
HAI CHINGU.... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Kebahagian yang baru dirasakan seakan lenyap saat kabar buruk menimpa keluarga Reno. Ditengah kebahagiaan Bella dan Ilham, mereka mendapatkan telepon dari pihak berwajib yang mengatakan mobil yang dikendarai Nindia dan Reyhan mengalami kecelakaan atau lebih tepatnya di tabrak oleh mobil lain. Tak ada yang tidak terkejut mendengar berita tersebut, bahkan mereka baru saja berkumpul. Memang Reyhan dan Nindia meminta izin untuk langsung pulang ke Surabaya karena ke esokan paginya Reyhan ada pertemuan penting dengan perwakilan Aditama Corp, perusahan kontruksi yang menangani pembangunan resort yang ada di Lombok.
Kekhawatiran terlihat jelas saat semua menginjakkan kaki di rumah sakit tempat Reyhan dan Nindia mendapatkan perawatan. Membuat orang yang berlalu lalang di rumah sakit menatap bingung.
"Permisi Sus, pasien korban kecelakaan atas nama Reyhan dan Nindia berada di mana?" tanya Reno mewakili semua orang. Maya sudah tidak bisa berkata dalam pelukan Bi Ijah, hanya air mata yang mewakili perasaannya.
Suster langsung bergerak cepat mencari informasi yang diperlukan Reno, "Korban kecelakaan atas nama Ny. Nindia berada di ICU, sedangkan Tn. Reyhan sudah di pindah ke ruang perawatan karena lukanya tidak terlalu parah,"
"Terima kasih, Sus. Ayo Mih," Ilham dengan pelan-pelan menuntun Maya yang masih syok.
Mereka langsung saja masuk ke dalam ruang rawat Reyhan. Di sana terlihat seorang dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Reyhan. Meskipun tidak terlalu parah, tapi kaki kanan Reyhan terpaksa di gips karena terdapat keretakan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Reno dengan pandangan tak lepas dari Reyhan.
Dokter tersenyum untuk menenangkan Reno, "Alhamdulillah, keadaannya tidak terlau parah. Hanya saja kaki kanannya retak, selebihnya aman,"
Reno bisa merasa lega mendengar penjelasan dokter, "Alhamdulillah," Maya mendekat dan mengelus rambut Reyhan dengan air mata yang mengalir.
"Tapi sangat disayangkan, untuk penumpang yang bersama Tn. Reyhan cukup parah. Apa mereka suami istri?" lanjut dokter yang membuat perhatian Reno dan Maya teralihkan.
"Iya, Apa maksud dokter mengatakan keadaan menantu saya disayangkan?"
"Kami mendapati Istri anak bapak dalam posisi terjepit saat kami berusaha mengeluarkannya dari mobil. Ada beberapa bagian tubuh yang mengalami patah tulang sehingga menyebabkan Istri anak bapak dalam kondisi kritis. Benturan di kepala istri anak bapak juga cukup keras. Kami belum bisa memastikan apakah ada luka dalam pada bagian kepala atau tidak. Jika ditemukan luka dalam, maka Ny. Reyhan dalam keadaan yang sangat buruk dan memerlukan penanganan intensif dan bukan tidak mungkin kalian hanya bisa memilih salah satu diantara mereka. Jika tidak ditemukan luka dalam, maka kita bisa mengambil tindakan operasi caesar untuk mengeluarkan cucu bapak, setelah itu kita bisa fokus pada kesembuhan Ny. Reyhan jika tidak ada komplikasi selama proses operasi." jelas dokter yang berhasil membuat semua orang lemas. Bagaimana bisa mereka ditempatkan dalam posisi memilih?
"Apakah tidak ada saran atau cara lain untuk menyelamatkan menantu saya?" tanya Reno yang terlihat putus asa.
"Untuk saat ini, kita hanya bisa memantau perkembangan kondisi Ny. Reyhan," jawab dokter dengan berat hati. Inilah kenyataannya, mungkin akan menyakitkan saat mengetahui tapi jauh lebih menyakitkan kalau berharap pada hal yang tidak pasti.
"Selain anak dan menantu bapak, ada satu lagi korban. Mungkin usianya tidak jauh berbeda dari menantu bapak,"
Reno menggeleng karena merasa tidak kenal dengan orang dibicarakan dokter.
"Baik kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat malam," ucap dokter sebelum berlalu meninggalkan keluarga Reno.
Maya kembali terisak saat mendengar penjelasan dokter. Bahkan disaat anaknya belum sadar, Ia sudah menerima berita tentang kondisi menantu dan calon cucunya berada dalam bahaya. Maya bahkan tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Reyhan saat mengetahui berita ini.
"Ilham, lebih baik kamu antar Bella dan orang ke rumah Bude Lilis. Kamu sebaiknya juga pulang, badan kamu juga butuh istirahat," ucap Reno saat melihat wajah kelelahan Bella dan orang tua Ilham.
"Bella mau disini Pih. Bella mau jagain Nindia," bujuk Bella yang tidak bisa tenang setelah mendengar keadaan Nindia.
Reno menolak gagasan Bella, "Enggak, Sayang. Kamu sudah terlalu lelah karena acara hari ini," ucap Reno sambil mengelus sayang rambut Bella.
Reno melirik Ilham agar membujuk Bella. Ia tak mau membuat orang lain ikut sakit karena kelelahan. Tentu saja dirinya mengizinkan Bella untuk menjaga Nindia, tapi dengan syarat malam ini pulang dan tidak terlalu capek.
"Lebih baik kamu sama Ibu pulang ke rumah Bude Lilis. Benar apa yang dikatakan Papi. Kamu sudah terlalu capek," bujuk Ilham dengan sehalus mungkin. Ia tahu Bella tidak bisa dikerasin, harus cara lembut agar Bella tidak membantah.
"Tap–"
"Bel," panggil Ilham dengan nada rendah.
Bella mengangguk pasrah, sulit sekali rasanya membantah Ilham.
"Iya aku pulang. Tapi aku besok ke sini lagi," Reno dan Ilham mengangguk agar tidak ada lagi berdebatan.
__ADS_1
___________________
Ruang rawat Reyhan ramai dengan keluarga. Namun, yang sakit justru melamun. Memikirkan istrinya yang bertarung dengan maut. Ya, semenjak sadar Reyhan langsung menanyakan keberadaan sang istri yang tak ada di sisinya. Reno dan Maya yang menunggu tak bisa lagi menyembunyikan kondisi Nindia dari Reyhan saat ada suster yang mengatakan bahwa kondisi Nindia kembali menurun setelah malam sebelumnya mengalami kemajuan.
Dokter sudah memberitahu Reyhan bagaimana keadaan Nindia saat ini dan kemungkinan apa saja yang akan terjadi. Bahkan dokter juga sudah mengatakan siap tidak siap kemungkinan mengambil keputusan penting menjadi pilihan terkahir mengingat kondisi Nindia yang kembali memburuk.
"Rey," panggil Maya yang sudah tidak tahan dengan sikap Reyhan yang diam saja meskipun sedang diajak biacara oleh orang lain.
"....."
Maya menolehkan kepala Reyhan agar berhadapan dengannya, "Reyhan, kamu harus kuat sayang. Mereka sangat membutuhkan kamu. Kalau kamu saja lemah begini, bagaimana cara kamu menguatkan Nindia agar bisa bertahan?"
"Apa yang dikatakan Mami bener Rey, kamu nggak boleh lemah sayang. Bunda yakin, Nindia anak yang kuat. Dia hanya membutuhkan kamu untuk menunjukkan jalannya," ucap Helena yang sama sedihnya ketika mendengar anaknya dalam keadaan kritis.
Flashback On
Reyhan berguling ke samping setelah menyelimuti tubuh ***** nya dan Nindia. Reyhan memang tidak memaksa dan menuntut Nindia untuk melaksanakan kewajibannya. Ia sangat mengutamakan kenyamanan Nindia, baik saat kegiatan sehari-hari maupun saat berhubungan badan.
Ditengah rasa lelahnya, Nindia memainkan jari Reyhan yang melingkar di pinggang yang tak seramping dulu. Meskipun begitu, Nindia sangat bersyukur atas perhatian yang Reyhan berikan selama ini. Nindia juga amat sangat kagum terhadap suaminya yang rela menahan hasratnya demi kenyamanan dirinya.
"Mas," panggil Nindia sambil memainkan jari tangan Reyhan.
"Apa?"
Nindia diam sebentar sebelum mengatakan unek-uneknya. "Kalau semisal ada suatu hal yang mengharuskan kamu memilih, aku minta kamu untuk menyelamatkan anak kita."
Tanpa Nindia tahu, rahang Reyhan sudah mengeras. "Kamu ngomong apa sih?" tanya Reyhan yang tak menyukai apa yang dikatakan Nindia.
"Aku serius," ucap Nindia meyakinkan.
"Aku juga serius. Aku enggak suka kamu ngomong gitu. Aku pastikan kamu sama anak kita akan baik-baik aja. Aku janji."
"Enggak ada yang tahu takdir, Mas. Semuanya ditentukan sama yang di Atas. Kita sebagai hamba Tuhan hanya bisa ber-ikhtiar. Kalau aku bisa menemani kamu hingga maut memisahkan kita, aku sangat sangat bersyukur atas kebaikan Tuhan, tapi kalau Tuhan tidak mengizinkan, kita bisa berbuat apa?" Nindia berucap seperti tidak memiliki beban.
Nindia hanya tersenyum, "Aku jauh lebih tersiksa jika kamu pergi karena aku sudah teralalu bergantung padamu,"
Reyhan mendengus kasar, "Kita akhiri obrolan kita sampai di sini. Intinya, kita sama-sama tidak bisa hidup tanpa ada satu sama lain."
"Iya. Gitu aja marah, suami siapa sih? Kok ganteng banget" ucap Nindia sambil mengelus rahang Reyhan. Ia berdoa supaya bisa bersama suaminya hingga maut memisahkan.
"Mulai deh," Nindia terkekeh mendengar ucapan Reyhan. Ia sangat mengetahui bahwa suaminya tidak bisa digoda.
Flashback Off
"Jadi ini maksud kamu malam itu?" lirih Reyhan saat mengingat percakapan terakhir mereka. Tangis Reyhan akhirnya pecah meskipun tak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Permisi,"
Semua orang yang ada di dalam ruangan Reyhan langsung menoleh dan mendapati dokter dan seorang suster dengan mimik khawatir.
"Ada apa dok?"
Dokter menatap semua orang dan menghela nafas, "Maaf, Ny. Nindia kembali kritis. Kita membutuhkan tanda tangan Tn. Reyhan untuk persetujuan."
"Maksud dokter?" sekarang Handoko yang tidak sabaran mendengar kondisi putrinya.
"Kita hanya bisa menyelamatkan salah satunya," jawaban dokter bagai petir disiang bolong. Meskipun mengetahui kondisi Nindia, mereka tidak mengharapkan semua ini akan terjadi. Mereka terlau naif karena berfikiran Nindia akan baik-baik saja.
Reyhan menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan terkepal kuat, "Selamatkan keduanya,"
"Kita tidak punya banyak waktu. Kondisi Ny. Nindia semakin menurun dan menunggu keputusan suaminya. Jika kita terlambat, maka kita akan kehilangan keduanya. Jadi saya mohon tentukan secepatnya,"
__ADS_1
Hancur sudah Reyhan. Ia harus menghilangkan satu malaikatnya untuk menyelamatkan malaikatnya yang lain. Posisi ini sungguh menghancurkan Reyhan, baik secara fisik maupun batin. Ia dipaksa memilih di antara dua orang yang berarti dalam hidupnya.
"Saya akan berikan waktu sepuluh menit. Lebih dari itu, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Permisi,"
Setelah dokter meninggalkan ruangan, semuanya terduduk lemas. Air mata sudah tak bisa di tahan. Perhatian mereka langsung mengarah ke Reyhan yang terlihat sangat hancur. Harusnya ia bahagia karena akan bertemu dengan anaknya. Tapi dilain sisi, Reyhan menderita karena harus berperan sebagai malaikat pencabut nyawa. Jika menentukan hal yang baik, dirinya akan sangat senang melakukannya. Tapi ini? dirinya harus menentukan kehidupan dua oang tersayangnya.
"Rey," panggil Ilham.
"Kenapa? Kenapa semua ini harus menimpa hamba? Apa selama ini hamba kurang bersyukur kepada-Mu? Apa ini hukuman-Mu atas dosa-dosa hamba di masalalu? Kalau iya, hamba sungguh minta pengampunan-Mu. Hamba hanya meminta kebahagian dan keselamatan keluarga hamba, apa salah? Hamba hanya menginginkan anak dan istri hamba selamat," teriak Reyhan sambil memukuli dadanya yang terasa sesak. Ia sudah seperti orang gila. Otaknya tak bisa lagi berfikiran jernih. Maya, Helena, dan Bella hanya bisa menutup mulut mendengar teriakan pilu Reyhan. Mereka sama sekali tidak bisa merasakan apa yang dirasakan Reyhan.
Reyhan menunduk, meratapi nasibnya yang begitu miris. Masa depan berada di tangannya. Hanya ia yang bisa menentukan kebahagian yang akan Ia rasakan. Reyhan tersenyum getir, Ia merasa takdir mempermainkannya dengan memberikan cobaan yang begitu berat.
"Permisi, waktu yang diberikan oleh dokter sudah habis," ucap Suster yang berdiri di ambang pintu. Sebenarnya ia tidak tega mengatakan ini, tapi keputusan Reyhan sudah ditunggu oleh dokter.
"Reyhan enggak bisa Mih," Maya langsung memeluk Reyhan yang rapuh. Maya mengeratkan pelukannya, sesekali mengusap dan mengecup puncak kepala anaknya.
"Mohon maaf, kita tidak bisa membuang waktu."
"Apa yang harus Reyhan lakukan Mih?"
"Semuanya percaya sama kamu. Semua yakin yang kamu pilih adalah yang terbaik,"
Reyhan mengambil nafas dalam-dalam sambil mengepalkan tangannya, "Selamatkan anak saya," ucap Reyhan dengan air mata yang mengalir deras. Seperti permintaan istrinya yang menginginkan keselamatan anak mereka. Biarlah dirinya mati secara perlahan asalkan permintaan Nindia bisa ia kabulkan.
Semua orang memejamkan mata mendengar keputusan Reyhan. Berbeda dengan Helena yang sudah kehilangan kesadaran. Buah hantinya sebentar lagi akan bertemu dengan ayahnya. Haruskah ia bahagia karena al suaminya tidak kesepian lagi? ataukah harus menangisi takdir?
"Aku mengabulkan keinginanmu cintaku, hidupku, separuh jiwaku, istriku. Anindia Putri Aristarco,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
__ADS_1
- My Destiny
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Semua informasi dan gambar berasal dari pinterest dan google, jadi mohon maaf kalau ada kekeliruan. Usahakan memberikan apresiasi kepada author walau hanya satu atau dua kata agar semakin semangat update nya. Terimakasih 😊😊