
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Selama Nindia di rawat di rumah sakit, Gita, Tia, dan Bella selalu jalan bertiga. Ehh ralat, lebih tepatnya berempat. Kalau kalian tanya siapa yang satunya, jawabannya adalah Satria. Mantan yang menjelma sebagai sahabat.
Sudah beberapa kali Satria ikut jalan sama mereka jalan. Lebih tepatnya, Satria mencari kesempatan untuk selalu dekat dengan Gita. Aciieee.....
Gita sebenarnya sadar akan maksud kehadiran Satria. Ia juga menghargai kerja keras Satria yang membuatnya nyaman. Jujur saja ia sudah mulai menaruh rasa nyaman pada Satria. Tapi bayangan mantan masih mengganggu setiap langkahnya. Bukan gagal move on, lebih tepatnya takut dihianati untuk kedua kalinya. Sekarang ia tak lagi mencari pacar. Gita lebih suka di khitbah langsung jika ada yang bersungguh-sungguh. Bukannya sok suci, tapi lebih enak pacaran setelah sah. Tidak ada yang bisa menghujat jika kebablasan. You Know lah pergaulan anak sekarang.
"Buruan tembak, kalau hilang lagi kan gak lucu." canda Bella saat mereka sedang makan di kantin dan jangan lupakan keberadaan Satria yang menjadi bodyguard khusus.
Satria tersenyum, "Dia maunya langsung di khitbah, gue mah ayuk aja." jawab Satria tanpa beban. Ia memang bersungguh-sungguh. Ia tak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Ngenes banget kalau sampai terjadi lagi.
uhukk uhukk
Gita tersedak saat mendengar ucapan Satria. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Satria akan menganggap perkataannya dua minggu lalu sungguhan. Ia hanya mengucapkan keinginannya agar Satria mundur secara perlahan, meskipun dirinya merasa nyaman dan berat atas keputusan yang dibuatnya.
Dengan khawatir Satria menepuk punggung Gita perlahan dan memberikannya minum, "Hati-hati, enggak ada yang mau ngambil makanan lo"
"Buruan di khitbah. Entar diambil mantan baru tau rasa." ucap Tia yang kembali menggoda sahabatnya.
Gita mengambil minum yang diberikan Satria dan meminumnya, "Ngomongin apaan sih? Ngaco tahu gak lo semua?" ucap Gita yang sudah blushing.
Satria terkekeh melihat Gita yang malu karena godaan kedua sahabatnya, "Bener apa yang dikatakan mereka. Jujur gue takut kalau lo balik lagi sama mantan" jujur Satria.
"Siapa juga yang mau balik sama mantan, kaya di dunia ini cowok cuma dia aja. Banyak kali yang lebih baik dan lebih setia dari dia. Gue juga ogah kalau dipaksa, laki-laki kok plin-plan" bantah Gita. Jujur saja Ia tak akan mau kembali pada mantan. Apa lagi mantan yang sudah menghianatinya. Cihhh... masih banyak yang lebih baik dari dia.
"Kode lagi tuh, Sat. Gas lahhh.. Jangan lama-lama! Kalau bisa tar malam datengin orang tuanya langsung khitbah." goda Tia sekali lagi.
Gita cemberut karena terus-terusan jadi bahan bully an kedua sahabatnya, "Au ahhhh..terusin aja neng, jalannya masih panjang."
Bella menghela nafas, "Nunggu apa lagi sih? Masih nunggu Akas?" tanya Gita.
Gita tersentak, "Enggak!" jawab Gita tegas. "Elo sendiri udah sampai mana sama tuh kayu berjalan?" Gita mengalihkan topik.
"Ilham, namanya Ilham kalau lo lupa." entah mengapa ia tidak suka saat ada orang lain yang menyebut Ilham dengan kayu berjalan. Hanya dia yang boleh.
Gita berdecak, "Iya.. iyaa. Udah sejauh mana lo sama dia?" tanya Gita sekali lagi.
"Lebih baik dari yang sebelumnya," jujur, Bella sangat jujur dengan jawabannya. Hubungannya dengan Ilham jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia sudah mengetahui orang tua Ilham meskipun belum pernah bertemu, Ilham juga beberapa kali bertemu dengan Mama dan Papanya saat mengantar dan menjemputnya.
Jiwa kepo Tia mulai terlihat, "Cerita dong," bujuk Tia.
"Enggak! Ada saat nya gue cerita sama kalian. Juga ada saatnya hanya menjadi koleksi privacy gue"
"Lo mah pelit sama sahabat sendiri," ucap Tia yang tak puas dengan jawaban Bella. Memang Bella termasuk orang yang sedikit tertutup dan cuek, tapi semua itu hanya benteng kerapuhan yang tak ingin diperlihatkan pada orang lain.
Bella tersenyum penuh arti, "Makanya, cari pacar biar gak kepo sama urusan orang lain. Jangan kebanyakan lirik sana lirik sini." balas Bella. Memang tinggal Tia yang belum mendapatkan pujaan hati.
"Maaf, siapa ya? Gue gak kenal sama Lo" ucap Tia yang menghindar dari ucapan Bella. Sedangkan Bella, Gita, dan Satria hanya bisa tertawa mendengar ucapan Tia.
____________________
Mungkin banyak orang yang mengatakan gagal move on saat masih mengingat masalalu. Tapi tak semua yang dikatakan orang benar. Mereka hanya melihat dari luarnya saja, tapi mereka tak bisa melihat luka yang ada di hatinya dan bukan fisik. Bisa dikatakan trauma bisa pula bukan trauma. Tinggal bagaimana kita menanggapinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Satria.
__ADS_1
Menemani orang yang dicintainya adalah hal yang dilakukan Satria akhir-akhir ini. Seperti saat ini. Ia menemani Gita yang sedang menghabiskan long weekand disalah satu mall besar di Surabaya.
Gita menoleh ke belakang. Dilihatnya wajah laki-laki yang setia menemaninya akhir-akhir ini. Tersenyum tulus untuk menjawabnya. "Aku belum tahu,"
(Cailahhhh..... kemarin aja malu-malu di depan sahabatnya. Sekarang udah 'aku-kamu' an aja).
Gita melanjutkan jalannya melihat sekeliling. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya saling bersitatap dengan mata milik seseorang.
"Kenapa berhenti?" tanya Satria yang belum menyadarai keadaan.
Gita hanya diam saja saat melihat orang tersebut melangkah mendekatinya. Tangannya terkepal disisi kiri dan kanan celana jeans yang dipakainya.
Laki-laki itu tersenyum. Memandang Gita dari atas sampai bawah, "Hai," sapa orang itu.
Satria menoleh saat mendengar suara itu. Rahangnya tiba-tiba mengeras saat mengetahui siapa pemilik suara itu. Akas, mantan pacar Gita. Mantan yang meninggalkan Gita demi wanita lain. Dan untuk apa Ia menampakkan dirinya sekarang?
"Jawab dong! Lo nggak kangen sama gue?" tanya Akas. Pandangan Akas beralih ke Satria yang ada di samping Gita, "Ohhh, ternyata lo udah dapat pengganti gue." sinis Akas.
Gita menghela nafas kasar, jujur saja ia tak mau berurusan lagi dengan laki-laki brengsek yang ada di depannya, "Mau lo apa sih? Gue gak mau lihat lo lagi, jadi tolong sekarang lo pergi dari hadapan gue."
Akas terkekeh mendengar perkataan Gita, "Ini mall bukan milik lo kali. Jadi, lo gak berhak buat usir gue."
"Ya udah kalau lo nggak mau pergi, biar gue aja yang pergi," ucap Gita seraya berjalan menjauh dari Gita.
Akas tak begitu saja melepas Gita. Ia menarik tangan kanan Gita kemudian mencuri satu ciuman di bibir Gita.
Akas menjilat bibirnya, "Bibir lo manis, kaya yang punya." ucap Akas.
Amarah Satria langsung terpancing saat melibat Akas mencium bibir Gita. Ia tak rela wanitanya disentuh oleh orang lain. Ya.. wanitanya. Gita hanya miliknya. Dari atas sampai bawah hanya miliknya.
Dengan rahang yang mengeras, Satria maju mendekati Akas. Ia sudah tidak bisa menoleransi perbuatan Akas kali ini.
Plakkk
"Brengsek!" umpat Gita. Yaa... Gita lah pelakunya. Ia tak mau dipeemalukan dan diperlakukan seperti ****** yang dengan mudah disentuh disemua tempat. Ia berbeda, Ia sangat menjaga kehormatannya dan dengan mudahnya laki-laki ini melecehkannya.
"Jangan kira dengan gue diam aja, lo jadi seenaknya buat ngelecehin gue. Di mana otak lo, Brengsek!" umpat Gita dengan menunjuk wajah Akas yang masih memegangi pipinya. "Gue heran, kenapa dulu dengan mudahnya gue terbuai dengan laki-laki Buaya macam Lo dan mau jadi pacar lo. Untungnya gue masih waras untuk nolak saat lo maksa gue buat ngasih mahkota gue. Gue bukan ****** yang lo sewa, yang dengan mudahnya melempar tubuhnya untuk lo nikmatin. Cihhh..." Gita meludah di depan Akas.
Kejadian ini tentunya menjadi tontonan pengunjung mall. Banyak dari mereka yang memuji keberanian Gita terhadap orang yang melecehkannya. Tak sedikut pula yang menghakimi Akas akan perbuatannya.
Akas yang merasa dipermalukan langsung mengayunkan tangannya untuk memukul Gita. Sedangkan Gita yang melihat nya hanya bisa menutup mata. Tapi anehnya ia tak merasakan apa-apa.
"Cuma banci yang bisa mukul wanita," ucap Satri seraya menghempaskan tangan Akas. Kemudian Ia menyeret Gita untuk keluar dari mall. Ia tak mau Gita semakin menjadi tontonan pengunjung lain.
____________________
Satria sudah membawa Gita pergi jauh dari mall tersebut. Ia tak mau Gita mengingat kejadian yang tak mengenakkan itu.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Satria.
Semenjak keluar dari mall, Gita sama sekali tak mengeluarkan suara. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Selalu memandang luar jendela. Sesekali Satria juga menangkap Gita yang tengah menghapus air matanya.
"Heii," Gita tetap tidak merespon panggilan Satria.
Satria yang sudah tak sabar langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Melepas sabuk pengamannya dan menarik Gita dalam pelukannya.
Hancur sudah pertahanan yang sudah Gita bangun sejak tadi. Air matanya mengalir deras dalam pelukan Satria sampai Satria bisa merasakan kemejanya basah oleh air mata orang terkasihnya.
Pilu, itu yang dirasakan Satria saat mendengar tangisan Gita. Ia tak rela air mata Gita keluar begitu saja. Tangannya mengepal dibalik punggung Gita, mencoba meredam amarahnya dengan menutup kedua matanya.
"Menangislah," hanya kata itu yang bisa dikeluarkan oleh Satria saat ini. Ia membiarkan Gita untuk mengeluarkan beban fikirannya.
__ADS_1
(Jika dengan menangis bisa menghilangkan bebanmu, maka menangislah. Tak ada yang salah dengan menangis. )
Satria selalu mencium puncak kepala Gita untuk menyalurkan rasa sayangnya.
"Udah mendingan?" tanya Satria saat tak mendengar suara tangisan Gita, meskipun masih terdengar isakannya saja. Tapi itu jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Gita mengangguk dengan masih dalam pelukan Satria, "Makasih,"
"Buat?"
"Kamu yang selalu ada disisi aku. Dan aku minta maaf karena gagal menjaganya." ucap Gita. Ia gagal menjaga kesucian bibirnya.
Satria merenggangkan pelukannya. Membenarkan surai Gita yang menutupi wajahnya, "Bukan salah kamu. Kamu sudah menjaganya dengan baik. Jadi, izinkan aku untuk menghapus jejaknya."
Gita terdiam mendengar ucapan Satria. Ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Satria.
Belum sempat Gita menjawab, Satria sudah menempelkan bibir nya ke bibir Gita. Gita yang mendapat perlakuan seperti itu tersentak dengan mata melotot.
Semakin lama, ciuman itu berubah menjadi lumatan. Bukan lumatan nafsu, melainkan lumatan lembut penuh kasih sayang. Gita sudah tak mampu menahannya. Ia memejamkam mata dan menikmati perlakuan Satria.
Cukup lama ciuman itu terjadi sampai Satria melepaskannya. Mereka saling menempelkan kening dan hidung. Satu tangan Satria bergerak untuk mengusap bibir yang belum lama ia nikmati.
"Aku sudah menghapusnya dan meninggalkan jejak cinta di sini" ucap Satria seraya menyentuh bibir Nindia.
Gita menjadi blushing mendapatkan perlakuan manis dari Satria. Ia tak menyangka Satria bisa semanis ini kepadanya.
"Ini hanya milik aku, hanya aku yang bisa menyentuhnya," ucap Satria seduktif.
Gita mengangguk seraya tersenyum manis, "Makasih,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
__ADS_1
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊