
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Nindia melemparkan tubuhnya di ranjang berukuran king size. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tetapi Reyhan belum juga pulang.
Nindia meraih ponsel yang berada di nakas dekat tempat tidur. Tidak ada pesan ataupun telepon dari Reyhan. Ia mencoba menghubungi Reyhan, tapi sayangnya ponsel Reyhan tidak aktif. Ia mencoba dan mencoba terus, tapi hasilnya tetap sama.
Ia melemparkan ponsel nya karena marah dengan Reyhan.
takk
Nindia terlonjak kaget, "Ya ampun. Ponsel gue. Sayang maafin bunda yang udah melempar kamu. Mana yang sakit?" tanya Nindia pada ponsel yang ia pegang.
Reyhan yang baru sampai dan berdiri di depan pintu kamar hanya bisa melongo melihat kelakuan sang istri. Bagaimana tidak, benda mati di tanya yang parahnya adalah Nindia menganggap ponsel tersebut sebagain anaknya.
"Sayang, kamu ngapin disitu?" tanya Reyhan sambil meletakkan tasnya di sofa yang ada di kamar tidur.
"Sejak kapan kamu disitu?" tanya Nindia ketus.
"Sejak lihat kamu menganggap ponsel itu sebagai anak kamu." jawab Reyhan jujur.
"Dari mana aja kamu?" tanya Nindia yang belum bersahabat dengan Reyhan.
"Dari kantor sayang. Aku kan udah bilang sama kamu," jawab Reyhan yang lagi-lagi jujur.
"Terus kenapa dari tadi aku telpon gak kamu angkat?"
"Jam berapa?" tanya Reyhan dengan halus.
"Dari tadi aku tuh teleponin kamu. Tapi ponsel kamu gak aktif mulu. Kamu kemana? lagi ngapain? sama siapa?" tanya Nindia beruntun. Ia sudah berfikiran tidak-tidak tentang Suaminya.
Reyhan menghembuskan nafas lelah. Ia baru saja selesai meeting debgan klien dari Jepang dan membutuhkan waktu yang lama. Bahkan ia melupakan makan siang karena terlalu fokus dengan permasalahan kali ini. Ia juga memanggil Yuda dan Ilham untuk membantunya.
"Aku dari kantor sayang,"
"Bohong, kamu pasti lagi jalan sama cewek. Iya kan? Makanya kamu lupa sama aku. Ngaku aja deh," tanya Nindia yang berhasil menyentil ego Reyhan.
"Dari kantor, Sayang. Aku lagi meeting sama klien dari Jepang. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya sama Ilham dan Yuda. Mereka ikut meeting sama aku. Capek aku ngoming sama kamu." jawab Reyhan. Setelah itu ia berlalu menuju kamar mandi. Bukan salah Nindia kalau khawatir. Tapi Reyhan sangat kesal mendengar pertanyaan Nindia yang menuduh seakan tidak mempercayainya.
Setelah ditinggal Reyhan, Nindia menghempaskan pantatnya dengan lemas ke tempat tidur. Ia menyadari kesalahannya. Ia tidak sepantasnya meragukan suaminya dan justru kata-katanya terkesan menuduh. Nindia mulai meneteskan air matanya. Akhir-akhir ini Nindia merasa mood nya sedikit berantakan.
Nindia melangkahkan kakinya menuju walk in closet untuk menyiapkan baju ganti Reyhan. Ia kemudian menyimpan baju kotor Reyhan ke kantong pakaian kotor. Air matanya belum juga berhenti.
krekkk
Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Reyhan yang hanya terbalut handuk dari pinggang ke bawah sekaligus memamerkan otot dan perut sixpack nya.
Reyhan hanya melirik Nindia yang sedang menangis. Ia sungguh tidak bisa melihat Nindia menangis. Tapi Reyhan merasa Nindia kali ini keterlaluan. Dengan menuduhnya berarti Nindia tidak mempercayai Reyhan sebagai suaminya.
"Bee," panggil Nindia tapi Reyhan justru mengabaikannya.
"Aku minta maaf, kamu jangan gini dong." ucap Nindia sambil memeluk pinggang Reyhan dari belakang.
"Jangan diemin aku? Aku tahu bahwa aku salah. Tidak seharusnya aku meragukan kamu," ucap Nindia.
__ADS_1
Reyhan menghindar dari Nindia. Ia melepaskan pelukan Nindia dan berjalan menuju tempat tidur. Ia takut akan berbuat kasar bila emosinya terpancing lagi. Ia lebih memilih memejamkan matanya.
____________________
Reyhan bangun terlebih dahulu. Semalaman ia mendengar isak tangis Nindia yang terus menggema. Ia hanya memejamkan matanya dan belum terlelap dalam tidurnya.
Ia hanya memberikan punggungnya. Ia juga merasakan gerakan Nindia yang memeluknya dari belakang. Ia bahkan masih bisa merasakan kaosnya basah akibat air mata Nindia.
"Pagi Sayang," sapa Reyhan kemudian memberikan morning kiss di kening dan bibir Nindia.
Reyhan kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap menuju kampus. Sudah dua hari ia izin untuk menemui klien yang hanya ingin membicarakan masalah kantor dengannya.
Ia berangkat sebelum Nindia bangun. Hari ini jadwalnya full untuk di kampus. Ia mengajar dari pukul 7 hingga pukul 4 sore.
"Bi, siapin sarapan buat Nindia. Jangan lupa bekalnya juga! Saya pergi dulu. Assalamualaikum." ucap Reyhan sesudah sarapan. Ia masih iangat kalau kondisi Nindia belum benar-benar sembuh.
"Baik, Den." jawab Bi Minah.
Bi Minah sebenarnya merasa aneh dengan majikannya. Tapi tak ada hak untuk ikut campur.
Nindia tidak merasakan keberadaan Reyhan saat meraba sebelahnya. Ia langsung membuka matanya. Nindia langsung mencari Reyhan di kamar mandi dan walk in closet, tetapi Reyhan tidak ada. Ia kemudian menuju meja riasnya.
"Ternyata udah berangkat," ucap Nindia saat tidak melihat kunci mobil di tempat biasa.
Tak mau larut dalam kesedihan, Nindia memutuskan untuk membersihkan badannya. Hari ini ia ada jam mulai dari pukul 9 sampai pukul 4 sore.
"Non, sarapannya sudah siap. Tadi Aden pesan supanya Non bawa bekal," ucap Bi Minah saat melihat Nindia menuruni tangga.
"Makasih, Bi." ucap Nindia sambil menggingit roti yang sudah ia olesi selai kacang.
____________________
Ia sudah beberapa kali menghembuskan nafas berat. Sahabatnya pun di buat bingung dengan tingkah Nindia yang hanya mengaduk-aduk jus mangga. Padahal jus mangga adalah minuman favoritnya selama beberapa hari ini.
"Kenapa lo?" tanya Bella.
"Gak di kasih jatah, mungkin." timpal Tia yang langsung mendapatkan jitakan dari Gita.
"Omes, Lu." hujat Gita.
"Kenapa? Lo cerita sama kita." ucap Bella.
"Reyhan ngambek sama gue," jawab Nindia dengan nada lirih.
"Gila! Bisa ngambek juga tuh dosen killer." kata Tia membara. Ia tidak menyangka dosen killernya bisa merajuk juga.
"Gitu-gitu suami gue. Awas aja lo hujat lagi," ancam Nindia yang tak terima suaminya di ejek oleh Tia.
"Cieee... Suami cieee..." goda Gita.
"Cuit... cuitt,"
Nindia menghela nafas melihat tingkah sahabatnya, "Ternyata gue salah cerita sama kalian," ucap Nindia yang kesal dengan tingkah Tia dan Gita.
"Ngambek kenapa sih?" tanya Bella yang selalu menjadi penengah diantara keributan ketiga sahabatnya.
Nindia mulai menceritakan kejadian yang membuat Reyhan merajuk dan mendiamkannya. Ia menceritakan dari awal hingga akhir tak ada yang dilebihkan atau dikurangi.
"Pantes aja suami lo diemin lo." ucap Gita yang mulai terpancing emosi.
__ADS_1
"Gue tau gue salah. Tapi kan gak harus diemin gue juga kan."
"Lo pantas di diemin." sanggah Tia. "Lo udah kelewatan! Bisa-bisanya lo nuduh dia jalan sama cewek lain. Padahal kenyataannya lo yang ada main di belakang dia."
jleeebbb
Tia yang biasanya hanya diam dan tidak bisa serius menanggapi masalah justru memberikan kritik pedas terhadap dirinya. Ia tak menyangka Tia yang selalu mengacuhkan segalanya bisa mengeluarkan kata yang membuatnya skakmat.
Bukan hanya Nindia yang terkejut. Gita dan Bella pun tak menyangka Tia akan mengeluarkan kata yang begitu pedas dan menusuk.
"Masih untung dia gak ceraiin lo dan masih mau nerima lo. Kalau gue jadi dia. Gue tanpa pikir panjang akan menalak lo saat itu juga. Saat lo ketahuan ada main dibelakangnya," sarkar Tia.
"Tia," teriak Gita. Sedangkan Nindia sudah meneteskan air matanya.
"Kenapa?" tanya Tia tanpa rasa bersalah.
"Gue tahu, tapi gak seharusnya lo ngomong gitu sama Nindia. Kuta disini mau bantu dia, bukan buat dia semakin tertekan." ucap Bella halus. Ia mencoba untuk tidak membela siapapun. Tapi saat ini posisi Nindia lebih membutuhkannya. Bella sangat menyayangkan apa yang diucapkan Bella. itu sudah masuk terlalu jauh dalam urusan rumah tangga Nindia ran Reyhan.
"Gue tau kalau gue salah. Gue udah nyakiti dia. Bahkan dia lihat secara langsung. Gue juga ngaku salah atas apa yang gue ucapkan sama dia. Tapi seharusnya lo gak usah ngomong kaya gitu juga dong," Nindia mengusap air mata yang sudah mengalir deras.
"Gue tau dosa gue besar banget saat bohongi suami gue. Tapi gue udah mencoba berubah. Lo tahu seberapa besar usaha gue untuk memperbaiki diri. Dengan lo mengatakan semua ini, gue yakin kalau kesalahan gue belum termaafkan buat dia maupun buat kalian. Jangan ungkit itu lagi. Semua itu semakin membuat gie terlihat buruk di depan semua orang," setelah mengucapkan itu, Nindia pergi dari hadapan sahabatnya.
Tia sangat merasa bersalah dengan apa yang ia katakan. Bukan maksudnya untuk mengungkit itu semua. Ia hanya ingin mengatakan kalau apa yang dilakukan sahabatnya itu salah. Bukan ini yang ia inginkan.
"Biarkan dia tenang," ucao Bella sambil mengelus dan merangkul Tia yang juga sudah mengeluarkan air mata.
"Maaf," hanya utu yang keluar dari mulut Tia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊