
HAI CHINGU.....
SELAMAT MEMBACA
Nindia menghembuskan nafas lelah. Ia baru saja pulang dari kampus yang penuh dengan drama untuk hari ini. Sebenarnya bukan masalah untuk dirinya, tapi entah mengapa selalu berputar dikepala.
"Assalamualaikum," sindir Reyhan yang sudah ada di ruang keluarga.
Nindia menyengir saat mendengar sindiran dari suaminya. Ia bahkan sampai lupa mengucapkan salam saat memasuki rumah. Nindia langsung menghampiri Reyhan dan mencium tangannya.
"Assalamualaikum," ucap Nindia, setelah itu mendudukkan diri di sebelah Reyhan.
"Kalau ada salam di jawab, Sayang. Bukan malah ucap salam lagi." ucap Reyhan menasehati istrinya yang keliru.
Nindia tersenyum, "Maaf."
Reyhan meletakkan laptop yang sedari tadi dipangkunya kemudian memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Nindia. Memperhatikan dengan lekat wajah istrinya yang berusaha baik-baik saja.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Reyhan sambil mengelus surai milik Nindia.
Nindia mengerjapkan matanya, "Emangnya ada apa?"
Reyhan menghela nafas. Saat melakukan meeting ia mendapatkan pesan dari orang yang disuruhnya untuk memantau segala gerak gerik Nindia. Dan saat itu orang suruhannya melaporkan kalau Nindia sedang mendapatkan berbagai pertanyaan yang kurang menyenangkan, bahkan ada yang terang-terangan mengibarkan bendera perang. Jujur, Reyhan murka mendengar cacian yang dilontarkan oleh sebagian mahasiswa kampus Nindia tapi sayangnya dirinya tak ada di samping Nindia untuk membela. Ia juga tak akan membiarkan orang lain menghina atau bahkan menyakiti Nindia.
Nindia memicingkan matanya saat menyadari perubahan ekspresi Reyhan yang semula tersenyum menjadi datar dengan rahang yang mengetat.
"Kamu enggak nyuruh orang buat ngikutin aku kan?" tebak Nindia. Ia bisa berasumsi seperti ini karena melihat kemarahan Reyhan yang tidak mungkin tanpa sebab dan hanya masalah Nindia yang bisa menjadi pemicunya.
"Kamu enggak apa-apa kan?" bukannya menjawab pertanyaan Nindia, reyhan justru mengulang pertanyaan sebelumnya.
Nindia membelai rahang Reyhan untuk mengurangi kemarahannya. Oke, sekarang dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Reyhan, "AKu enggak apa-apa, Bee. Mereka cuma mengutarakan pendapatnya"
"Itu bukan pendapat, Nindia" geram Reyhan. Reyhan tak habis fikir pola fikir Nindia yang mengatakan cacian sebagai pendapat.
Nindia menghela nafas, entah dari mana suaminya ini tahu, "Aku tahu, tapi kamu lihat aku enggak apa-apa kan?Mereka cuma mau membuat nama aku jelek aja. Sama sekali enggak ada kontak fisik. Aku mohon sama kamu jangan sampai melakukan sesuatu ya," ucap Nindia. Ia memiliki firasat Reyhan akan melakukan sesuatu yang akan membuat orang yang menyakitinya menderita atau bahkan sampai hancur.
"Bukannya enggak ada sayang, tapi belum. Kita lihat saja nanti, kalau mereka sampai menyentuh kamu walaupun hanya seujung kuku, akan aku pastikan mereka hancur. Terlebih lagi yang mengatakan kalau anak aku sebagai anak haram, aku enggak ikhlas sama sekali. Dia ada karena hubungan halal, bukan seperti apa yang mereka katakan." ucap Reyhan dengan rahang yang kembali mengetat.
Bolehkah Nindia tersentuh dengan ucapan suaminya ini. Begitu sayangnya Reyhan dengan calon anak mereka. Nindia jadi merasa bersalah saat mengingat kesalahan fatalnya dulu. Bagaimana bisa ia melakukan affair dengan pacarnya, bahkan sampai Reyhan melihat sendiri.
"Hey, kenapa kamu nangis. Ada yang sakit? Mereka nyentuh kamu di bagian mana?" tanya Reyhan bertubi-tubi saat melihat Nindia tiba-tiba menangis.
Nindia menggenggam tangan Reyhan, "Aku minta maaf sama kamu." Reyhan mengerutkan dahinya.
"Minta maaf?"
Nindia mengangguk, "Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan dulu. Bisa-bisanya aku melakukan itu disaat kamu sudah berjuang sejak lama untuk mendapatkan aku. Aku seperti orang bodoh saat itu." ucap Nindia di sela isak tangisnya.
__ADS_1
Reyhan menggelengkan kepalanya. Ia tak setuju dengan yang dikatakan Nindia. Tangannya mulai bergerak menghapus air mata berharga milik istrinya ini, "Kamu enggak bodoh sayang. Kamu hanya belum menyadarinya, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan tugas suami adalah mengarahkan istrinya menuju jelan yang benar. Buktinya sekarang kamu menjadi milik aku dan sebentar lagi menjadi ibu dari anak-anak aku. Aku enggak suka kamu ingat-ingat itu lagi, jadikan masalalu sebagai pelajaran untuk memulai masa depan agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Udah ya... jangan nangis! Aku enggak bisa lihat kamu nangis, air mata kamu sangat berharga buat aku. Aku hanya mengizinkan kamu menangis saat bahagia meskipun aku masih enggak rela."
Nindia tertawa mendengar ucapan terakhir Reyhan, "Terimakasih telah menerima segala kekurangan aku. Aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi kamu dan anak-anak kita nanti."
Reyhan membawa Nidnia dalam pelukannya. Memberikan kecupan-kecupan cinta di puncak kepala Nindia. Ia tak akan membiarkan air mata Nindia jatuh, meskipun itu air mata kebahagian. Hanya akan ada senyum dan senyum. Itu janjinya.
Setelah acara pelukan ala teletubis, Nindia berada di balkon untuk menikmati pemandangan. Ia masih mengingat kata-kata manis Reyhan. Nindia tak pernah berfikir sejauh Reyhan. Dulu dirinya hanya berfikir akan kesenangannya saja.
"Sayang." ucap Reyhan yang sudah melingkarkan tangannya di perut Nindia
"Heumm."
"Aku ada hadiah buat kamu. Tapi tutup mata dulu,"
Nindia memiringkan kepalanya, "Ngapain pakek tutup mata segala?"
"Udeh deh, nurut aja."
Nindia akhirnya mengikuti permintaan suaminya tersayang. Ia merasakan tangan Reyhan tak lagi melingkari pinggangnya dan Nindia mera kehilangan akan tindakan Reyhan.
"Udah belum? Lama amat sih..." gerutu Nindia.
"Udah.. Nanti kalau udah sampai hitungan ke tiga, kamu boleh buka mata." ucap Reyhan.
1
3
Nindia terpaku melihat dua tiket ke Bali berada di depannya. Ia langsung memutar badannya dan meminta penjelasan pada Reyhan.
"Apa maksudnya?" tanya Nindia penasaran.
Reyhan tersenyum, "Buat kamu sayang. Selama kita menikah, aku belum pernah ajak kamu jalan-jalan, bahkan aku tidak memberikan honeymoon. Jadi, tiket ini sebagai ganti honeymoon dan jalan-jalan kita."
Nindia mengerjapkan matanya beberapa kali. Bahagia, itulah yang dirasakannya saat ini. Dulu, ia ingin sekali pergi ke Bali bersama pasangan halalnya dan sekarang impian itu diwujudkan oleh Reyhan, teman hidupnya dan pacar halalnya.
"Beneran?" tanya Nindia dengan mata berbinar dan semakin bahagia saat melihat Reyhan mengangguk.
Nindia langsung loncat-loncat kecil menerima hadiah dari Reyhan, bahkan tawanya tak bisa berhenti.
"Jangan loncat-loncat, Sayang. Kasian dedeknya."
Nindia langsung berhenti saat teringat anaknya, "Maafin Bunda ya sayang. Habisnya Bunda seneng banget." ucap Nindia sambil mengelus perutnya.
"Iya Bunda. AKu ak apa-apa kok." ucap Reyhan menirukan suara anak kecil.
"Nindia tersenyum geli mendengar nada bicara Reyhan, "Kapan kita berangkat?"
__ADS_1
"Besok pagi."
"Kok mendadak?" protes Nindia, pasalnya dirinya belum mengemas keperluan selama di Bali.
"Enggak perlu bawa banyak barang sayang. Kalau ada yang dibutuhkan bisa beli langsung di sana. Jadi, dari rumah kita hanya membawa kebutuhan seperlunya"
Nindia mengangguk, "Ya udah. Nanti malam aku kemas kebutuhan kita."
cupppp
"Makasih sayang karena kamu sudah membahagian dan melindungi aku" ucap Nindia dalam pelukan Reyhan.
"Sama-sama. Karena tugas aku adalah sebagai pelindung dan pemberi kebahagian pada keluarga."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊