
HAI CHINGU..... 😀😀😀😀
SELAMAT MEMBACA
🌹
🌹
Reyhan masih senantiasa menatap ponselnya meskipun hari sudah menunjukkan tengah malam. Ia membiarkan Nindia tidur sendiri di ranjang. Sebelum pergi tidur, Nindia memintanya untuk menemani tidur. Namun, ditolak oleh Reyhan sehingga Nindia merajuk dan meninggalkan Reyhan yang masih sibuk dengan dunianya.
Udara dingin dan rasa kantuk tak dapat mengendurkan semangat Reyhan. Bahkan kemarahan Nindia seakan tak ber-efek bagi Reyhan.
"Kamu masih mau kerja?" tanya Nindia dengan ketus. Nindia memang susah sekali tidur saat ini kalau tidak dipeluk oleh Reyhan.
Reyhan mengalihkan pandangannya kepada Nindia, "Kamu belum tidur?"
"Gimana aku bisa tidur, sedangkan kamu masih kerja. Kamu kan tahu aku gak bisa tidur kalau gak dipeluk kamu, Bee." ucap Nindia sedikit menaikkan nada suaranya.
Reyhan menghela nafasnya. Ia tahu kalau Nindia akhir-akhir ini sangat bergantung padanya, "Tapi aku benar-benar sibuk, Sayang. Kali ini gak bisa ditinggal atau diserahkan sama Ilham." jelas Reyhan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Nindia.
"Ohh.... Jadi maksud kamu, pekerjaan itu lebih penting daripada aku?" tanya Nindia dengan air mata. Emosinya memang sulit terkontrol semenjak ada nyawa lain diperutnya.
Reyhan panik melihat Nindia menangis. Ia kesulitan untuk memahami Nindia akhir-akhir ini. Nindia tidak bisa diabaikan dan tidak bisa mendengar suara meninggi. Ia langsung menghampiri Nindia dan memeluknya.
"Husstt.... Kenapa nangis? bukan gitu maksud aku," tanya Reyhan sambil tetap memeluk Nindia meskipun sempat mendapatkan penolakan.
"Aku ngantuk, aku cuma kepingen tidur. Apa itu kemauan sulit untuk kamu penuhi?" tanya Nindia sambil sesenggukan.
"Tidak. Tentu saja tidak, Sayang. Keinginan kamu selalu menjadi yang utama buat aku. Aku minta maaf. Sekarang aku temani kamu tidur," ucap reyhan sambil menghapus air mata Nindia.
"Beneran?"
"Benar, Sayang. Sekarang kamu tidur." jawab Reyhan yang langsung memeluk Nindia yang menyembunyikan wajah pada dadanya.
____________________
Sinar mentari tak bisa membuat bumil muda terbangun dari tidurnya. Padahal tempat tidur sebelahnya sudah kosong, ditinggal pemilik yang semalam membuatnya tertidur dalam dekapan hangat.
Tidur Nindia mulai terganggu saat tangannya meraba sebelah dan tidak mendapati laki-laki yang semalam mendekapnya hangat.
"Rey..," panggil Nindia dengan suara perak dan mata masih terpejam.
"Reyhan," panggil Nindia sekali lagi seraya melihat sekitar.
Nindia menghela nafas saat tak mendapati tas kerja Reyhan di tempatnya. Ia meyakini Reyhan sudah berangkat ke kantor. Nindia meraba nakas sebelahnya untuk melihat jam.
"Pantas," Nindia menghela nafas lagi saat melihat jam ponselnya sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Nindia langsung beranjak dari tempat tidur. Sesuai jadwal, hari ini Nindia masuk sore. Jadi ia punya banyak waktu luang untuk bersantai.
Sesampainya di dapur, Nindia merasakan mual saat mencium aroma bawang. Ia langsung lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. tapi sayang hanya cairan bening yang kaeluar karena perut Nindia belum terisi apa-apa.
"Non... Non gak apa-apa?" tanya Bi Minah saat masuk kamar mandi untuk memijat tengkuk Nindia.
"Bibi lagi masak apa?" tanya Nindia yang masih memuntahkan isi perutnya.
"Lagi numis bawang putih, Non." jawab Bi Minah yang belum mengetahui kondisi Nindia.
"Mulai sekarang jauhkan segala bentuk bawang putih dari, Anin. Perut Anin mual cium bau bawang putih." jelas Nindia yang membuat Bi Minah mengernyitkan dahinya.
"Ada apa, Non? Non baik-baik saja?" tanya Bi Minah khawatir.
Nindia membersihkan mulutnya dengan air, "Anin baik-baik saja, Mi. Ami hanya perlu menghilangkan bawang putih di masakan Anin. Soalnya Anin lagi isi," jawab Nindia sambil mengelus perutnya.
Bi Minah diam membeku mendengar penjelasan Nindia. Sesaat kemudian ia memeluk Nindia dengan air mata yang mengalir.
"Alhamdulillah. Terimakasih karena telah mengabulkan doa hamba," ucap Bi Minah dengan Nindia yang membalas pelukannya.
"Terimakasih, Ami. Nindia senang sekali." Nindia melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Bi Minah mengusap air matanya, "Sekarang Non mau dibuatkan apa?" tanya Bi Minah.
"Nindia mau tempe goreng sama sayur bening bayam" jawab Nindia dengan mata berbinar
"Tunggu sebentar! Ami akan buatkan."
"Makasih, Ami," ucap Nindia yang dibalas anggukan oleh Bi Minah.
____________________
Sudah sejak pagi, Nindia tidak mendapatkan telepon ataupun pesan dari Reyhan. Hampir setiap menit bahkan setiap detik Nindia selalu memeriksa ponselnya. Siapa tahu ada kabar yang Reyhan kirimkan.
"Woyyy, ngelamunin apa lo?" tanya Gita sambil menepuk bahu Nindia.
"Apaan sih? Kaget gue." ucap Nindia seraya memegang dadanya yang masih berdetak cepat. Teriakan Gita berhasil mengambalikan fikirannya ke alam nyata setelah melamun cukup lama.
"Habisnya lo diem aja. Kesambet baru tahu rasa. Emang ngelamunin apaan sih?" tanya Gita.
"Reyhan sama sekali gak ngehubungin gue. Gue cemas jadinya." ucap Nindia sambil mngecek ponselnya sekali lagi.
"Ya elah, bucin banget lo. Lagi sibuk kali, lo gak usah mikirin yang aneh-aneh. Gue yakin Prof Reyhan gak akan berani macam-macam" jawab Gita mencoba menenangkan fikiran Nindia yang mulai kalut.
"Bukan Bucin, ya." sangkal Nindia yang tak terima dengan perkataan Gita. "Oh ya, Lo udah baikan sama Bella?" tanya Nindia. Ia tahu masalah yang terjadi antara Bella dan Gita.
Gita menghela nafas, "Udah baik-baik aja. Lo denger gosip gak?" Nindia menggelengkan kepalanya.
Gita mulai antusias bercerita, "Gue denger-denger nih, Bella udah jadian sama asisten suami lo. Yang kaya orang Arab itu lo, Aishh... Gue lupa lagi siapa namanya,"
"Asisten Reyhan? Kaya orang Arab?" Nindia mulai mengingat. "Ilham maksud lo?" tanya Nindia.
"Iya, Ilham. Gue gak dengar langsung sih, tapi dengar dari anak-anak yang saudara kerja di tempat Ilham." jelas Gita.
"Bukan hanya Bella aja dong yang ketahuan,bisa-bisa gue juga ketahuan." ucap Nindia yang terdengar sangat khawatir.
"Nggak bakal. Lo kan jarang ke kantor Ilham. Entar ngemall yuk, cari masker sama skinker," ajak Gita.
"Semoga aja enggak. Yang lain ikut kan?" tanya Nindia.
"Ayuk, gue udah kaya burung dalam sangkar. Susah banget keluarnya. Apalagi mau gue udah ada buntut,"
"Maksudnya?"
Nindia langsung menceritakan soal kehadiran nyawa lain di perutnya. Respon Gita sangat luar biasa. Bahkan semua mahasiswa menoleh ke arah keduanya saat mendengar teriakan Gita. Nindia sangat bahagia karena sahabatnya menerima kehadiran calon anaknya. Ia fikir sahabatnya akan menjauhinya karena hamil. Ternyata hanya pemikirannya yang terlalu sempit.
"Udah berapa bulan?" tanya Gita antusias.
"Belum tahu, gue belum periksa. Rencananya besok gue mau periksa sama Mami dan Bunda"
"Prof. Reyhan udah tahu?" tanya Gita.
"Belum, gue mau kasih kabar kembira ini waktu ulang tahun pernikahan gue yang pertama, tiga hari lagi" ucap Nindia yang nampak bahagia karena sudah menyiapkan surprise yang pasti membuat Reyhan bahagia dan terkejut.
"Terserah lo kalau gitu, habis matkul ini kita berangkat. Gimana?"
"Siap, Bu Boss" ucap Nindia sambil melakukan hormat.
____________________
Nindia, Bella, Tia, dan Gita memasuki mall dengan senyum cerianya. Mereka asik membicarakan satu topik, yaitu tentang kehamilan Nindia yang membuat tiga sahabatnya ceria dan semangat karena sebentar lagi akan dipanggil aunty. Mereka menyambut baik kehamilan Nindia.
"Bumil mau makan apa?" tanya Gita.
Semenjak mengetahui kehamilan Nindia, mereka bertiga kompak memberikan nama panggilan untuk Nindia. Bumil, namanya yang mereka sukai untuk memanggil Nindia.
"Kalian bisa diem gak sih? Gue gak mau dipanggil bumil. Gue malu." ucap Nindia dengan kesal. Ke tiga sahabatnya sangat sulit bila dikasih tahu.
"Kenapa harus malu? Emang bener kan kalau lo lagi hamil."
"Iya gue tahu. tapi kalau ada yang kenal gue gimana?"
__ADS_1
Sekarang giliran Bella yang menghembuskan nafas beratnya, "Kalau mereka tahu, berarti udah saatnya mereka tahu. Bukan hal yang tabu kalau mahasiswa menikah dengan dosennya kaya di novel-novel." jawab Bella.
"Ini bukan novel yang sering lo baca. Ini real life. Tapi iya juga sih, kenapa gue harus malu ya? Harusnya gue kan bangga. Gue hamil halal, ada suami."
"Nah, pinter bumil kita." ucap Bella sambil memperhatikan Nindia yang mulai manyun karena terus-terusan di goda.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan mereka. Mengunjungi setiap toko baju, sepatu, dan tas. Tapi mera sama sekali tidak membawa belanjaan. Mereka masuk ke salah satu toko dan tertarik saat melihat baju couple. Gita menyarankan untuk membeli baju kembaran untuk mereka berempat dan lainnya menyetujui. Mereka memilih model yang sama dengan warna yang berbeda. Bella sama dengan Nindia, sedangkan Gita sama dengan Tia. Setelah selesai, merema melanjutkan ke toko perhiasan.
Saat sampai di depan toko perhiasan, Tia mengernyitkan dahinya karena seperti melihat Prof. Reyhan yang berjalan dengan wanita yang lumayan cantik dan anggun.
"Nin, bukannya itu Prof. Reyhan?" tanya Tia sambil menunjuk ke arah seseorang yang sedang berada di toko perhiasan.
"Mana?" tanya Nindia yang masih membelakangi posisi Reyhan berada.
"Apasih?" tanya Gita yang penasaran dengan kehebohan Tia.
"Prof. Reyhan. Itu, tu lihat! Doi lagi sama cewek." jawab Tia sambil membalikkan tubuh Nindia.
Nindia membalikkan badan dan pemandangan di depannya berhasil membuat kedua bola matanya melotot. Ia melihat Reyhan jalan dengan perempuan dan sedang berada di toko perhiasan. Bahkan yang semakin membuatnya melotot adalah saat Reyhan memilih salah satu kalung dan seperti dari sudut mereka sedang memasangkan kalung tersebut pada wanita itu.
"Gila! Prof. Reyhan mau beliin tu perempuan kalung?" ucap Tia yang berhasil membuatnya mendapat pelototan mata tajam dari kedua sahabatnya.
"Jadi itu alasan kamu berangkat pagi dan gak hubungin aku sama sekali" tanya Nindia dalam hati. Air matanya mulai menetes. Sangat sakit saat melihat orang yang kita cintai berdua dengan orang lain. Mungkin rasa ini yang ada saat Reyhan melihatnya dengan Satria.
Bella dan Gita yang melihat kejadian itu tak mengeluarkan komentar apapun. Belum tentu yang ada di depannya adalah kebenaran. Mungkin ada alasan tersendiri kenapa Prof. reyhan jalan dengan perempuan itu.
"Gue mau pulang. Antar gue!" ucap Nindia sambil menghapus air matanya.
"Tapi Nin,," ucap Tia.
"Gu e ma u pu lang. Sekarang. Kalau kalian masih mau disini, Gue pulang sendiri!" ucap Nindia dengan tegas.
"Oke, kita pulang sekarang" putus Bella.
💉💊
Buat semua, jangan lupa jaga kesehatan. Usahakan tidak ada kontak fisik terlebih dahulu. Saya pribadi sangat khawatir dan prihatin dengan adanya COVID 19. Semoga kita tetap dalam lindungan-Nya. Aamiiin
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like 👍 & Komentar 💬
Jadikan Favorit ❤
Bila berkenan silakan beri Tip ⭐
Baca juga karya ku yang lain :
- My Wife's Beautiful Widow
- BINTANG
__ADS_1
A/n : Maaf bila tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan dan banyak typo bertebaran. Untuk kata-kata yang terbilang kasar, author tidak akan mengubahnya karena takut feel nya akan beda. Terimakasih 😊😊