HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 18 Tanpa Kabar


__ADS_3

HAI CHINGU.....😃😃😃😃


SELAMAT MEMBACA


🌹


🌹


Reyhan sangat disibukkan dengan pekerjaannya di RC GRUP, LTD. anak perusahaan dari Aristarco Corp. Ada permasalahan dalam pembangunan Hotel yang ada di Bali. Permasalahan izin dari daerah yang menjadi persoalan.


Pagi ini Reyhan langsung melakukan penerbangan ke Bali untuk meninjau langsung permasalahan yang terjadi. Ia meninggalkan rumah saat semuanya masih lelap dalam tidurnya. Reyhan ingin menyelesaikan masalah perizinan hari ini juga.


Reyhan telah mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai setelah melakukan penerbangan selama dua jam. Ilham sang asisten sudah chek in dua kamar di Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud, Bali selama urusan penyelesaian izin di Bali.


"Ham, sekarang lo siap-siap. Kita akan pergi dua jam lagi. Gue mau hari ini juga permasalahan ini selesai."


"Siap Bos,"


Ilham Muhammad atau yang kerap disapa Ilham merupakan kaki tangan kepercayaan Reyhan untuk mengelola perusahannya. Ilham menduduki posisi sebagai wakil CEO. Pemegang keputusan kedua saat Reyhan tidak berada di perusahaan. Meskipun begitu, ia tetap akan melakukan diskusi dengan Reyhan terlebih dahulu sebagai pemilik perusahaan.


Selain kaki tangan, Ilham juga sahabat Reyhan sejak SMA. Meskipun mereka terpisah saat Reyhan kuliah S2 di luar negeri, tapi komunikasi diantara mereka tidak pernah putus.


Bridges Bali Restaurant Ubud tempat dilakukan pertemuan untuk mendiskusikan permasalahan yang terjadi. Namun, diluar dugaan. Diskusi berjalan dengan alot. Penawaran dari masing-masing pihak masih menjadi perdebatan.


"Karena saya sudah mulai merasa ada emosi, lebih baik kita akhiri disini Pak Reyhan. Besok kita lanjutkan lagi." kata pak Burhan sang pemilik tanah.


"Benar kata Pak Burhan. Lebih baik Nak Rey kembali ke hotel dan istirahat. Lagi pula ini sudah pukul 11 malam Nak. Besok kita lanjutkan diskusi ini." sambung Pak Edo, perwakilan pemerintahan Bali.


Reyhan melonggarkan dasinya. "Baiklah kalau begitu. Kita akan melanjutkannya besok. Selamat malam," Reyhan langsung meninggalkan restoran setelah berpamitan.


Ilham mengikuti Reyhan dari belakang. Ia yakin Reyhan sangat pusing saat ini. Targetnya adalah hari ini, tapi mundur sampai besok.


"Sial," umpat Reyhan sambil memukul kaca mobil disebelahnya.


"Sabar bro. Palingan besok juga deal. Pak Edo dan Pak Burhan hanya belum menyetujui satu point yang kita ajukan. Memang poin terakhir yang kita ajukan." Ilham mencoba menenangkan Reyhan.


Ilham akhirnya mengemudikan mobil menuju hotel yang mereka tempati.


Setelah sampai di kamar hotel, Reyhan langsung membantingkan tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya sangat berat seperti ada beban berton-ton yang sedang ia tanggung.


"Sial, gue pingen cepat pulang" umpat Reyhan saat bayangan Nindia melintas tanpa persetujuan.


____________________

__ADS_1


Sementara itu Di Surabaya, Nindia sudah seperti orang gila. Bagaimana tidak, sudah dua hari ini Reyhan tidak menghubunginya dan tidak memberikan kabar sama sekali. Bahkan Reyhan ada dima sekarang, dirinya tidak tahu.


"Rey, apa sebegitu bencinya lo sama gue sampai-sampai lo pergi ninggalin gue." tangis Nindia pecah. Audah dua hari ini dirinya tidak masuk kampus. Fikirannya masih terpaku pada kepergian Reyhan. Bahkan tubuhnya semakin kurus.


Seperti saat ini. Dirinya berusaha menghubingi Reyhan, namun hasilnya tetap sama. Ponsel Reyhan tidak aktif. dua kali, tiga kali, lima kali, 7 kali, sampai sepuluh kali panggilan tetap tidak ada jawaban.


Nindia semakin terisak. Ia takut Reyhan akan meninggalkannya sendiri. Ia sangat tidak ingin kehilangan Reyhan. Ia nyaman saat berada di siai Reyhan sekalipun tidak mendapatkan perhatian semenjak kesalahannya.


Tiga hari berlalu bigutu saja. Masih belum ada kabar dari Reyhan. Nindia juga tidak mau menanyakan hal tersebut kepada Reno, Maya, maupun Handoko dan Helena. Ia tidak mau orang tunanya sedih apabila mengetahui ada masalah dalam rumah tangganya, padahal baru dua bulan dirinya menikah.


Hari ini Nindia memilih berangkat ke kampus meskipun fokusnya masih berada di Reyhan. Ia tetap harus masuk agar dirinya wisuda tepat waktu.


"Non, sarapan dulu! Bibi lihat dari dua hari kemarin Non makannya tidak teratur," kata Bi Minah yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Anin belum lapar l. Berangkat dulu ya Bi," Nundia mencum tangan Bi Minah. Meskipun Bi Minah asisten rumah tangga, tapi Nindia sangat menghormatinya. Bahkan kedua orang tuanya sangat menghormati Bi Minah dan sudah mengganggap Bi Minah sebagai bagian dalam keluarga.


Nindia masuk ke dalam. mobil dan lansung melajukannya menuju Kampus. Setelah dua puluh menit perjalanan, Nindia sampai di kampus dan langsung disambut oleh Satria yang menunggunya. Satria duduk di cap mobilnya dan salah satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Pagi Nin," sapa Satria saat melihat Nindia sudah keluar dari mobilnya.


Nindia hanya senyum untuk menjawab sapaan Satria. Jujur saja, saat ini dirinya mulai ingin menjauhi Satria. Ia tidak mau Reyhan salah paham dan rumah tangganya yang seumur jagung hancur.


Sikap Nindia berhasil membuat Satria sangat tidak nyaman. Satria sangat tidak menyukai sikap cuek Nindia. Bahkan Satria merasa Nindia mulai menghindarinya sejak lima hari yang lalu. Banyak dari pesan yang tidak di balas. Ponsel Nindia selalu dalam mode sibuk. Bagaimana tidak, Nindia hampir tiap jam, tidak-tidak bahkan bisa dibilang hampir tiap menit menelepon Reyhan.


"Ada apa sat? Gue ada kelas pagi," Nindia menarik tangannya.


"Kamu kenapa?"


"Gue? gue gak kenapa-kenapa kok."


"Kenapa kamu beda? Aku merasa kamu ngejauh dari aku,"


"Lo aja kali yang ngerasa. Udah ya gue mau masuk. Keburu ada dosennya," Nindia pergi menibggalkan Satria yang membeku. Nindia mulai lelah dengan kehidupannya. Rumah tangganya terancam karena kebodohannya.


____________________


"Ya elah... Kenapa ni bocah? Pagi-pagi udah ngelamun aja," cibir Gita.


"Sumpek gue. Banyak pikiran yang kalian gak akan bisa hadapinnya"


"Cerita dong.. Gue tau kalau lo sama Bella ada rahasia. Lo udah enggak anggap kita sebagai sahabat lo lagi?" sindir Gita.


"....."

__ADS_1


"Bell,," panggil Tia.


"Gue enggak ada hak buat cerita. Mendingan kalian tunggu ni bocah sadar dulu baru kalian cerca dengan pertanyaan kalian."


"Tunggu ya! Gue lagi banyak masalah. Kalau masalah gue udah selesai pasti gue cerita sama lo. Apapun yang kalian ingin tahu,"


"Janji?"


Nindia hanga menganggukkan kepalanya. Jujur saja ia sangat ingin berbagi cerita dengan sahabatnya agar beban yang ia bawa tidak terasa berat. Namun, Nindia belum bisa menceritakannya.


____________________


Reyhan masih berkutat dengan permasalahan izin. Ia merasa frustasi karena tidak segera menemukan kaya sepakat.


"Ham, gue mau hari ini selesai. Ini udah tiga hari kita di Bali. Gue mau pulang besok,"


"Gue usahakan hari ini selesai. Gue juga mau pulang, kangen gue sama Linda pacar gue"


"Kampret lo. Gur puyeng, lo malah asik-asikan mikirin pacar lo." sindir Reyhan.


Pukul delapan waktu Bali, Reyhan dan Ilham kembali bertemu dengan Pak Edo dan Pak Burhan. Mereka mulai merevisi dan menelaah point yang mereka ajukan. Masih ada tari menarik diantara mereka, sampai dua jam pertemuan akhirnya menemui titik terang. Pak Burhan dan Pak Edo menyetujui point yang diajukan Reyhan. Mereka berjabat tangan sebagai tanda dimulainya kerjasama.


"Terimakasih Pak Edo dan Pak Burhan. Saya harap kita dapat bekerja sama dengan baik,"


"Terimakasih juga Nak Reyhan. Bapak percaya pada kalian. Semoga berhasil," Pak Burhan mengulurkan tangannya.


Reyhan dengan senyuman menyambut uluran tangan pak Burhan. "Terimakasih dan selamat malam,"


Pak Beno dan Pak Burhan meninggalkan Reyhan dan Ilham di restoran.


Reyhan meneguk minumannya, "Akhirnya gue bisa tidur dengan nyenyak,"


"Gila dua jam bro baru sepakat," Ilham merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat ketegangan selama dua jam.


"Ham, lo pesen tiket sejarang juga!"


Ilham melotot mendengar perintah Reyhan. Memang bos sekaligus sahabatnya itu sangat keras kepala, "Gila li. Gue capek bro. Istirahat dulu ngapa?"


"Kalau lo mau disini juga gak masalah buat gue. Gue juga bisa pindahkan permanan diaini," ancam Reyhan.


"Iya.. Iya gue booking tiketnya sekarang," Ilham mulai mengoperasikan benda pintar tersebut. "Adanya jam dua pagi. Gimana? Kita juga bisa istirahat sebentar" Ilham menunjukkan layar ponselnya.


Reyhan mendesah karena melihat jadwal penerbangan yang tersisa. Ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Nindia. Jujur saja ia sudah melupakan adegan pelukan Nindia. Ia hanya kecewa saja. Disini posiainya sebagai suami, bagaimana ia tidak kecewa saat melihat istrinya berpelukan dengan laki-laki lain?

__ADS_1


"Oke."


__ADS_2