
Maaf karena slow update. Akhir-akhir ini sibuk banget sama tugas kuliah. Mungkin minggu-minggu yang akan datang jarang update, tapi di usahakan tetap update. Terimakasih atas pengertiannya ๐๐
๐
๐พ
๐
HAI CHINGU..... ๐๐๐๐
SELAMAT MEMBACA
๐น
๐น
Setelah mendengarkan perkataan Tia tadi siang, air mata Nindia tak henti-hentinya menetes meskipun sudah beberapa kali dihapus.
Reyhan sudah pulang lima belas menit yang lalu dan sekarang sedang membersihkan badannya. Tak dapat dipungkiri bahwa Reyhan melihat Nindia yang murung dengan air mata yang terus mengalir. Sebenarnya ia ingin menanyakan, tetapi karena masih kecewa dengan ucapan Nindia kemarin, akhirnya Reyhan mengurungkan niatnya dan lebih memilih mandi terlebih dahulu. Siapa tahu dengan mandi, fikirannya akan menjadi dingin saat menghadapi Nindia.
Nindia melihat Reyhan sudah keluar dari kamar mandi. Ia cepat-cepat menghapus air matanya agar Reyhan tak mengetahuinya, tapi sayangnya Reyhan sudah melihatnya.
"Mau makan?" tanya Nindia.
"Hemm,"
Nindia menghela nafas saat mendengar jawaban Reyhan. Sejak kemarin hanya itu yang keluar dari mulut Reyhan untuk menjawab semua pertanyaannya.
Nindia mulai beranjak menuju dapur. Ia memanasi makanan yang sudah ia masak sebelumnya. Sstelah semuanya siap, Nindia lantas memanggil Reyhan dan mereka makan bersama dalam keheningan.
"Kamu kenapa?" tanya Reyhan setelah selesai makan malam.
Nindia tersenyum tipis mendengar pertanyaan Reyhan. "Gak apa-apa kok. Kamu mau kopi atau teh?" tanya Nindia sambil membawa piring kotor.
"Kopi boleh," Nindia menganggukkan kepalanya dan menuju dapur untuk membuatkan kopi Reyhan.
Reyhan sibuk dengan koran yang dibacanya. Ia sangat serius saat membaca berita. Mulai dari berita saham, pelajaran, ataupun yang lainnya. mungkin hobinya baca ๐ฏ
"Terimakasih," ucap Reyhan saat Nindia meletakkan satu cangkir di depannya.
sruppp.
Reyhan meletakkan kembali cangkir kopi tersebut. Ia mengalihkan pandangannya ke mata sembab Nindia.
"Kamu kenapa?" tanya Reyhan untuk kesekian kalinya.
"Jangn bohong!" tegur Reyhan saat Nindia mau mengeluarkan jawaban yang dapat dipastikan Reyhan mengandung k3bohongan di dalamnya.
Nindia menatap Reyhan dalam-dalam. Ia ragu saat ingin mengeluarkan unek-uneknya.
"Bee, kamu masih marah soal hubungan aku sama Satria di belakang kamu?" tanya Nindia yang berhasil membuat Reyhan mematung. Jujur saja Reyhan belum bisa melupakannya. Belum bisa melupakan pelukan hangat Satria dan Nindia di depan matanya langsung. Bila di depan matanya saja berani begitu, apalagi kalau di belakangnya.
__ADS_1
"Shit! Mikir apa sih gue. Reyhan, lo udah janji sama diri lo sendiri buat lupain masalah itu. Berat, tapi lo harus bisa lakukan." ucap Reyhan dalam hati.
"Jawab aku, Bee." tuntut Nindia. Ia semakin yakin bahwa Reyhan belum bisa melupakannya.
"Enggak," jawab Reyhan dengan mata yang dialihkan ke sembarang arah. Yang terpenting jangan bertatap muka langsung dengan Nindia.
"Jawab dan tatap aku!" ucap Nindia sambil menarik dagu Reyhan sehingga mereka sekarang saling berpandangan.
Reyhan dapat melihat mata Nindia yang penuh harap dan penyesalan yang mendalam. Tapi perasannya juga tidak bisa diabaikan.
"Jawab aku!" ucap Nindia dengan nada pelan. Ia sebisa mungkin untuk menahan air matanya.
"Belum," jawab Reyhan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya menuju televisi yang masih setia dengan dunia mereka masing-masing.
Nindia tersenyum miris mendengar perkataan Reyhan. Ia sudah menduganya sejak lama. Meskipun Reyhan selalu menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan cintanya, Ia tetap menyimpan perasaan kecewa yang teramat dalam.
"Aku tahu," Nindia mengusap air matanya. "Aku udah tahu sejak lama kalau kamu belum bisa melupakannya."
Nindia menarik nafas dalam-dalam, "Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama" Reyhan menatap Nindia penuh tanya.
"Aku tidak akan menuntut kamu untuk lebih dalam pernikahan ini. Pernikahan ini sudah tidak sehat dari awal. Mulai dari perjodohan, perdepatan, hingga yang paling rumit adalah masalah aku saat masih memeliki pacar disaat aku sudah menikah. Aku sadar kalau aku salah telah melakukan hal itu. Tapi percayalah! aku sangat mencintaimu kemarin, hari ini, maupun yang akan datang." ucap Nindia sambil tersenyum dan menatap Reyhan.
"Mungkin pernikahan ini hanya bisa sampai disini,"
"Nin," tegur Reyhan dengan suara sedikit meninggi di iringi tatapan tajam.
Nindia masih mencoba tersenyum, "Aku berharap kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik daripada aku. Aku tidak apa-apa kalau pernikahan ini berakhir di sini. Aku ikhlas kamu ce...."
Nindia hanya bisa menundukkan kepalanya dengan air mata yang semakin deras mengalirnya.
"Kamu bicara apa? Kamu tarik kata-kata-kamu. Saya tidak suka dengan apa yang kamu katakan." tuntut Reyhan yang belum menurunkan nada bicaranya. "Kamu minta saya jawab jujur. Setelah saya jawab gugur, apa yang kamu katakan. Cerai? heh itu tidak akan pernah terjadi selama saya hidup. Kalau kamu ingin cerai,.."
pyarrr,
Reyhan memecahkan cangkir kopi yang ada di depannya dan mengambil serpihan gelas itu dan mengarahkannya pada nadi yang ada di lehernya.
"Kamu ingin cerai kan?" tanya Reyhan menantang.
"Rey,! apa yang kamu lakukan?" pekik Nindia saat melihat kelakuan Reyhan.
"Saya akan mati di hadapanmu sekarang. Jadi kamu akan bebas dari saya, tanpa saya menceraikan kamu terlebih dahulu."
Reyhan mulai menggoreskan pecahan tersebut sehingga sedikit keluar darah dari lehernya.
Sedangkan Nindia yang mulai panik dan histeris, ia langsung menepis tangan Reyhan agar pecahan tersebut jauh dari jangkauan Reyhan.
"Kamu gila?" bentak Nindia.
"Ya, saya gila. Saya akan gila bila saya menceraikan orang yang saya cintai." hawab Reyhan dengan tegas tanpa kebohongan.
Mereka berdua sama-sama terdiam setelah sedikit drama yang mereka perankan.
__ADS_1
Nindia menghela nafas saat dirasa sudah tenang, "Aku minta maaf! Bukan gitu maksud aku"
"Kalau bikan itu maksud kamu, lalu apa?" tanya Reyhan tetap dengan nada sinis.
"Aku cuma merasa bersalah sama kamu. Terlebih lagi setelah mendengar omongan seseorang. Aku cuma ingin kamu bahagia. Bila bahagia kamu bukan sama aku, aku ikl..." jelas Nindia.
Rasa bersalah Nindia mulai membuat otaknya sedikit tak berfungsi.
Reyhan membalikkan posisinya sehingga berhadapan langsung dengan Nindia. Ia memegang bahu Nindia dan mengangkat dagu Nidia supaya berhadapan dengannya.
"Anindia Putri Aristarco. Dengarkan saya baik-baik!" Nindia mendongakkan kepalanya. "Saya cuma belum bisa melupakan untuk saat ini. Bukan berarti Saya tidak akan melupakannya. Aku akan coba. Tapi itu semua butuh proses, Nin. Itu tidak bisa dilupakan seketika. Saya perlu waktu untuk itu. Tolong bantu saya agar kecewa ini menghilang. Saya mohon bantuan kamu."
Nindia kembaoi berkaca-kaca, "Kamu janji?"
"Saya janji akan segera melupakannya, tunggu saya dan bantu saya." ucap Reyhan dengan wajah serius.
"Aku akan bantu,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Likeย ๐ย & Komentarย ๐ฌ
Jadikan Favoritย โค
Bila berkenan silakan beri Tipย โญ
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
__ADS_1
A/nย ย : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih ๐๐