
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Matahari yang telah bersinar terang tak mampu mengusik tidur nyenyak Nindia. Memang semalam Nindia sempat mengeluh perutnya terasa kencang dan langsung membuat Reyhan panik. Setelah diperiksa oleh dokter kandungan, Nindia hanya terlalu lelah dan setres. Dokter hanya memberikan vitamin penguat kandungan.
"Kamu jangan nakal sayang, kasihan Mama kalau kamu geraknya kekencangan," ucap Reyhan seraya mengelus perut Nindia
"Eunghhh,,," lenguh Nindia karena tidurnya merasa terganggu.
"Mas,,," panggil Nindia dengan sura serak dan mata masih mengerjap.
Reyhan mencondongkan badannya untuk memberikan kecupan pada kening Nindia.
"Moorning Sayang," sapa Reyhan sambil mengelus rambut Nindia.
Nindia mengambil tangan Reyhan yang ada disisi badan kemudian mengecupnya, "Moorning too."
"Perutnya udah mendingan?" tanya Reyhan sambil mengelus perut Nindia.
Nindia mengangguk, "Udah mendingan. Mas enggak ngantor?"
"Enggak. Nanti cuma makan siang sama klien. Aku udah wakilkan ke Yudha. Aku mau sama kamu," jawab Reyhan sambil menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Nindia.
Reyhan memang sangat suka melihat dan menikmati wajah polos Nindia setelah bangun tidur. Meskipun tanpa make up, tapi tetap memancarkan kecantikan alami.
"O.." ucap Nindia sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
cuupp
cuupp
cuupp
Reyhan menghujani wajah Nindia dengan kecupan-kecupan kecil. Apalagi melihat Nindia membuka mulutnya semakin membuat Reyhan gemas.
"Ihh udah.. Geli tahu," protes Nindia sambil mendorong kepala Reyhan menjauh dari wajahnya.
"Kamu tambah gemesin. Apalagi pipi chubby kamu," ucap Reyhan seraya menguyel-uyel pipi chubby Nindia.
Nindia semakin mengerucutkan bibirnya setelah tangan Reyhan pergi dari pipi chubby nya.
"Uluh ulu... Bayi gedhenya ngambek," goda Reyhan.
"Stop Rey," ucap Nindia seraya menatap tajam.
"Iya sayang iya...Maaf, udah ya ngambeknya," bujuk Reyhan.
"Okay, bakal aku maafiin kalau kamu beliin aku es krim chocolate,"
"Oh.. No No," ucap Reyhan seraya menggerakkan jari telunjuknya.
Nindia menampilkan ekspresi andalannya, "Please, satu aja."
"Enggak sayang, perut kamu habis kram kemarin,"
"Satu.."
"Enggak,"
"Ya,"
"Enggak," jawab Reyhan tegas.
hikss... hikss
Isakan Nindia akhirnya terdengar. Nindia tahu betul kalau Reyhan lemah akan air matanya.
Reyhan meraup wajahnya kasar kemudian mendekati Nindia untuk menghapus air matanya.
"Okay, aku kalah," ucap Reyhan sambil mengangkat kedua tangannya. "Just one, deal,"
Nindia menyambut tangan Reyhan, "Deal."
cupp
"Makasih Suamiku. Tapi aku ikut" rengek Nindia setelah berganti pakaian.
"Yakin enggak capek?"
"Kan kamu bisa gendong kalau aku capek," jawab Nindia sambil memoleskan bedak tipis.
Reyhan menunjukkan seringai jahil, "Oh No, aku enggak bakalan sanggup gendong kamu. Sekarang kamu sedikut berisi,"
Nindia langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Reyhan tajam. Ia sangat tersunggung bila ada yang menyinggung berat badan.
"Oh... Maksud kamu aku gendut, gitu?"
Reyhan mengendikkan bahunya, "Menurut kamu?" tanya Reyhan sambil mengambil kunci mobil dan dompet.
Nindia menghentakkan kakinya, "Ihh... Aku enggak gendut tahu..."
"Masa?"
"Aku nggak gendut, hiks.." jawab Nindia yang sudah menangis.
Reyhan terkekeh melihat Nindia kembali menangis. Ia memang senang menggoda Nindia sampai menangis. Meskipun memdapatkan teguran dari ibu dan mertuanya, Reyhan tetap melakukannya. Tapi jangan salah, setelah membuat Nindia menangis Reyhan selalu berhasil membuat Nindia kembali tersenyum.
"Cup cup cup... Udah mau jadi Ibu kok masih cengeng.." ucap Reyhan seraya menghapus air mata Nindia.
"Habisnya hiks kamu suka bilang aku gendut hiks. Kamu juga hiks suka buat aku nangis," ucap Nindia disela isakannya.
"Maafin aku ya..." bujuk Reyhan sambil memeluk Nindia.
"Jadi aku enggak dimaafin nih? Beneran?" tetap tak ada jawaban dari Nindia, "Ya udah kalau gitu, enggak jadi beli es krim," ucap Reyhan seraya melepas pelukannya.
Baru satu langkah, Reyhan merasakan cekalan pada tangan kirinya.
"Jadi," jawab Nindia jutek.
Reyhan tersenyum kemudian berbalik, "Senyum dong kalau gitu!"
Nindia memaksakan senyumnya kemudian menghentakkan kaki sebelum keluar kamar.
"Buruan! Aku tunggu di luar," teriak Nindia.
____________________
Reyhan masih terus mengikuti kemanapun Nindia melangkah. Setelah sampai di supermarket, Nindia tak hanya mau membeli es krim tapi sekaligus membeli kebutuhan rumah tangga.
"Kamu mau beli apa lagi?" tanya Reyhan saat melihat troly sudah penuh.
"Bentar Mas, aku mau cari ikan. Katanya ikan bagus buat ibu hamil." jawab Nindia seraya berjalan menuju tempat ikan.
"Prof. Reyhan?" tanya seseorang dari belakang.
Reyhan dan Nindia langsung balik badan setelah namanya dipanggil. Betapa terkejutnya Nindia saat mengetahui siapa yang memanggil suaminya.
"Ngapain lo kesini?" tanya orang itu dengan sinis.
"Gu.. Gue lagi belanja," jawab Nindia dengan gugup.
Orang itu menatap dari atas hingga bawah dan berhenti tepat diperut buncit milik Nindia. Ia langsung memandang jijik Nindia.
"Oh... Ternyata lo cuti kampus gara-gara hamil," ucapnya sinis.
Nindia tak mampu lagi menjawab perkataan orang itu. Ia hanya bisa menunduk sambil menggenggam erat ujung bajunya.
"Anak haram. Hamil anaknya siapa lo? Om-om?" tanya orang itu meremehkan.
__ADS_1
"Jaga mulut lo Luvita," ucap Nindia seraya menunjuk Luvita.
Ya... Orang itu adalah Luvita. Mahasiswa yang mengejar-ngejar Prof Reyhan, bahkan berani menawarkan diri.
"Gue enggak serendah apa yang lo bilang. Jadi jangan bicara sembarangan," tegur Nindia.
"Santai aja kali, enggak usah malu sama pekerjaan lo. Emang tarif lo berapa sih per malam? Btw, om gue masih ada yang belum menikah lho, mau gue kenalin?"
"Cukup!" ucap Reyhan penuh penekanan.
Reyhan sudah tak bisa lagi menahan diri. Mahasiswa yang satu ini memang perlu diberikan pelajaran. Sanksi saja tidak cukup untuk menghentikan mulut jahatnya.
"Maaf Prof, saya rasa Prof harus menindak Nindia. Dia sudah mencemarkan nama baik kampus. Bahkan kelakuannya lebih buruk dari saya. Sangat tidak adil bila saya terkena sanksi atas tindakan saya yang masih bisa dikatakan wajar, sedangkan dia tidak." ucap Luvita panjang lebar seraya menatap sinis Nindia.
"Jaga mulut kamu!" titah Reyhan.
"Tidak bisa gitu dong Prof, saya juga berhak menuntut keadilan. Prof seharusnya bisa adil sebagai dosen di kampus. Bukannya malah gini, Prof terkesan berat sebelah." ucap Luvita tak terima.
Pertengkaran mereka berhasil menyedot perhatian pengunjung supermarket. Bahkan sudah banyak ibu-ibu yang berbisik-bisik dan menghujat Nindia. Luvita yang mendengar itu pun tersenyum penuh kemenang. Ia puas sudah mempermalukan Nindia di depan umum, apalagi di depan Prof Reyhan dosen yang Ia kagumi.
"Sudah?" tanya Reyhan dingin. "Ngomongnya sudah atau masih ada lagi?"
"Sudah Prof," Luvita tersenyum manis karena merasa Reyhan akan membelanya.
"Kalau begitu ganti saya yang bicara. Atas dasar apa kamu mengatakan kalau anak di dalam kandungan Nindia adalah anak haram. Tau dari mana kamu?" tanya Reyhan.
"Kemarin saya lihat Nindia makan di mall berdua sama laki-laki. Saya yang curiga langsung berinisiatif mengikuti. Secarakan kan saya tidak mau nama kampus jelek gara-gara Nindia. Setelah saya ikuti Nindia selalu masuk ke salah satu brand ternama dan minta dibelikan ini itu sama om-om. Tapi anehnya waktu pulang Nindia dijemput sama om-om seumuran sama Papa saya dan itu berbeda dengan yang membelikan brang branded Nindia. Nah, dari kejadian itu saya mulai curiga kalau dia menjual diri dan bisa dipastikan kalau anak itu hasil perbuatan Nindia menjual diri." jelas Luvita dengan cerita hasil karangannya.
Reyhan memijat pangkal hidungnya melihat mahasiswanya yang satu ini. Bukannya menghentikan kegilannya, justru menambah bumbu pedas dengan mengarang cerita yang tentunya salah.
"Gimana caranya Nindia pergi kalau kemarin saja dia di rumah dengan saya dan sedang melaksanakan acara tujuh bulanan?" tanya Reyhan sambil berkacak pinggang dengan satu tangan, sesangkan tangan lainnya dibuat memijat pangkal hidungnya.
Luvita yang mendengar perkataan Reyhan tidak langsung meresponnya. Otaknya masih berusaha memproses.
"Kalian?" tanya Luvita tak percaya seraya menggelangkan kepala. "Enggak mungkin," Luvita tertawa.
"Iya. Saya suaminya dan anak yang ada di kandungan Nindia adalah anak saya, darah daging saya. Jadi, Nindia tidak pernah melakukan apa yang kamu katakan. Jadi stop karangan cerita kamu yang tidak bermutu." ucap Reyhan.
Orang-orang yang awalnya mencaci Nindia justru berbalik mencaci Luvita.
"Prof pasti bohong. Semua itu hanya Prof gunakan untuk melindungi Nindia," sangkal Luvita sambil tersenyum.
"Kamu masih tidak percaya?" tanya Reyhan seraya mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Reyhan menunjukkan foto prosesi ijab qobul dan resepsi pernikahannya. Luvita yang melihatnya hanya diam memaku. Ia masih sulit menerima semua bukti yang diberikan Reyhan meskipun sudah sangat jelas.
"Saya yakin foto itu hanya editan yang dibuat Nindia." sangkal Luvita.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas saya sudah memberikan bukti. Kalau kamu kurang percaya, silakan tanyakan kepada Rt rumah saya." jawab Reyhan. "Permisi," ucap Reyhan seraya menarik troly belanjaan dan Nindia.
____________________
Nindia berdiri di balkon sambil melihat ke atas. Betapa indahnya malam ini, tapi entah mengapa keindahan ini dirasa hanya sesaat sebelum badai menerjang.
grepp
"Kamu kenapa?" tanya Reyhan yang sudah memeluk Nindia dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak kiri Nindia.
Nindia mengelus tangan Reyhan yang melingkar di perutnya, "Aku meresa akan ada sesuatu yang terjadi."
"Enggak usah terlalu dipikirkan. Kasihan dedeknya kalau kamunya sedih," ucap Reyhan.
Nindia dan Reyhan merasakan pergerakan dari dalam. Bayi mereka seakan setuju dengan ucapan Papanya.
"Tuh kan, dedeknya aja setuju sama omongan Papanya. Semuanya pasti baik-baik saja, Sayang. Trust me" ucap Reyhan menenangkan sambil memberikan kecupan di puncak kepala Nindia.
"Huhh, entahlah rasanya sangat enggak nyaman," adu Nindia.
"Semuanya baik-baik saja,"
Setelah melakukan percakapan singkat di balkon, mereka menuju dapur untuk makan malam.
Reyhan terlebih dahulu pergi setelah selesai makan. Sedangkan Nindia membantu Bi Minah untuk membersihkan poring bekaa makan. Meskipun sudah dilarang, tapi Nindia tak mau diam saja. Ia merasa sejak hamil besar selalu menjadi beban orang lain. Ingin sesuatu harus diambilkan orang lain, bahkan untuk berjalanpun sudah mulai kesusahan.
"Mas, masih belum selesai?" tanya Nindia hanya menongolkan kepalanya.
"Belum Sayang. Masih ada beberapa yang belum Mas cek. Kamu udah ngantuk? Kalau gitu Mas temenin kamu tidur dulu baru lanjutin pekerjaan," ucap Reyhan yang sudah beranjak dan merapikan dokumem yang berserakan.
"Enggak usah Mas, selesaikan dulu aja. Aku juga belum terlalu ngantuk. Aku cuma mau rebahan di kamar,"
"Ya udah kalau gitu. Mas selesaikan dulu ya."
Nindia mengangguk dan meninggalkan Reyhan dengan tumpukan dokumen penting.
Sesampainya di kamar, Nindia langsung menyender dan memereksa ponselnya. Sejak kejadian tadi pagi, Nindia sama sekali belum membuka ponselnya.
📩 GRUP BGSD (198)
📩 Kelas Oke Ekonomi (789)
"Pada ngomongi apasih kok sampe banyak gini. Kemarin perasan udah gue buka, ya meskipun enggak gue baca juga sih," monolog Nindia saat melihat ratuaan pesan di grup kelas ataupun grupnya bersama sahabat.
📱GRUP BGSD📱
📢Kumpulan Mahasiswa Anti Tugas📢
Nindia
Hello epribadehhh
19.00
📩 Tia Rempong
Gila lo, baru muncul. Kemana aja? Enggak tahu kalau ada berita hot.
19.05
Nindia
Berita apaan coy?
19.05
📩 Gita Melow
Punya Grup itu di baca bukam buat pajangan aja. Scroll up dong, malas amat.
19.07
📩 Ibuk Bella
Belum baca grup angkatan?
19.08
Nindia
Belum. Gue dari pagi belum nyentuh ponsel. Emang ada apa sih? Gje jadi kepo.
19.08
📩 Gita Melow
Lo tadi pagi kemana aja?
19.08
📩 Tia Rempong
Sama siapa?
19.09
__ADS_1
Nindia
Ada apaan sih?
19.09
📩Gita Melow
Jawab aja ogeb,👊
19.09
Nindia
Okay fine. Gue tadi di rumah, terus agaj siangan ke supermarket. Yang jelas sama suami tercinta dong😋
19.10
📩 Tia Rempong
Cihh, gak usah pamer lo. Sekarang buka grup kelas. Baca dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
19.10
Nindia yang sudah ditahap kepo tertinggi langaung membaca grup kelas. Pertama hanya membaca hal-hal kecil. Tapi setelah ada salah satu temannya mengirim foto, suasana menjadi riuh.
"Ayo dong cepetan! Gue udah penasaran," ucap Nindia karena gambar yang diunduhnya hanya loading. "Nah,"
Nindia memperhatikan foto siapa yang dikirim oleh temannya itu. Tapi Nindia langsung mengenali pakaian yang dipakai dua orang di foto tersbut.
"Ini kan foto gue sama Reyhan,"
Nindia kembali menggulir dan menemukan beberapa temannya sedang menebak siapa yang berada di sebelah Prof Reyhan. Ia kembali menemukan link video. Nindia langsung membukanya.
klotakk
Ponsel Nindia sampai terjatuh saat baru saja membuka video tersebut. Sudah bisa dipastikan kalau video tersebut adalah video pertengkaran Nindia dan Luvita saat di supermarket. Nindia langsung menutup mulutnya dan langsung menghentikan video yang masih berputar. Ia kembali meluhat grup kelas. Beberapa temannya terkejut dan bahkan mengumpat karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tak sedikit yang men-tag dirinya.
📱GRUP BGSD📱
📢Kumpulan Mahasiswa Anti Tugas📢
Nindia
Gue harus gimana?
P
P
P
19.30
P
P
P
19.31
📩 Gita Melow
Mau gimana lagi? Semuanya juga udah tahu,
19.31
📩 Ibuk Bella
Enggak apa-apa. Banyak kok yang dukung lo, ya kecuali temennya Luvita.
19.31
📩 Tia Rempong
Gue denger Luvita bilang anak lo ank haram, rasanya mau gue pites aja 😡
19.32
Nindia
Gue takut. Gue gak nyangka kalau yang gue sembunyiin jadi bom waktu
19.33
📩 Ibuk Bella
Mau lo sembunyin sebaik mungkin, pasti akan ada celah untuk mengetahui semuanya. Enggak usah lo pikirin. Pernikahan lo sah dimata agama dan hukum. Gue yakin Prof Reyhan akan memasang badan kalau ada yang nyakitin lo
19.34
📩 Tia Rempong
Gue setuju sama Ibuk,
19.35
📩 Gita Melow
(3)
19.35
Nindia
Love you guys
19.36
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
- My Destiny
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊