HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 21 Terbuka


__ADS_3

HAI CHINGU.....😀😀😀😀


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Nindia cukup lama menunggu di ruangan Reyhan. Pasalnya setelah selesai mengajar, Reyhan melakukan pertemuan mendadak di rektorat.


Saat mereka berangkat dan sampai kampus, keadaannya sangat sepi dikarenakan hampir seluruh mahasiswa memasuki kelas. Ada juga yang masih duduk di kantin dan parkiran Sekolah.


Pandangan para kaum pemuja Prof Reyhan sangat menakutkan saat melihat Nindia turun dari mobil Prof. Reyhan. Mereka seakan-akan menguliti Nindia. Namun bukan Nindia namanya kalau tidak mengabaikan mereka. Bahkan kebanyakan dosen kewalahan menghadapi tingkah Nindia yang seperti ini.


"ishhh... lama banget sih?" gerutu Nindia.


Nindia membuka sosial media untuk mengghilangkan rasa bosannya. Nindia sempat beberapa kali tertawa saat melihat hal-hal yang dianggapnya lucu.


Rasa kantuk tiba-tiba menyerang Nindia. Ia meletakkan kepalanya diatas meja dan menjadikan lipatan tangannya sebagai bantal.


(sungguh kejamnya kau pak! istri sendiri disuruh nunggu).


kreekk


Pintu ruangan Prof. Reyhan terbuka dan menampilkan sosok yang membuat gadis canti menunggu terlalu lama.


Reyhan mendekati Nindia dan mencium keningnya. cuppp "Maaf ya sayang. Ada sedikit masalah di Fakultas," Reyhan kemudian melepas jasnya dan memberikannya kepada Nindia sebagai selimut.


Reyhan masih setia memandangi wajah istrinya yang terlelap dalam tidurnya. Dia ragu, wajah polos seperti ini bisa-bisanya membuat dosen nyinyir. Memang hebat sekali Nindia ini. Bahkan tak kenal takut saat orang berusaha menindasnya.


Apalagi saat beretemu dengan Bu Rani. Nindia pasti memiliki seribu akal untuk membuat dosen itu kesal bahkan nyinyir.


Tidur Nindia seakan terganggu. Ia menggeliatkan badannya. Ia merasa sedang diawasi oleh seseorang.


Perlahan namun pasti mata Nindia terbuka dan langaung bertemu dengan mata indah milik sang suami. Ia masih meletakkan kepalanya di meja. Namun, senyumannya terus berkembang saat mengetahui orang yang membuatnya menunggu sudah ada.

__ADS_1


"Rey.."


"Apa?" tanya Reyhan yang sudah menegakkan badannya.


"Lama," protes Nindia dengan wajah cemberut.


Reyhan mengusap kepala Nindia. "Maaf ya, tadi ada masalah di fakultas. Kamu lapar? ini udah jam makan siang,"


Sebentar.. Jam makan siang? Berarti Nindia tidur salama dua jam? Wahhh hebat sekali Nindia ini.


Seakan tersadar, ia segera mengambil bedak dalam tasnya. Menggunakan kaca untuk memastikan penampilannya. Apakah ada air liur yang menetes atau tidak.


Reyhan yang mengerti dengan prrilaku istrinya hanya bisa tertawa. "Masih cantik kok"


Nindia menghela nafas. "Mau makan? biar aku panasin sebentar!" Nindia beranjak, mrmbawa makanan untuk ia panaskan.


Ruangan Reyhan memiliki fasilitas tambahan yaitu microwafe dan kulkas, sehingga buah yang ia bawa tidak layu. Ya tahu sendiri lah bahwa kampus ini milik keluarga Aristarco, jadi tidak masalah jika fasilitas sedikit berbeda.


Nindia sibuk memanaskan makanan, ia sangat telaten dengan pekerjaan yang ia lakukan.


"Kamu bisa makan udang?" tanya Nindia.


"Emang kenapa?" tanya Reyhan terheran.


"Aku tadi buat dua omlete. Satu pakek udang yang satu enggak. Kamu mau yang mana? Selama ini kamu gak pernah bilang apa yang kamu suka dan apa yang kamu gak bisa makan,"


"Aku gak bisa makan seafood. Semua jenis seafood aku gak bisa makan. Aku paling suka daging." jelas Reyhan. Ia tak mau ada lagi rahasia yang bisa membuat hubungannya renggang.


"Oke, kalau gitu kamu makan yang enggak ada udangnya. Biar aku makan yang ada udangnya."


Reyhan manggut-manggut. "Kalau kamu sendiri?"


Nindia menghentikan makannya. "Aku sih bisa makan semua. Tapi aku anti sama bau rokok." Nindia memakan buah naga yang diambilkan Reyhan. "Oh satu lagi, aku gak suka chinese food."


Naila mengambil satu sendok naai untuk diauapkan ke Reyhan. Pasangan pengantin baru seakan kalah dengan keromantisan Nindia dan Reyhan.

__ADS_1


kringgg


"Siapa?" tanya Reyhan yang terganggu oleh panggilan tersebut.


Nindia menunjukkan layar ponselnya. Ia sungguh-sungguh ingin membina rumah tangga yang samawa. Saling terbuka dan tidak ada kebohongan. Cukup satu kali ia melakukan kesalahan.


Reyhan menghembuskan nafas beratnya. "Angkat! tapi loudspeker!"


Nindia : Hallo..


📲 Satria. : Kamu di mana?


Nindia : (melihat ekspresi Reyhan) Di rumah.


📲 Satria : Nanti ada kelas?


Nindia : Ada (menyuapi Reyhan satu potong buah naga)


📲 Satria : Sayang, aku jemput ya.


Ekspresi Reyhan mulai menggelap. Ia tidak suka kalau wanitanya dipanggil 'sayang' apalagi berdekatan dengan laki-laki lain.


Nindia : Nggak usah. Gue bawa mobil sendiri (menggenggam tangan Reyhan untuk menenangkan) Gue juga harus berangkat lebih awal, gue masih jadi asdos dosen killer (menjulurkan lidahnya guna mengejek Reyhan)


Mata Reyhan melotot saat disebut dosen killer oleh istri sekaligus mahasiswanya.


📲 Satria : Kalu be...


Nindia : Udah ya! Gue mau berangkat. Daaaa (Mematikan ponselnya, Nindia tidak mau membuat Reyhan. semakin kesal)


"Kan kamu yang suruh angkat," jelas Nindia saat melihat raut ketidaksukaan di wajah Reyhan.


"Aku gak suka," protes Reyhan sambil mencum jari Nindia yang ada cincin pernikahan.


Nindia mengerti maksud Reyhan. "Secepatnya aku perjelas,"

__ADS_1


__ADS_2