
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Ayah, Bunda, Mami, Papi, berkumpul di rumah Reyhan. Semuanya baru pulang setelah mencari Nindia yang entah pergi kemana.
"Ya ampun, tub anak kemana sih? Kenapa harus bikin semua orang panik." ucap Helena yang tak habis fikir dengan tingkah Nindia.
"Udahlah, Bun. Jangan marah-marah terus. Sekarang waktunya kita tenang agar bisa berfikir positif." ucap Handoko yang mencoba menenangkan istrinya.
"Papi udah suruh orang buat cari Nindia, tapi kata mereka sulit karena Nindia enggak bawa ponsel." ucap Reno sambil memijat pangkal hidungnya.
Reyhan? Sudah bisa dipastikan ia sangat lelah dan pusing. Kepalanya menyandar pada badan sofa. Khawatir dengan keadaan Nindia diluar sana, apalagi Nindia sekaranh sedang hamil muda.
"Mami juga udah nanya sama tetangnya, tapi jawabannya tetap sama." tambah Maya yang juga merasa pusing.
"Reyhan khawatir sama mereka. Gimana kalau mereka kenapa-napa dan Reyhan gak tahu," ucap Reyhan yang mulai melantur.
"Hussttt... Jangan ngomong gitu! Nindia pasti baik-baik aja." ucap Maya meskipun sempat terlintas fikiran seperti Reyhan.
Bi Minah datang dari dapur. Ia tak rela melihat wajh semua orang yang terlihat lelah sekaligus khawatir.
"Permisi, makan malamnya sudah siap Tuan, Nyonya."
"Sekarang lebih baik kita makan dulu baru cari Nindia lagi," putus Reno.
"Kalian makan aja dulu, Reyhan belum lapar."
Bagaimana Reyhan bisa merasa lapar saat istrinya belum ketemu. Ia kembali memikirkan masalah Apa Nindia sudah makan? Apa dia baik-baik saja? Apa kedinginan?
"Reyhan, lebih baik kamu makan, Sayang. Bunda takut kamu jadi jatuh sakit." ucap Helena yang tak tega melihat keadaan menantunya.
Reyhan menggeleng, "Reyhan belum lapar Bun. Lebih baik Bunda, Ayah, sama Mami Papi makan duluan. Kasian Bi Minah udah masak banyak." ucap Reyhan sambil tersenyum.
"Tapi Aden belum makan dari siang," ucap Bi Minah.
"Nggak apa-apa Bi, Reuhan belum lapar kok. Sekarang kalian aja yang makan. Reyhan mau ke kamar dulu."
Setelah itu, Reyhan pergi menaiki tangga dengan langkah lunglai. Ia sama sekali sudah tak memiliki tenaga. Tapi ia tak bisa makan sebelum Nindia ketemu.
Semua orang yang melihat hanya bisa menghembuskan nafas. Reyhan memang termasuk orang yang keras kepala. Apalagi menyangkut orang yang disayanginya.
Reyhan yang sudah berada di kamar langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengguyur semua badannya dengan air dingin agar rasa pusingnya hilang.
Selesai mandi dan shalat, Reyhan merebahkan dirinya di kasur. Tangan kirinya ia gunakan sebagai bantar, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memijat pelipis kiri kanannya.
"NINDIA....."
Saat matanya mulai terpejam, Reyhan dikagetkan dengan teriakan Helena yang memanggil Nindia. Tak berselang lama namanyalah yang dipanggil.
"REY... REYHAN... NINDIA UDAH PULANG," teriak Maya.
Teriakan Maminya yang mengatakan Nindia sudah pulang langsung membuat Reyhan bangun dari tidurnya. Sedikit berlaro saat menuruni tangga. Saat anak tangga terakhir ia melihat wanita yang membuat fikirannya kacau satu hari ini. Wanitanya, itu benar-benar wanitanya yang sejak tadi Ia tunggu.
Reyhan langsung menerjang Nindia. Memeluknya dengan erat. Menghujani Nindia oleh ciuman-ciuman kecil.
"Sayang," ucap Reyhan.
Hanya itu yang mampu diucapkan oleh Reyhan. Ia sangat, sangat bersyukur tidak terjadi apapun pada Nindia.
"Bee, lepas. Aku sesak." cicit Nindia saat berada di dalam pelukan Reyhan.
Reyhan yang paham langsung melepaskan pelukannya. Memanggil Bi Minah untuk mengambilkan air putih, kemudian membawa Nindia duduk di sofa.
Pandangan semua orang menuju pada Nindia. Meminta kejelasan tentang keributan yang ia buat.
"Kamu udah bisa cerita sekarang?" tanya Helena.
Nindia melihat satu persatu orang yang ada di depannya. Terlebih lagi Reyhan yang masih memeluknya dari samping.
"Kalian kenapa? Kok mukanya panik semua?" tanya Nindia polos.
__ADS_1
Helena membulatkam matanya, "Kamu masih bisa tanya kenapa?"
Nindia mengangguk, "Iya."
"Kamu dari mana aja? Kamu tahu gak semua orang khawatir sama kamu. Apalagi kamu pergi tanpa pamit dan izin dari suami kamu." ucap Handoko.
"Ya maaf, Nindia kan lupa bawa ponsel."
"Sekarang Mami minta kamu cerita, kamu habis dari mana?" tanya Maya.
Nindia memgangguk kemudian menceritakan dari awal hingga akhir.
Flashback On
Setelah sampai rumah, Nindia langsung mendudukkan dirinya di sofa. Ia memikirkan beberapa perkataan dari teman-temannya di kampus.
Nindia mulai menyalakan televisi, berharap dapat menghilangkan rasa pusing yang menderanya. Kemudian Bi Minah datang karena melihatnya sudah pulang dan menawarkan untuk mengambilkan makanan. Tapi, perhatiannya terfokus pada salah satu iklan es krim yang berhasil menggodanya. Lehernya naik turun seakan merasakan eskrim tersebut, mulutnya mencecap beberapa kali. Namun, ia sadar kalau dokter melarangnya makan es krim terlalu banya, apalagi kemarin ia baru memakan satu bungkus es krim persedian terakhir di kulkas.
Nindia menggeleng, "Enggak, Bi. Nindia mau ke kamar langsung."
Nindia langsung menaiki kamar untuk mengholangkan fokusnya pada iklan es krim. Sesampainya di kamar, Nindia langsung menaruh tasnya di kasur. Membuka sebentar sosial medianya, sayangnya iklan es krim tersebut ada lagi.
"Ehh... pingen es krimnya.." ucap Nindia sambil menggeser layar ponselnya ke kiri dan ke kanan.
Nindia meletakkan ponselnya di kasur agar untuk menekan keinginannya. Tapi sayangnya gagal. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia kemudian mengambil tas kesil dan mengisinya dengan dompet kemudian menuruni tangga.
"Kemana sih Bi Minah." Nindia melihat sekitar namun tak menemukan Bi Minah. Karena keinginannya sudah terlalu kuat, akhirnya Nindia hanya pamit dengan teriak, "Bi Minah... Nindia mau ke minimarket dulu, mau beli eskrim."
Nindia langsung keluar rumah meskipun belum ada jawaban dari orang rumah. Nindia pergi dengan jalan kaki untuk menikmati pemandangan sore. Bisa dibilang cuci mata sih.
Dua puluh menit setelah Nindia keluar, Mobil Reyhan mulai memasuki rumah.
Nindia terus berjalan hingga sampai mini market. Tak membutuhkan waktu lama karena hanya berada di depan gerbang perumahan.
Melihat mini market ada di depannya membuat mata Nindia berbinar, apalagi setelah masuk dan melihat freezer yang bertuliskan nama ea krim yang ia inginkan.
"Tanggung juga sih kalau beli es krim aja. Oh ya... sekalian belanja aja deh..." ucap Nindia.
Nindia langaung menyusuri lorong-lorong yang ada di minimarket untuk membeli bahan makanan yang habis. Yang terpenting adalah membeli makanan ringan favoritnya dan membeli susu hamil yang tinggal sedikit.
"Dua saja ya sayang. Kasian kamunya kalau banyak-banyak" ucap Nindia sambil mengelus perutnya.
Mata Nindia semakin berbinar saat bungkus es krim ia buka. Ia memakan es krimnya di depan mini market tersebut. Ia sudah tidak bisa menahannya.
"Kamu suka sayang?" tanya Nindia sambil mengelus perutnya. "Kalau ayah tahu, Ayah bakalan marah sama Bunda." Nindia terkiki.
Mata Nindia langsung melotot saat ia menyadari sesuatu.
"Astaga, bunda lupa gak bawa ponsel sayang. Sekarang kita pulang ya, Ayah pasti khawatir." ucap Nindia seraya melangkahkan kakinya meninggalkan mini market.
Selama perjalanan, Nindia tak henti-hentinya mengajak anaknya untuk berbicara. Nindia sempat menjadi perhatian saat bicara sendiri, orang yang melaluinya mengira kalau dia gila.
"Sayang, masa Bunda dikatain gila. Padahal Bunda lagi ajak bicara dedek."
Hanya tinggal beberapa meter lagi Nindia menghentikan langkahnya. Ia mendobgak ke atas dan mendapatkan mangga yang menggugah seleranya. Ingat kah kalian pafda orang yang dimintai mangga? Ya... Nindia sedang berada di depan rumah orang itu.
"Dedek mau mangga?" mengelus perutnya, "Oke, Bunda akan minta sama pemiliknya."
Nindia memasuki rumah itu dan meminta izin untuk meminta mangga. Awalnya pemilik menolak saat Nindia akan mengambil mangganya sendiri, tapi karena tak ada yang menemani dan mengatakan kalau dirinya lagi mengidam lagi, terpaksa pemiliknya mengizinkan.
"Tapi ati-ati lo, nduk! Ibuk arep masak sek. (Tapi hati-hati ya, Nak! Ibu mau masak dulu)" ucap pemilik pohon mangga.
Nindia menganggukkan kepalanya, "Inggih, Buk. Matur nuwun. (Iya, Buk. Terimakasih)"
Setelah mendapatkan izin dan mendapat pinjaman pisau, Nindia mulai memanjat pohon. Ia memilih yang tak terlalu tinggi, asalkan ia bisa makan mangga.
"Kamu mau makan mangga sama eskrim?" tanha Nindia pada perutnya saat tiba-tiba ingin makan eskrim dengan mangga.
Nindia mulai mengeluarkan eskrim dari keresek yang ia gantung pada salah satu ranting pohon. Setelah utu ia mulai asik mengupas mangga yang sudah dipilihnya. Memotongnya kecil-kecil dan memakannya dengan eskrim. Karena terlalu keyang hingga membuat Nindia tertidur di pohon mangga.
Pemilik rumah yang menyadari Nindia belum berpamitan langsung keluar dan melihat apa yang dilakukan oleh Nindia.
"Allahhuakbar... Gusti... Iki bocah kok malah turu ning nduwur, lek ceblok piye to? (Allahuakbar... Tuhan... Ini anak kok justru tidur di atas pohon, kalau jatuh gimana?" ucap pemilik pohon mangga.
Ia secepat mungkin mengjampiri Nindia untik membangunkannya. Cukup sulit untuk membangunkan Nindia, tapi beruntung bagi ibu itu karena Nindia bangun juga.
__ADS_1
Setelah berhasil pulih seratus persen, Nindia langsung terkejut Karen sudah malam dan masih berada di atas pohon mangga. Ia langsung turun dan meminta maaf pada pemiliknya kemudian melangkahkan kakinya untuk pulang.
"Pasti kena marah," ucap Nindia dalam hati.
Flashback Off
"Lagi?" tanya Maya dan Helena bersamaan. Pasalnya mereka sudah pernah melihat Nindia naik pohon secara langsung.
Setelah selesai cerita, Nindia hanya bisa melihatkan deretan giginya saat melihat berbagai ekspresi dari orang yang ada di sekitarnya. Ada yang terkejut, heran, marah, dan masih banyak lagi ekspresi yang orang tuanya tunjukkan.
"Reyhan ke kamar dulu ya." izin Reyhan kepada orang tua. Entah apa yang dirasakam Reyhan saat ini. Yang pasti, ia ingin menghindar dulu dari Nindia agar kata-kata yang keluar dari mulutnya tak menyakiti wanitanya.
Nindia yang melihat kepergian Reyhan merasa bersalah. Apalagi Reyhan sudah terlihat dingin dan datar setelah mendengarkan ceritanya. Ia tak mengetahui apa yang dirasakan Reyhan saat ini.
Handoko menghela nafas saat melihat menantunya pergi. Ia tahu apa yang dirasakan Reyhan saat ini. Kali ini Nindia benar-benar keterlaluan karena tak memikirkan Reyhan dan anak yang ada di kandungannya dengan memanjat pohon mangga.
"Nindia, apa kamu tahu kesalahan kamu?" tanya Reno halus. Memang ia marah dengan Nindia, tapi ia berusaha menekannya agar tak menyakiti wanita dari anaknya. Hanya bentuk luapan kekecewaan darinya.
Nindia mengangguk. Memang kejadian hari ini adalah salahnya.
"Kamu bisa bilang Reyhan atapun Bi Minah kalau ingin sesuatu. Kamu tahu seberapa khawatirnya Reyhan tadi saat kamu hilang?" sekarang giliran Handoko yang bertanya.
"Reyhan khawatir banget sama kamu. Tadi dia telepon Mami sama Bunda, tanya kamu ada di rumah kita atau enggak. Memang Mami enggak lihat wajah Reyhan, tapi Mami tahu betul kalau Reyhan sangat khawatir dengan kamu." jelas Maya.
"Dia bahkan sampai menanyakan keberadaan kamu pada sahabat-sahabat kamu dan jawaban mereka sama dengan jawaban Mami dan Bunda." lanjut Helena.
Nindia menghela nafas mendengar penjelasan Mami dan Bundanya.
"Maafin Nindia ya karena udah buat kalian khawatir." ucap Nindia dengan sendu.
Maya tersenyum melihat raut bersalah dari menantunya, "Enggak apa-apa sayang. Memang kalau ngidam begitu. Tapi.... alangkah lebih baim kalau kamu izin dulu sama Reyhan."
Helena mendekati Nindia saat melihat anaknya sangat merasa bersalah, kemudian memeluknya.
"Nindia paham, Mami."
"Ya udah, Sekarang kamu ke kamar. Minta maaf sama suami kamu. Surga kamu sekarang sama suami, bukan lagi sama Bunda." ucap Helena.
Nindia menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya menaiki tangga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊
__ADS_1