
HAI CHINGU.....😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Matahari masih terlelap dalam tidurnya. Menemani sepasang anak manusia yang terlelap dalam tidur dan mimpi indah masing-masing. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi, waktunya untuk melaksanakan ibadah pagi.
Nindia yang bangun terlebih dahulu hendak menuju kamar mandi, namun ia merasakan tangan besar memeluk pinggangnya posesif. Seakan tidak mau kehilangan walau hanya sebentar. Ia berusaha menggeser pelan tangan tersebut agar tidak mengganggu tidur sang empunya.
Setelah keluar dari kamar mandi dan memakai mukena, Nindia lantas membangunkan sang suami agar bisa menjalankan ibadah sempurna.
"Rey," Nindia menggoyangkan badan Reyhan.
"Reyhan..."
Reyhan menggeliatkan tubuhnya saat merasakan seseorang mengganggu tidurnya.
"Apa?" tanya Reyhan dengan suara serak khas orang bangun tidur, namun masih dengan mata terpejam.
"Rey, sholat dulu yuk. Sudah pukul setengah lima," Nindia beralih mengelus rambut sang suami.
Reyhan membuka matanya menyesuakian dengan sinar lampu yang menyala dengan terang. Saat melihat istrinya sudah mengenakan mukena, membuat Reyhan terduduk untuk membuat matanya terbuka sepenuhnya.
"Tunggu bentar," Reyhan beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Lima menit menunggu akhirnya Reyhan keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju nakas untuk mengambil sarung kemudian mengenakannya.
Reyhan berdiri sebagai imam di depan, sedangkan Nindia dibelakang menjadi makmum.
"AllahuAkbar," kata Reyhan yang menandakan shalat mulai dilaksanakan.
Reyhan termasuk orang yang khusyuk dalam beribadah. Alunan surat pendek begitu merdu terdengar. Menenangkan hati siapa saja yang mendengarkan. Setelah selesai, Nindia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Reyhan. Di dasar hati yang paling dalam, sesungguhnya dia masih sangat kecewa, namun ia sadar ia juga imam dalam rumah tangga ini jadi wajar kalau Nindia menjabat tangannya. Setelah berhasil menekan egonya, Reyhan menyambut tangan Nindia yang kemudian membawa tangannya untuk dicium sebagai bukti bakti istri kepada suaminya.
Nindia bangkit dan langsung meninggalkan kamar untuk menyiapkan sarapan. Sementara itu Reyhan melanjutkan dengan membaca kitab suci. Sesibuknya Reyhan, dia berusaha sebisa mungkin untuk membaca kitab Suci Al-Quran.
Di dapur sudah ada beberapa bahan makanan yang siap untuk di masak. Nindia terlihat sibuk memotong sayuran dan membersihkan ayam untuk dibuat menjadi sup ayam. Ada tempe yang sudah dipotong siap untuk di goreng. Tak hanya itu, Nindia juga menyiapkan makanan kesukaan suaminya omlete.
Semua menu sudah masak dan siap dihidangkan di meja makan. Nindia menyusun dengan rapi letak makanan, alat makan, dan minum. Setelah semuanya siap, ia kembali ke kamar untuk mandi dan memberitahu Reyhan.
Saat samapi di kamar, Ia melihat Reyhan sibuk dengan pipih pintar ditangannya. Nindia lebih dulu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu baru dirinya memberitaju Reyhan.
Nindia sudah berganti pakaian, dilihatnya Reyhan sudah tidak ada di dalam kamar. Setelah selesai dengan keperluannya, Nindia turun ke bawah untuk mencari Reyhan. Kekcewaan terlihat jelas di wajah Nindia. Makanan yang ia siapkan tidak ada satupun yang disentuh oleh Reyhan.
__ADS_1
"Lo masih marah Rey?" tanya Nindia pada dirinya sendiri.
Nindia melangkah ke meja makan dengan langkah lunglai. Ia hanya mengambil dua lembar roti dengan selai kacang dan segelas susu hangat.
____________________
Keadaan kelas sudah lumayan ramai. Untuk kelas Nindia, hanya dua mata kuliah.
"Bel, kemarin lo beneran pergi sama Nindia?" tanya Gita.
"Beneran. Gue beli sepatu buat abang gue. Oh ya, btw tu anak kemana?" tanya Bella sambil melihat pintu.
"Mana gue ta.."
"Assalamualaikum, selamat pagi" sapa Reyhan. Ya.. hari ini Reyhan ada jadwal mengajar pagi hari.
"Waalaikumsalam."
"Pagi Pak."
Reyhan mengabsen satu persatu mahasiswanya. Pandangannya tertuju pada bangku kosong di sebelah Bella, tempat biasa Nindia duduk. Hari ini ia memang berangkat pagi untuk menghindari Nindia. Jujur saja ia sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Nindia.
"Baik, kita mulai pelajarannya,"
Dua puluh menit pelajaran sudah dimulai, namun belum ada tanda-tanda Nindia akan datang.
Bella menghembuskan nafas. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu akar permasalahan yang sedang terjadi. Dilihatnya arloji yang terus bergerak. Semakin lama waktu sudah menunjukkan batas toleransi keterlambatan saat mata kuliah ini.
ttok ttok
"Permisi Prof," Nindia datang dengan nafas tersengal-sengal.
Reyhan menoleh menuju sumber suara. Didapatinya mahasiswa sekaligus istrinya datang dengan keringat yang mengucur. Diamatinya dari atas sampai bawah.
Reyhan melihat arlojinya. "Kamu terlambat 10 menit dari batas toleransi keterlambatan pada mata kuliah saya."
"Maaf pak hah hah. Tadi mobil saya mogok dan sa.." jelas Nindia namun terpotong oleh ucapan Reyhan.
"Saya tidak peduli dan tidak mau tahu alasan kamu. Silakan berdiri di depan! itu konsekuensi dari keterlambatan kamu"
"Ta.."
"Berdiri atau tidak saya luluskan di mata kuliah saya?" ancam Reyhan. Mau tidak mau Nindia harus menerima konsekuensi. Ini lebih memalukan daripada konsekuensi yang diberikan Bu Rani saat tidak mengikuti kelasnya.
"Kita lanjutkan pelajaran yang terhenti karena pengganggu,"
__ADS_1
Deg
Entah mengapa Nindia seperti tersindir dengan perkataan Reyahan. Pernyataan tersebut bukanlah sindiran untuk siapapun.
Nindia memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan Reyhan saat mengajar. Terlihat tampan dan berkarisma. Bahkan dia baru menyadari betapa kerennya sang suami. Tanpa sadar, sudut bibir Nindia terangkat dan menunjukkan senyum manis, meskipun sangat sulit terlihat karena sangat tipis.
Kakinya mulai terasa pegal. Digerakkannya ke kiri ke kanan, sesekali mengangkatnya. Hal tersebut tak luput dari perhatian Reyhan.
"Kamu sudah bisa duduk! Setelah mata kuliah ini selesai, kamu ikut ke ruangan saya!" kata Reyhan.
____________________
Seperti yang diperintahkan Reyhan, Nindia sekarang berada di depan pintu ruangan Reyhan. Ada setitik keraguan saat hendak memasuki ruangan Reyhan karena masalahnya belum terselesaikan.
"Permisi Prof." Nindia masuk ke ruangan Reyhan.
"Silakan duduk," kata Reyhan tanpa menatap Nindia. "Jelaskan alasan keterlambatan kamu.
"Maaf, tadi saya sudah berangkat dari rumah tepat waktu. Tapi saat baru setengah jalan, mobil saya mogok." jelas Nindia.
"Alasan yang tidak masuk akal!" sarkas Reyhan. "Kamu fikir ini zaman batu? Teknologi sudah canggih. Kamu bisa meminta bantuan dengan menghubungi pacar kamu atau orang bengkel. Ponsel kamu kemana?" tanya Reyhan penuh intimidasi.
Deg
"Ma.. Maaf sebelumnya, saya tidak berfikir kesitu karena kepanikan saya," Nindia menundukkan. kepalanya karena merasa tersindir dengan perkataan Reyhan.
"Cihh" Reyhan berdecih mendengar alasan Nindia.
Nindia memejamkan mata karena kata-kata sarkas yang dikeluarkan Reyhan.
"Rey, lo masih marah sama gue?" tanya Nindia spontan dengan bahasa informal. Ia merasa sakit karena terus-terusan mendapatkan sindiran dari Reyhan. "Gue bisa jelasin semuanya. Apa yang lo mau tahu?"
"Apa saya kenal dengan kamu sehingga kamu bisa menggunakan bahasa informal kepada saya?
Deg
Detak jantung Nindia serasa terhenti saat mendengarkan perkataan Reyhan. Untuk kesekian kalinya Reyhan melukai persasaannya.
"Reyhan," panggil Nindia dengan nada meninggi.
"Jaga bicara kamu! Gunakan bahasa formal! Kalau kamu lupa ini masih di kampus. Dan di sini saya DOSEN kamu." bentak Reyhan. "Kalau sudah selesai dengan penjelasan kamu, kamu sudah bisa pergi."
"Rey, gue mohon dengerin penjelasan gue dulu," mohon Nindia sambil memegang tangan kiri Reyhan.
Reyhan menarik tanganya dengan kasar hingga terlepas. "Jaga tindakan kamu! Saya tidak mau dengar lagi apa yang kamu katan. Keluar dari ruangan saya!"
__ADS_1
Nindia yang masih terkejut dengan sikap Reyhan hanya bisa diam membeku.
"KELUAR"