
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Nindia pulang dengan wajah ditekuk. Ia sangat kesal dengan sahabat sekaligus sekretaris Reyhan dan Bella sahabatnya. Dengan seenaknya Ilham meminta bantuan untuk membawakan tas Bella yang masih ada di dalam kelas, sedangkan mereka berdua entah kemana perginya. Ia semakin kesal saat Reyhan langsung pergi ke perusahaan setelah menyelesaikan jadwal mengajar di kampus.
"Gila, bete banget gue hari ini. Mana tu anak berdua main seenaknya nyuruh-nyuruh gue. Gak tahu apa kalau gue capek." kesal Nindia.
"Ini lagi Reyhan, justru pergi ke kantor bukannya ngantar istrinya pulang dulu kek," sungut Nindia.
"Ada apa sih? Anak Bunda datang-datang langsung marah-marah?" tanya Helena yang datang dari dapur.
"Bunda?"
"Hemm," Helena berjalan menghampiri Nindia dan duduk disebelahnya. "Kamu kenapa?" tanya Helena dengan mengelus surai panjang milik Nindia.
"Menantu Bunda tuh ngeselin tau, masa aku ditinggal sendirian. Reyhan justru pergi ke perusahaan," adu Nindia.
"Dia kan kerja juga buat kamu. Apalagi kalau kalian sudah punya anak, pasti makin banyak keperluan yang harus dibeli dan semakin berat pula tanggung jawab Reyhan." ucap Helena yang mencoba memberi pengertian kepada Nindia.
"Bener juga sih, Bun. Tapi Nindia kan mau mangga muda yang langsung Reyhan ambil di pohon." ucap Nindia dengan bibir mengerucut.
"Mangga muda?" tanya Helena.
"Iya. Tadi siang tiba-tiba Nindia ingin makan rujak mangga muda. Kelihatannya segar gitu, Bun. Apalagi kalau pedas. cap cap cap" kata Nindia sambil membayangkan memakan rujak mangga muda.
"Sayang, kamu sudah lakukan apa yang Bunda katakan?" tanya Helena.
"Apa bunda?" tanya Nindia yang memang lupa.
"Bunda kan suruh kamu beli testpack dan cek." ucap bunda yang jengkel dengan Nindia.
"Nindia udah beli, Bunda. Tapi Nindia takut hasilnya mengecewakan." ucap Nindia dengan menundukkan kepala.
Helena menenangkan Nindia. Ia terus memberikan memberikan semangat dan pengertian kepada Nindia. Bila sekarang belum, artinya Tuhan belum mempercayakan amanahnya pada kita. Jika sekarang sudah, artinya Tuhan percaya karena kita bisa menjaga amanahnya.
"Sekarang kamu cek dulu. Bunda yakin kalau sudah ada dedk di perut kamu," ucap Helena sambil mengelus datar Nindia.
Nindia menganggukan kepalanya. Nindia berjalan ke kamar untuk mengambil testpack untuk membuktikan perkataan Bundanya.
"Semoga. Bunda berharap kamu sudah tumbuh dalam perut bunda." harap Nindia sambil mengelus perut datarnya.
Nindia mulai masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, ia menunggunya dengan mondar-mandir. Setelah menunggu beberapa saat, Nindia masuk kembali. Saat mendekati wadah urin, ia memejamkan mata untuk mengetahui hasil. Ia tidak berani membuka mata, ia taut akan kecewa.
Nindia mulai membuka mata dan tercengang ketika melihat hasilnya. Tak terasa air matanya menetes.
Nindia memegang tespack itu dengan tangan gemetar. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya. Air matanyapun masih setia membasahi ppinya. Ia benar-benar tidak menyangka dengan hasil yang didapatkan. Setelah hampir 1 tahun menunggu, akhirnya ia bisa merasakan kehadiran makhluk lain di dalam perutnya.
"Sungguh? Ini nyata?" tanya Nindia. "Kamu berada di dalam sini sayang?" tanya Nindia sambil memegang perut yang masih datar.
"Bunda.." teriak Nindia memanggil Helena.
Diruang keluarga, Helena terkejut mendengar teriakan Nindia. Helena langsung berlari menaiki tangga. Ia khawatir bila terjadi sesuatu pada Nindia.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu teriak?" tanya Helena yang berada di depan pintu.
Bukannya menjawab pertanyaan, Nindia justru langsung berhambur dalam peukan sang Bunda. Ia kembali menumpahkan air mata kebahagiaannya yang semakin membuat Helena bingung.
"Hei, kamu kenapa sayang?" tanya Helena sambil mengelus punggung Nindia agar tangisnya mereda.
Nindia memberikan benda yang sejak tadi ia genggam dengan erat. Ia belum berani menatap sang Bunda.
"Ini Apa? Maksud kamu apa? tanya Helena yang tiba-tiba menjadi orang bodoh. Padahal seharusnya ia yang lebih memahami arti garis dua pada benda tersebut.
__ADS_1
Nindia mengurai pelukan sang Bunda dan berdecak saat mendengar Respon Helena, "Kenapa Bunda jadi seperti orang bodoh?"ucap Nindia yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Helena.
"Kamu bilang Bunda bodoh? Berani banget kamu!" ucap Helena dengan tatapan tajam.
Nindia kembali menghambur dalam pelukan hangat Helena. Ia kemudian membisikan kata yang berhasil membuat Helena tertegun.
"Beneran? Bunda akan jadi Omma?" tanya Helena yang semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Nindia.
Nindia mengangguk, ia belum bisa mengeluarkan kalimat yang panjang.
"Alhamdullah, Bunda seneng banget dengarnya. Anak Bunda sebentar lagi akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Mulai hari ini, kamu harus menjaga tingkah dan ucapan kamu. Meskipun dia belum bisa mendengar kamu, tapi lakukan itu untuk menghindari segala macam kemungkinan yang akan membahayakan anak kamu." jelas sang Bunda.
"Iya, Bunda. Anin akan menjaga anak Anin dengan jiwa dan raga. Kalau perlu nyawapun akan Anin berikan padanya," ucap Nindia yang mendapat anggukan dari Helena.
Helena mengurai pelukannya. Ia menghapus air mata Nindia yang masih tetap mengalir. Sudut bibir Helena terangkat melihat kebahagiaan sang anak. Peninggalan satu-satunya dari sang suami sudah ia jaga dan ia antarkan menuju kebahagian dengan pernikahan. Tugasnya sebagai ibu sudah selesai, sekarang waktunya Reyhan untuk membahagiakan Nindia.
"Bunda akan kasih tahu Reyhan," ucap Helena sambil mengusap air matanya.
"Jangan! Ada waktunya Nindia beritahu Reyhan secara langsung." ucap Nindia yang sudah mendapatkan ide bagaimana akan memberitahukan kabar bahagia ini.
"Oke kalau gitu. Tapi jangan lupa kasih tahu mertua kamu. Jangan sampai mereka merasa tidak dihargai." ucap Helena yang diangguki oleh Nindia.
"Sekarang kamu mau apa?" tanya Helena dengan senang hati.
"Anin mau sayur ayam, jangan lupa sambalnya yang pedas." ucap Nindia dengan mata berbinar seperti mendapatkan jackpot.
"Bunda akan buatkan." ucap Helena sebelum meninggalkan kamar Nindia.
"Kamu baik-baik sayang. Ayah sama Bunda kamu hadir melengkapi kebahagian"
____________________
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Helena masih sibuk dengan peralatan dapurnya. Ia sangat senang bisa menuruti kemauan Nindia. Ia sedang sibuk memotong sayuran. Sedangkan di sebelahnya sudah ada sambal dan juga ayam goreng yang siap dihidangkan. Ia hanya tinggal memasak sayur asam dan menggoreng tempe.
"Asssalamualaikum," ucap Reyhan saat memasuki rumah.
"Bun," sapa Reyhan.
Helena yang merasa dipanggil langsung membalikkan badannya, "Ehh, kamu sudah pulang?"
Reyhan menyalami Helena, "Sudah, Bund. Baru saja. Kapan Bunda datang?"
"Tadi siang, kamu mau makan atau bersih-bersih dulu?"
"Bersih-bersih dulu, Bun. Tumben Bunda yang masak, memangnya Nindia kemana?" tanya Reyhan yang merasa aneh karena bukan Nindia yang memasak.
"Di kamar. Katanya lagi kesal sama kamu. Emang kamu apain?" tanya Helena seraya melanjutkan kegiatannya.
"Tadi minta mangga muda yang Reyhan petik sendiri. Sebenarnya setelah pulang dari kampus, Reyhan akan penuhi keinginan Nindia. tapi, tiba-tiba Ilham nelpon ada klien yang mau ketemu langsung sama Reyhan. Jadinya Reyhan pergi dulu ke perusahaan. tapi mangganya udah ada sama Reyhan kok," ucap Reyhan sambil memperlihatkan mangga muda yang baru dipetik. Masih lengkap dengan batang, daun dan getah.
"Kamu maklumi aja ya. Emosinya lagi naik turun," jelas Helena.
"Apa lagi PMS ya?" tanya Reyhan yang mendapatkan balasan senyuman dari Helena.
"Ya udah, Bun. Reyhan ke atas dulu ya." ucap Reyhan dan Helena menganggukkan kepalanya.
____________________
"Kenapa kamu diam aja?" tanya Reyhan pada Nindia yang duduk di sebelahnya.
Makan malam baru selesai beberapa menit yang lalu. Helena juga sudah kpulang karena sudah mendapatkan telepon dari suami tercinta. Tinggallah Nindia dan Reyhan yang masih dalam perang dingin. Sebenarnya hanya Nindia yang kesal dengan Reyhan.
"sayang, bilang sama aku! Kamu kenapa?" tanya Reyhan sambil memegang kedua bahu Nindia.
Nindia masih setia dengan kebungkamannya. Ia sangat kesal dengan Reyhan yang tidak mau menuruti kemauannya.
"Nindia," panggil Reyhan yang sudah memanggil dengan namanya. Itu menandakan sebuah peringatan bagi Nindia.
Nindia menghembuskan nafasnya, "Aku kesal sama kamu,"
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Reyhan seraya mengernyitkan dahinya.
"Aku kan cuma minta mangga muda hasil petikan kamu. Tapi kamu justru pergi ke perusahaan." ucap Nindia dengan bibir yang sudah maju 500 meter.
Reyhan terkekeh melihat tingkah Nindia yang masih seperti anak kevil, "Kamu marah gara-gara itu?" Nindia mengangguk.
"Aku petikkan mangga mudanya sayang. Kalau kamu nggak percaya, lihat aja di dapur." ucap Reyhan sambil membelai pipi Nindia.
Mata Nindia langsung berbinar, "Beneran?" tanya Nindia penuh kebahagiaan.
Reyhan menganggukkan kepalanya. Nindia yang bahagia karena keinginannya terpenuhi langsung berhambur dalam pelukan Reyhan. Ia menghadiahkan ciuman diseluruh wajah Reyhan. Yang paling utama adalah bibir sang suami yang menjadi candu baginya.
"I Love You," ucap Nindia sebelum meninggalkan Reyhan untuk menghampiri mangga mudanya.
"I Love You Too," balas Reyhan yang tentu saja tak bisa didengar oleh Nindia yang sudah menghampiri mangga mudanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊
__ADS_1