
HAI CHINGU.....๐๐๐๐
SELAMAT MEMBACA
๐น
๐น
Reyhan mengendari Mercedes Benz G-Class nya meninggalkan sekolahan. Reyhan bahkan meninggalkan Nindia tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Ia langsung pergi saat melihat Nindia memeluk Satria di taman depan Kantin. Ia tidak menanyakan terlebih dahulu alasan Nindia memeluk Satria.
Cemburu? Ya, tentu saja Reyhan cemburu. Dia takut akan kehilangan Nindia lagi. Di kepalanya dipenuhi fikiran-fikiran negatif.
"Kali ini aku berharap kamu dapat memegang kepercayaanku!" kata Reyhan yang memukul kemudi untuk meluapkan amarahnya.
____________________
Nindia masih memiliki satu mata kuliah terakhir, tapi fikirannya dan fokusnya berada di tempat lain. Saat Nindia pergi ke ruangan Reyhan untuk mengatakan dirinya sudah menyelesaikan permasalahan, tapi yang di cari sudah tidak ada. Dihubungi tidak ada jawaban. Saat melihat parkiran mobilnya sudah tidak ada.
"Kamu kemanasih, yang?" tanya Nindia dalam hati.
"Lo kenapa?" bisik Bella.
"Gak apa-apa,"
"Hemm, kumat lagi kan ngibulnya. Lo cari Prof Reyhan?" tanya Bella tepat sasaran. Nindia hanya menganggukkan kepala saat apa yang membuatnya gelisah berhasil terbaca.
"Tadi dia lihat li pergi sama Satria. Habis itu dia pergi. Gue gak tahu lagi sih kemana dia pergi. Coba deh lo hubungi!" usul Bella yang tak mengetahui jika dari tadi panggilan Nindia tidak kunjung di jawab.
"Kalau panggilan gue dari tadi di angkat, gue gak akan sepanik ini," Nindia sedikit berteriak karena geram dengan usulan Bella.
"Nindia, Bella" panggil Prof. Beno. "Kalian sedang bicarakan apa?" tanya Prof Beno karena sedari tadi melihat Bella dan Nindia terus berbicara.
"Ini Prof. Nindia katanya pusing dan badannya agak panas, terus mau minta ijin takut sama Prof." kilah Bella yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Nindia.
"Nindia, apa betul yang dikatakan Bella?" tanya Prof. Beno.
__ADS_1
"i.. i-ya Prof. Bolehkah saya minta izin pulang?" tanya Nindia takut-takut.
Prof. Beno melihat arloji yang melingkar di tangannya. "Baiklah. Berhubung kelas saya sebentar lagi selesai, saya izinkan kamu pulang."
"Terimakasih Prof," Nindia bernafas lega. Rasanya ia ingin mengucapkan terimakasih pada Bella karena secara tidak langsung mencarikan ide buat bolos. hehe
"Makasih gak lo sama gue!" todong Bella. "Cepet sono pulang! cari tu laki lo!" perintah Bella.
"Terimakasih, cinta" bisik Nindia seraya menarik kedua pipi Bella.
"Sialan," umpat Bella saat Nindia sudah kabur begitu saja.
____________________
Nindia sampai rumah setelah terjebak macet hampir satu jam. Nindia turun dari taxi online yang ia pesan. Saat memasuki halaman rumah, Ia mengernyitkan dahinya saat melihat mobil Reyhan sudah terpakir rapi di halaman rumahnya.
"Siang Non," sapa Bi Minah yang sedang menyiram tanaman.
"Siang, Bi. Apa Reyhan sudah pulang?" tanya Nindia untuk memastikan.
Nindia berusaha menetralkan wajahnya, ia sangat bingung. Ada apa dengan Reyhan? Bukankah mereka sudah berjanji akan pulang bersama?
"Ya udah, Bi. Terimakasih" Nindia berlalu memasuki rumah. .
Nindia langsung berlari menaiki tangga untuk menemui suaminya, Masih ada tanda tanya besar di pikirannya.
Saat sampai di depan pintu, entah mengapa dirinya menjadi ragu. Seperti seseorang yang sudah tertangkap basah sedang berselingkuh. Namun, tak urung ia tetap memasuki kamar.
Keadaan kamar sangat sepi. Tempat tidur masih tertata rapi seperti sebelum berangkat ke kampus tadi. Tapi pintu balkon kamar terbuka. Mengirimkan udara segar dari luar yang menyejukkan hati.
Nindia menatap bahu lebar yang sangat ia kenal. Bahu yang membuatnya nyaman berada dalam dekapannya. Nindia pelahan menghampiri pemilik punggung tersebut dan memeluknya dari belakang.
"Kok kamu pulang duluan?" tanya Nindia yang menempelkan kepalanya pada punggung Reyhan.
Reyhan tidak menjawab pertanyaan dari Nindia. ia tetap fokus menatap jalanan di depan sana.
"Aku ada salah?" tanya Nindia yang sudah menggeser posisinya di sebelah kiri Reyhan tanpa melepas pelukannya.
__ADS_1
Reyhan menatap Nindia sebentar kemudian mengalihkan tatapannya menuju jalanan.
"Kenapa?" tanya Nindia. "Padahal aku ada kabar baik buat kamu" Nindia mengerucutkan bibirnya dan melepas pelukannya.
Reyhan menarik nafas panjang. Ia sudah tidak tahan untuk mendiamkan Nindia. Reyhan menggeser posisinya menjadi di belakang Nindia , melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Nindia, dan meletakkan dagunya di bahu kiri Nindia.
"Apa?" tanya Reyhan.
Nindia mengelus tangan Reyhan yang melingkar di pinggangnya. "Aku udah putusin Satria,"
Reyhan membalikkan tubuh Nindia. Menatap manik mata Nindia. "Beneran?" tanya Reyhan.
Nindia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Reyhan. Ia senang saat menangkap sorot ย bahagia yang terpancar dari mata Reyhan.
Reyhan merengkuh tubuh Nindia dan melontarkan satu pertanyaan untuk memastikan. "Beneran?"
"Iya, Bee."
"Bee?" tanya Reyhan yang bingung.
"Iya, Itu panggilan aku buat kamu," ucap Nindia malu dan menelusupkan kepalanya pada dada bidang Reyan.
Reyhan tertawa melihat Nindia malu-malu. "Kenapa malu?"
"Au ahh," Nindia mengeratkan pelukannya. "Oh ya, kamu kenapa pulang duluan? pakek ninggalin aku sega;a!" Nindia mendongakkan kepalanya seraya melayangkan protes.
Kalau boleh jujur, Reyhan sangat malu untuk mengatakannya. Ia mengambil langkah mundur untuk memberikan jarak untuk dirinya dan Nindia.
"Aku cemburu waktu lihat kamu peluk Satria," Reyhan membingkai wajah Nindia.
Sekali lagi Nindia mendapatkan apa yang setiap wanita inginkan. Ia tertawa pusa saat melihat wajah merah Reyhan yang menahan cemburu.
"Ketawain aja terus," Reyhan memalingkan wajahnya dan melepaskan tangannya.
Nindia tersenyum dan menarik dagu Reyhan untuk menghadap ke arahnya. "Bee, dengerin aku deh!" Reyhan menghadap Nindia. "Aku tadi hanya memberikan pelukan perpisahan sekaligus semangat buat Satria. Wala bagaimana pun, dia pernah hadir dalam hidup aku," Nindia menarik nafas dan menghembuskannya. "AKu janji itu yang terakhir.
Nindia mengesup kilas bibir Reyhan."Janji"
__ADS_1