
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
PERINGATAN !!!
Episode kali ini mengandung unsur muatan dewasa! Diharap bijaksana dalam membaca.
Terimakasih 😊
–_–_–_–_–_–_–_–_–_–_
.
.
Reyhan dan Nindia sedang menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh Maya. Nindia tidak bisa membantu mertuanya karena baru sampai pukul enam sore.
Mereka menikmatinya dengan lahap. Sudah lama mereka tidak makan bersama semenjak Reyhan dan Nindia pindah ke rumahnya sendiri.
"Rey, kapan kamu mau kasih cucu ke mami?"
uhuk uhuk
Reyhan memberikan minum ke Nindia. Menepuk-nepuk punggung belakangnya dengan pelan.
"Hati-hati" ingat Reyhan. Ia menuangkan air minum dan memberikannya pada Nindia.
Nindia tersenyum canggung mendengar perkataan Ibu mertuanya.
"Kalau tadi Mami tidak memanggil suruh makan, mungkin sekarang Nindia udah gol," ucap Reyhan dengan mepanjutkan makannya.
"awwww... Sakit Nin," protes Reyhan yang mendapatkan cubitan di pinggang.
"Yahhh... Mami ganggu dong," sesal Maya.
"Tuh tahu," cuek Reyhan.
"Rey, apaan sih kamu. Enggak kok Mi. Ini bukan salah Mami. Mungkin bukan waktunya Reyhan buat dapat," jawab Nindia.
"Tapi Mami pingen cepat nimang momongan Nin." ucap Maya.
"Doain aja ya, Mi. Kalau Tuhan izinkan pasti akan terkabulkan." Nindia menggenggam tangan Maya.
"Aamiin"
Makan malam dilanjutkan kembali. terlihat jelas wajah Maya yang kecewa dengan apa yang terjadi tadi siang.
Nindia sangat paham dengan apa yang dirasakan Maya. Usia senja membutuhkan hiburan dan gerak tubuh yang tidak terlalu berat.
Setelah selesai membersihkan piring kotor sisa makan malam. Nindia menuju ruang keluarga untuk menghampiri Maya dan Reyhan.
Terdengar tawa dari Reyhan dan Maya. Jarang sekali mereka tertawa bersama seperti sekarang.
"Seru banget kelihatannya," ucap Nindia yang baru datang dari dapur.
"Ini, Mami lagi cerita soal masa kecil Reyhan. Kamu mau dengar?" tawar Maya.
"Mi, jangan! Itu aib aku," pinta Reyhan.
Nindia berpindah posisi duduk di sebelah Maya, "Anin mau dengar," jawab Nindia antusias.
Maya mulai menceritakan masa kecil Reyhan. Mulai dari yang baik-baik hingga yang buruk. Semuanya diceritakan oleh Maya.
Sedangkan yang menjadi objek cerita hanya bisa menahan malu. Bahkan beberapa kali Reyhan merengek untuk menghentikan cerita Maya.
"hahaha... ternyata Reyhan Aristarco orang yang manja?" ledek Nindia.
"Enggak ya," protes Reyhan yang tak terima dengan apa yang dikatakan Nindia.
"Idihh pakai gak mau ngaku lagi. Dasar curut," ejek Nindia
"Berani sama suami?" geram Reyhan. "Dasar ****"
"Curut"
"****,"
"Dasar curut,"
"**** ****... **** ****.." ejek Nindia sambil menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Ya ampunnn.. Kalian itu kok masih kayak anak kecil sih?" geram Maya. Ia tak habis fikir dengan suami istri satu ini.
"Habis dia duluan yang mulai," adu Reyhan.
"Gitu aja ngadu. Dasar manja,"
Reyhan beranjak dari ruang keluarga dan meninggalkan Mami juga istrinya. Entah karena malu atau karena marah dengan apa yang dikatakan Nindia.
"Ngambek deh," ucap Nindia yang masih melihat Reyhan menaiki tangga.
"Kamu juga sih," Maya mencubit pipi Nindia. "Bujuk gih,"
Nindia hanya menyengir, "Kapan lagi Mi bisa gangguin Reyhan. Kalau sama aku aja serius banget."
"Reyhan kalu serius gitu biasanya ada sesuatu yang mengganggu fikirannya. Dia juga serius sama orang yang melakukan kesalahan."
degg
"Niat hati ingin menggoda, eh... ternyata malah membuka kartu sendiri." rutuk Nindia dalam hati.
"Nindia ke atas dulu ya Mi. Takut bayi gede ngambek," Nindia mencium pipi Maya.
Nindia menaiki tangga dengan memikirkan apa yang dikatakan oleh Maya. Berarti benar dugaannya, Reyhan kalau serius dan sudah menggunakan bahasa formal sedang memikirkan sesuatu dan tertekan.
Pintu kamar tidak terkunci saat Nindia membukanya. Ia tidak mendapati Reyhan di dalam kamar, tapi pintu menuju balkon terbuka.
Nindia memeluk pinggang Reyhan dari belakang. "Bee,"
"....."
"Kamu marah?" tanya Nindia memeringkan kepalanya.
"Enggak,"
"Jangan serius-serius dong kalau ngomong sama aku." protes Nindia.
"Aku akan coba,"
"Aku gak bakalan bikin kamu kecewa untuk kedua kalinya. Aku akan mencobanya, jadi tolong bantu aku!"
Reyhan membalikkan badan dan langsung memeluk Nindia. Dikecupnya puncak kepala Nindia berkali-kali.
"Aku akan bantu, Sayang." Reyhan semakin mengeratkan pelukan.
Reyhan harus bisa menata hatinya lagi. Nindia juga sudah memperbaiki kesalahannya. Sebagai kepala rumah tangga memang berhak marah. Tapi kepala rumah tangga juga bertanggung jawab atas semua yang terjadi.
Reyhan sangat mencintai istrinya. Ia tidak akan membiarkan Nindia berpaling pada laki-laki lain.
"Mulai deh,"
"Kamu itu jarang bercanda kalau sama aku," Nindia mengerucutkan bibirnya.
"Kamu lagi menggoda aku?"
"Siapa yang goda kamu?" Nindia tidak merasa apa yang dikatakan Reyhan.
"Terus kenapa mulut kamu dimaju-majuin?" mencapit bibir Nindia.
"Sakit, Bee. Ihh... jahil banget sih?"
"Dasar ngambekan" ledek Reyhan.
"Manja,"
"Gak kebalik ya? Kamu yang manja sama aku. Gak nyadar ya?" ucap Reyhan sambil berjalan ke kursi yang ada si balkon.
"Manja sama suami mah gak dosa, yang dosa itu kalau manjanya sama suami orang," canda Nindia.
"Awas aja kalau kamu berani manja sama laki-laki lain," ancam Reyhan.
Nindia menatap lekat netra Reyhan, "Aku gak akan manja sama laki-laki lain. Aku sangat dan sangat mencintaimu. Aku tidak akan melukai kamu lagi." ucap Nindia sungguh-sungguh.
"Stay With Me. Because I Love You,"
Reyhan mencium kening Nindia cukup lama. Mata Nindia terpejam menikmati perlakuan Reyhan.
Lama kelamaan ciumannya semakin menurun menuju dua mata Nindia, hidung, dan yang terakhir bibir. Ciuman yang terasa lebih lama daripada ciuman di mata dan di hidung.
Nindia membalas ciuman mesra yang dilakukan Reyhan terhadap dua bibirnya. Menikmati kekenyalan bibir atas dan bibir bawah Nindia secara bergantian.
Reyhan menggunakan tangan kanannya untuk mendorong tengkuk Nindia agar ciumannya semakin dalam, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk merengkuh dan mengelus punggung Nindia. Reyhan bergerak mencari posisi yang nyaman.
Nindia yang terbuai dengan ciuman mesra Reyhan mulai mengalungkan tangannya di leher Reyhan. Menarik rambut belakang Reyhan untuk menyalurkan apa yang dirasakannya.
hosh hosh hosh
__ADS_1
Mereka terengah-engah ketika ciumannya terlepas. Reyhan melihat Nindia mulai kehabisan nafas, begitu pula dengan dirinya. Ia memberikan waktu untuk Nindia menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa.
Reyhan menyatukan kening dan juga hidungnya ke Nindia. Sehingga mereka bisa meresakan hembusan nafas masing-masing.
"I want you tonight," ucap Reyhan.
Setelah mengatakan itu, Reyhan kembali mencium bibir Nindia. Untuk kali ini cukup singkat. Ia beralih menuju leher jenjang Nindia. Menikmati aroma dan rasa manis leher Nindia dan meninggalkan beberapa kissmark sebagai tanda kepemilikan.
Nindia yang mendapatkan serangan dari salah satu titik sensitif nya langsung menggeliatkan badannya. Ia langsung menengadahkan kepalanya ke atas untuk mencari kenikmatan lebih.
Nindia beberapa kali mengeluarkan suara yang membuat Reyhan semakin bersemangat. Bahkan Nindia tanpa malu memanggil nama Reyhan dengan nada terendahnya.
Reyhan menyudahi aktivitasnya di leher Nindia. Dilihatnya Nindia yang masih memejamkan matanya. Menikmati sisa sensai yang diberikan oleh Reyhan.
Nindia tanpa malu merengek saat Reyhan berhasil memutuskan beberapa kali kesenangannya. Ia seperti meminta Reyhan melakukan hal lebih.
Reyhan terkekeh melihat reaksi Nindia. Ia kemudian kembali merengkuh Nindia ke dalam pelukannya. Mengulangi kegiatan yang sempat berhenti beberapa detik.
Tubuh Nindia terdorong ke arah ranjang. Tapi Reyhan tak membiarkan ciuman mereka terlepas. Reyhan membaringkan tubuh Nindia dengan perlahan dan mulai menindih tubuh Nindia. Reyhan melepas mereka dan memperhatikan wajah sayu Nindia.
Dibelainya seluruh wajah Nindia dan berakhir kembali pada bibir ranum Nindia. Ia selipkan helaian rambut Nindia yang menutupi wajah cantiknya, kemuadian menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.
Reyhan kembali mencium mesra bibir mumgil milik Nindia yang memberikan rasa manis tersebut. Tangan kanannya tak tinggal diam begitu saja. Tngannya mulai aktif bergerak menjamah bagian tubuh Nindia yang lain sehingga menimbulkan suara-suara indah nan memabukkan.
Nindia mendongakkan kepalanya. Kedua tangannya meremas seprai karena menikmati semua perlakuan Reyhan yang sangat memabukkan.
AC di kamarpun seakan tidak bisa berfungsi dengan baik. Tubuh mereka telah basah oleh keringat yang mengucur deras. Bahkan suhu terdinginpun tidak bisa mengurangi hawa panas dan keringat yang membasahi tubuh mereka.
"Rey..." panggil Nindia saat Reyhan mulai mencium lehernya kembali.
Nindia sekaan kehilangan kewarasan. Suara-suara indah nan memabukkan selalu keluar dari mulutnya. Untung saja kamar mereka kedap suara, sehingga tidak menganggu Maya dan penghuni lain yang ada dirumah ini.
Reyhan yang mulai tidak bisa menahan gejolak yang ada di tubuhnya mulai melucuti pakaian Nindia satu persatu dan dilemparkan ke segara arah. Ia juga melakukannya pada dirinya sendiri.
"Nin, ini akan sedikit sakit. Apa kamu yakin akan melanjutkannya?" tanya Reyhan. Ia tak ingin memaksa istrinya meskipun ia mau. Ia akan berusaha menahan apabila istrinya tidak ingin melanjutkannya.
Nindia sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Hanya anggukan yang bisa diberikan oleh Nindia dan membuat Reyhan tersenyum lebar.
Reyhan yang sudah tidak sabar mulai memposisikan dirinya untuk menyatu dengan Nindia. Nindia mulai meringis merasakan sakit yang luar biasa. blesss
Pusat tubuh Nindia seakan terbelah menjadi dua. Sekarang ia sudah menjadi milik Reyhan sepenuhnya dan sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang istri.
Cukup lama mereka mencari kepuasan hingga pelepasan terakhir. Kini Reyhan sudah berbaring di sisi kanan Nindia.
cupp
"Terimakasih Sayang karena kamu sudah menjaga Mahkotamu dan mengijinkan aku menjadi yang pertama," ucap Reyhan.
Nindia hanya mengangguk. Rasanya sangat lelah sekali. Tenaganya terkuras habis karena Reyhan selalu minta lagi dan lagi hingga jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Waktunya bagi mereka istirahat.
Reyhan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Merengkuh erat tubuh Nindia. Hujanan ciuman tak henti-hentinya ia berikan untuk istri tercinta.
"Terimakasih Anindia Putri. My Wife, My Love, and My Life. Aku sudah mendapatkan kamu seutuhnya. Cintamu, kasih sayangmu, dan juga hidupmu. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Aku hanya akan berusaha dan terus berusaha agar kamu bahagia saat disisiku, agar kamu tidak berpaling dariku. Janji hanya akan terpungkiri bila kita tidak berusaha untuk menepati. Maka dari itu, aku akan berusaha sekuat tenaga bahkan nyawapun akan aku tukarkan untuk kebaikanmu. Jangan pergi meninggalkanku, aku bisa gila bila kamu pergi dariku. Cukup dulu aku kegilanganmu karena kebodohanku. Tetaplah berada disisiku. Stay With Me. I Love You My Life."
Reyhan tertidur pulas setelah puas memperhatikan wajah Nindia yang ada dipelukannya. Reyhan tertidur pukul tiga dini hari. Ia bisa menghabiskan waktu satu jam untuk memperhatikan wajah istri tercinta.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
__ADS_1
- Bintang
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.