali pertanyaan yang mengganjal hatinya. Bi Minah juga menyadari sedang ada masalah dalam rumah tangga nona mudanya. Tapi ia tahu batasannya, ia tidak bisa mencampuri urusan yang bukan ranahnya.
____________________
Nindia berada si teras rumah dengan perasaan khawatir. Pasalnya setelah kejadian di meja makan, Nindia tidak menemukan Reyhan di kamarnya. Ia juga tidak melihat mobil Reyhan terparkir di garasi.
__ADS_1
"Non, lebih baik masuk! Udara malam tidak baik untuk kesehatan." tegur Bi Minah.
Melihat tuan mudanya pergi setelah makan malam, semakin memperkuat dugaannya kalau sedang ada masalah yang terjadi.
"Nunggunya di dalam aja ya, non." bujuk Bi Minah.
"Enggak bi. Anin masim mau disini," kekeh Nindia.
"Mungkin Aden ada kerjaan, Non."
"Kerja apa bi? ini sudah pukul dua belas malam. Enggak mungkinlah dia kerja sampai selarut ini,"
Bi Minah tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya Mudanya. Apa yang dikatakan Nindia memang seratus persen kemungkinannya.
"Kalau begitu saya permisi Non," ucap Bi Minah yang undur diri.
Nindia sangat gelisah menunggu kedatangan suaminya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir. Sesekali ia terlihat menggigit kuku jarinya.
____________________
Nindia mengerjapkan matanya. Sinar matahari membangunkannya dari tidur yang nyenyak. Saat melihat sekelilingnya ia terkejut karena berada di kamar. Seingatnya, kemarin ia menunggu Reyhan di sofa ruang tamu sebelum kantuk melandanya.
Flashback On
Jam menunjukkan pukul satu pagi. Nindia masih setia menunggu. Kini Nindia menunggu di ruang keluarga. Udara malam membuat badan Nindia menjadi sedikit rapuh. Semakin lama rasa kantuk Nindia mulai menyerang, tapi Nindia berusaha menahannya. Namun, apalah dayanya. Rasa kantuk akhirnya mengalahkan Nindia.
Nindia meringkuk di atas sofa. Menggunakan tangannya sebagai bantalan. Suasana hening menemani Nindia menggapai mimpi indahnya, sebelum suara pintu terbuka.
"Assalamualaikum," sapa Reyhan saat memasuki rumah.
Setelah menutup pintu rumah, Reyhan melonggarkan dasi yang ia pakai. Saat Reyhan berbalik badan, ia menanggap tubuh yang sangat ia kenal. Tubuh yang menemaninya tidur selama dua bulan. Tubuh yang hampir satu minggu ia abaikan.
Dipandanginya wajah yang tenang dan damai. Bibir pucat berhasil mendapatkan perhatian khusus. Reyhan baru menyadari bahwa tubuh istrinya sedikit lebih kurus daripada awal pernikahan mereka.
"Bodoh," umpat Reyhan. Ia akhirnya mengangkat Nindia ala bridal style. Membaringkannya di ranjang. "Selamat malam," Reyhan mengecup kening Nindia penuh kasih sayang.
Reyhan beranjak menuju kamar mandi. Badannya sangat lengket. Setelah perdebatan di meja makan, ia mendapatkan telepon dari Reno. Ada sedikit masalah di perusahaan yang mengharuskan dirinya menghabiskan waktu yang cukup lama di perusahaan. Bahkan ia sampai lupa mengirimkan pesan kepada Nindia yang mengakibatkan Nindia menunggunya hingga tertidur.
"Maaf," ucap Reyhan yang sudah membaringkan tubuhnya di sebelah Nindia, kemudian memeluk Nindia dari belakang.
__ADS_1
Flashback Off