HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 81 Sahabat Laknat


__ADS_3

HAI CHINGU..... 😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Pagi-pagi rumah Nindia sudah ramai dan penuh teriakan karena kedatangan Tia, Bella, dan Gita. Kebetulan hari ini mereka tidak ada kelas sehingga memutuskan untuk pergi ke rumah Nindia.


"Nin, ini enggak ada makanan apa?" tanya Gita.


"Gue belum sempat masak ogeb," ucap Nindia seraya mengelus perutnya. "Mas Rey keluar kota sejak kemarin, jadi gue malas masak. Salah sendiri datang bertamu pagi-pagi, enggak lihat jam noh. Masih pukul 7 tapi udah di rumah orang aja. Seharusnya kalian itu bantuin gue masak sama bantu bersih-bersih, bukan malah minta makan," sungut Nindia.


"Yang tamu siapa, yang disuruh siapa." ucap Tia.


"Gue bantuin masak, habis itu kita jalan-jalan. Gimana?" tanya Bella.


Nindia mengangguk, "Boleh, tapi gue harus izin dulu sama Mas Rey. Gue sekarang juga cepat capeknya,"


"Atau enggak kita di rumah aja, nonton, atau eksperimen di dapur." usul Tia.


"Now way, gue takut dapur gue jadi kapal pecah,"


Gita mendengus, "Enggak usah dengerin Nindia. Kita langsung aja ke dapur, anggap aja rumah sendiri," ucap Gita seraya menarik tangan Bella dan Tia menuju dapur.


"Pagi Bi Minah," sapa Bella, Tia, dan Gita bersamaan.


Bi Minah mengangguk, "Pagi juga Non-non cantik. Mau apa ke sini? Kalau mau minum biar bibi aja yang buat,"


Tia menggeleng dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, "Hari ini dapur milik kita. Jadi, Bi Minah santai aja dan tinggal mengomentari hasil masakan kita.


Gita mengangguk setuju, "Bibi tenang aja. Palingan juga berantakan dikit,"


Nindia hanya bisa pasrah akan nasib dapurnya. Ia sudah melihat Tia dan Gita mulai mengeluarkan tepung, gula, telur, dan bahan membuat telur lainnya. Sedangkan Bella sudah sibuk dengan sayuran yang ada di kulkas.


"Udah biarin aja Bi, duduk sini aja sama Aku," pinta Nindia yang duduk di meja bar miliknya.


Tia mulai heboh memerintah Gita sesuai instruksi yang dilihatnya di youtube, sedangkan Gita heboh dengan takaran yang diinginkan Tia. Tak hayal mereka berdebat dengan perbedaan takaran yang sama-sama mereka ketahui. Misalnya Tia meminta 400 gram Gita meminta 350 gram dan begiru seterusnya.


Berbeda dengan Bella yang santai dengan potongan-potongan sayuran, daging, ayam, dan sosis yang rencananya akan di buat menjadi capcai.


Gita dan Tia semakin heboh saat tak sengaja menumpahkan adonan ke lantai hingga lantai licin penuh dengan tepung.


"Elo sih, ngapain pakek narik wadahnya," ucap Tia menyalahkan Gita.


Gita menunjukkan dirinya sendiri dengan alis terangkat, "Enggak salah lo? Yang geser wadahnya kan. elo."


Nindia hanya menepuk jidat melihat dapurnya berantakan. Tepung di mana-mana, wadah kotor menggunung, sampai margarinpun tak luput dari kesalahan Tia dan Gita.


"Nindia..." panggil Tia deraya berteriak.


"Ogeb, gue di sini. Enggak usah teriak. Apa?" tanya Nindia.


"Lo ada susu enggak?" tanya Gita


"Ada, di lemari atas kompor," jawab Nindia.


Gita mencari susu di lemari atas kompor seperti yang dikatakan Nindia. Saat mengetahui susu apa yang ada di sana, wajahnya berubah menjadi merah dan jalan cepat menuju Nindia.


Gita berkacak pinggang, "Ini susu ibu hamil ogeb," ucap Gita seya menyentil kening Nindia.


"Sakit o on," ucap Nindia seraya mengelus keningnya. "Lo kan nanya ada susu atau enggak, gue enggak salah dong. Itu kan juga susu," jawab Nindia seraya menunjuk susu ibu hamil yang ada di tangan Gita.


Bella dan Tia terkekeh saat Gita tidak bisa menjawab atau bahkan menyanggah ucapan Nindia. Salahnya juga bertanya setengah-setengah.


Gita mengelus dada, "Maksud gue susu buat bikin kue sayang. Susu kental manis Ibu Anindia Putri Aristarco yang terhormat,"


Nindia tersenyum seraya menyengir mendengar panggilan yang diucapkan Gita, "Gue enggak punya,"


"Astagfirullah, ini bunuh orang dosa kagak ya?" ucap Gita yang sudah kesal dengan tingkah Nindia.

__ADS_1


Bi Minah yang sedari tadi hanya melihat dan tersentum akhirnya melerai dengan tawarannya.


"Biat bibi belikan, Non Gita. Butuh berapa saset?"


"2 saset aja ya bi, tapi yang coklat,"


"Duitnya mana?" todong Nindia, "Ya kali beli pekek daun,"


"Astagfirullah, pakek uang lo dulu kan bisa Nin, nanti gue ganti. Ya Allah, bikin kue aja udah nambah tabungan dosa gue,"


"Bibi masih ada uang kok, Non." ucap Bi Minah. "Kalau begitu Bibi permisi beli dulu,"


Tak lama terlihat Bi Minah datang dengan dua saset susu kental manis. Setelah menerima apa yang di butuhkan, Gita kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya.


"Tia, jangan sampai telurnya pecah,"


"Gita, tepungnya kemana-mana,"


"Gula ada di dekat kulkas,"


"Jangan lupa wadah yang kotor di cuci,"


"Astaga, kan gue udah bilang jangan sampai telurnya pecah,"


"Enggak usah pakek salah-salahan,"


Rasanya hari ini tenaga Nindia habis karena digunakan untuk teriak. Nindia hanya bisa menghela nafas dan memijat pangkal hidungnya karena dapurnya sudah tak berbentuk sebab dua orang. Sedangkan Bella sudah sejak tadi menyelesaikan tiga menu sekaligus, yaitu capcai, semur daging, dan sayur sop.


Setelah penuh dengan drama, akhirnya kue dan macaron buatan Gita dan Tia jadi juga.


"Tadaaaa, kue balok lumer dan macaroon sudah siap," ucap Tia dengan bangga.



Manik mata Nindia berbinar bahagia saat melihat macaron berbentik kaktus. Mini dan imut, cocok dengan porsinya.


"Lo yakin ini yang buat si Tia?" tanya Nindia saat melihat macaron.


Tia berkacak pinggang mendengar pertanyaan yang meragukan hasil masakannya. Tidak bisakah Nindia melihat dirinya sudah mandi dengan tepung mulai dari muka hingga bajunya.


Nindia mengangguk dengan ekspresi imut. Nindia memandang macaron tersebut yakin tidak yakin dengan rasanya. Tapi dilihat dari bentuknya, kemungkinan rasanya enak.


"Ini enggak bikin gue Kenapa-napa kan?" tanya Nindia seraya memperhatikan macaron yang ada di tangannya.


"Palingan cuma masuk rumah sakit dan dirawat inap selama satu minggu," jawab Tia enteng seraya duduk di sebelah Gita.


Nindia yang hendak memakan macaron langsung tidak jadi dan meletkan kembali ke tempat semula.


"Astagfirullah Nindia, lo enggak bakalan kenapa-napa. Percaya sama gue," ucap Gita yang gemas dengan tingkah Nindia.


Nindia mengangguk kemudian kembali mengambil macaron tersebut. Merasakannya dengan ludahnya bebrapa detik sebelum mengacungkan dua jempolnya di depan Tia. Sungguh, rasanya seperti buatan restoran atau bahkan jauh lebih enak.


"Enak banget," ucap Nindia dengan menggerakkan badannya sebagai tanda dirinya menikmati dan menyukai makanan tersebut.


"Sekarang cobain kue balok buatan gue. Kalau yang ini enakan di makan waktu masih anget," ucap Gita seraya menyuapi Nindia.


Mata Nindia. kembali berbinar, "Ini juga enak,"


Tia, Bella, dan Gita hanya bisa menggelengkan kepalanya. Semenjak usia kehamilannya menginjak lima bulan, porsi makan Nindia semakin meningkat. Nindia sangat menyukai makanan manis, padahal dulu Nindia sangat menghindari.


____________________


"Kita pulang dulu ya Nin, kapan-kapan main lagi," ucap Gita.


"Yahhh, jadi sepi lagi."


Bella tersenyum, "Kita usahain paling enggak dua kali seminggu ke rumah lo. Jadi jangan ngerasa kesepian. Kita juga masih bisa video call"


Nindia hanya bisa mengangguk, "Ya udah. Kalian hati-hati,"


Nindia kembali masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil milik Bella pergi meninggalkan halaman rumah dan kembali mengunci pintu utama.

__ADS_1


Nindia balik badan dan menyadari betapa hancur ruang tamunya, "Astagfirullah, Ya Allah. Allahuakbar..." sebut Nindia. "Ini rumah atau tempat sampah sih?" ucao Nindia seraya menarik rambutnya sendiri.


Bagaimana tidak syok saat melihat keadaan ruang tamu sudah seperti kapal pecah. Bungkus makanan ringan di mana-mana, kaleng minuman soda berjejer di atas meja, kulit kacang berserakan di lantai, kursi sudah pindah dari tempatnya, bantal sofa sudah tetjun bebas di lantai, gelas kotor di atas meja.


"Gue bisa diceramahain ber jam-jam kalau Reyhan sampai tahu." ucap Nindia seraya memasukkan bungkus makanan ringan dan kaleng minuman soda ke plastik sampah.


"Ya Allah Non, kenapa enggak panggil bibi aja?" ucap Bi Minah yang baru keluar dari kamar.


Nindia menghempaskan tubuhnya ke sofa, "Capek," ucap Nindia. "Tinggal nyapu Bi, Nindia tinggal buang sampah sama baaa gelas kotor ini,"


"Iya, Non"


Nindia kemudian bangkin dan berjalan menuju dapur seraya membawa gelas kotor dan kantong sampah.


Kantong sampah yang ada di tangan kitri Nindia langsung jatuh saat melihat kondisi dapurnya yang jauh lebih buruk dari keadaan ruang tamunya. Untung saja tiga gelas yang ada di tangan kanannya tidak jatuh.


"Ya Allah, ini apalagi?" tanya Nindia seraya menunduk lemas melihat keadaan dapurnya.



Nindia bergegas melangkah ke dapur. Meletakkan gelas yang dibawanya secara kasar dan melempar kantong sampah, untung saja tepat masuk dalam tempat sampah.


"Dasar sahabat laknat, bocah gendeng, kampret, semprul." umpatan Nindia terus saja keluar seraya tangannya sibuk membersihkan dapur.


"Awas aja kalau main kesini lagi, bakal gue kepret tuh bocah."


"Non Nindia istirahat aja. Biar bibi yang bersihkan." ucap Bi Minah yang kasihan dengan Nindia.


"Enggak apa-apa bi?" tanya Nindia yang tak enak karena tingkah teman-temannya.


Bi Minah tersenyum seraya mengangguk, "Ya enggak apa-apa atuh. Ini udah tugas Bibi. Sekarang Non istirahat aja di kamar, kalau Aden tahu, Non pasti dimarahi,"


Fisik Nindia tak lagi mendukung untuk pekerjaan yang berat sehingga menuruti perkataan Bi Minah. Jika Reyhan tahu kalau dirinya kecapaian, pasti Reyhan akan menambah PRT baru seperti ancamannya minggu kemarin.


Setelah sampai di kamar, Nindia langsung mengistirahatkan tubuhnya. Sungguh lelah dirinya hari ini. Emosinya juga tidak setabil sejak tadi pagi. Ditambah kedatangan Bella, Tia, dan Gita yang membuat dapur dan ruang tamunya berantakan. Sebenarnya hanya Tia dan Gita saja yang membuat berantakan, justru dirinya berterima kasih karena telah dimasakkan oleh Bella. Bukan.. dirinya Berterim kasih pada semua sahabatnya yang membuat harinya lebih bewarna.


"Maafin Bunda ya sayang karena hari ini kebanyakan marah dan mengumpat. Kamu jangan meniru Bunda kalau sudah besar,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬


Jadikan Favorit ❤


Bila berkenan silakan beri Tip ⭐


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG

__ADS_1


- My Destiny


A/n    : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Terimakasih 😊😊


__ADS_2