
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Nindia duduk di bangku yang ada di taman. Perasaannya tak menentu. Saat ini Nindia merasakan hatinya sakit saat melihat Reyhan dan Cintya sedang bercanda yang bisa membuat Reyhan tertawa lepas.
Nindia menghembuskan nafasnya, "Gue kenapa sih?" tanya Nindia pada dirinya sendiri.
kring kring
Nindia    : (Nindia menghembuskan nafasnya saat mengetahui siapa yang menelepon) Hai
📲 Satria  : Hai sayang.... kamu lagi di mana? Kenapa gak masuk dua hari?
Nindia    : Lagi di rumah, Malas akunya,
📲 Satria  : Jalan yuk,
Nindia    : Aku lagi gak mood sayang,
Tanpa Nindia sadari, sedari tadi ada yang mendengarkan percakapannya dengan Satria dari balik tembok. Tatapan mata yang tidak dapat diartikan oleh siapapun. Pergi meninggalkan taman dengan operasaan tak menentu. Karena merasa ada yang memperhatikan Nindia membalikkan badannya.
📲 Satria  : Ada apa sayang, kenapa diam saja?
Nindia    : Apa? Aku dipanggil Ayah, udah dulu ya,
📲 Satria  : Ya udah kalau gitu. Good night sayang
Nindia    : Good night too,
Setelah mengakhiri percakapan dengan Satria, Nindia melangkahkan kembali kakinya ke dalam rumah sakit. Menaiki Lift untuk menuju kamar rawat Reyhan. Di dalam lift Nindia menundukkan kepalanya untuk menghilangkan berbagai fikiran yang memenuhi otaknya. Sesampainya di depan kamar Reyhan, Nindia tidak langsung masuk. ia menunggu untuk beberapa saat, Nindia sangat takut saat melihat Reyhan dan Cintya sedang bersama. Entah perasaan apa yang dirasakannya saat ini.
Lima belas menit Nindia berdiam diri di depan kamar Reyhan, Nindia memutuskan masuk ke kamar Reyhan. Dilihatnya Reyhan yang sudah terlelap ke dalam mimpinya. Begitu tenang dan damai, tak ada sesuatu yang bisa mengganggu tidurnya. Bahkan saat Nindia masukpun Reyhan sama sekali tidak menyadarinya.
"Cepat sembuh," Nindia mengelus puncak kepala Reyhan. Setelah mengucapkan itu, ia berbaring di sofa yang sudah tersedia.
Reyhan membuka matanya karena sedari tadi ia belum tidur, "Selamat malam," ucap Reyhan sambil menoleh ke arah Nindia.
____________________
Terhitung sudah tiga hari Nindia tidak masuk ke kampus. Seperti dua hari sebelumnya, Nindia selalu merawat dan menemani Reyhan di Rumah Sakit.
"Lo gak ke kampus?"
"Males, entar siapa yang jaga lo?"
"Lo khawatir sama gue?" goda Reyhan menampilkan deretan gigi putihnya.
Nindia hanya diam. Nindia menyibukkan dirinya dengan berbagai buku pelajaran dan barisan Novel yang selalu menemaninya. Ebenarnya dia bosan berada di Rumah Sakit, namun ia lebih takut kalau Reyhan terluka seperti kemarin.
"Gak," Nindia berkata bohong. Kalau boleh jujur, Nindia sangat khawatir dengan Reyhan.
"Gue udah gak apa-apa, Lo bisa pergi,! Nanti ada yang nemenin gue,"
"Lo ngusir gue? Siapa? Cintya?" tanya Nindia yang masih memfokuskan pandangannya pada novel yang ia pegang
"Iya, nanti dia datang."
Deg
__ADS_1
Pernyataan Reyhan berhasil membuat Nindia mematung beberapa detik. Ada gelenyar aneh yang saat ini ia rasakan. Namun secepat mungkin Nindia menguasai dirinya lagi, Ia tidak mau menunjukkan rasa tidak sukanya di depan Reyhan.
"Nanti kalau Cintya udah datang gue pergi,"
"Oke," Reyhan kembali membaringkan tubuhnya.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Nindia yang asik dengan novelnya, sedangkan Reyhan terlelap dalam tidurnya
kring kring
📲 Satria  : Hallo
Nindia. : (Melihat ke arah Reyhan) Hai, kenapa?
📲 Satria. : Kamu nanti masuk kan?
Nindia : Iya, nanti aku masuk, kenapa?
📲 Satria  : Nanti jalan yuk. Aku kangen sama kamu.
Nindia. : Nanti ya, sekarang aku lagi ada masalah. Nanti aku masuk habis itu kita jalan,
Nindia mematikan panggilannya. Ia takut akan memabangunkan Reyhan dan membuat Reyhan berfikiran yang tidak-tidak.
____________________
Nindia akhirnya menginjakkan kakinya di kampus setelah tiga hari tidak masuk ke kampus. Ia sudah disambut dengan ketiga sahabatnya dan tak lupa pacarnya.
"Buset dah ni bocah! dari mana aja lo?" tanya Gita.
"Biasa, penyakit gue kambuh lagi," ucap Nindia dengan senyum tanpa dosa.
"Makanya, minum tu obat! biar otak lo waras lagi," ucap Bella ketus.
"Masuk kampus biar tahu info. Tuh bocah lagi sakit. Gue juga heran! bisa juga tuh bocah sakit" ucap Bella yang berhasil meledakkan gelak tawa Gita dan Nindia.
Satria hanya bisa mengamati Nindia. Tak ada yang dilakukan Satria. Satria ingin Nindia untuk menghabiskan waktu dengan sahabatnya sebelum mengahabiskan waktu dengan pacarnya.
Tak berselang lama mata kuliah pertama dimulai. Ini mata kuliah kedua bagi teman-teman Nindia, berbeda dengan Nindia yang tidak mengikuti mata kuliah jam pertama. Semua siswa terkejut pasalnya yang mengajar Bu. Rani bukan Pak. Reyhan.
"Lo, kok ibu yang ngajar! kemana pak Reyhan?" tanya Karin yang terlihat tidak semangat.
"Pak. Reyhan sedang ada urusan selama satu minggu, 3 kali pertemuan akan diisi oleh ibu. Mungkin minggu depan dan minggu-minggu berikutnya Pak. Reyhan akan kembali mengajar dan menggantikan Ibu mengajar sementara waktu" jelas Bu Rani. Bu Rani sendiri terkejut karena tiba-tiba diminta datang ke kampus untuk menggantikan Pak Reyhan, karena dirinya masih dalam waktu cuti hamil. Namun Bu Rani tidak menanyakan lebih lanjut perihal alasan mengapa Pak Reyhan tidak masuk.
Nindia yang mengetahui alasan sebenarnya hanya bisa menundukkan kepalanya. Semua orang yang ada di kampus tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya adalah Nyonya Muda keluarga Aristarco, pemegang saham terbesar kampus ini.
"Sekian perkuliahan hari ini. Selamat siang," pamit Bu Rani
"Siang,"
Setelah Bu Rani keluar kelas, siswa siswi sudah berhamburan keluar. Ada yang pergi ke kantin, ada yang menunaikan ibadah, ada yang pergi ke warkop, dan sedikit siswa yang mager. Seperti Bella, Nindia, dan Gita.
Bella asik dengan novelnya dan Gita yang asik video call dengan sang pacar. Sedangkan Nindia asik memandang ke arah luar jendela dengan termenung. Fikirannya berada entah kemana. Sejak kedatangan Cintya untuk menemani Reyhan, Nindia sudah berubah seratua delapan puluh derajat. Nindia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
"Yang, kamu ngelamunin apa?" tanya Satria yang sudah duduk di sebelah Nindia. Namun tidak mendapatkan respon dari Nindia.
"Nindia," Satria sudah merubah panggilannya yang menandakan bahwa ia tidak suka diabaikan. Ini salah satu sifat Satria yang tidak disukai Nindia. Satria terkadang terlalu ikut campur urusan orang, sehingga membuat Nindia merasa tertekan.
"heh," Nindia menoleh ke arah Satria. "Kenapa?" tanya Nindia yang sudah melihat raut tidak suka yang dipancarkan Satria.
"Kamu kenapa sih?" tanya Satria yang sudah memegang bahu Nindia.
"Aku lagi ada masalah sama Bunda, Sayang." Nindia menyentuh pipi Satria.
__ADS_1
"Butuh bantuan buat ngomong sama Bunda kamu?"
Nindia yang mendengarkan sedikit terkejut, namun berusaha untuk menguasai dirinya. "aku nggak apa-apa, yang. Bentar lagi aku juga baikan sama Bunda," Nindia sudah lelah dengan sikap Satria yang ini.
"Beneran?" tanya Satria memastikan.
"Beneran, Sat."
____________________
Seperti janjinya tadi pagi. Nindia menemani Satri jalan-jalan, untuk kali ini Satria yang menjadi pemandu. Kemana perginya Satria, Nindia hanya bisa menyetujuinya. Satria sangat berbeda dengan Reyhan. Satria lebih suka ke tempat yang mewah dan terlalu pilih-pilih makanan, sedangkan Reyhan lebih menyukai tempat yang sederhana dan tidak pilih-pilih makanan. Seperti hari itu.
Flaahback On
Hari ini Nindia malas untuk masak dan lebih memilih makan diluar. Nindia memberikan alternatif makan di restoran, namun Nindia terkejut saat dibawa ke tempat makan pinggir jalan.
"Rey, kok kesini?" tanya Nindia bingung karena melihat tempat makannya.
"Kenapa? lo gak suka? kalau gitu kita ganti tempat!" Reyhan hendak menaiki motornya namun dicegah Nindia.
"Bukan gitu maksud gue. Tadinya aih gue pingen makan bakso pinggir jalan sambil nikmatin indahnya malam Jakarta, tapi gue takut lo gak suka makan di sembarangan. Jadi gue usulin lo ke restoran," jelas Nindia.
"Tenang aja,! gue bukan tipe pemilih. Makan di mana aja gue oke. Mau di restoran atau pinggir jalan sama aja. Ada plus minus nya masing-masing,"
"Ya udah kalau gitu. Masuk yuk! gue udah lapar" rengek Nindia sambil memegang perutnya.
Flashback Off
Semenjak itu Nindia merubah segalanya. Ia yang dulu selalu menyukai tempat mewah sekarang sudah mulai menyukai tempat-tempat boasa namun bisa menumbuhkan memori indah. Bukan berarti dulu Nindia tidak menyukai tempat biasa, namun ia lebih merasa nyaman di reatoran atau tempat-tempat yang mewah.
Saat ini Satria dan Nindia sudah berada di dalam restoran makanan Jepang. Satria sangat menyukai makanan Jepang, berbeda dengan Nindia yang lebih menyukai makanan Indonesia. Satria memanggil pelayan.
"Mbak saya mau Spicy Chiken Roll, Katsu Dray Ramen, sama ocha. Kamu pesan apa yang?"
"ehm.." Nindia masih membolak balikkan buku menu. "Saya mau California Temaki 1, Sweet Namazu Katsu Roll 3, bungkus ya. Minumnya Ocha 1, 5 bungkus."
"Saya ulangi ya, Spicy Chiken Roll 1, Katsu Dray Ramen 1, California Temaki 1, Sweet Namazu Katau Roll 3 dibungkus, 2 Ocha 5 dibungkus. Itu saja?" tanya pelayan memastikan.
"Iya mbak itu saja, terimakasih" pelayan tersebut pergi setelah menganggukkan kepalanya.
"Kok banyak banget?" tanya Satria yang heran dengan pesanan Nindia.
"Iya, buat orang rumah sekalian," Nindia tidak sepenuhnya berbohong. Maksudnya adalah orang rumah yang menunggu Reyhan di rumah sakit.
Perlu diingat, Nindia dan Satria akan membayar makanannya sendiri-sendiri. Itu kemauan Nindia, namun sebenarnya Satria tidak suka dengan keputusan Nindia. Satria merasa bertanggung jawab karena dia yang mengajak Nindia keluar jalan-jalan.
Baru sebentar dirinya menikmati makanan, Nindia sudah mendapatkan panggilan dari seseorang
Nindia : Halo
..........
Nindia : Lagi makan.
..........
Nindia : (wjah panik) Ya, Anin pulang sekarang.
Setelah mendapatkan panggilan tersebut, Nindia langsung menunjukkan raut wajah khawatirnya.
"Sat, aku pulang dulu ya." pamit Nindia,
"Tap..."
__ADS_1
"Da...." Nindia melesat meninggalkan Satria. Sedangkan yang ditinggal hanya menundukkan kepalanya dan terdengar beberapa kali menghembuskan nafasnya.