HEART: Reyhan Untuk Anin

HEART: Reyhan Untuk Anin
Chapter 56 Hari Jadi


__ADS_3

HAI CHINGU..... ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


SELAMAT MEMBACA


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Sudah terhitung tiga hari Nindia mendiamkan suaminya. Reyhan semakin dibuat bingung dengan sikap Nindia. Terkadang Nindia manja, tapi tak berselang lama Nindia kembali mendiamkannya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reyhan saat berada di samping Nindia yang berada di kamar.


"....."


"Aku ada salah sama kamu?" tanya Reyhan saat tidak ada jawaban dari Nindia.


"....."


Tak lama, isakan Nindia terdengar. Reyhan yang mendengar berhasil dibuat khawatir. Ia tak mengetahui penyebab Nindia menangis.


"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Reyhan seraya memeluk tubuh Nindia yang bergetar.


Nindia masih enggan menjawab pertanyaan dari Reyhan. Tapi Nindia membalas pelukan hangat suaminya.


"Jangan nangis lagi ya...." Reyhan mengelus punggung Nindia dan membaringkannya secara perlahan.


Reyhan terus memeluk dan mengelus punggung Nindia hingga tertidur. Sesekali Reyhan memberikan kecupan singkat pada kening dan bibir Nindia. Ingat! hanya kecupan.


Reyhan menyadari bahwa dirinya akhir-akhir ini disibukkan dengan urusan perusahaan dan urusan yang sangat penting sehingga jarang memberikan perhatian untuk Nindia. Ia bahkan sudah mengajukkan cuti di kampus dan sudah disetujui.


Nindia kembali tidur meskipun jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Pelukan dan elusan yang diberikan Reyhan berhasil membuatnya nyaman dan terbuai dalam mimpi indahnya.


Reyhan kembali melihat jam yang ada di kamarnya. Ia harus segera bangun untuk menuntaskan pekerjaan yang membutuhkan sentuhan langsung darinya. Untuk pekerjaan yang satu ini, ia tak akan menyerahkan kepada siapapun. Orang-orang disekitarnya hanya diperbolehkan membantu, itupun hanya 5%.


"Bi Minah, nanti saya minta tolong bangunkan Nindia. Jangan lupa menyiapkan makanan untuknya. Oh.. ya. Ini" memberikan paper bag.


"Ini apa, Den?" tanya Bi Minah.


"Itu gaun untuk Nindia. Tolong nanti kasih tahu Nindia akan di jemput pukul enam tepat. Satu lagi, suruh dia berias diri." jelas Reyhan.


"Siap, Den."


"Saya permisi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Seperti biasa, Nindia kembali tak mendapati Reyhan disisinya. Nindia mengingat rambutnya asal sehingga menampilkan kesan sexi.


"Tanggal berapa sih?" monolog Nindia.


Nindia meraba nakas disebelahnya untuk melihat tanggal pada ponselnya. Saat melihat tanggalnya, Ia langaung menepuk jidatnya


"Bisa-bisanya gue lupa." ucap Nindia.


"Apa Reyhan juga lupa sama anniversary kita yang pertama?"


"Bisa-bisanya dia lupa sama tanggal penting ini. Tapi gak apa-apa, gue nanti yang akan mengingatkan. Hemmm, kado apa yang mau gue kasih buat Reyhan?" tanya Nindia pada dirinya sendiri.


Karena terlalu bingung, Nindia beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Nindia menuruni tangga sambil memainkan ponselnya. Ia menjelajahi dan mencari tahu kado anniversary yang tak terlupakan.


"Siang, Ami." sapa Nindia pada Bi Minah yang sedang menyiapkan makan siang. Seperti perintah Reyhan.


"Siang, Non. Makan siang sudah bibi siapkan,"


Nindia mendudukkan dirinya di kursi meja makan, "Menurut Ami, kado apa yang akan membuat Reyhan senang?"


Bi Minah mencuci tangannya dan ikut mendudukkan dirinya setelah mendapatkan izin dari Nindia, "Apa ya, Non. Bibi juga bingung."


"Rencananya Aku mau buatkan cake spesial buat Reyhan. Tapi menurut aku masih terlalu biasa."


"Non, gimana kalau non beli baju bayi terus di dalamnya di kasih tespeck yang kemarin." usul Bi Minah yang langsung disambut dengan senyuman cerah Nindia.


"Ide bagus, Mi. Kalau gitu Nindia mau keluar sama Bang Tejo." ucap Nindia sebelum terhenti oleh ucapan Bi Minah.


"Non, ada titipan dari Aden. Katanya mau dijemput pukul enam tepat."


"Apa ini, Bi?" tanya Nindia dengan kening berkerut.


"Bibi juga gak tahu."


"Ya udah kalau gitu. Terimakasih Bi,"


"Sama-sama"


____________________


Saat ini Reyhan terlihat sangat sibuk dengan berbagai macam hiasan. Ia mencoba melakukan yang terbaik untuk membahagiakan istrinya. Ia tak mau membuat Nindia kecewa dengan hasilnya.


"Ya taruh disana, jangan sampai ada yang terlewatkan,"


"Geser ke kanan sedikit. Terus.. terus.. stop. Ke kiri sedikit. Oke"


"Hiasan yang itu di taruh di sana,"


"Untuk yang itu di gantung saja,"


"Oh ya, jangan sampai lupa lilinnya. Taruh disekitar meja. Saya minta sedikit lebih banyak."


"Bagaimana dengan kamar yang saya perintahkan?" tanya Reyhan pada salah satu pekerja.


"Sudah dikerjakan sesuai perintah tuan."

__ADS_1


"Jangan lupa mawar merah yang saya inginkan."


"Siap laksanakan."


"Bagus. Terimakasih," pekerja itu menganggukkan kepalanya.


Ilham langsung menghampiri Reyhan saat meluhat sahabat sekaligus sahabatnya sibuk dengan apa yang dilakukannya.


"Wahhh... Boss. Ini benar-benar luar biasa, pasti Bu Boss akan sangat menyukainya," ucap Ilham saat melihat hasil kerja keras Reyhan.


Reyhan menyeka keringatnya, "Saya harap juga begitu." ucap Reyhan seraya tersenyum. Ia sudah sangat tidak sabar untuk melihat reaksi Nindia


____________________


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Nindia mulai bersiap sebelum nanti dijemput orang suruhan Reyhan. Ia tidak tahu mau di bawa kemana. Yang terpenting dirinya sudah memyiapkan hadiah untuk Reyhan. Ya... meskipun laki-laki itu lupa hari penting dalam hidup mereka.


Meskipun gaun yang dipilih Reyhan sangat sederhana, namun dengan ditambah polesan make up dan wajah cantik Nindia membuat gaun itu terlihat elegan. Sebenarnya tanpa make up pun Nindia sudah sangat cantik. Penampilan Nindia semakin sempurna dengan tambahan Minaudiere bag warna senada.



ttook ttokk ttokk


Ketukan pintu membuat Nindia mengalihkan perhatiannya dari cermin besar yang ada di kamarnya. Ia sangat mengagumi gaun pilihan Reyhan. Sangat sesuai dengan karakternya.


"Permisi, Non. Di bawah sudah ada orang suruhan Den Reyhan." ucap Bi Minah.


"Terimakasih, Bi. Sebentar lagi Nindia turun." ucap Nindia seraya merapikan tampilannya.


"Udah cantik kok, Non. Aden pasti makin cinta sama Non." puji Bi Minah yang membuat pipi Nindia memerah.


"Terimakasih, Bi."


"Saya permisi," ucap Bi Minah seraya menutup pintu kamar Nindia.


Setelah penampilan nya dirasa sudah rapi, Nindia lantas mengambil kotak yang sudah ia persiapkan sebagai hadiah anniversary mereka yang pertama.


Saat ini Nindia sudah berada di dalam mobil dengan mata tertutup. Sebelum berangkat sempat ada adegan adu mulut antara Nindia dengan orang suruhan Reyhan karena Nindia tak mau ditutup matanya. Alasannya hanya takut akan dibawa ke suatu tempat yang menyeramkan dan dimutilasi. Namun, akhirnya tetap orang suruhan Reyhan yang memenangkan adu mulut itu.


"Tenang saja, Nyonya. Saya tidak akan berani menyelakai nyonya karena Tuan Reyhan tidak akan membiarkan saya hidup jika Nyonya tergores sedikit," jelas orang yang disuruh Reyhan untuk menjemputnya. Bahkan orang itu tak diizinkan Reyhan menyebutkan nama.


"Menyebalkan,!" umpat Nindia dalam hati.


"Awas saja kalau kamu sampai berani macam-macam. Saya akan hantuin kamu kalau saya meninggal," gerutu Nindia yang membuat orang itu tersenyum.


"Nyonya bisa pegang perkataan saya. Sebelum Nyonya menghantui saya, sudah saya pastikan saya akan menyusul Nyonya meninggal."


"Kamu doakan saya supaya meninggal?" bentak Nindia.


"Bu.. bukan begitu Nyonya, itu hanya perumpamaan saja. Tuan sangat menyayangi Nyonya, jadi dia tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Anda. Meskipun itu keluarganya," jelas orang suruhan Reyhan yang berhasil membuat hati Nindia menghangat.


____________________


"Hati-hati, Sayang." ucap Reyhan sambil membantu Nindia berjalan. Tepat pukul 19.30 orang suruhan Reyhan memberikan kabar bahwa mobil yang ditumpangi Nindia sudah sampai di tempat tujuan.


"Udah, kamu diam aja! Aku gak akan nyelakain kamu. I promise." ucap Reyhan yang masih membimbing Nindia berjalan.


"I Belive," Jawab Nindia.


Reyhan terus mengarahkan jalan Nindia. Ia menjaga pergerakan Nindia agar tidak menabrak ataupun tersandung.


Nindia menggenggam tangan Reyhan dengan erat. Ia takut Reyhan meninggalkannya, meskipun ia tahu itu tidak akan pernah terjadi. Selama dia masih hidup.


Saat sampai di tempat tujuan, Reyhan menginstruksikan semua orang yang ada untuk diam terlebih dahulu. Ia berjalan ke belakang Nindia untuk melepaskan ikat matanya.


"Kamu mau kemana?" tanya Nindia saat merasakan Reyhan melepaskan genggaman tangannya.


"Aku gak akan kemana-mana, Sayang. Aku cuma mau lepas ikat mata kamu. Tapi kamu jangan dulu buka mata sebulum aku suruh." ucap Reyhan.


"Iya iya. Cepetan bukanya! Tapi jangan pergi!"


Reyhan berhasil membuka ikat mata Nindia, "Sekarang buka mata kamu, tapi pelan-pelan!"


Nindia mengikuti semua apa yang dikatakan Reyhan. Ia membuka mata dengan pelan pelan hingga pemandangan di depannya membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.



"Happy Anniversary" ucap semua orang.


Nindia sangat sangat bahagia. Ia kira Reyhan lupa akan hari jadi mereka. Ia tak menyangka Reyhan akan mendatangkan sahabat, orang tua, serta keluarga besar mereka. Ini pesta anniversy pernikahan yang tak terduga.


Nindia balik badan dan langsung menerjang Reyhan. Ia memeluk erat Reyhan yang sangat tampan dengan balutan jas bewarna toska dengan dalaman kaos. Terkesan santai namun tetap tidak dapat melunturkan ketampanannya.



"Terimakasih banyak," ucap Nindia dalam pelukan Reyhan.


"Sama-sama, Sayang." ucap Reyhan seraya menghujani Nindia dengan kecupan mesra.


"Aku kira kamu lupa. Aku udah kesal sama kamu sejak siang,"


Reyhan mengurai pelukan dan menangkup wajah Nindia, "Mana mungkin aku lupa sama anniversary pernikahan kita. Apalagi ini pertama kali buat kita." ucap Reyhan yang kembali memeluk Nindia.


"khemm khemm,, masih ada orang di sini." sindir Gita.


Nindia yang malu dengan sindiran Gita langsung melepas pelukan Reyhan dan berhambur memeluk sahabt dan keluarganya bergantian. Ia juga memeluk Satria yang hadir sebagai ucapan terima kasih dan paati sudah mendapatkan izin dari Reyhan.


"Selamat ya, Sayang. Ayah dan Bunda mendoakan semoga keluarga kalian awet hingga mau memisahkan," doa Helena.


"Mami dan Papi juga mendoakan supaya kalian bisa menjadi orang tua yang baik," doa Maya.


"Aamiin, makasih ya semua doanya. Semoga kita awet sampai maut memisahkan dan semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik bagi calon anak kita." ucap Nindia yang berhasil membuat Reyhan bingung.


"Maksud kamu apa, Sayang?" tanya Reyhan dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


Kedua orang tua dan sahabat Nindia hanya tersenyum saat melihat kebingungan Reyhan. Sementara Nindia langsung memberikan hadiah yang sudah ia siapkan.


"Apa ini?" tanya Reyhan yang semakin bingung.


"Udah, buka aja."


Reyhan mengikuti perkataan Nindia. Ia semkin terluhat bingung saat meluhat baju bayi.



"Apa ini maksudnya?"


"Angkat dulu bajunya," perintah Nindia.


Saat mengangkat baju, Reyhan hampir tidak bisa menheluarkan kata-kata saat melihat benda pipih bewarna putih bergaris dua.


"Sayang..." Reyhan tak dapat melanjutkan perkataannya.


Nindia mengangguk, "Iya, itu hadiah dari aku."


Tanpa pikir panjang Reyhan langaung memeluk Nindia. Untuk kali pertamanya Reyhan menitikan air mata dan itu untuk baby yang masih diperut Nindia.


"Terimakasih, terimakasih, Sayang. Ini kado terindah yang pernah aku terima dan ini kado terindah yang tidak akan aku lupakan," Reyhan kembali menghujani Nindia dengan kucupan-kecupan manisnya.


Nindia mengurai pelukan mereka dan menyeka air mata Reyhan, "Sama-sama, Bee. Aku juga bahagia bisa memberikan keturunan buat kamu."


Setelah acara tangis-tangisan dan sesi pemberian hadiah, Reyhan mengajak Nindia menuju tempat yang terpisah dari semua orang.


"Kita mau kemana? Aku udah lapar, Bee" tanya Nindia manja.


Reyhan membelai puncak kepala Nindia, "Sebentar lagi kita akan sampai."



"Astaga... Bee, kita bisa makan bareng sama mereka." ucap Nindia yang tak habis fikir dengan kejutan-kejutan yang diberikan Reyhan.


"Aku gak mau. Aku mau kita hanya dinner romantis. Hanya ada kita, aku, kamu, dan dia" ucap Reyhan sambil mengelus perut Nindia.


Reyhan menarik kursi untuk Nindia. Reyhan berhasil membuat Nindia jatub cinta sekali lagi. Ia menikmati semua kejutan yang dipersiapkan oleh Reyhan.


____________________


Jam sudah menunjukkan pukul 24.00, semua sudah kembali ke rumah masing-masing dua jam yang lalu. Nindia sangat terlihat kelelahan meskipun senyuman tak pernah luntur dari bibirnya.


"Kita istirahat. Kamu udah ngantuk banget tuh," ucap Reyhan.


"Iya aku ngantuk banget," ucap Nindia.


Saat menyalakan lampu, Nindia kembali dibuat terkejut dengan dekorasi kamar yang mereka tempat. Terdapat banyak balon berbentuk hati yang melayang di udara dengan foto momen romantis mereka. Tak ketinggalan bunga mawar merah dan putih yang membentuk love di tengah tempat tidur mereka.


Nindia merasakan tangan kekar melingkar di perutnya, "Kamu suka?" tanya Reyhan sambil meletakkan dagu di bahu kiri Nindia.


"Aku sangat suka. Sejak kapan kamu jadi romantis gini?" tanya Nindia.


Reyhan menarik tangan Reyhan dan mendudukkannya di tepi ranjang. Reyhan menyisihkan rambut Nindia dan menyelipkannya di belakang telinga.


"Keromantisan aku buat kamu,"


"Gombal. Oh ya, kamh gak kasih aku hadiah?" tanya Nindia yang sangat penasaran.


"Pastinya ada, titup mata gih."


Nindia mengikuti perkataan Reyhan dengan menutup matanya dengan kedua tangan. Sedangkan Reyhan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya dan memasangkannya pada leher Nindia.


"Cantik, kamu suka?" tanya Reyhan.


Nindia yang sudah membuka mata sangat menyukai hadiah pemberian Reyhan. Sebuah kalung berliontinkan bentuk hati dengan harga yang tentunya tidak murah. Diperkirakan harganya bisa mencapai 50jt. Tapi hadiah tersebut masih kalah mahal dengan hadiah yang diberikan Nindia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa Likeย ๐Ÿ‘ย & Komentarย ๐Ÿ’ฌ


Jadikan Favoritย โค


Bila berkenan silakan beri Tipย โญ


Baca juga karya ku yang lain :


- My Wife's Beautiful Widow


- BINTANG


A/nย  ย  : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2